
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Satu hari kepergian Zhein dan Suci membuat rumah menjadi sepi. Biasanya setiap pagi ada drama romantis tapi kali ini tidak ada.
"Jeng Jihan sedang apa? kok saya perhatikan melamun saja" ucap mama Larasati.
"Ini lho Jeng, cari resep baru, biasanya Suci sering menemani saya coba coba resep." ucap bunda Jihan seperti tidak semangat.
Kehadiran Suci membawa kebahagiaan tersendiri untuk bunda Jihan. Sejak bertemu Suci pertama kali, bunda Jihan pun sudah tertarik bahkan niat menjodohkannya pun terlaksana.
"Bikin apa sih Jeng, siapa tahu saya bisa Jeng Jihan." ucap mama Larasati tersenyum.
"Masakan ABG Jeng, seblak ceker, enak kayaknya." ucap bunda Jihan mantap dengan logat Jawa yang kental.
"Owalah... seblak ceker to Jeng. Sini saya buatin Jeng, itu sih gampang Jeng jihan, sambil merem juga jadi." ucap mama Larasati sedikit sombong.
"Mosok ya sambil merem bisa Jeng Laras, saya ikutan lihat ya biar tahu cara masaknya." ucap bunda Jihan penasaran dengan makanan seblak ceker.
Mereka memang ibu ibu yang kompak, saling membantu dan saling mengisi. Cukup setengah jam saja, masakan pun kelar.
"Ini Jeng Jihan dicobain, seblak cekernya sudah matang, pedesnya sesuai permintaan level lima aja. Monggo." ucap mama Larasati senang.
"Ya Allah, Jeng ini seblak kok rasanya cabe semua, puedese poulll. Air tolong Jeng, saya kepedesan." ucap bunda Jihan keras.
__ADS_1
Ternyata makanan seblak itu tidak sesuai ekspektasinya. Rasanya aneh dan pedas yang berlebihan.
"Ini yang gak pedes, saya sengaja bikin dua menu, karena saya tahu Jeng Jihan kan tidak doyan pedas. Yang ini dijamin enak Jeng." ucap mama Larasati merayu.
"Iya Jeng Laras, sini saya coba." ucap bunda Jihan.
"Gimana enak to? kita hari ini ada acara apa Jeng?" ucap mama Larasati.
"Kita dirumah dulu ya Jeng, mau beresin kamar tamu, kan Aisyah sudah pindah kost." ucap bunda Jihan pelan.
"Iya sudah Jeng, saya bantu. Mungkin lusa saya mau ke rumah ibu, Jeng Jihan, gak enak kelamaan disini. Lagi pula Suci tidak ada. Saya ingin merawat ibu, Jeng Jihan. Saya gak in ucap mama Larasati pelan.
Sebenarnya Larasati sudah sangat betah bersama besannya yang baik hati itu. Tapi ibu Atmojo juga membutuhkannya. Dia berjanji untuk merawat ibunda tercintanya itu.
"Kalau memang mau merawat ibu Atmojo saya tidak bisa menahan. Monggo Jeng Laras. Kalau mau kesini lagi juga pintu terbuka untuk Jeng Laras dan keluarga." ucap bunda Jihan tulus.
"Ceritakan kalau itu membuatmu lega. Saya akan mendengarkan." ucap bunda Jihan pelan.
"Leo suamiku bersahabat baik dengan Azzam , Kevin dan mas Bowo kakakku. Mereka empat sekawan, bersahabat sejak SMP. Sewaktu SMA mas Bowo pindah ke luar kota dan tidak pernah berkomunikasi dengan ketiganya. Mereka salah pergaulan, dan saya pun ikut terjun dalam pergaulan mereka. Ketiganya menyukaiku, tapi saya tidak tahu mana yang tulus dan mana yang modus.
Hingga suatu saat saya mabuk berat dan saya tidak ingat apa apa lagi. Saya terbangun, saya sudah berada di sebuah kamar dan Leo ada disana. Dan tubuh saya polos tidak memakai pakaian sehelai benang pun. Hati saya sangat hancur dan kacau. Sejak saat itu saya hanya berdiam diri dirumah hingga saya sadar saya positif hamil. Saya bingung, panik dan cemas. Yang saya tahu hanya Leo, dan hanya ada dia satu satunya orang yang ada pada saat itu. Saya memberanikan diri untuk bertemu Leo dan meminta pertanggungjawaban atas kehamilan saya. Leo pun syok mendengar pengakuan saya. Akhirnya Leo meminta waktu untuk merayu orang tuanya untuk menikahiku. Satu Minggu Leo tidak memberikan kabar.
