
Zhein terus merayu istrinya. Merajuk agar istrinya mau membukakan pintu kamar itu.
"Sayang, buka ya pintunya, Mas mau ketemu anak kita." ucap Zhein pelan.
Tidak ada sahutan, tidak ada jawaban, tidak ada suara apapun. Zhein pun semakin cemas, sudah satu jam Suci di dalam kamar, entah apa yang sedang dilakukannya.
Tito pun mendekati Zhein lalu menepuk bahu Zhein dengan pelan.
"Biar papa yang coba memanggil Suci, Zhein.' ucap Tito pelan.
"Suci.... Nak... ini papa Tito sayang. Buka pintunya sayang, papa ingin bertemu calon cucu papa" ucap Papa Tito kepada Suci dengan suara lembut.
"Cuma papa Tito aja yang masuk, yang lain jangan. Suci benci semuanya." ucap Suci dengan suara seraknya.
Papa Tito pun memberikan kode ke semua orang termasuk Zhein untuk menyingkir dari pintu kamar.
"Iya sayang, ini Papa sendiri." ucap Papa Tito pelan.
Terdengar anak kunci diputar dan pintu kamar pun terbuka lebar.
"Masuk Pah." ucap Suci singkat, dan kembali menuju tempat tidurnya.
Papa Tito pun duduk disana, tepat disebelah Suci.
"Sayang, maafkan papa ya. Karena papa semuanya jadi seperti ini. Mungkin kalau kejadian itu tidak terjadi, maka ini semua tidak perlu terjadi kepada dirimu sayang." ucap Papa Tito pelan.
"Semua sudah terjadi, apa bisa dikembalikan?" tanya Suci menatap tajam ke arah papa Tito.
"Memang Papa tidak bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala, tapi papa akan menebus semua kesalahan papa dan dosa papa kepada kamu." ucap Papa Tito pelan.
Hati Suci bagai teriris mendengar ucapan papa Tito yang begitu menyesal dengan perbuatannya di masa lalu. Penjebakan itu membuat semuanya berakibat fatal, semua tersakiti hanya ego seseorang yang tergiur dan gila harta.
"Papa ingin menebus dosanya dengan cara seperti apa?" ucap Suci bertanya dengan sopan.
"Boleh papa memeluk kamu Nak?" ucap Tito menahan tangisannya agar tidak menetes.
__ADS_1
Pria berhati lembut akan lebih mudah tersentuh hatinya bila menghadapi persoalan-persoalan seperti ini.
"Papa ingin memeluk Suci?" ucap Suci dengan nada senang dan bahagia.
"Tentu sayang, boleh papa menebusnya dengan memelukmu saat ini, walaupun kmu sudah bersuami?" ucap Tito pelan.
"Tentu saja boleh papa. Suci akan sangat senang sekali." ucap Suci pelan.
Mereka pun berpelukan, keduanya tidak dapat menahan tangisannya yang sudah tertahan. Rahasia dua puluh tahun itu terbongkar dan setiap orang harus menghadapi takdirnya sendiri.
"Maaafkan papa ya Nak." ucap Tito terus mendekap putrinya itu dan menangis dibahunya.
"Papa gak salah, ini semua takdir papa. Yang salah papa Leo kenapa dia sekeji itu papa." Ucap Suci lirih.
Kebaikan papa Leo selama ini terabaikan dengan kesalahan fatal yang terungkap malam ini.
"Papa ada satu permintaan. Suci mau mengabulkan permintaan papa?" tanya Tito pelan.
"Permintaan apa lah?" tanya Suci pelan.
"Papa, tinggal disini ya? bersama Suci?" tanya Suci pelan.
"Papa tidak bisa sayang, Papa punya keluarga yang harus papa jaga perasaanya juga. Papa harap kamu bisa mengerti kondisinya Suci." ucap Tito pelan.
"Sehari saja lah, Suci ingin merasakan kasih sayang papa seperti Mas Fathan dan Fatima mendapatkan kasih sayang papa." ucap suci lirih.
