Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kejutan Untuk Bilt.


__ADS_3

Tidak saja diperbolehkan melamar wanita incarannya, Bilt juga mendapat kejutan dari sahabat baiknya yaitu sebuah pernikahan. Karena Bilt sudah banyak membantu dan juga sudah terlibat banyak masalah karena dirinya jadi Vanila menyiapkan sebuah pernikahan untuknya.Tentunya Bilt tidak menduga hal itu akan terjadi karena Vanila tidak memberitahunya.


Sebelum pernikahan itu terjadi, Vanila menculik Sabrina secara diam-diam. Dia mengajak Sabrina pergi tanpa diketahui oleh Bilt. Sabrina sangat heran karena sang putri yang mengajaknya jadi dia tidak protes.


"Kita mau pergi ke mana, Putri?" tanya Sabrina. Dia diajak oleh Vanila masuk ke dalam sebuah ruangan. Mata Sabrina melotot melihat beberapa gaun pengantin yang ada di dalam ruangan itu.


"Putri Vanila," Sabrina masih tidak mengerti.


"Panggil aku Vanila," pinta Vanila karena da tidak biasa dipanggil putri. Dia lebih suka namanya dipanggil secara langsung.


"Tapi?" Sabrina tampak ragu.


"Tidak apa-apa, jangan sungkan," Vanila menarik tangan Sabrina dan membawanya mendekati sebuah gaun pengantin.


"Bilt adalah sahabat terbaik yang aku miliki. Suka duka sudah aku lewati bersama dengannya jadi hari ini aku ingin membalas kebaikannya padaku selama ini."


"Mak-Maksud, Putri?" bagaimanapun dia belum berani memanggil nama Vanila secara langsung.


"Bilt sudah tidak memiliki orang tua, dia tinggal sendiri di Australia."


"Aku sudah tahu itu," sela Sabrina.


"Bagus, aku senang mendengarnya. Walau dia seperti itu tapi dia sangat baik, kau pasti tidak akan menyesal memilihnya," Vanila melihat gaun pengantin yang ada di hadapan mereka lalu melihat ke arah Sabrina.


"Aku ingin memberikan kejutan untuknya, tentunya dengan bantuanmu dan kerja sama denganmu. Jika kau bersedia menikah dengan Bilt hari ini juga maka pilihlah salah satu gaun yang ada di sini. Pernikahan kalian akan disaksikan oleh semua tamu undangan dan rakyat. Hal ini tidak akan pernah terulang lagi dan aku yakin hanya akan menjadi satu-satunya di dalam sejarah tapi semua tergantung dirimu, aku tidak memaksa."


Sabrina terlihat berpikir, pandangannya jatuh pada gaun yang sedang dilihat oleh Vanila. Dia memang sudah menerima lamaran dari Bilt yang berarti mereka akan segera menikah. Tawaran yang diberikan oleh Vanila sangat menarik, tidak ada hal yang lebih menarik menikah di acara pelantikan sang raja baru dan seperti yang Vanila lakukan, hal seperti itu tidak akan terulang kembali. Kedua orangtuanya juga berada di sana lalu apa yang dia ragukan?


"Ta-Tapi bagaimana dengan raja? Dia tidak akan suka acara pelantikannya dicampur adukkan dengan acara lain," Sabrina menunduk, jangan sampai mereka dikira memanfaatkan situasi.

__ADS_1


"Kakakku tidak keberatan, lagi pula acara tetap berjalan bahkan acara akan semakin meriah dengan adanya acara pernikahan kalian. Bantu aku membalas kebaikan Bilt, bantu aku memberikan kejutan ini untuknya. Dia pasti akan senang."


Sabrina masih memikirkannya, dia sungguh tidak enak hati tapi permintaan sang putri, tidak bisa dia tolak sama sekali.


"Please, Sabrina," Vanila memegangi tangan Sabrina dan memperlihatkan ekspresi memohon.


"Suatu kehormatan untukku, Putri," Sabrina sedikit membungkuk sambil mengangkat sedikit gaunnya, "Tidaklah sopan menolak permintaanmu jadi aku akan melakukannya. Lagi pula dia sudah melamar aku jadi ini suatu kehormatan bagiku," ucap Sabrina lagi.


"Bagus, aku ingin mengabadikan ekspresi bodohnya," bisik Vanila, kini dia terlihat bersemangat.


Sabrina tersenyum, putri yang diluar dugaan. Dia kira Vanila tipe orang yang serius, dingin dan sulit didekati tapi ternyata tidak. Dia bahkan seperti sahabat yang sudah dikenal lama. Pantas saja Bilt bisa berteman baik dengannya. Sekarang terjawab sudah setelah mengenal princess Vanila Elouis.


