
Mobil yang berguling di sisi jalan dalam posisi terbalik membuat Sonny kesulitan untuk keluar apalagi kakinya terjepit. Gaston sudah keluar dari mobil bersama dengan sang supir, mereka bergebas berlari ke mobil musuh agar musuh tidak lari.
Gaston melangkah mendekat dengan senjata api di tangan. Jangan sampai mereka tertembak karena mereka yakin orang yang ada di dalam mobil masih hidup.
Abraham juga turun dari mobil, dia ingin melihat siapa yang berani menyerangnya. Dia menebak orang itu adalah sekutu Renata, ini sangat bagus. Dia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan petunjuk jika orang yang menyerangnya benar-benar sekutu Renata.
Dia bisa menemukan keberadaan Renata melalui orang itu. Wajah baru hasil operasinya juga akan segera dia ketahui jika orang itu benar-benar sekutu Renata.
Sonny berusaha menarik kakinya yang terjepit, umpatannya pun terdengar. Sungguh kejadian yang memalukan dan dia kalah telak oleh seorang pengusaha saja. Dia benar-benar terlihat bodoh, dia dikalahkan oleh seorang pengusaha lalu bagaimana saat dia melawan Norman? Sepertinya pengalamannya sebagai penjahat tidaklah cukup. Jangan-Jangan dia sudah lari tunggang langgang hanya menghadapi pengawal istananya saja.
Tapi beruntungnya dia masih hidup, dengan begitu dia masih bisa bertanya apa yang mereka lakukan sehingga adiknya bunuh diri. Dia harus tahu hal ini meskipun dia harus mati nantinya.
"Keluar kau!" perintah Gaston. Sebuah senter dan senjata api sudah mengarah ke arah Sonny.
"Kakiku terjepit, apa kau pikir aku senang bisa berada di dalam sini?!" ucap Sonny kesal.
"Siapa kau, kenapa kau tiba-tiba menyerang?"
"Aku tidak memiliki urusan denganmu, yang aku incar adalah Abraham Aldway!" jawab Sonny sinis.
"Kenapa kau mengincar aku? Apa aku membuat kesalahan padamu?" Abraham melangkah mendekat, dia bahkan berongkok untuk melihat wajah Sonny. Gaston menyinarinya dengan senter sehingga Abraham bisa melihatnya. Wajah yang sangat asing namun seperti mirip dengan seseorang.
"Siapa kau? Ada masalah apa kau denganku?" tanya Abraham lagi.
"Siapa aku tidaklah penting, yang terpenting adalah aku akan membunuhmu dan Norman!"
"Membunuhku dan Norman? Apa kau musuh Norman?"
"Aku akan membunuh kalian berdua karena kalian sudah membunuh adikku!" teriak Sonny lantang.
__ADS_1
Abraham mengernyitkan dahi, dia menebak semua itu adalah hubungan dengan Emely. Apa pria itu kakak Emely? Sungguh dia tidak pernah tahu jika Emely memiliki seorang kakak laki-laki.
"Apa yang kau maksud adalah Emely?'"
"Apa ada wanita yang berakhir karena kalian selain adikku?" Sonny menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, jangan katakan ada korban lain selain adiknya.
Abraham tidak menjawab, dia justru melangkah menjauh. Sonny berteriak marah dan berusaha menarik kakinya yang terjepit namun tidak mudah.
Abraham sedang berpikir, dia tidak menyangka Emely memiliki seorang kakak tapi kenapa dia baru muncul sekarang setelah kematian Emely yang sudah belasan tahun? Aneh, jangan katakan dia adalah orang yang ditipu oleh Renata dan dimanfaatkan olehnya.
Sebaiknya dia menangkap pria itu untuk diinterogasi, dia juga akan mengabari hal ini pada Norman.
"Bawa dia, Gaston. Kurung dia untuk sementara waktu karena aku ingin menginterogasinya!" perintahnya.
"Lepaskan aku! Aku datang untuk mencari keadilan atas kematian adikku!" teriak Sonny.
"Belasan tahun sudah Emely meninggal namun baru sekarang kau ingin mencari keadilan untuknya? Sungguh lucu sekali!" cibir Abraham.
"Jangan menipu, Emely baru saja meninggal!" teriak Sonny tidak percaya.
