Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 75 KEKUATAN CINTA


__ADS_3

Mobil Fathan sudah terparkir manis di parkiran apartemen Zhein. Semua telah turun begitu juga dengan Suci. Fathan dan Zhein membawa seluruh belanjaan bulanan mereka, sedangkan Suci berjalan lebih dulu menu, menuju kamar apartemennya dan membuka pintu kamar itu.


"Masuk Fathan, apartemen kita memang kecil tidak seluas apartemen milikmu. Tapi kita berdua nyaman tinggal disini, iya kan sayang?" tanya Zhein kepada Suci yang sedang membawakan minuman dan cemilan.


"Kamu selalu merendah Zhein, ini kecil tapi fasilitasnya lengkap, milikku besar tapi aku membeli isinya cukup menguras dompet." jawab Fathan sambil terkekeh.


"Mas Fathan, Suci titip ini untuk Kak Raina, ini belanjaan bulanannya tadi pasti terburu-buru jadi lupa. Kan sekalian mau kenalan lebih dekat, biar Mas Zhein kasih alamatnya." ucap Suci pelan.


Suci pun kembali ke dapur dan membereskan belanjaan ke dalam kulkas dan lemari makanan.


"Nanti aku chat alamatnya. Kamu siap untuk membuka hatimu kembali." tanya Zhein pelan.


"Insya Allah, aku coba Zhein, maafkan aku masih mencintai Suci, perasaan itu sulit hilang, tapi aku usahakan dengan mendekati Raina perasaan itu bisa tergantikan." ucap Fathan pelan. Hatinya memang tidak yakin, tapi keinginannya untuk melupakan Suci sangat kuat.


"Jangan sampai aku mendengar kamu menyakitinya, kalau sampai aku mendengar, aku orang pertama yang akan memukulmu." ancam Zhein dengan serius.


"Persahabatan kalian sungguh kuat sekali, sampai segitunya menjaga Raina? apa kamu pernah suka dengan Raina?" tanya Fathan menyelidik.


"Sama sekali tidak, aku berteman dengannya sejak SMP. Aku hanya menjaga karena dia wanita, yang harus dilindungi." ucap Zhein pelan.


"Baiklah, aku pulang dulu, mampir ke tepat Raina. Langsung khotbah gimana?" tanya Fathan pelan.


"Ikuti kata hatimu jangan nafsumu. Jaga Raina dengan baik Fathan." ucap Zhein pelan.


"Kamu juga, jaga adikku dengan baik. Awas teledor, aku juga orang pertama yang akan memukulmu." ucap Fathan dengan tegas.


Mereka pun tertawa bersama, hal sederhana ini bisa membuat para lelaki itu terbahak-bahak.


"Cinta itu konyol dan aneh. Datang tak diundang pergi tak diantar. Kenapa jadi kayak jalangkung." ucap Fathan pelan.


"Iya kamu jalangkungnya." ucap Zhein menimpali.


"Aku pulang dulu Zhein. Suci mana?" tanya Fathan pelan.


"Suci, ini Fathan mau pulang, udah gak sabar mau ke rumah Raina." ucap Zhein terkekeh.


"Sial. Dasar ipar gak beres." ucap Fathan pelan.


Suci pun menghampiri Fathan yang ingin berpamitan.

__ADS_1


"Aku pulang dulu. Assalamualaikum.." ucap Fathan pelan.


"Waalaikumsalam..." ucap Suci dan Zhein serempak.


Mereka mengantarkan Fathan hingga pintu utama, hingga bayangan Fathan benar benar hilang karena tembok pembatas.


"Kamu lagi apa sayang?" tanya Zhein dengan merangkul pinggang Suci.


"Lagi buat puding Mas, tapi lagi di dingin dulu." ucap Suci pelan.


"Sayang, kita sebentar lagi pulang ke Indonesia. Kita langsung pindah ke rumah baru. Kamu gak papa kan?" tanya Zhein pelan.


"Minggu depan, Bunda dan Mama kan datang Mas." ucap Suci pelan.


"Iya, Mas yang undang, biar datang di acara wisuda Mas, sekalian nemeni kamu di pesawat. Acara syukurannya di Indonesia saja gak papa?" tanya Zhein pelan.


"Barang barangnya dikirim lewat paket saja Mas, biar kita gak ribet." ucap Suci pelan.


"Iya sayang. Itu sudah Mas pikirkan. Boleh Mas, bicara sesuatu sayang." tanya Zhein pelan.


