Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kesalahpahaman Bilt


__ADS_3

Rumah Vanila sepi saat Bilt datang. Dia berniat menjemput vanila agar mereka bisa pergi ke bar bersama. Ini hari terakhir mereka bersama sebab itu dia datang untuk menjemput Vanila dan mengajaknya makan siang.


Bilt sudah mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada yang menjawab. Dia juga sudah memanggil dan mengintip dari jendela namun keberadaan Vanila di rumah itu tidak dia rasakan. Bilt benar-benar penasaran, dia berniat mendobrak pintu jika Vanila tidak juga menjawab.


"Vanila... kau ada di dalam, bukan?" teriak Bilt. Pintu kembali diketuk dengan keras, mungkin saja Vanila masih tidur akibat kurang enak badan.


"Vanila!" Bilt masih memanggil. Handle pintu sudah berada di tangan, dia ingin mencoba saja padahal dia tahu pintu itu pasti terkunci tapi nyatanya, dia bisa membuka pintu itu dengan mudah.


Bilt melangkah masuk, dia benar-benar heran karena rumah itu sangat sepi. Dia kembali memanggil namun tidak juga ada jawaban. Bilt berlari menuju kamar di mana pintu kamar terbuka, jangan katakan telah terjadi sesuatu pada Vanila di dalam sana.


"Vanila!" Bilt memanggil saat berada di dalam kamar namun sosok yang dia cari tidak ada. Kini dia mencari diseluruh rumah, dapur, kamar mandi dan di halaman belakang tapi Vanila juga tidak ada.


"Vanila, di mana kau?" Bilt tampak frustasi. Dia mencoba menghubungi ponsel Vanila namun tidak bisa dihubungi karena sudah tidak aktif.


"Sial, apa semua ini ulah Abraham?" Bilt berpikir, mencoba mencari tahu dan rasa curiganya hanya tertuju pada Abraham karena dia tidak mengenal kakak Vanila.


Vanila memang berkata akan pergi tapi dia tidak akan pergi secara diam-diam seperti itu. Dia sangat yakin sudah terjadi sesuatu pada Vanila dan dia juga yakin semua gara-gara Abraham. Tidak ada pelaku lain yang patut dia curigai tapi untuk apa dia membawa Vanila? Apa pun itu, dia akan meminta seseorang membantunya karena dia takut terjadi sesuatu dengan Vanila.


"Awas kau, jika sampai terjadi sesuatu dengan Vanila, aku tidak akan memaafkanmu. Sepertinya sudah saatnya aku memberikan kejutan untukmu!" Bilt pergi dari rumah Vanila, rekaman yang dia miliki akan dia kirimkan. Ternyata rekaman itu ada gunanya. Dia akan membuka mata Abraham Aldway agar dia tahu jika Vanila jauh lebih baik dari pada tunangannya yang menyimpan sebuah scandal itu.

__ADS_1


Sesungguhnya dia tidak mau melakukan hal itu tapi dia harus melakukannya untuk menyelamatkan Vanila yang dia sangka berada di tangan Abraham saat ini. Walau Abraham tidak menyukai Vanila tapi dia harap Vanila bisa menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri saat Abraham sibuk dengan tunangannya dan akibat kesalahpahaman Bilt, Abraham akan mendapatkan kejutan itu.


Bilt pergi dari rumah Vanila, dia akan mencari sahabatnya yang waktu itu telah membantunya mencari isformasi tentang Abraham. Dia sudah menghubungi sahabatnya waktu itu dan memberikan beberapa rekaman yang dia rekam tanpa sengaja saat Renata datang ke bar. Jangan salahkan dia melakukan hal ini tapi salahkan Abraham yang telah membawa Vanila tapi sesungguhnya Vanila dibawa oleh kakaknya.


Vanila tersadar dari pingsannya. Dia terbaring di kamar yang ada di dalam pesawat. Norman sedang duduk di jendela, dia tidak beranjak sedikitpun selama Vanila pingsan. Jangan sampai Vanila melakukan hal nekad dengan cara melompat dari atas pesawat.


Vanila memegangi kepalanya, melihat sana sini. Tatapan matanya jatuh pada sosok pria yang dia benci selama ini. Vanila memalingkan wajah, dia bahkan berbalik sambil memeluk bantal. Firasatnya benar-benar terjadi. Sungguh kehidupan yang menyedihkan, dia selalu menuruti perkataan kakaknya dari kecil hingga dewasa tapi satu hal yang dia inginkan adalah kebebasan namun hal sederhana itu pun tidak bisa dia dapatkan.