"Papa tidak bisa, papa hanya bisa malam ini menemanimu sebentar. Papa janji, papa akan menemanimu saat kamu melahirkan nanti." ucap Tito mengecup kening Suci.
Ciuman pertama dari Sang Ayah selama dua puluh tahun terpisah karena sebuah rahasia.
"Papa, semalam ya Pah..." ucap Suci merengek kembali.
"Maafkan papa Suci, papa tidak bisa. Jangan buat papa berat untuk meninggalkan kami sayang, papa memiliki kesibukan dan tanggung jawab lain yang harus papa laksanakan. Papa pulang dulu ya, suatu saat kita pasti akan bertemu kembali Suci. Ingat pesan papa. Maafkan Papa sayang, papa pamit dulu. Assalamualaikum." ucap Tito pelan dengan suara serak. Dadanya terasa sesak, tangisannya pecah saat permintaan anaknya tidak bisa ia penuhi.
Tito pun keluar kamar menuju ke arah teras untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Papa............." teriak Suci dari dalam kamar tidurnya.
Mendengar teriakan itu pun Zhein segera masuk ke dalam kamar dan menarik Suci kedalam pelukannya, setidaknya bisa sedikit membuat Suci merasa nyaman.
"Sudah sayang, kamu pasti kuat. Ada aku, sayang. Aku akan selalu menemani dan menyayangimu hingga ajal yang memisahkan kita. Papa Tito memiliki kehidupannya sendiri, dia memiliki istri yang SAH dan anak anak yang masih menjadi tanggung jawabnya." ucap Zhein pelan.
"Aku juga butuh papa, Mas, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari papa, Mas. Aku ingin egois satu hari satu malam bersama papa." ucap Suci pelan.
Di teras papa Tito termenung dan menghapus air mata yang masih menetes di pipinya.
Umi Khadijah pun datang menghampiri Tito suaminya. Umi Khadijah tahu persis kegundahan hati suaminya. Sempat mendengar percakapan antara ayah dan anak itu yang begitu membuat hatinya bersedih dan ikut menangis.
"Mas, tinggalah disini untuk semalam, penuhi permintaan Suci untuk pertama kalinya. Jangan buat Suci kecewa, dia sudah sedih dengan keadaan ini Mas." ucap Umi Khadijah sambil mengusap pelan lengan suaminya.
Tito pun menoleh ke arah Khadijah istrinya yang sedang tersenyum tetapi dipaksakan.
Rasanya pun sakit harus mengetahui ini semua, bertemu dengan perempuan yang pernah ditiduri suaminya dan diakuinya. Bertemu dengan anak anak yang berasal dari benih suaminya. Wanita mana yang tidak ikut merana mengingat suaminya harus bersetubuh dengan wanita lain?
Sakit dan pedih sudah tidak terasa, dadanya berat seperti ada batu yang terjatuh tepat di jantungnya.
"Aku tidak salah dengar Khadijah? aku tidak mau Khadijah. Biarkan Suci bersama suaminya. Itu sudah tugas suaminya untuk menenangkan istri. Ayok kita pergi dari sini." ucap Tito dengan sedikit kesal.
"Kamu papanya? Suci benar, dia berhak mendapatkan kasih sayangmu walau hanya semalam saja." ucap Khadijah pelan.
"Cukup Khadijah, aku tidak ingin memperkeruh masalah ini lagi. Sudah jelas aku dijebak dan ini murni kesalahan Leo." ucap Tito tegas.
"Mas, kamu itu sudah gak punya hati. Suci itu sedang mengandung, dia hanya ingin merasakan satu hari bersama papanya. Kamu ini Mas?" ucap Khadijah pelan.
"Karena aku mencintaimu Khadijah, aku tidak ingin kehilanganmu kembali. Aku ingin memperbaiki rumah tangga kita, mumpung semuanya belum terlambat Khadijah." ucap Tito pelan.
Khadijah tidak bisa menjawab. Hatinya senang, Tito lebih memilihnya dan ingin memperbaiki semuanya dari awal.
Tapi disini banyak orang terluka dan tersakiti.
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1