
Zhein sudah kembali ke kamarnya, pintu kamar sudah di kunci. Satu per satu kancing kemeja yang dipakainya telah dibuka, dan mengganti dengan kaos oblong yang longgar.
Zhein pun bergegas menuju tempat tidurnya untuk merebahkan diri. Masalah keluarga istrinya membuat Zhein pun ikut terlibat kepusingannya.
Suci pun membuka matanya karena pergerakan yang cukup terasa di sekitar kasurnya. Matanya melirik ke arah samping. Zhein suaminya tengah memejamkan matanya dan merapalkan doa sebelum tidur.
"Mas, kamu sudah tidur?" tanya Suci pelan. Badannya pun menghadap ke arah Zhein.
Zhein pun membuka matanya dan menoleh ke arah Suci. Menatap sendu wajah istrinya. Badannya pun dimiringkan menghadap tubuh Suci. Tangan Zhein langsung melingkar di pinggang Suci dan mengusap pelan.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Zhein pelan.
"Sudah Mas, sejak tadi aku gak tidur, aku menyimak semua pembicaraan kalian." ucap Suci pelan.
"Kamu yang kamu dengar tadi?" tanya Zhein menyelidik.
"Permintaan Maaf Papa Leo? Papa Tito juga." jawab Suci dengan enteng.
"Kamu memaafkan?" tanya Zhein kemudian, usapan di pinggang Suci pun mulai naik ke punggung.
"Aku gak tahu Mas." ucap Suci pelan.
"Kenapa bisa gak tahu, hatimu berkata apa? biasanya calon ibu punya feeling yang bagus dan tepat." ucap Zhein pelan.
"Aku kecewa Mas, sakit hati. mungkin sulit untuk memaafkan." ucap Suci pelan.
"Kamu jangan mempersulit seseorang mendapatkan maaf Suci, kamu sedang mengandung seharusnya lakukan yang baik baik, Mas tahu itu sulit, tapi setidaknya kamu harus mencobanya Suci. Banyak hikmah yang akan kamu petik setelah ini." ucap Zhein menjelaskan.
"Mas.... kamu benar aku sedang mengandung, kenapa aku melupakan hal ini. Papa Leo sudah pulang?" tanya Suci pelan.
"Semua sudah pulang sayang. Tinggal kita berdua di kamar ini." ucap Zhein menggoda istrinya.
"Ya iyalah Mas, di kamar ini kita berdua, tapi kan di rumah ini masih ada yang lain." ucap Suci cemberut.
"Pinter banget sekarang istri Mas ngejawabnya." ucap Zhein sambil memencet hidung Suci.
"Kalau aku belum memaafkan berati aku berdosa Mas?" tanya Suci kemudian.
"Iya sayang. Kan semua papa mu sudah meminta maaf, jadi kamu wajib memaafkan mereka. Masalah dosa biar Allah SWT yang menghukum mereka. Kita hanya manusia biasa tidak ada hak untuk menghakimi. Tapi sesama manusia wajib saling mengingatkan dan saling menegur bila melakukan kesalahan." ucap Zhein menjelaskan.
"Aku coba Mas, nanti aku sholat mau minta ketenangan hati dan batin, agar bisa mengambil keputusan dengan baik." ucap Suci dengan tersenyum.
__ADS_1
"Jawaban yang bagus, tapi seharusnya memaafkan dengan ikhlas, sholat hanya untuk memantapkan dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja." ucap Zhein pelan.
"Mas di deket kamu itu, aku selalu tenang. Maaf tadi sudah membentakmu, dan mengacuhkanmu. Tadi aku bener bener di luar kendali Mas." ucap Suci pelan.
"Aku mengerti sayang, aku sangat memahami kondisi yang sedang kamu hadapi." ucap Zhein pelan.
"Aku ingin tidur Mas, aku lelah." ucap Suci pelan dengan mata yang sudah mulai dipejamkan.
"Tidurlah sayang, nanti aku bangunkan bila sudah waktunya tahajud." ucap Zhein pelan.
Usapan demi usapan lembut di punggung suci membuat semakin nyaman.
Di lain tempat, beberapa tamu masih berkumpul di ruang tamu. Umi Khadijah menatap Raina dengan tatapan lembut.
"Kita pulang sekarang Fathan, kita kembali besok pagi. Malam ini bukan waktu yang tepat untuk melamar gadis pujaan-mu." ucap Umi Khadijah kepada Fathan.
"Mama Kirana, kak Reihan dan Raina, aku akan kembali besok pagi." ucap Fathan pelan.
