Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 105 KORBAN PENUSUKAN???


__ADS_3

Korban penusukan itu segera diangkat dan dibawa ke mobil, dibantu dan ditemani oleh dua orang pria yang menjadi saksi penusukan terhadap korban.


Suci pun langsung histeris melihat korban yang telah bersimbah darah. Bau amis dari darah yang mengucur terus dari tubuh korban pun sudah tidak dihiraukan lagi.


Zhein langsung melajukan mobilnya dengan cepat ke arah Rumah Sakit terdekat agar pasien mendapatkan pertolongan pertama. Pasien tertusuk itu telah mengeluarkan darah banyak sehingga dikhawatirkan akan kehabisan banyak darah dalam perjalanan.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Suci kepada dua lelaki yang memangku korban tersebut.


"Kami tidak tahu. Awalnya pria ini sedang duduk dan dihampiri wanita muda dengan mobil mewah. Mereka sempat berbincang dan sempat adu mukut. Tidak lama ada beberapa bodyguard turun dari mobil itu dan memukulinya. Saat warga berteriak dan ingin membantu, bodyguard itu mengeluarkan pisau lipatnya dan menusuk korban berkali kali, lalu ditinggalkan begitu saja." ucap salah satu saksi menjelaskan dengan detail.


"Kalian masih ingat ciri-ciri nya, kita harus lapor polisi." ucap Suci dengan suara lantang.


"Ingat Bu, warna mobilnya merah, tapi untuk plat nomornya saya tidak ingat. Kalau perempuan muda itu, saya sepertinya ingat bila bertemu lagi." ucap saksi yang kedua menjelaskan.


"Sayang, nanti kita lapor polisi, yang penting sekarang kita ke Rumah Sakit dulu." ucap Zhein menenangkan.


"Mas, dia itu papaku Mas?! walau bukan papa kandung, tapi dia sudah membesarkan aku. Tolong Papa Leo Mas. Cepat Mas." ucap Suci dengan suara kencang.


Zhein bahkan cemas dan tidak tenang, karena korban itu orang yang sangat dikenalnya. Papa Mertuanya sendiri.


Suci pun berteriak dan menangis dengan histeris.


"Sudah sayang kamu harus tenang, kamu sedang mengandung. Kamu gak kasihan dengan bayimu, tenang ya. Kita pasti bantu papa Leo." ucap Zhein pelan dan lembut.


Matanya masih sembab walupun sudah tampak lebih tenang dari tadi. Tangannya memegang tangan papa Leo dengan erat. Seburuk-buruknya perlakuan papa Leo terhadap keluarga Suci, tetap saja dia papa yang bertanggung jawab.


Mobil pun sudah berada di depan ruang IGD, Zhein pun langsung turun menuju ruang administrasi dan IGD.


Suci dan Zhein langsung mengikuti bed dorong itu menuju IGD. Perasaan cemas dan panik berada dalam pikiran Suci.


"Kamu yang sabar sayang. Semua pasti baik baik saja." ucap Zhein lembut sambil mengusap punggung Suci.


"Iya Mas, aku khawatir dengan papa. Siapa yang tega ingin membunuh papa Leo." ucap Suci pelan.

__ADS_1


"Mas akan cari tahu sayang, Mas mau telepon Bunda dan Mama agar menemani kamu disini. Mas akan cari petunjuk dengan para saksi yang ada. Kamu tenang ya." ucap Zhein pelan.


Raut wajahnya masih menampakkan rasa penasaran. Ada orang yang tega ingin menghabisi nyawa papa Leo, tentu ada alasannya.


"Suci, Mas beli makanan dulu untuk kamu. Kamu mau apa?" ucap Zhein pelan.


"Apa saja Mas, Suci lagi gak nafsu. Ingin bertemu papa Leo." ucap Suci pelan.


"Kamu dengar sendiri bukan, dokter bilang apa? beliau akan membantu semaksimal mungkin." ucap Zhein pelan.


"Iya Mas, tetap saja, Suci takut." ucap Suci pelan.


"Ada Mas disini. Kamu jangan takut. Apapun yang terjadi kepada papa Leo itu semua kehendak Allah SWT. Kamu percaya kan, di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya hanyalah bersifat sementara termasuk umur kita." ucap Zhein mengingatkan Suci agar selalu mengingat Kebesaran Allah SWT.


"Insya Allah Mas, Suci bisa menerimanya, Suci hanya syok melihat Papa Leo menjadi korban penusukan." ucap Suci pelan.


Sudah satu jam lebih, Suci dan Zhein menunggu di depan ruang operasi. Belum ada tanda tanda dokter telah menyelesaikan tugasnya. Lampu Merah masih menyala di depan kamar operasi itu.


