
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Kedua pasangan itu masih belum bangun kembali setelah melaksanan sholat subuh. Rasa kantuk dan cape masih menguasai tubuh mereka.
"Lho Jeng Laras kita kok cuma berdua saja, anak anak kemana?" ucap bunda kepada besannya.
"Tadi udah saya ketuk ketuk kamarnya tapi kok gak ada sahutan." ucap mama Laras.
"Apa mereka sedang proses untuk membuatkan cucu ya Jeng?" ucap bunda Jihan.
"Mungkin saja Jeng, kita doakan saja, semoga suci cepat positif hamil." ucap mama Laras.
"Assalamualaikum, bunda mama, maaf suci kesiangan." ucap suci polos, sambil mencium pipi kedua wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Waalaikumsalam, iya Suci gak apa apa, bunda ngerti kok, bunda juga pernah muda." ucap bunda menggoda.
"Iya sayang itu wajar, mama juga dulu gitu. Mama paham kok." ucap mama ikut menggoda.
Wajah suci yang merah karena malu, merasa sang bunda dan mamanya ini malah menggodanya membuat suci menundukkan kepalanya.
"Assalamualaikum, bunda mama, maaf ya Zhein telat buat sarapan." ucap Zhein pelan, sambil melihat satu per satu wajah bunda dan mamanya dan terakhir wajah istrinya yang tertunduk.
"Waalaikumsalam iya nak, kita juga belum makan, masih nunggu yang bikin proyek selesai dulu, iya kan Jeng Laras?" ucap bunda semakin menggoda.
Zhein yang mendengar ucapan bundanya pun kaget. Seakan perkataan itu sedang menggoda mereka sebagai pengantin baru.
"Suci kenapa sayang?" ucap Zhein sambil mengambil dagu suci diarahkan ke wajah Zhein. Ditatapnya wajah yang sudah merah karena malu.
"Suci gak papa mas." ucap suci malu.
__ADS_1
"Oh... Zhein tahu, mama sama bunda lagi menggoda suci ya, sampai merah gitu lho ma, bun?" ucap Zhein membela istrinya.
"Udah kita makan dulu, kalian lelah kan, suci kamu gak perlu malu sama bunda. Kamu pasti sudah kasih yang terbaik untuk mama dan bunda terlebih untuk Zhein. Zhein terlihat bahagia sepertinya. Bunda gak pernah lihat Zhein sebahagia ini, betul kata bunda Zhein? bunda gak salah cari menantu kan?" ucap bunda semakin menggoda Zhein.
"Bunda apaan sih, iya Zhein bahagia! bunda seneng kan? bunda juga tidak salah memilih menantu, Zhein sangat mencintai suci, iya kan sayang?" ucap Zhein sambil mengecup pipi suci di depan mama mertuanya dan bunda.
"Lihat Jeng, sudah tidak malu malu, kita seperti tidak dianggap Jeng Laras." ucap bunda semakin senang menggoda anak lelakinya itu.
"Bunda sudah dong, ini sarapannya jadi gak selesai selesai. Kasihan suci malu. Makan dulu sayang, apa mau disuapin?" ucap Zhein perhatian.
"Gak mas, aku bisa sendiri." ucap suci mulai menyendokkan nasi kedalam mulutnya yang mungil itu.
"Mama gimana privat hari ini? jadi mulai hari ini kan?" ucap Zhein membuka pembicaraan.
"Jadi Zhein, Jeng Jihan yang mau ajarin mama." ucap mama Laras semangat.
"Biar bunda ajarin, Jeng Laras ini kan sudah bisa, hanya perlu mengingat dan membiasakan, mungkin lebih cepat prosesnya." ucap bunda Jihan mantap.
"Mana siap Zhein, mama bebar benar menemukan keluarga yang tepat, yang hangat, yang membuat mama semangat hidup lagi. Jeng Jihan sungguh baik sekali mau membimbing saya." ucap mama terharu.
