Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 77 KEDATANGAN BUNDA DAN MAMA


__ADS_3

Fathan dan Raina semakin hari semakin dekat, semakin mengenal kepribadian satu sama lain. Kedekatan mereka hanya sebatas mengenal pribadi dan keluarga besar mereka. Urusan jodoh mereka memasrahkan kepada Allah SWT. Mereka mencoba membuka hati kembali untuk mencintai dan menyayangi orang lain. Mereka saling mengisi, saling membantu dan saling melengkapi satu sama lain.


"Raina, tiga bulan lagi aku lulus, thesisku sudah hampir selesai." ucap Fathan pelan.


"Lalu?" tanya Raina dengan enteng.


"Kamu mau hadir ke wisudaku sebagai pendamping?" tanya Fathan pelan tetap fokus pada jalan tanpa menengok Raina.


Raina menoleh ke arah samping melihat Fathan yang sedang fokus menyetir.


"Kenapa harus aku?" tanya Raina pelan.


"Karena kamu takdirku Raina?" ucap Fathan mantap.


"Seyakin itu kamu sama aku, Fathan?" tanya Raina.


"Aku hanya punya niat baik Raina, ku pinang kau dengan bismillah." ucap Fathan pelan menatap Raina dengan sendu.


Raina tersenyum dengan tulus, matanya nampak berbinar hatinya bahagia. Tapi lagi lagi Raina harus terlihat tidak berlebihan dalam menyikapi suatu kebahagiaan.


"Aku senang, mendengar ucapanmu, tapi selesaikan dulu thesismu hingga kamu wisuda." ucap Raina lembut.


"Siap tuan putri, terima aku ya Raina." ucap Fathan pelan.


"Insya Allah Fathan." ucap Raina lembut.


Mobil sudah terparkir dibandara untuk menjemput Bunda Jihan dan Mama Larasati. Fathan dan Raina pun berjalan menuju ruang tunggu bagi penjemput.


Fathan dan Raina mengedarkan pandangannya ke seluruh bandara. Mencari Dua sosok wanita yang berati di kehidupan Suci dan Zhein.


"Assalamualaikum... Raina!!" panggil Bunda Jihan sambil menepuk bahu Raina dengan pelan.


Raina pun menoleh dengan kaget. Senyumnya langsung terbit di sudut bibirnya.


"Waalaikumsalam.. Bunda Jihan!! Alhamdulillah, Bunda sehat?" tanya Raina dengan sopan, sambil mengecup punggung tangan Bunda Jihan dan kedua pipinya.


"Sehat sayang, kenalin ini Mama Laras, mamanya Suci." ucap Bunda Jihan mengenalkan.


"Halo Mama Laras." ucap Raina pelan sambil mencium punggung tangan Mama Laras.


"Ini Fathan Bunda, Mama, kenalkan." ucap Raina mantap.


"Bunda dan Mama sudah kenal, halo Fathan gimana kabarnya?" tanya Bunda Jihan dengan lembut.

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat Bunda." ucap Fathan pelan.


"Kalian?" tanya bunda Jihan ke arah Fathan.


"Raina calon istri saya, insya Allah, bulan depan kami menikah." ucap Fathan mantap.


Tentu saja Raina langsung menoleh ke arah Fathan dan menyenggol lengan Fathan dengan bahunya.


"Selamat ya sayang, Raina sudah besar, sudah mau menikah saja." ucap Bunda Jihan pelan.


"Bunda, Zhein juga sudah menikah, bahkan sudah mau punya anak." ucap Raina sedikit kesal.


"Jangan manyun nanti jodohnya menjauh." ucap Bunda Jihan sambil mengedipkan satu matanya kepada Fathan.


"Jodoh aja belum ada Bunda." ucap Raina manja.


"Itu sudah ada yang mengajak nikah. Mau ditolak nih? kalau hilang gak nyesel" ucap Bunda Jihan menggoda Raina.


"Bunda kok jadi godain Raina terus, lihat tuh Mama Laras sama Fathan kan jadi seneng lihatnya. Ayok kita ke apartemen, Suci sendirian, Zhein lagi ke kampus dari pagi, besok mau sidang, hari ini sedang presentasi dulu" ucap Raina pelan.


"Ayok Raina, Bunda sudah kangen sama Suci dan calon cucu Bunda, betul kan Jeng Laras?" tanya bunda kepada Mama Laras.


"Iya Jeng Jihan, kangen pake banget." ucap Mama Laras dengan gaya sosialitanya.