Tidak lama Bunda Jihan dan Mama Larasati pun datang. Mereka pun tidak kalah panik dan cemas. Mereka pikir ada yang terjadi dengan Suci dan kandungannya.


"Tenang dulu Mah, Zhein akan menjelaskan detailnya." ucap Zhein pelan.


Dengan tenang Zhein pun menceritakan runtutan kejadian yang sebenarnya. Hingga saat ini saksi sedang di periksa boleh polisi terkait penusukan ini.


"Lalu pelakunya bagaiman Zhein?" tanya Bunda Jihan pelan.


"Belum ketemu bunda, sedang diselidiki, sepertinya modus penusukan ini karena balas dendam." ucap Zhein dengan mantap.


Memang hanya terkaan, tapi logis. Untuk apa seseorang membayar bodyguard kalau bukan untuk membunuh atau menyakiti, karena apa? tentu saja karena kebencian, dendam dan amarah.


"Suci pulanglah dulu, nanti kalau sudah siuman akan Mama beritahu. Biar Mama dan Bunda Jihan yang menunggu disini." ucap Mama Larasati.


"Aku ingin menunggu Papa Leo sampai selesai operasi Mah. Setelah itu, lihat nanti saja. Apakah papa Leo punya musuh Mah?" tanya Suci pelan dengan menatap wajah Mama Larasati tajam.

__ADS_1


"Mama tidak pernah tahu apa yang papa Leo lakukan di luar rumah. Setahu Mama, keluarga papa berantakan karena semua haus akan harta. Dan papamu itu selalu menghabiskan harta milik Opa dan Oma, hingga suatu hari sepupunya meminjam uang untuk membuka usaha namun tidak diberi. Semenjak kejadian itu memang banyak teror yang terjadi di rumah Opa dan Oma. Mama sibuk mengurus perusahaan Papamu sayang. Mama jarang dirumah." ucap Mama Larasati pelan dan mencoba mengingat kembali. Siapa musuh keluarga Leo.


Lampu merah di depan kamar operasi pun telah mati. Dua dokter keluar dari ruangan itu, dan mencari keluarga pasien bernama Leo.


"Saya Suci anaknya dokter. Bagaimana keadaan papa Leo dokter?" ucap Suci pelan, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.


"Saya tidak bisa memastikan dengan baik, salah satu tusukan pisau mengenai jantung, jadi saya tidak bisa memastikan, mintalah keajaiban pada Allah SWT. Pasien akan siuman sekitar lima jam lagi. Nanti saya akan periksa kembali keadaannya." ucap Dokter itu pelan.


"Masya Allah Papa.... Papa ... Mas Zhein .... Papa gimana Mas!!!" ucap Suci histeris kembali.


"Suci sudah... kamu pulang dulu bersama Zhein ya sayang. Bunda akan menunggu disini sampai papa Leo siuman, Bunda akan mengajarimu langsung. Suci percaya dengan Bunda?" tanya Bunda Jihan meyakinkan.


Suci pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Suci percaya dengan Bunda. Jaga papa, Bunda. Suci pulang dulu, nanti kesini lagi Bunda." ucap Suci pelan.


"Iya sayang, kamu lelah, istirahat dulu di rumah ya. Mama akan menemani papa Leo." ucap Mama Larasati pelan.


"Aku tidak bisa percaya dengan Mama. Bahkan Mama juga sudah by membohongiku tentang jati diri Suci." ucap Suci dengan keras.


"Kamu bicara apa Suci, bukankah masalah itu sudah selesai, kenapa kamu ungkit kembali Nak. Mama juga korban, Suci." ucap Larasati pelan.


"Zhein bawa Suci pulang, dia butuh istirahat." ucap Bunda Jihan pelan.


"Iya Bunda. Mama Zhein pulang dulu. Ayok sayang, kita beli makan dulu." ucap Zhein merayu Suci.


Zhein pun langsung menggandeng Suci agar meninggalkan tempat itu. Mood mungkin sedang tidak baik. Atau mungkin trauma itu datang lagi.


"Sudahlah Jeng Laras, Suci itu kan sedang mengandung. Tingkat kepekaannya terlalu sensitif, apalagi hati ini dia melihat jelas kejadian ini, mungkin dia stres. Harap maklum Jeng Laras." ucap Bunda Jihan lembut.


"Iya Jeng Jihan. Terima kasih." ucap Larasati pelan.


Leo sudah dipindahkan ke ruang perawatan, tapi ada beberapa alat yang masih tertempel di tubuhnya. Alat itu sebagai pendektesi atau alat pantau kesehatan pasien.

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2