
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Setelah menumpahkan kekesalan dan kekecewaannya lewat tangisan, Larasati pun tertidur pulas diatas kasur Ibundanya, tak lain Ibu Atmojo. Tidurnya terusik tatkala ponselnya berbunyi kencang.
dreeettt dreetttt...
"Kamu dimana Larasati!! Kamu ingin mencoba kabur dari aku, iya!!!! jawab????" ucap Leo suaminya diseberang sana.
"Tidak perlu mencari ku lagi, aku muak denganmu Leo, kau pikir aku bonekamu???!!!! Kau peras aku untuk bekerja siang malam, sedangkan kau bermain dengan wanita lain, kau sudah gila leo, kau anggap aku ini apa!!!?" ucap Larasati histeris.
"Kamu lupa Larasati, kamu pun sama kotornya dengan wanita wanita yang aku tiduri sekarang. Sebelum denganku kamu juga sudah tidur dengan beberapa pria untuk kesenanganmu dan memuaskan nafsu hyperseksmu itu. Aku pun ragu, Suci itu anak siapa?????!!!!" ucap Leo tak kalah tegas.
"Diam kamu leo, jangan kamu ungkit masa laluku. Masa lalu kita sama, hanya senang senang, mabuk mabukan dan pesta ****. Pertama kali, kamu yang menjebak ku ke dunia hitam itu. Dan pertama kali kamu juga yang mengambil kehormatan ku, kamu lupa atau pura pura lupa!!!???" ucap Larasati keras dengan nafas memburu tidak beraturan.
"Pergilah sejauh mungkin, dan aku akan mendapatkanmu lagi. Ada satu proyek yang belum kamu selesaikan Larasati, dan bos besar itu menginginkan kamu yang binal. Aku menceritakan bagaimana sikap agresifmu diranjang. Setelah urusan proyek ini selesai, aku ceraikan kamu. Tapi bila, proyek ini tidak bisa kamu dapatkan, aku pastikan kamu mati ditanganku LARASATI!!!!, Satu hal lagi, kalau kamu berani lapor polisi, Ingat aku akan bermain main dengan keluargamu. CAMKAN KATA KATAKU!!!!" ucap Leo dengan penuh ancaman.
Sambungan telepon pun dimatikan sepihak oleh Leo. Wajah Larasati berubah gusar dan cemas. Larasati bingung dengan keadaannya saat ini, dia benar benar sendiri, tidak ada satu pun yang bisa menolongnya dari jeratan Leo.
Leo adalah suaminya, dia dulu pria yang baik tapi kaku dan dingin. Hidupnya hanya dikuasai tentang kekayaan, harta dan uang, tidak lupa juga dengan perempuan. Banyak usaha ilegal yang dilakukannya, yang membuat Leo dicari banyak polisi.
Leo menikahi Larasati karena pada saat itu Larasati sedang hamil, dan leo pun terpaksa menikahi Larasati karena satu tujuan tertentu, dan itupun tidak diketahui oleh Larasati.
Orang tua Leo, menginginkan cucu sebagai pewaris harta kekayaannya. Maka dengan menikahi Larasati yang entah dengan siapa dia mengandung, akan melancarkan tujuannya sebagai pewaris tunggal.
Karena hanya Leo yang tahu kebenarannya, bahwa Leo sebenatnya pria mandul. Tentu keluarga Leo tidak tahu akan hal ini, mungkin bisa terjadi kemurkaan kalau sampai aib ini terendus.
Dulu Leo terpesona dengan kecantikan Larasati, body tubuh yang sempurna, dan kelebihan Larasati yang agresif untuk urusan ranjang.
__ADS_1
Leo yang senang dimanja urusan ranjang pun mengakui keampuhan nikmat seksual Larasati yang bisa membuatnya klimaks berkali kali dalam semalam.
Sekarang Larasati sudah tidak muda lagi, kecantikannya pun memudar dengan usia yang bertambah.
Penyesalan Larasati baru terasa sekarang. Disaat usianya mulai senja. Perseteruan dengan anaknya pun belum selesai.
Apa aku harus ke rumah sakit menemui ibu?!, batin Larasati.
Larasati pun bersiap siap untuk menjenguk Ibu Atmojo di rumah sakit.
Sesampai dirumah sakit pun, Larasati langsung menuju kata rawat inap Ibu Atmojo.
"Selamat siang Ibu, mas Bowo dan mbak Ameera, ibu Jihan." ucap Larasati sopan, langsung berlari mendekap ibunya yang masih dalam posisi tiduran. Air matanya deras sekali, hingga nafasnya terdengar cepat. Terasa sesak dadanya memeluk ibu Atmojo, entah sudah berapa puluh tahun pemandangan hangat ini terjadi lagi.