Hingga Leo datang ke rumah ibu untuk melamar dan menikahi saya dengan syarat pernikahan itu harus dilakukan di gereja sesuai keyakinan Leo. Saya tidak berpikir jernih, saya hanya berpikir anak ini punya ayah dan mau mengakui.
Kehidupan berumahtangga antara saya dan Leo biasa saja dan tidak ada special. Dia tetap dengan dunia malamnya. Tugasku hanya mengurus Suci dan perusahaan manufaktur nya.
__ADS_1
Sebenarnya ada kejanggalan disini. Azzam diam diam menemuiku tanpa sepengetahuan Leo. Pria itu sudah beberapa kali menyatakan cintanya tapi ku tolak. Hingga kabar yang ku dengar dia sudah menikah dengan wanita pilihan ayahnya.
Azzam menanyakan kehamilanku, apakah sehat atau tidak. Saya harus menjaga kandungan ini dengan baik, dan dia selalu membawakan apa yang aku inginkan. Satu hal yang dia katakan, jangan pernah cerita tentang pertemuannya dengan Azzam. Hanya itu pesannya. Hingga dia tidak ada kabar lagi.
Awalnya saya juga tidak tahu dia menikah dengan Khadijah sahabat ku sejak SMP. Karena keinginannya menjadi duta besar, ia pindah ke Kairo bersama pamannya untuk melanjutkan sekolahnya.
Azzam itu ayah Aisyah. Azzam pernah mengalami kecelakaan dan ditemukan dalam keadaan pingsan oleh Siti sahabatku, kemudian ia dirawat hingga sembuh. Aku melihat jelas itu Azzam tapi aku diam tidak sedikitpun aku berbicara tentang Azzam pada Siti. Azzam akhirnya menikah dengan Siti dalam keadaan lupa ingatan. Setelah menikah Azzam mencari pekerjaan dan tidak pernah kembali lagi. Hingga Siti meninggal saat melahirkan Aisyah.
Dan yang aku takutkan, Suci juga darah daging Azzam. Astaghfirullah... Suci dan Aisyah saudara seayah. Apa yang harus aku lakukan Jeng Jihan?" ucap mama Larasati menangis.
"Yang sabar Jeng Laras, semua ada hikmahnya. Seharusnya ini semua diungkap Jeng Laras bukan ditutupi." ucap bunda Jihan menasehati.
"Aku takut dengan pengakuan ini membuat kecewa dan sakit hati Khadijah, Jeng Jihan. Dia wanita, aku pun juga wanita aku bisa merasakan kepedihan hatinya. Aku hanya Azzam mengakui kebenarannya, apakah Suci anaknya atau bukan. Hanya itu yang menjadi ganjalan dihati selama ini." ucap mama Larasati lirih.
Hatinya sesak mengingat semua kejadian ini. Bersahabat dan melahirkan dari satu ayah. Apa Khadijah akan memaafkanku, tapi kejadian itu aku sama sekali tidak mengingatnya.
"Jeng Larasati, tidak baik menyesali semua yang sudah terjadi, itu sama dengan kita tidak menerima takdir kita dari Allah SWT. Seharusnya ini dijadikan pelajaran dan pengalaman terbaik. Hal ini dijadikan motivasi untuk menjadi lebih baik. Jangan dijadikan sebuah aib ataupun ancaman. Harus tetap berbahagia karena ada kemudahan setelah kesusahan yang kita alami. Jeng Laras paham kan maksud saya?" ucap bunda Jihan dengan kelembutannya.
"Jeng Jihan, anda sungguh baik hati dan mulia. Saya sebagai besan malu, mempunyai masa lalu yang seperti ini buruknya." ucap mama Larasati lirih.
"Kita harus sama sama kuat, karena kita mau punya cucu." ucap bunda Jihan mengalihkan pembicaraan.
--------------------------+++--------+++--------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