
Bunda Jihan dan Mama Larasati sudah bersiap untuk pergi, tinggal menunggu pasangan muda yang sejak tadi belum keluar juga dari kamar mereka.
Sedangkan yang berada di dalam kamar malah tidak berdosa melanjutkan bermesraan setelah sholat Maghrib.
Ciuman itu pun terhenti, Suci menjauhkan wajahnya dari Zhein. Zhein pun terlihat kaget, baru saja akan dimulai sudah terhenti.
"Kenapa sayang? bukankah kamu yang menginginkan? aku sudah menuruti, sekarang sudah kepalang basah nih." ucap Zhein lirih seperti menahan sesuatu.
"Mas, bukankah kita mau pergi?" tanya Suci pelan, melupakan janjinya pada kedua ibunya itu.
Kedua mata Zhein pun membola mendengar ucapan Suci. Zhein benar-benar lupa dengan janjinya itu. Bisa jadi bulan bulanan habis di bully oleh Bundanya nanti di mobil.
"Selesaikan dulu ya sayang" ucap Zhein dengan mengiba.
"Mas...." ucapan Suci tidak digubris oleh Zhein yang memang sehari ini mode on benar benar merusak hati dan pikirannya dan berkali-kali Zhein pun khilaf pada kekasih halalnya ini.
Hanya sepuluh menit waktu yang dibutuhkan Zhein untuk pelepasan. Tidak perlu lama karena waktu sangat mendesak. Zhein dan Suci bergegas mandi junub kembali dan bersiap diri.
Semua sudah rapi, Suci sudah memakai baju terusan yang lebar, karena perutnya yang semakin besar. Tidak lupa cadar yang menutupi wajah selalu dipakai.
Mereka keluar dari kamar tanpa rasa bersalah sedikitpun. Bunda Jihan dan Mama Larasati hanya melirik keduanya dengan wajah pura pura kesal.
"Kayak nunggu pengantin baru ya Jeng Laras." ucapan Bunda Jihan sangat menohok bagi Suci dan Zhein.
"Iya Jeng Jihan dikira kita ini kerupuk udang, sampai melempem ini." ucap Mama Larasati dengan ciri khasnya.
Zhein dan Suci saling berpandangan, dan menunduk malu.
"Ayok Bunda, Mama kita berangkat sekarang." ucap Suci dengan sopan dan lembut.
Kedua wanita itu berpandangan langsung menggandeng Suci keluar apartemen.
Zhein hanya terkekeh melihat para wanita itu terlihat lucu, kebahagiaan mereka itu sederhana. Tertawa bersama anak, menantu dan cucunya sudah membuat mereka bahagia.
Perjalanan malam menyusuri kota Kairo yang indah. Suci pun baru kali ini pergi malam bersama Zhein, Zhein selalu melarang Suci pergi apalagi malam hari.
Mobil berjalan dengan pelan, agar bisa menikmati pemandangan malam.
"Kita mau kemana Mas?" tanya Suci pelan.
"Kita makan dulu ya, kamu sudah lapar kan?" tanya Zhein pelan sambil mencubit pipi Suci dengan lembut.
__ADS_1
"Lapar sudah pasti ya Jeng Laras. Sudah beberapa kali khilafnya juga." ucap Bunda Jihan sedikit ketus sambil melirik kaca spion ke arah Zhein.
Zhein pun melihat Bunda dengan perasaan kurang suka, karena Suci sedang hamil takut kecapaian.
"Bunda kenapa sih? olah raga sore itu bagus untuk janin dan jantung supaya kuat." ucap Zhein dengan tersenyum kecut.
"Bagus gimana sih Nak, kasihan itu lihat perut istrimu, bukannya kamu juga jadi gak nyaman." ucap Bunda Jihan tidak mau kalah.
"Iya Bunda, kami salah, tapi tadi Suci yang menginginkan, Suci yang memaksa." ucap Suci pelan dan tertunduk malu.
Mendengar ucapan mobil seisi mobil pun tertawa terbahak-bahak. Niat hati Bunda untuk mengerjai anaknya, tapi Suci malah membelanya.
Mobil sudah terparkir di salah satu Restoran Indonesia. Tempatnya cukup luas, bersih dan nyaman. Mereka mencari meja yang dekat jendela agar pemandangan kita terlihat indah. Meja dengan kursi berjumlah empat sudah dipesan, mereka duduk dan mulai membaca menu dan menuliskan menu yang diinginkan.