"Itu karena Allah SWT yang melembutkan hatiku untuk membantumu Jeng Laras. Suci kamu mau ke butik? bunda ikut, bunda mau cari syar'i buat acara lusa. Kita ke butik suci Jeng, lihat lihat baju muslim? mau?" ucap bunda semangat.
"Dengan senang hati Jeng Jihan, itu butik milikmu Nak?" ucap mama Laras.
"Bukan ma, itu punya mas Zhein, aku yang memberikan ide, tapi mas Zhein suruh aku yang mengelolanya." ucap suci dengan tenang.
"Sayang itu milikmu? aku memberikan untukmu sesuai nama butik itu ZAUJATI artinya istri. Kupersembahkan butik itu untuk istriku tersayang, tercinta, yang menemaniku dunia dan akhirat." ucap Zhein lembut sambil memegang kedua pipi suci.
"Makasih ya mas, hidupku terasa sempurna mas berada diantara kalian semua yang menyayangi suci dengan tulus. Oh iya mas hari ini kemana? ikut suci ke butik?" ucap suci pelan.
"Mas ada urusan dikampus suci, ada beberapa tugas belum mas selesaikan, mas juga harus buat laporan magang. Mungkin dua Minggu ini mas gak bisa nemenin kamu di butik ya, mas mau fokus kerjaan mas biar selesai tepat waktu. Kamu fokus butik dulu, sebelum nanti liburan ke Kairo menemaniku kuliah. Oke sayang? jangan cemberut ya. Kamu tahu kan konsekuensi pekerjaan mas?" ucap Zhein mengingatkan.
__ADS_1
"Iya mas suci paham dengan pekerjaan mas, asal jangan terlambat pulang dan jangan buat aku khawatir, chat aku kalau kamu ada waktu. Aku ingin memastikan suamiku sedang baik baik saja." ucap suci menasehati.
"Siap sayang, mas gak akan lupa mengabarimu sayang, Istri mas ini perhatian sekali. Jadi ragu nih mau berangkat." ucap Zhein manja.
"Udah berangkat tuh udah jam tujuh nanti telat." ucap suci sambil mengecup pipi Zhein dan mencium tangan Zhein dengan lembut.
"Hati hati nanti ke butik, jaga mata dan hatimu untukku, mas berangkat dulu. Assalamualaikum.." ucap Zhein lembut dan mengecup kening suci.
"Waalaikumsalam.." ucap suci menjawab salam itu.
"Mama, bunda kita berangkat sekarang aja ya. Suci mau beresin ini meja makan dulu." ucap suci sambil membereskan piring piring kotor ke belakang untuk dicuci.
Semua pekerjaan rumah sudah beres. Ketiga perempuan itu pergi menuju butik ZAUJATI. Sungguh nikmat dari Allah SWT mana yang aku dustakan, aku sungguh mensyukuri nikmat ini. Orang tua yang baik, mertua yang sayang, suami yang begitu perhatian, usaha kecilku yang Alhamdulillah berjalan lancar. Semua ini karena mu ya Allah. Jagalah selalu keluargaku, mamaku, bundaku, suamiku, dan keluarga besarku agar selalu dalam lindungan Allah SWT.
"Wah bagus sekali suci butiknya, mama betah ini berlama lama disini. Nyaman sekali suci." ucap mama Laras dengan takjub.
Desain butik itu memang berbeda dari butik butik pada umumnya. Disana disediakan ruang tunggu secara lesehan, ada rak kecil berisi buku buku islami atau majalah religi. Ada beberapa mainan anak anak agar tidak bisa menunggu.
"Mama suka? ini aku yang desain, mas Zhein yang menatanya. Selama aku di Kairo mama dan bunda sering sering ke butik ya. Biar gak jenuh dirumah. Ma, suci beres beres dulu, itu barang datang." ucap suci pelan.
Nikmat sesungguhnya akan terasa bila kita menerima secara ikhlas dan mensyukuri apa yang sudah menjadi hak kita. Bila bersyukur saja sulit, maka nikmat itu tidak akan pernah kita rasakan.
Butuh kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.
------+------++------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
__ADS_1