"Kau sunguh sudah tertipu!" ucap Abraham seraya melangkah menjauh. Renata sungguh hebat. Setelah menipunya dan Norman, sekarang Renata menipu kakak Emely. Sungguh luar biasa. Hukuman apa yang pantas Renata dapatkan? Sepertinya Renata lebih pantas membusuk di dalam penjara dan dia yakin Norman akan memberikannya. kedua tangan Abraham mengepal erat, benar-benar wanita yang cerdik dan licik. Dia memanfaatkan siapa saja demi tujuannya.
Setelah ini, mereka pasti bisa mendapatkan Renata karena pria itu yang akan menjadi kunci sehingga mereka bisa mengenali Renata. Dia yakin Renata tidak mungkin merubah wajahnya lagi.
Selagi Gaston dan supirnya melepaskan kaki Sonny yang terjepit, Abraham memutuskan untuk menghubungi Norman. Tiba-Tiba mendapat kunci untuk menguak rupa paslu Renata, ini benar-benar suatu keuntungan dan dia rasa Norman harus datang.
Perbedaan waktu dua negara mempermudah mereka untuk berkomunikasi tanpa terhalang oleh waktu. Tidak perlu menungu lama, Norman sudah menjawab panggilan darinya.
"Ada apa? Apa kau sudah mendapatkan informasi akan Renata?" tanya Norman.
__ADS_1
"Tidak, tapi aku menemukan petunjuk," jawab Norman.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau pernah mendengar Emely memiliki seorang kakak?" tanyanya. Norman berteman dengan Emely lebih lama darinya, dia rasa Norman tahu akan hal itu.
"Yeah, dulu aku pernah mendengar Emely berkata dia memiliki seorang kakak laki-laki. Kenapa kau bertanya demikian?" tiba-tiba dia jadi curiga dengan pertanyaan Abraham.
"Aku baru saja diserang dan yang melakukannya adalah kakak Emely. Dia mengira kita yang membunuh Emely dan dia juga mengira Emely baru saja meninggal. Kau bisa menebak siapa dibalik semua ini, bukan?"
"Renata, rubah licik yang memanfaatkan orang lain!" ucap Norman kesal.
"Yeah, oleh karena itu datanglah. Kita akan tahu rupa rubah itu dari kakak Emely yang dia manfaatkan!"
"Aku akan segera ke sana. Jaga baik-baik petunjuk yang kau dapatkan, jangan sampai membunuhnya!" ucap Norman.
"Tentu tidak, dia kunci penting. Aku tidak akan membunuhnya meskipun dia ingin membunuhku!"
"Aku segera ke sana!" ucap Norman. Mendadak kakak Emely muncul dan bodohnya pria itu ditipu oeh Renata tapi yang paling bodoh adalah Renata karena dia memanfaatkan orang yang salah. Bukankah dengan begini penyamaran yang dia lakukan akan ketahuan? Sungguh bodoh. Wajah yang dia rubah pun akan segera ketahuan.
Norman memang tidak mengenal kakak Emely, namun dia pernah mendengar dari Emely jika dia memiliki seorang kakak yang tinggal di New York. Setelah sekian tahunn berlalu dan setelah belasan tahun kematiian Emely, kakaknya baru muncul. Satu yang pasti, Renata benar-benar menggali lubang kuburnya sendiri.
"Siapkan pesawat, aku ingin pergi ke London dan siapkan pula sebuah penjara khusus. Aku akan kembali setelah menangkap tawanan spesial yang tidak akan aku lapaskan untuk seumur hidupnya!" perintah Norman pada sang asisten.
Kematian sangat bagus untuk Renata, dia memang harus merasakan siksaan yang pantas dia dapatkan karena perbuatan keji yang telah dia lakukan. Norman pergi ke London hari itu juga, dia pamit pada kedua orangtuanya terlebih dahulu. Anggap saja sedang mengunjungi Vanila. Lagi pula sudah belasan tahun dia tidak pernah pergi ke sana.
Tanpa terduga mereka mendapat saksi kunci yang akan membongkar wajah palsu Renata. Sonny sudah keluar dari mobil dengan kaki pincang sebelah akibat terjepit. Gaston segera membawanya untuk ditahan. Abraham mungkin tidak akan menyiksanya meskipun Sonny hampir membunuhnya namun semua itu tergantung sikap yang ditunjukkan oleh Sonny.
Jika Sonny percaya dengan mereka dan mau bekerja sama untuk mengungkap wajah busuk Renata maka dia akan melepaskannya mengingat dia adalah kakak dari Emely.
__ADS_1
Malam melelahkan yang tidak terduga, walau mobil hancur namun mereka mendadak mendapatkan saksi kuci untuk membongkar wajah palsu Renata sehingga mereka bisa menangkap wanita itu dengan mudah.