"Iya Fathan, apa kalian sudah mengenal satu sama lain?" tanya Mama Kirana.
"Saya siap Mama Kirana." ucap Fathan pelan.
"Sekarang bukan waktu yang tepat Fathan, urusan keluarga kalian bahkan belum selesai jangan menambah beban masalah pada orang tua. Besok pagi kami yang akan ke rumahmu, biar kami minta antar Mama Larasati." ucap Mama Kirana pelan dan lembut.
Umi Khadijah, Fathan dan Fatima berpamitan pulang, karena sudah malam.
Bowo dan Ameera sudah kembali ke kamar sejak tadi untuk beristirahat, karena Ameera kelelahan dalam perjalanan.
Bunda Jihan dan Mama Larasati sudah kembali ke kamar karena Mama Laras tiba tiba merasa pusing kepalanya.
Eyang Atmojo masih setia di ruang tamu menunggu satu per satu berpamitan untuk kembali pulang.
"Kamu yakin dengan Fathan? Raina?" tanya Eyang Atmojo kepada Raina.
"Insya Allah Eyang, Raina akan menerima segala kekurangan dan kelebihannya." ucap Raina mantap.
"Eyang hanya memberikan restu kepada kalian. Fathan orang yang baik, dan dari keluarga seta keturunan yang baik." ucap Eyang Atmojo.
"Bu atmo terima kasih sudah memperbolehkam kami untuk tinggal disini sementara. Alhamdulillah pelakunya sudah tidak meneror keluarga kami, karena sudah ditangkap, tapi kami tetap waspada." ucap Mama Kirana pelan.
"Benar Eyang Atmojo, terima kasih sudah membantu Mama. Kami tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa." ucap Reihan kemudian.
__ADS_1
"Eyang, cuma bisa membantu kalian. Eyang tidak berharap apapun. Eyang cuma minta sering silaturahmi kemari." ucap Eyang Atmojo pelan.
"Pasti Eyang, Eyang sudah Kirana anggap seperti ibu Kirana." ucap Mama Kirana.
"Kalian lelah, terlebih tadi menonton drama kisah sedih, lebih baik sekarang kalian tidur. Besok kalian masih punya acara dengan keluarga Fathan." ucap Eyang Atmojo menasehati.
Mereka pun masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Rumah luas itu, akhirnya penuh juga. Setiap kamar memiliki penghuninya.
"Mama, setuju kan Raina dengan Fathan?" tanya Raina pelan.
"Menurut kamu, melihat sosok Fathan, orang tua akan merestui atau tidak?" tanya Mama Kirana dengan pelan.
"Insya Allah merestui. Kalau menurut Kak Reihan gimana?" tanya Raina pelan.
"Kakak merestui, Fathan itu orang yang baik. Walaupun kakak mengenal hanya beberapa hari saja." ucap Reihan menjelaskan.
"Mama juga merestui, demi kebahagiaan kami Raina. Kamu itu pantas bahagia. Ingat pesen Mama kejujuran dalam berumah tangga itu penting, apalagi sebelum berumah tangga." ucap Mama Kirana dengan senyum melebar lalu memeluk putri kesayangannya dengan penuh kasih sayang.
"Sebentar Ma, Fathan nelepon." ucap Raina pelan kepada Mamanya, dan menyambar ponselnya yang berada dikasur.
📱Fathan calling...
"Assalamualaikum Fathan, ada apa?" tanya Raina pelan.
"Waalaikumsalam... Mama gimana setuju gak dengan hubungan kita?" tanya Fathan datar.
"Entahlah Fathan, kita coba dulu saja ya?' ucap Raina pelan.
"Besok aku akan membuktikan kepada Mama kamu Raina." ucap Fathan pelan.
"Apa?" tanya Raina kemudian.
"Lihat saja besok. Kamu akan tahu seberapa seriusnya aku dengan kamu Raina." ucap Fathan dengan tenang.
Justru yang cemas dan panik malah Raina. Fathan akan membuktikan keseriusnanya. Kira kira apa ya, gumam Raina pelan.
"Baiklah Fathan, tunggu besok, kami akan ke rumahmu." ucap Raina mantap.
"Aku tunggu Raina." ucap Fathan penuh harap.
Apa yang akan Fathan lakukan, untuk memperlancar acaranya untuk melamar Raina. Semoga Dewi Fortuna berpihak kepadamu Fathan.
__ADS_1
Restu yang sudah didapat memang membuat keyakinan untuk berharap itu lebih banyak. Tapi semua takdir itu berjalan sesuai kehendak Allah SWT. Fathan siapkan dirimu....
JAZAKALLAH KHAIRAN