
"Assalamualaikum....Kamu?" ucap Suci pelan.
"Hai sayang? kok penampilanmu berubah? memakai kerudung? kamu muslim?" tanya Surya pelan, dan berjalan menghampiri Suci.
Zhein yang sejak tadi melihat adegan sedikit membuatnya cemburu ini langsung menghadang Surya yang hendak menyentuh istrinya.
Tubuh Suci pun langsung menegang dan perutnya terasa sedikit keram. Melihat perubahan wajah istrinya yang menahan sakit, Zhein pun langsung merangkul Suci untuk duduk di sofa.
"Kamu gak papa sayang?" tanya Zhein lembut sambil mengusap perut istrinya yang memang mengencang.
Suci pun menggangguk, satu tangannya memegang wajah Zhein.
"Kamu percaya padaku Mas, dia Surya, dia hanya masa lalu aku. Dulu memang dia penerang tapi kini telah redup. Cuma kamu Mas penerangku saat ini." ucap Suci pelan.
"Aku percaya padamu sayang, kamu pernah mengatakan ini kepadaku, Bunda juga pernah memberitahuku masalah ini. Aku tidak akan mudah terpancing emosiku sayang." ucap Zhein dengan tenang dan menguatkan Suci.
Surya terus menyimak dan melihat adegan mesra itu, tentu ada rasa cemburu, walaupun mereka hanya dekat, tapi Suci memberikan harapan waktu itu.
"Kamu hamil?" ucap Surya menghentak ke arah Suci.
"Kak Surya, kenalkan ini Mas Zhein, suami Suci. Betul Saat ini Suci sedang mengandung." ucap Suci tegas.
"Suami? aku gak salah dengar Suci? Kamu suruh aku menunggu tapi kamu menikah dengan orang lain. Bagus sekali Suci, aku bekerja banting tulang agar bisa mensejajarkan derajatku dengan keluargamu." ucap Surya penuh amarah.
"Dia istriku, kalau anda sudah tahu kebenaran tentang Suci, silahkan anda pergi, jangan pernah datang lagi ke rumah ini." ucap Zhein dengan tegas.
"Aku akan buat perhitungan denganmu Suci." ucap Surya dengan kasar.
"Tidak perlu mengancam Bung, Suci wanita dia tidak sepadan dengan anda seorang laki laki dengan badan besar. Masih banyak wanita yang bisa kamu pilih, lagipula Suci seorang muslim tentu berbeda denganmu bukan?" ucap Zhein menatap tajam ke arah Surya.
"Rasanya tetap beda, kenapa kamu menikungku!! apa kamu menghamilinya dahulu." ucap Surya dengan tatapan sangar.
"Cukup Kak Surya. Maafkan aku bila aku salah. Dari awal aku sudah bilang, aku memiliki ruang untuk orang lain. Kamu yang memaksaku untuk menunggu." ucap Suci membela diri.
__ADS_1
"Mudah kamu bilang begitu Suci, kamu sudah mempermainkan perasaanku." ucap Surya pelan.
"Maafkan Bunda ikut campur disini. Saya Jihan Bundanya Suci. Maafkan anak kami, bila kamu merasa dikecewakan atau disakiti. Semua ini sudah takdir, anda juga belum mengenal orang tua Suci bukan. Bila Suci belum menikah dan anda melamar, belum tentu orang tua Suci menerima kamu. Bunda hanya menengahi, bunda tahu hubungan kalian berdua, kamu masih kenal bunda. kan Nak Surya?" ucap Bunda Jihan dengan lembut.
"Tapi bunda, belum genap satu tahun aku meninggalkan Suci." ucap Surya luluh dengan penjelasan bunda yang lemah lembut.
"Bunda yakin kamu bisa move on dari Suci, apalagi kamu sudah mapan, pasti banyak wanita yang menginginkanmu. Percaya sama bunda." ucap bunda pelan.
Kericuhan yang sempat menegang pun bisa dilunakkan dengan kelembutan.
"Baiklah Bunda, hatiku masih kecewa dan sakit hati. Tapi Suci, semoga kamu berbahagia dengan pilihan kamu." ucap Surya yang mulai melemah dan melembut.
"Kak Surya terima kasih. Maafkan Suci untuk masalah ini." ucap Suci pelan.