Air mata mengalir, Vanila tidak bisa menahan kesedihan di hati. Padahal hari ini dia ingin bertemu dengan Bilt untuk terakhir kali dan menghabiskan waktu bersama dengan sahabat baiknya itu sebelum mereka berpisah tapi semua keinginan tinggal keinginan.


Norman melihat ke arah adiknya karena isak tangisnya terdengar. Suara langkah kakinya terdengar, Vanila memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.


Vanila tidak bergeming bahkan saat kakaknya merapikan rambutnya yang berantakan. Matanya masih terpejam, dia benar-benar tidak mau melihat wajah kakaknya.


"Tidak perlu pura-pura tidur, apa kau kira aku tidak tahu?"


"Pergi!" hanya itu yang dikatakan oleh Vanila.


"Kenapa kau meminta aku pergi, apa kau pikir bisa melarikan diri setelah aku keluar dari sini?"

__ADS_1


Vanila berusaha menahan emosinya. Tidak... dia harus menahan rasa benci dan amarah yang ada di hati. Dia harus ingat dengan janin yang sedang dia kandung saat ini. Jangan sampai kebencian yang dia rasakan mencelakai calon anaknya. Dia juga tidak mau anaknya justru seperti kakaknya kelak yang egois dan tidak mempedulikan dirinya.


Lagi pula dia sengaja mengandung bayi Abraham untuk melawan kakaknya dan dengan keberadaan bayinya, dia akan menggagalkan rencana kakaknya sehingga dia bisa kembali mendapat kebebasan. Untuk saat ini sebaiknya dia menahan emosi untuk mendapatkan kebebasan permanen itu.


"Kenapa kau tidak menjawab, apa kau sedang merencanakan sesuatu?" tanya kakaknya lagi sambil mengusap rambutnya.


"Apa yang bisa aku rencanakan, Norman. Bagaimana aku bisa melarikan diri sedangkan kita berada di atas ribuan kaki. Aku sudah lelah, aku tidak akan lari lagi. Apa yang kau inginkan, akan aku turuti kali ini," ucap Vanila.


Norman menatapnya dengan tatapan curiga, kenapa kepasrahan Vanila justru mencurigakan?? Dia tidak mungkin akan pasrah seperti itu karena dari dulu sampai sekarang, Vanila adalah tipe yang suka memberontak.


"Apa yang sedang kau rencanakan, Vanila? Ketahuilah, kali ini aku tidak akan membiarkan kau kabur untuk kedua kalinya!"


"Terserah, aku lelah. Kau selalu seperti ini. Egois dan mementingkan diri sendiri. Aku ingin tidur jadi jangan ganggu aku dan keluarlah, aku ingin sendirian dan kau tidak perlu khawatir karena aku masih sayang nyawa dan tidak akan melompat ke bawah."


"Baiklah ," Norman menunduk untuk mencium dahi adiknya, " Aku melakukan hal ini untuk kebaikanmu dan suatu hari nanti, kau pasti akan berterima kasih padaku," ucapnya lagi.


Vanila tersenyum sinis seolah-olah mencibir perkataan kakaknya. Untuk kebaikannya? Selalu perkataan itu yang dia dengar dan dia muak. Entah apa yang kakaknya khawatirkan akan kehidupannya tapi apa pun yang kakaknya lakukan bukan demi kebaikannya kerena apa yang kakaknya inginkan tidak disukainya sama sekali.


Norman beranjak dan melangkah keluar dari kamar. Vanila menangis setelah kepergian kakaknya. Kini harapan satu-satunya yang dia miliki adalah janin yang sedang dia kandung. Dia harap semua berubah setelah kakaknya tahu akan kehamilannya. Dia akan menanggung apa pun risikonya nanti asalkan dia mendapatkan kebebasan yang dia mau tapi sebelum itu, dia harus membujuk kakaknya untuk mengembalikan ponsel yang dia sita karena dia ingin menghubungi Bilt dan memberinya kabar.

__ADS_1


Jangan sampai Bilt mengkhawatirkan dirinya yang tiba-tiba menghilang dan memang, Bilt sangat mengkhawatirkan keadaan Vanila yang dia kira jika Vanila ditangkap oleh Abraham. Untuk menyelamatkan Vanila, Bilt meminta bantuan sahabat baiknya untuk mengirim beberapa rekaman yang dia miliki karena dia pikir dia bisa menyelamatkan Vanila menggunakan rekaman itu agar tidak dibunuh oleh Abraham dan dia harap Vanila menggunakan kesempatan yang ada untuk melarikan diri tapi Bilt, benar-benar salah paham.


__ADS_2