Tidak lama, hanya membutuhkan waktu sekita lima belas menit, semua makanan yang dipesan sudah tersaji diatas meja.
"Kok gak semangat gitu? kan kamu yang pesan sendiri. Mau di suapin?" tanya Zhein yang masih mengunyah makanannya.
"Mau.. Maaf ya Mas, jadi manja." ucapnya pelan.
"Iya gak papa, Mas ngerti kok." ucap Zhein dengan penuh kelembutan.
Dengan telaten Zhein menyuapi ibu hamil itu secara pelan dan hati hati. Suci hanya duduk dan memegang paha Sang Suami, entah kenapa menjadi sangat manja dan ingin diperhatikan.
"Iya Bunda, Suci lagi gak ingin jauh dari suami." ucap Suci dengan polos.
"Bagus itu, tandanya semakin cinta." ucap Mama Laras pelan.
"Mas, kita jalan jalan ke taman sebentar, Suci mau eskrim langganan." ucap Suci pelan.
"Sayang ini sudah malam, jalan ke taman boleh, tapi beli eskrim lain kali saja. Ingat Raina bilang apa?" ucap Zhein pelan sambil mengingatkan.
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka pun pergi menuju taman. Taman itu begitu ramai dan padat. Mereka berjalan melihat lihat keramaian yang tidak biasa.
"Mas, itu kan Kak Raina?" tanya Suci pelan menunjuk ke arah Raina berdiri.
"Iya tapi sama siapa ya sayang?" ucap Zhein pelan sambil menggandeng tangan Suci dengan erat.
Raina tampak berdiri disamping pohon, ada seseorang laki laki dibalik pohon itu, tidak terlihat dan agak samar samar yang jelas sosok itu berbeda dengan sosok Fathan.
Zhein dan Suci mendekat dan menghampiri Raina.
__ADS_1
"Kak Raina?" ucap Suci pelan dan terbata bata, takut salah orang.
Raina pun menengok ke asal suara yang sudah tidak asing lagi.
"Hai, Zhein , Suci." ucap Raina sedikit cemas.
"Katanya ada jadwal malam? Kamu dengan siapa Raina?" tanya Zhein dengan tatapan tajam.
Raina sudah dianggap seperti adik sendiri, terlebih selama ini menjaga Suci, jadi tidak ada salahnya bila Zhein menginginkan yang terbaik untuk Raina.
"Kenalkan ini Bramantyo, panggil saja Bram." ucap Raina pelan.
Zhein dan Bram saling berkenalan dan berjabat tangan.
"Zhein, dan ini Suci istriku." ucap Zhein mantap.
"Bramantyo, saya tunangan Raina." ucapan Bram sukses membuat Zhein dan Suci terkejut bukan main.
Raina paham dengan perubahan wajah kecewa dari Suci dan Zhein
"Raina?" ucap Zhein tegas.
"Maafkan aku Zhein, besok aku akan menjelaskan kepadamu." ucap Raina pelan.
"Kalian sedang berjalan jalan?" tanya Bram membuka percakapan.
"Ya, istriku menginginkan untuk berjalan ditaman. Kamu sudah lama disini Bram?" tanya Zhein kemudian mencari jawaban.
"Tentu saja Zhein, tidak mungkin aku melepaskan Raina sendiri disini." ucap Bram pelan.
"Kak Raina gak pake jilbab?" tanya Suci pelan.
Selama ini Raina selalu berpakaian tertutup bahkan bekerja pun selalu menggunakan kerudung.
Bram pun menatap tajam ke arah Raina. Raina hanya bisa menunduk dan terlihat sedikit pucat.
"Kamu bekerja dimana Bram, Raina sahabatku, kenapa kita tidak pernah bertemu." tanya Zhein pelan.
"Aku pemilik bar disini. Aku mengenal Raina sejak dua tahun yang lalu. Dan kami bertunangan setahun yang lalu." ucap Bram menjelaskan.
"Aku pulang dulu Zhein, ayo Bram kita pulang." ucap Raina menarik lengan Bram meninggalkan Suci dan Zhein dalam tanda tanya besar.
__ADS_1
Mereka saling berpandangan setelah kepergian Raina dan Bram.
JAZAKALLAH KHAIRAN