"Waalaikumsalam, anak perempuan ibu yang cantik, ada apa Nak?" ucap Ibu Atmojo lembut dan tulus.
Hati seorang ibu bebar benar seperti kapas, sangat lembut dan mudah tercerai berai. Sudah disakiti, dikecewakan, dimaki, dihina, dibentak, dipermalukan, tetap saja dengan mudahnya memaafkan kesalahan yang diperbuat anaknya. Tidak ada seorang pun yang bisa mengganti posisi seorang ibu dihati anaknya. Menghilang pergi dan kabur, ikatan batin itu akan mempertemukan kembali entah seperti apa skenario dari Allah SWT itu sungguh luar biasa.
Ucapan ibu pun bagai pisau yang mengiris iris relung hatinya, dadanya seperti tersayat sayat tajam. Sungguh mulia engkau ibu, anakmu sudah banyak berdosa, engkau masih memelukku erat tanpa rasa malu dan canggung, bagaikan aku hilang dan ditemukan kembali. Aku menangis sejadi jadinya. Pundakku pun bergetar memegang punggung ibuku dan mengelus elus dengan lembut. Hati ku berdesir mencium kedua pipi ibu dengan wajahku yang basah. Tidak ada rasa malu air mata dan air yang keluar dari hidung pun bercampur menjadi satu.
"Ibu maafkan aku, dosaku besar terhadap ibu, aku sudah durhaka pada ibu. Benar kata ibu Leo itu pria tidak baik. Maafkan aku ibu, aku ingin selalu bersamamu menebus semua kesalahanku." ucap Larasati dengan terbata bata.
Semua mata memandang Larasati, sungguh takjub dengan keberaniannya mengalahkan egonya untuk menyesali semua yang telah diperbuatnya.
"Larasati sayang, kamu tetap anak perempuan ibu satu satunya. Mungkin kemarin kemarin kamu sibuk, jadi tidak ada waktu untuk menjenguk ibu. Sekarang waktumu sudah banyak, bahkan ingin menemani ibu selamanya, kamu serius Nak? kalau benar ibu akan senang sekali. Nanti kita bisa mengurus buyut dan cucu bersama sama." ucap ibu Atmojo lirih.
Deg....
Deg....
__ADS_1
Deg....
Larasati teringat Suci. Ya suci sudah menikah, yang artinya ia akan menjadi seorang nenek. Ada senyum yang tulus dari sudut bibirnya.
"Iya ibu, kita akan mengurus bersama. Aku sayang ibu, Laras rindu ibu." ucap Larasati yang seperti anak kecil bertemu ibunya kembali.
"Ibu, juga sayang dan rindu padamu Larasati." ucap ibu dengan senyum yang lebar.
Ibu Atmojo Memnag sengaja tidak menanyakan Leo. Ibu takut Larasati akan marah, karena hati seorang ibu tahu, bahwa Larasati tidak sedang baik baik saja.
"Mas Bowo, mbak ameera maafkan Laras ya, dulu Laras tidak pernah mendengar nasihat kalian. Laras sadar jalan Laras telah salah." ucap Lasarati menyesali semua perbuatannya.
"Anda Bunda Jihan? terima kasih sudah membimbing suci dengan baik, dan menjadikan suci menantu ibu. Suci anak yang manja, maaf kalau dia tidak bisa membantu ibu Jihan bersih bersih rumah atau memasak, dulu aku begitu memanjakannya dengan uang. Dari dulu aku jauh dengan Suci, semenjak SMP suci bersama Eyang nya. Jadi sudah pasti suci menurut pada eyangnya dibanding saya ibu kandungnya." ucap Larasati terdengar enteng tanpa beban.
Beban dipundaknya selama 15 tahun sudah ia tumpahkan dalam tangisannya.
"Larasati, aku dan mbakmu memaafkanmu. Kami semua sayang padamu." ucap Bowo sambil memeluk Larasati yang diikuti istrinya bergantian.
"Jeng Larasati itu seharusnya bangga punya anak seperti Suci. Dia memikirkan nasib keluarganya terutama kedua kedua orang tuanya. Dia sangat sayang dengan anda jeng Laras." ucap bunda Jihan lembut.
Sungguh sempurna melihat kehangatan keluarga ini. Apakah kesempurnaan ini bisa abadi? ataukah hanya sesaat?.
SEMUA ITU SKENARIO DARI ALLAH SWT, JALANI SAJA TAKDIRMU .....
--------------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1
💚💚💚💚💚