Setelah sepakat, Sabrina mulai mencoba gaun pengantin. Vanila memanggil beberapa penata rias. Mereka berdua sibuk dengan rencana mereka, sedangkan di luar sana Bilt sedang mencari keberadaan Sabrina.


Bilt mencari di antara para tamu tapi ramainya para tamu membuat dia kesulitan menemukan Sabrina. Mana gadis itu?


"Sabrina, yuhu!" dia kembali melakukan hal yang sama karena dia mengira Sabrina bersembunyi di bawah meja.


Bilt kembali mencari karena dia tidak menemukan keberadaan Sabrina. Kemana dia? Kini dia mulai serius mencari. Tidak Bilt saja yang sedang mencari, Abraham juga mencari keberadaan istrinya. Tamu yang begitu ramai menyulitkan mereka untuk mencari wanita yang mereka sayangi.


"Ettention please," terdengar suara Norman sehingga semua tamu melihat ke arah Norman yang sedang berdiri di atas sebuah altar.


"Aku sangat berterima kasih atas kedatangan kalian semua yang sudah menyaksikan pelantikanku sebagai raja baru. Aku akan menjalankan tugasku sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan kalian semua dan tentunya, aku akan mencari seorang ratu agar tidak dilangkahi lagi oleh siapa pun," ucapan soal ratu dia hanya bercanda saja.


Para tamu tertawa, Bilt tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Norman. Dia kembali melangkah untuk mencari Sabrina.


"Soal tidak dilangkahi lagi aku hanya bercanda tapi hari ini tidak saja akan menjadi hari penatikanku tapi akan menjadi hari pernikahan sahabat baik adikku!" Norman mengangkat satu tangan, Bilt terkejut saat sebuah lampu menyorot ke arahnya.


"What?" Bilt tampak tidak mengerti apalagi dia menjadi pusat perhatian. Bilt terlihat kebingungan tapi pada saat itu, sebuah lampu menyorot ke arah lain. Para tamu menyingkir ke kanan dan ke kiri sehingga membuat sebuah jalan.

__ADS_1


Bilt melihat ke arah lampu menyorot dan terkejut mendapati Sabrina sedang berdiri di bawah cahaya lampu menggunakan gaun pengantin yang sudah dia pilih.


Sabrina terlihat cantik, seikat bunga berada di tangan. Vanila berdiri di sisinya, kedua wanita itu tersenyum lalu melangkah mendekati Bilt.


"Oh my God, siapa yang bisa menampar wajahku agar aku tahu aku sedang bermimpi atau tidak!" ucap Bilt.


"Bilt masih tidak bergeming, dia masih tidak mempercayai apa yang dia lihat. Sabrina dan Vanila bahkan sudah berada di hadapannya tapi dia masih diam saja."


"Bilt?" Sabrina memanggil karena Bilt tidak terlihat sedang senang. Apa Bilt tidak menyukai hal ini?


Vanila menggeleng lalu satu injakan di kaki Bilt dapatkan. Bilt terkejut dan berteriak, satu kaki diangkat dan akhirnya dia sadar jika dia tidak sedang bermimpi.


"Sabrina, Vanila? Apa aku?" Bilt tidak berani mengambil kesimpulan.


"Jika kau tidak menikahinya dalam satu menit maka aku yang akan menikahinya!" ancam Norman.


"Oh, No! No!" Bilt meraih tangan Sabrina, "Dia milikku, yang mulia. Calon ratumu ada di luar sana, sedang menunggu kau mencarinya!" ucapnya lagi.


"Jika begitu apa yang kau tunggu?" tanya Vanila.


"Oke, ini kejutan yang luar biasa. Aku mendapat istri dan aku menghemat uangku ribuan dolar!"


"Hurry up!" ucap Sabrina dan Vanila karena mereka yang tidak sabar.


Bilt segera mengajak Sabrina menuju altar di mana seorang pendeta sudah menunggu. Acara itu kembali meriah dengan pernikahan Bilt dan Sabrina. Kedua orangtua Sabrina terlihat linglung namun menikah di tengah acara pelantikan raja? Itu adalah sebuah kehormatan yang tidak akan terulang lagi.


Suara tepuk tangan terdengar saat Bilt dan Sabrina mengucapkan janji suci. Vanila sudah bersama dengan Abraham sambil mengggendong putrinya yang tadinya menangis.


Vanila tersenyum menyaksikan pernikahan Bilt. Akhirnya, sekarang tinggal melihat pernikahan sang kakak saja dan dia harap segera terjadi. Norman melangkah pergi, setelah ini waktunya berpetualang untuk mencari calon istri yang manis dan lemah lembut.

__ADS_1


__ADS_2