Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 87 SURPRISE KEMBALI PULANG


__ADS_3

Sudah sejak dini hari, Suci, Zhein Raina dan kedua ibunya telah kembali ke tanah air. Perjalanan yang cukup lama dan melelahkan dan ini baru separuh perjalanan dilalui.


Untuk masalah Raina, dia pulang dengan menukar identitas mahasiswi Zhein yang ingin menetap disini. Entahlah nantinya bagaimana yang penting saat ini bisa pulang. Sebenarnya sangat beresiko tinggi, tapi karena Raina menggunakan syar'i lengkap dengan cadar, jadi sementara aman.


Mereka memesan tiket VIP agar Suci bisa lebih nyaman selama perjalanan.


"Kamu pegal sayang?" tanya Zhein lembut kepada istrinya, tangannya masih setia mengusap perut Suci agar istrinya lebih nyaman.


"Gak Mas. Kamu terus menerus mengusap perut gak pegel tangannya?" tanya Suci pelan. Satu tangannya menggenggam tangan Zhein.


"Demi kamu, dan anak kita, rasa pegalnya hilang sayang. Lihat kamu bahagia, anak kita anteng, aku juga senang." ucap Zhein lembut, senyum manis khas berlesung pipi itu menampakkan ketampanannya yang maksimal.


"Mas, mau buah gak, aku ambilin?" tanya Suci pelan. Sambil menegakkan duduknya mengambil tempat makan dari dalam tasnya.


"Awas sayang, itu perutnya kegencet." ucap Zhein sedikit panik melihat Suci sedikit menunduk untuk mengambil tempat makannya. Tangannya iku memegang perut Suci.


Terlihat lebay memang lelaki seperti ini, tapi memang begitu sikap Zhein penuh kecemasan melihat perut Suci yang semakin membesar kadang keras mengencang, kadang terasa menggelenyar aneh bila di mengusap dengan tangan telanjang.


Tapi itu nikmatnya masa kehamilan. Suami akan lebih peka dan sensitif melihat istrinya kelelahan.


"Mas gak papa, kalau nunduk ya otomatis perutnya keteken begini. Tapi gak papa tuh lihat. Kamu jangan terlalu cemas gitu." ucap Suci mengusap wajah Zhein agar tenang.


Kemesraan selalu terlihat dimana mana, gak di kamar, di apartemen, di pesawat pun bisa bisanya saling suap suapan dan cubit cubitan pipi.


Terdengar deheman sedikit keras dari kursi sebelah.


"Terus.... ini pesawat bukan kamar tidur" ucap Bunda meledek Zhein.


"Bunda kenapa sih. Biarin sayang Bunda iri." ucap Zhein pura pura kesal.


Bunda dan Mama Laras hanya tertawa. Sedangkan Raina sejak tadi Riana hanya memejamkan mata dan mendengarkan musik.


Separuh perjalanan pun tuntas terselesaikan dan pesawat mendarat dengan selamat. Mereka semua sudah keluar menuju mobil yang telah menjemput mereka.


"Alhamdulillah sampai juga. Kita ke rumah bunda dulu kan Mas?" tanya Suci yang sudah berada dalam mobil.


"Iya sayang, besok kita baru pindah. Kamu mau mengantarkan Mama Laras sekalian ketemu Eyang Atmojo?" tanya Zhein lembut kepada istrinya.

__ADS_1


"Memang boleh Mas?" tanya Suci pelan sambil menengok ke arah Zhein.


"Boleh sayang, tapi jangan besok. Dua hari lagi, biar lelahnya hilang dulu. Oke?" ucap Zhein pelan sambil mengecup kening Suci.


"Makasih ya Mas. Kamu mulai mengajar kapan?" tanya Suci kemudian.


"Minggu depan sayang, kemarin jadwalnya sudah di emailkan. Tapi besok Mas mau ke kampus dulu. Merapikan barang di ruangan. Mau ikut?" tanya Zhein lembut.


"Mau Mas." ucap Suci senang.


Hidupnya benar benar sempurna. Memiliki Suami super sabar, mertua yang super baik, Mama yang super memanjakan Suci, dan keturunan yang Alhamdulillah sehat. Nikmat Allah SWT mana yang Suci dustakan. Semua disyukuri.