"Maafkan saya juga Bung. Terima kasih bisa mengerti apa itu takdir." ucap Zhein menjelaskan.
Sepenggal Kisah Cinta Masa SMA, dan hanya berhenti untuk sekedar menjadi sahabat. Dulu pernah menjadi Penerang tapi kini semuanya telah meredup seiring berhembusnya angin yang meniup niup hingga hilang tidak berbekas.
Pembuktian Cinta itu bukan pada lisan tapi pada tindakan nyata. Sama seperti penolakan yang berakhir keikhlasan harus di dasari kasih sayang dan kelembutan.
Suci bukan sekedar panggilan yang indah untuk diucapkan, tapi hatimu yang siap menerima takdir tanpa rasa kecewa dan menyerah.
Suci bukan sekedar pemberian nama dari seorang ibu yang memiliki perjalanan hidup penuh luka liku.
"Kita ke kamar lagi, apa perlu Mas gendong?" tanya Zhein pelan.
"Bantu aku berjalan saja Mas." ucap Suci pelan.
Suci pun bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Zhein pun menidurkannya dan mengusap usap perut Suci yang masih terasa kencang.
"Kamu jangan pikirkan yang tadi. Ada Mas yang selalu menjagamu, ada Bunda, ada Mama, ada Raina. Kita semua menjaga kamu sayang." ucapan Zhein selalu lembut dan menenangkan hati Suci.
"Aku cuma kaget Mas, kenapa Kak Surya datang lagi, seingatku aku sudah memutuskannya, tapi dia selalu memintaku untuk menunggunya." ucap Suci pelan mengingat pertemuan terakhir mereka di rumah ini.
__ADS_1
"Itu masa lalu kamu, bukankah aku masa depan kamu dan anak kita?" ucap Zhein dengan senyum yang indah.
Tidak ada perasaan kecewa, menyesal atau marah. Zhein tipe pria yang sempurna, di baik, agamis, dan lembut. Satu hal lagi dia setia. Masa lalu yang buruk, mampu merubahnya menjadi pria yang bertanggungjawab dan sayang kepada bundanya, terlebih kepada istri dan calon anaknya.
"Kamu mandi dulu Mas, maaf aku gak bisa nyiapin air hangat buat kamu." ucap Suci pelan.
"Kirain mau dilanjutkan sayang." jawab Zhein dengan terkekeh.
"Kamu gak kasihan sama anak kamu, lagi tegang begini." ucap Suci pelan.
"Iya sayang, gak mungkin Mas tega, kondisi kamu aja begini. Tapi nanti gak ada ampun." ucapnya terkekeh sambil masuk ke kamar mandi.
"Mas Zhein......... dasar mesum aja pikirannya." ucap Suci dari tempat tidurnya.
Alhamdulillah.. satu per satu masa laluku terungkap dan ada penyelesaiannya. Semoga setelah ini tidak ada gelombang yang bisa membuat rumah tanggaku ikut terayun. Semoga Allah SWT selalu menjaga keutuhan rumah tanggaku dan menguatkan iman dan kepercayaan satu sama lain..
Zhein sudah tampak segar setelah selesai mandi. Ada bunyi nyaring dari ponselnya.
📱Fathan...
Diangkatnya telepon itu dan mereka terlihat beberapa pembicaraan yang terlihat serius. Tapi ada senyum yang terbit dari sudut bibir suaminya yang menandakan ada kebahagiaan disana. Telpon itu ditutup dan diletakkan kembali diatas meja rias.
Suci telah menunggu apa yang akan di ceritakan oleh suaminya, karena Suci penasaran. Tapi Zhein hanya melenggang pergi menuju lemari pakaiannya dan memakai pakaiannya. Lalu melirik ke arah Suci yang sedang manyun karena penasaran.
"Ada apa sih Mas?" tanya Suci sudah tidak sabar.
"Ihh ibu hamil kok kepo. Urusan pria." ucap Zhein dengan enteng tanpa rasa bersalah.
"Urusan pria apa?" tanya suci kemudian.
"Fathan bertanya lebih enak yang perawan atau tidak?" ucap Zhein terkekeh.
"Astaghfirullah... pertanyaan macam apa itu Mas. Kamu sama saja ternyata." ucap Suci dengan kesal.
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN