
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Setelah makan malam bersama dan berbincang santai. Raina pun memohon diri untuk pamit.
"Zhein, Suci, kalau disini terus aku bisa lupa waktu. Lihat sekarang sudah pukul sepuluh malam. Aku pulang, besok aku ada jadwal pagi di rumah sakit mengganti jadwal teman yang cuti menikah. Lain waktu aku main lagi. Tujuanku tadi meluruskan kesalahpahaman kalian Suci." ucap Raina menjelaskan panjang lebar.
"Raina, terima kasih, kamu sungguh baik sekali. Kalau aku memiliki saudara laki laki pasti sudah ku jodohkan denganmu. Betul kan Mas Zhein?" ucap Suci penuh semangat.
Pertanyaan Suci pun membuat Zhein tersentak, pasalnya memang Suci memiliki saudara laki laki dan dia adalah Fathan.
"Iya sayang, Mas juga anak bungsu." ucap Zhein datar.
"Jodoh itu rahasia Allah SWT. Doakan aku saja ya." ucap Raina.
"Pasti Raina, aku doakan yang terbaik untukmu." ucap Suci pelan.
"Hati hati Raina, ini sudah malam." ucap Zhein tenang.
"Makasih Suci, Zhein. Assalamualaikum." ucap Raina lembut.
"Waalaikumsalam.." ucap Suci dan Zhein kompak.
Suci dan Zhein masuk ke dalam apartemennya kembali setelah mengantarkan Raina sampai pintu depan. Suci mengangkat gelas gelas kotor ke dapur dan mulai mencucinya hingga bersih.
"Sayang, Mas buatin susu ya?" ucap Zhein lembut.
"Iya Mas, makasih ya." ucap suci pelan masih membereskan gelas ke dalam rak piring.
"Sini minum dulu, buat sehat dede bayinya." ucap zhein lembut.
Suci pun meminum susu itu hingga habis. Sebenarnya minum susu hamil itu kurang enak, ada rasa eneg nya. Tapi karena yang membuatnya itu tulus dan penuh rasa cinta jadi rada eneg nya pun hilang.
"Haus ya sayang, dedenya?" ucap Zhein pelan.
"Mas Zhein bisa aja. Demi dede bayi biar sehat." ucap Suci pelan.
__ADS_1
Zhein pun berdiri dan memeluk Suci dari belakang yang masih duduk di meja makan.
"Makasih, sudah mau menjadi Istri Mas yang paling Sholehah." ucap Zhein sambil mencium pipi Suci dengan gemas.
"Iya sayang, sama sama. Mau ke kamar sekarang?" tanya Suci pelan.
"Iya, Mas mau rebahan, kita ngobrol di kamar. Mau bawa apa sayang? Biar Mas bawain." ucap Zhein lembut.
"Air putih Mas, sama cemilan. Suci sekarang pengen ngemil aja." ucap Suci.
"Iya gak papa, namanya juga orang hamil. Wajar kan?" ucap Zhein pelan.
Mereka berdua pun berjalan menuju kamar dengan sebotol air mineral dan cemilan untuk Suci.
Suci sudah merebahkan tubuhnya dikasur, terasa nikmat sekali. Serasa pegal dan sakit di badan pun hilang seketika. Ditambah aromaterapi kamar berbau Jasmine menambah suasana menjadi hangat dan terkesan romantis.
Suci memejamkan matanya sejenak, sambil menunggu Zhein yang masih berada dalam kamar mandi.
Zhein pun keluar dari kamar mandi dan melihat Suci sudah terpejam. Dimatikannya lampu kamar itu. Kebetulan Suci dan Zhein penyuka kamar gelap bila sedang tidur.
"Mas Zhein kamu sudah selesai." ucap Suci pelan.
"Aku lagi pengen dipeluk Mas, sama kamu, pengen nyium aroma badan kamu, rasanya menenangkan dan nyaman." ucap Suci merengek manja.
"Sini sayang, Mas peluk ya, dede, Uminya biar istirahat, besok kita main lagi." ucap Zhein sambil mengelus perut Suci dan mencium perut Suci dengan lembut.
Pelukan hangat Zhein menjadi candu bagi Suci semasa kehamilannya. Jadi lebih sensitif dan posesif. Hormon wanita hamil sebagian, yang sebagian memang sifat Suci yang penyayang dan setia membuat Suci sulit untuk berpindah ke lain hati. Kecuali memang belum ada ikatan.
Suatu hubungan itu yang dibutuhkan kenyamanan. Selama rumah menjadi tujuan utama dan prioritas untuk mendapatkan kenyamanan, maka disana kita akan menemukan orang orang yang tulus mencintai kita.
"Mas, kamu disini kerja sambil kuliah, apa gak repot. Padahal di Kota Y, karir Mas juga kan bagus." tanya Suci pelan.
Suci ingin mengetahui alasan Zhein dengan jelas. Pernikahan mereka baru seumur jagung, dan mereka tidak mengenalnya pacaran, menikah pun karena kenyamanan satu sama lain, bukan berati mereka sudah mengenal dengan baik semua sifat dan sikap pasangan mereka. Dan yang lebih berat menerima masa lalu pasangan kita dengan ikhlas.
"Suci apa kamu mulai tidak betah disini?" ucap Zhein pelan.
"Bukan tidak betah Mas, asal bersamamu, kemanapun dan dimanapun aku siap menemani dan pasti betah. Hanya aku menjadi asing disini." ucap Suci merajuk. Tatapan matanya menatap manik mata Zhein dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Kamu lagi bosan? Kamu mau jalan-jalan kemana? Mas pasti anter kamu. Maafkan Mas belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu." ucap zhein sambil mengecup kening Suci.
"Kamu masih lama?" ucap Suci lirih.
"Enam bulan lagi Suci. Tapi kali aku mengejar thesisku dengan baik, mungkin empat bulan aku bisa wisuda." ucap Zhein pelan.
"Iya Mas, Suci akan menemani. Kita nanti tinggal bareng bunda aja. Kalau kesepian ada bunda." ucap Suci dengan jujur.
"Aku sudah membeli rumah Suci, tidak mungkin kita akan tinggal bersama bunda. Biar kita mandiri, apa apa kita usahakan sendiri. Jadi tidak bergantung pada orang lain. Apa kamu keberatan?" ucap Zhein mulai mencium pipi Suci.
"Aku senang Mas, tadi bunda gak papa?" ucap suci antusias.
"Mas sudah pernah bahas ini sama bunda, dan bunda setuju sayang. Rumah itu dekat Butik zaujati. Sekarang masih dalam tahap renovasi, mungkin pulang dari Kairo sudah bisa kita tempati" ucap Zhein pelan sambil mencium bibir Suci dengan kelembutan.
Pelukan yang erat dan ciuman lembut yang membuat perasaan mereka menjadi hasrat yang menggairahkan. Gelora asmaranya timbul begitu saja mengikuti nafsu mereka.
Ciuman itu terlepas, bukan untuk diakhiri tapi untuk meminta memulai sesuatu yang lebih lagi.
"Sayang, boleh aku menengok anakku sebentar, sepertinya Abinya sudah merindukannya." ucap Zhein dengan penuh kelembutan.
"Boleh Abi, tapi pelan pelan, kata Raina juga harus pelan dan jangan terlalu sering takut kelelahan." ucap Suci lirih dengan senyum yang mengembang.
Zhein pun mulai mencium bibir Suci dengan sedikit nafsu. Kemudian Zhein beralih pada leher Suci terus turun ke bawah hingga pakaian Suci pun sudah terbuka dan polos. Secepat itu nafsu mereka memburu, ingin segera merasakan nikmat yang sudah tertahan beberapa hari ini.
Suci hanya melenguh pelan. Sentuhan dan ciuman Zhein sungguh dahsyat membuat tubuh Suci bergetar karena hasratnya sudah memuncak.
"Guamu sudah basah Suci, boleh aku mulai menjenguknya." ucap Zhein lembut.
Suci sudah melayang entah kemana bersama kenikmatan. Suci hanya mengangguk tanda setuju, dan merasakan gua itu sedikit penuh dan sesak. Gua yang sudah basah dan licin pun membuat keris Zhein pun terasah dengan baik, dan semakin lama semakin cepat mengikuti irama gerak tubuh mereka berdua, hingga puncak asmara pun bisa mereka raih bersama dengan baik.
"Sayang terima kasih, untuk semuanya. Hari ini aku benar-benar bahagia bersamamu." ucap Zhein pelan sambil mengecup bibir Suci.
--------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1
💚💚💚💚💚