Perjalanan yang panjang dengan suasana jalan yang ramai dan padat, membuat waktu yang bisa ditempuh selama satu jam menjadi dua kali lipat.


Mobil pun sudah berada di depan apartemen Zhein, dan siap masuk ke dalam parkiran dalam.


Mereka semua turun dan berjalan menuju apartemen Zhein mengikuti arahan Raina.


"Assalamualaikum...." ucap Raina pelan.


"Waalaikumsalam... Bunda, Mama, alhamdulillah, kalian sudah sampai. Ayok masuk dulu, Suci siapkan minuman dulu." ucap Suci pelan.


Mereka semua masuk dan duduk di sofa. Mereka memandang takjub, apartemen yang minimalis tapi begitu nyaman dan adem, pemilihan furniture yang sederhana tapi terlihat elegan.


Bunda Jihan baru pertama datang ke Kairo untuk mengunjungi putranya selama study disini.


Tidak lama Suci pun membawa nampan besar berisi minuman dan cemilan ringan.


"Bunda dan Mama sudah makan? Suci sudah masak. Biar Suci hangatkan dulu." ucap Suci sopan mencium punggung tangan kedua ibunya itu secara bergantian.


"Masya Allah, ini lihat perutnya sudah nongol, Laki atau perempuan sayang?" tanya Bunda Jihan dengan antusias.

__ADS_1


Bunda Jihan dan Mama Laras mengelus perut Suci secara bergantian.


"Belum jelas Bunda." jawab Raina pelan.


"Sayang, sehat kan, tidak mengeluh apa apa?" tanya Mama Laras penuh cemas.


"Alhamdulillah Mama, Suci sehat. Ada Kak Raina yang selalu memeriksa kondisi Suci." jawab Suci dengan senyum.


Mereka semua bercerita hingga tak terasa sudah dua jam bahan obrolan terus saja ada tanpa berhenti.


"Assalamualaikum..." ucap Zhein dengan senyum sumringah.


"Waalaikumsalam... Mas Zhein?" ucap Suci menghampiri Zhein dan mencium punggung tangan suaminya.


Zhein pun membalas mencium kening Suci dan mengelus perut Suci dan mengecupnya. Tontonan romantis ini sudah sering dilihat Raina dan Fathan bila berkunjung ke apartemen Zhein.


"Anak kita gak nakal sayang?" tanya Zhein lembut sambil merangkul bahu istrinya.


"Lagi baik, ada Bunda dan Mama sayang di dalam." ucap Suci pelan.


Zhein pun bergegas menghampiri kedua ibunya. Diciumnya punggung tangan kedua ibu itu secara bergantian.


"Bunda dan Mama sehat? Alhamdulillah, sampai juga di Kairo. Maafkan Zhein tidak bisa menjemput Bunda." ucap Zhein dengan menyesal.


"Iya sayang tidak apa apa, tadi ada Raina dan Fathan." ucap Bunda sambil melirik ke arah Raina dan Fathan.


"Suci, kita makan dulu, kasihan Bunda dan Mama. Ayok Mama, Bunda, Raina, Fathan, kita makan dulu saja." ucap Zhein lembut.


Zhein dan Suci mengajak semua tamunya untuk menikmati santapap siang yang sudah disiapkan oleh Suci.


Masakan khas Indonesia. Ada Opor ayam, telur bacem, sambel goreng krecek dan emping.


"Masya Allah... kamu memasak ini semua sayang?" tanya Bunda Jihan pelan.


"Iya bunda, kan Suci sering ditinggal Mas Zhein jadi Suci suka coba resep. Di bawah ada supermarket, jadi bisa belanja dibawah." ucap Suci pelan.


"Aromanya saja sudah menggunggah selera makan Bunda." ucap Bunda Jihan memuji menantu kesayangannya itu.


Semua sudah berkumpul dan duduk di kursinya masing masing, mulai mengambil nasi dan lauk pauk yang diinginkan. Mereka menikmati jamuan siang itu dengan perasaan puas dan senang.


Sama halnya dengan Suci dan Zhein yang saling berpandangan dan tersenyum melihat kedua ibunya menikmati masakan Suci.


Hari ini mereka berbahagia, kebersamaan dan kerhamonisan membuat mereka semakin erat dan saling menyayangi. Besok masih menjadi teka teki? Tapi tetaplah berdoa dan berharap yang baik kepada Allah SWT.

__ADS_1


Suci, Zhein Kesucian Cinta kalian dipersatukan karena Dua Kalimat Syahadat....


__ADS_2