Pukul 20.00 WIB


Hari ini kedua ibu itu masih asyik dengan drama yang ditontonnya. Kompak sekali. Raina sudah istirahat di kamar sejak selesai makan malam.


Suci dan Zhein, jangan tanyakan pasangan ini sedang dalam fase kebucinan. Nempel terus kayak perangko. Tapi mereka berdua menikmati masa-masa ini. Apapun di lakukan berdua.


"Mas, rumah baru kita seperti apa?" tanya Suci yang sedang dalam pangkuan Zhein di sofa kamar.


Rambutnya yang panjang dan hitam membuat Suci terlihat ayu dan manis. Satu tangannya merangkul ke bahu dan leher Zhein, sedangkan satu tangannya menyusuri entah Kemana.


"Perumahan biasa sayang, dan itu kecil dan tidak tingkat. Hasil jerih payahku selama menjadi dosen honorer di Kairo. Jangan lihat besar kecilnya, Mas belum mampu membelikan yang besar." ucap Zhein pelan.


"Mas, aku gak suka yang besar, aku suka yang standar." ucap Suci menanggapinya dengan asal.


"Memang punya Mas terlalu besar?" tanya Zhein menahan tawa.


"Katanya kecil?" jawab Suci dengan polosnya.


"Masa sih?" ucap Zhein pelan.


"Suci kan belum pernah lihat Mas?" ucap Suci pelan.


"Yakin?" tanya Zhein dengan maksud lain.


"Kamu kan gak pernah bilang kalau punya kamu besar, tadi katanya kecil." ucap Suci keras dan semakin kesal.

__ADS_1


Suci terlalu polos dan tidak mengerti maksud lain Zhein.


"Sayang, kamu gak terasa apa apa? berdiri nih, kamunya jangan goyang goyang kalau lagi dipangku." ucap Zhein pelan.


"Apa sih Mas, gak ngerti." ucap Suci yang memang bingung sejak tadi.


"Kamu berdiri dulu, ini kurungannya mau lepas, sudah mengembang." ucap Zhein pelan menahan sesuatu dibalik kurungan itu.


Suci pun berdiri dan menoleh ke arah yang ditunjuk Zhein.


"Astaghfirullah Mas... kenapa bisa begitu." ucap Suci menutup kedua wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Lebay DECH, ayo tanggung jawab, kamu sih tadi tangannya Kemana mana." ucap Zhein pelan. Wajahnya tampak gusar membutuhkan pelepasan secepatnya.


Di luar dugaan Zhein, Suci langsung menjadi nahkoda kapal malam itu. Suci dan Zhein pun harus melepaskan rasa lelah dan nikmat bersama. Nahkoda kapal kali ini masih dalam tahap belajar, jadi masih perlu arahan seniornya.


"Putarannya janga terlalu full speed bisa meleset nanti Suci." ucap Zhein disela sela kenikmatannya mulai memuncak.


"Hemm.." Suci pun hanya mendehem, karena bila bersuara sudah dipastikan desahannya bisa menjadi jadi.


Si nahkoda kapal senior pun geram saat sudah dipuncak, Suci pun salah kendali. Karena sudah yg tidak sabar, posisi pun berubah, nahkoda kapal yang asli pun mulai beraksi. Hingga puncak asmara pun sulit terkontrol lagi penambahan porseneleng pun menjadi jadi agar kecepatan semakin kalap dan kenikmatan bisa diraih bersamaan.


Memang benar, orang hamil mudah dirayu.


"Assalamualaikum..... Zhein, Suci.... ada tamu sayang" ucap Bunda mengetuk pintu kamar.


"Waalaikumsalam, iya Bunda." jawab Suci dengan suara serak menahan nafas yang masih memburu.


Zhein langsung bangkit berdiri dan membersihkan badannya. Begitu juga Suci, yang terlihat cemas karena ada tamu.


"Siapa sih malam malam datang Mas?" tanya Suci saat memakai bajunya.


"Kita lihat saja sayang." ucap Zhein merapikan kerudung Suci yang masih berantakan.


Mereka berdua keluar kamar dengan segera menuju ruang tamu. Ada sesosok pria duduk sambil mengedarkan pandangannya disekeliling ruang tamu.


"Assalamualaikum.... Kamu.....?"

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2