"Boleh Mas, mau tanya apa? ini kopinya diminum." ucap Suci menyodorkan segelas kopi hitam dengan aroma khas nikmat.


"Bila suatu hari, ayah kandungmu diketahui, untuk menyempurnakan pernikahan kita, aku ingin mengulang ijab kabul kita. Kamu mau sayang?" tanya Zhein pelan.


"Kita kemarin menikah, menggunakan bin papa Leo, tapi kamu sendiri ingat bukan, papa Leo mengakui kamu bukan anak kandungnya. Mama pun tidak tahu juga, tapi bila suatu saat Allah SWT menakdirkan kamu bertemu ayahmu. Aku ingin menikahimu kembali dengan restu ayah kandungmu. Apapun alasannya." ucap Zhein dengan mantap.


"Kamu beneran gak malu menikah dengan anak haram seperti aku?" ucap Suci pelan. Wajahnya menunduk, dan tatapannya kosong ke bawah.


Zhein pun mendongakkan wajah Suci dengan jari telunjuk mengangkat dagunya.


"Hei, sayang kenapa diam. Bukankah kita sudah pernah membahas ini. Yang haram itu bukan anaknya tapi perbuatannya. Kamu jangan pernah berpikir buruk tentang kedua orang tuamu. Kamu paham kan sayang?" ucap Zhein menatap lembut mata Suci.


"Iya Mas, aku paham." ucap Suci lirih.


"Kamu tahu Kekuatan Cinta yang hadir diantara kita itu karena Allah SWT. Aku mencintaimu karena kamu mau kembali ke jalan Allah SWT. Itu yang aku suka dari kami Suci, aku ingin mencintaimu karena Allah SWT, selebihnya itu bonus untukku. Apa yang kamu suka dari aku?" tanya Zhein pelan, dengan memandang wajah ayu sang istri.


"Apa ya Mas? Kalau aku dulu, awalnya hanya kagum, terus aku ingin menjaga keluargamu dari fitnah tetangga. Sama sepertimu selebihnya itu hadiah pernikahanku." ucap Suci pelan.


"Katanya dulu karena ganteng, gimana sih?" ucap Zhein merajuk.

__ADS_1


"Tapi gantengnya sudah hilang Mas, gimana dong?" ucap Suci pelan.


"Cintanya sudah pudar dong?" ucap Zhein pelan.


"Kamu itu lucu Mas, aku selalu mencintaimu sayang.." ucap Suci sambil mengecup pipi Zhein.


"Cuma di pipi? yang lain juga ngiri lho sayang?" ucap Zhein merayu.


"Memang yang mana yang iri?" tanya Suci pelan.


"Yang ini sayang." ucap Zhein sambil memonyongkan bibirnya dan menunjuk ke arah bibir.


"Ya Allah, kamu ngiri hai bibir monyong." ucap Suci terkekeh.


"Kok dibilang monyong sih sayang?" ucap Zhein pura pura kesal.


"Itu lagian dimonyong monyongin yang mau nyium juga jadi geli Mas." ucap Suci pelan.


Zhein pun langsung menyeruput kopinya dan... Cup.....


Kecupan manis dari Suci mendarat sukses tepat dibibir Zhein. Si pemilik bibir pun tersenyum manis melihat istrinya itu.


"Kalau disuruh gak mau, kalau gak disuruh malah agresif. Istri siapa sih gemes gini." ucap Zhein mencubit gemas pipi Suci.


"Suci gak diakuin istri nih?" ucap Suci pelan.


"Ibu hamil bawannya sensitif aja. Diajak bercanda suami malah manyun. Sini peluk dulu sama Abi ya Nak, tuh Bundamu ngambek." ucap Zhein mengelus elus perut Suci yang membuncit.


"Mas, geli ih... ayok udh mau ashar sayang." ucap Suci pelan.


Zhein hanya mengangguk dan menghabiskan kopi hitamnya lalu menyusul Suci yang sudah berwudhu dan bersiap sholat.


"Sayang, selesai sholat, mau olah raga sore bertemu anak ayah boleh?" ucap Zhein pelan.


"Sholat ashar dulu Mas, ntar gak khusyuk sholatnya." ucap Suci dengan kesal.


Dasar suami, untung cinta. Bisa bisanya mau sholat bernegosiasi dulu. Astaghfirullah.....


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚


__ADS_2