
Perlengkapan untuk piknik sudah siap, walau mereka akan tinggal di kabin tapi Vanila tetap membawa tenda karena tenda itu bisa mereka gunakan untuk camping di luar kabin jika langit sedang indah dan cuaca mendukung. Menghabiskan waktu di luar lebih menyenangkan dari pada berada di dalam kabin apalagi dilalui bersama dengan orang yang disukai.
Sebuah mobil berada di depan rumah, itu adalah mobil yang dia sewa selama beberapa hari. Jangan tanya uang dari mana, tentunya dari tabugannya dan dia hampir menguras semua isinya. Semua itu tidak jadi soal karena dia tahu hal seperti itu tidak mungkin terulang dan dia bersedia membayar mahal.
Vanila menyiapkan beberapa makanan yang akan mereka bawa dan nikmati. Perjalanan cukup jauh, mereka bisa berhenti di beberapa tempat untuk menikmati alam sambil menikmati makanan yang dia buat. Sebuah peta juga sudah ada, peta itu akan dia gunakan nanti untuk mencari lokasi kabin. Bagaimanapun dia adalah pendatang yang belum tahu banyak akan tempat-tempat yang ada di sana.
Abraham berdiri di depan jendela, untuk melihat keluar sana. Sudah hampir satu bulan dia tinggal di rumah Vanila, ingatan yang dia kumpulkan belum cukup untuk mengetahui siapa jati dirinya. Semoga dengan piknik yang dia lakukan dengan Vanila bisa menambah ingatannya walau sesungguhnya dia ragu karena dia tidak tahu apakah dia pecinta alam atau tidak.
Karena Vanila belum juga selesai, Abraham melangkah menuju dapur. Vanila baru saja memasukkan makanan ke dalam keranjang. Abraham menghampirinya, melihat kegiatan yang dilakukan oleh Vanila yang terasa sangat asing. Apakah dia dan wanita yang ada di ingatannya tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya?
"Apa belum selesai?"
"Ada apa? Apa kau sudah tidak sabar?" tanya Vanila.
"Bolehkah aku yang membawa mobi?" pinta Abraham. Mungkin dia bisa mengingat sesuatu saat menyetir walau dia tidak tahu apakah dia pernah membawa mobil sebelumnya atau tidak.
"Boleh saja, aku yang akan menjadi penunjuk jalan tapi kau harus hati-hati. Aku akan mengajarimu nanti!"
Abraham mengangguk, Vanila kembali mengambil makanan terakhir dan memasukkannya ke dalam keranjang. Dia sudah selesai, saatnya berangkat untuk mengukir kenangan berdua. Semoga saja mereka bisa membuat kenangan berkesan nantinya.
"Ayo kita pergi, aku sudah siap!" ucapnya.
"Bagus, aku sudah tidak sabar!" Abraham mengambil keranjang makanan yang Vanila bawa dan melangkah keluar.
Vanila mengikutinya dari belakang, semua barang-barang mereka memang sudah berada di mobil sehingga mereka tidak perlu repot. Pintu rumah dikunci rapat, Vanila mengajari Abraham beberapa hal dan setelah mengerti, Abraham membawa mobil itu pergi.
Ternyata tidak sulit, dia bisa menguasai benda itu dengan mudah bahkan membawanya dengan kecepatan tinggi.
"Ternyata tidak sulit, sepertinya aku pernah membawa mobil sebelumnya," ucap Abraham.
__ADS_1
"Sepertinya kau benar," Vanila tersenyum. Sudah tentu Abraham pernah membawa mobil tapi dia pura-pura tidak tahu.
Mereka pergi meninggalkan kota, menuju perbukitan. Mereka memutuskan untuk berhenti sejenak untuk beristirahat karena Abraham sudah membawa mobilnya selama berjam-jam dan cukup jauh. Vanila melihat peta di mana mereka berhenti, ternyata mereka masih cukup jauh dari kabin.
Keranjang makanan dikeluarkan, Vanila mengajak Abraham untuk berjalan masuk ke dalam hutan yang ada di sisi jalan. Mereka tidak akan masuk terlalu jauh, mereka hanya mencari sebuah pohon besar lalu menikmati makanan di bawah pohon itu.
"Berikan tanganmu!" pinta Abraham sambil mengulurkan tangan karena jalanan yang sedikit tinggi.
"Thanks," Vanila menyambut uluran tangan Abraham.
Mereka kembali melangkah tapi kali ini sambil bergandengan. Sebuah pohon besar menjadi pilihan, tikar pun di hampar dan keranjang di letakkan di atas tikar.
"Di sini saja," ucap Vanila seraya menjatuhkan bokongnya ke atas tikar.
"Apa kau selalu seperti ini?" tanya Abraham.
"Sepertinya hidupmu sangat menyenangkan," Abraham melirik ke arahnya, Vanila tersenyum manis. Menyenangkan? Kehidupannya jauh dari kata menyenangkan.
"Hidupku memang selalu menyenangkan. Aku bisa melakukan apa yang aku inginkan, aku bebas seperti seekor burung yang bisa terbang ke mana pun aku pergi!"
"Tidak perlu berpuisi! Waktu itu kau bilang kau menginginkan kebebasan tapi sekarang kau bagaikan seekor burung. Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya lagi!"
Vanila terkekeh, dia memang berkata demikian agar tidak terlihat menyedihkan. Lagi pula sekarang dia melakukan apa yang dia ucapkan dan tentunya, dia akan menikmati setiap momen kebersamaan mereka.
"Ayo kita nikmati makanan yang aku buat," Vanila mengambil keranjang dan mengeluarkan isinya.
Sebotol minuman dikeluarkan berserta dua buah gelas. Makanan juga diletakkan di atas tikar. Cuaca yang sangat mendukung, semilir angin berhembus membuat suasana terasa sejuk. Semoga nanti malam cuaca juga seperti itu sehingga mereka berdua bisa menikmati indahnya langit malam.
"Bersulang untuk piknik pertama kita," ucap Abraham seraya memberikan gelas yang sudah berisi minuman pada Vanila.
__ADS_1
"Yeah, bersulang," gelas yang diberikan oleh Abraham diambil, mereka mengadukan gelas hingga berbunyi.
Gelas diletakkan setelah isinya di teguk, makanan pun dinikmati. Vanila sangat senang, ini piknik pertama yang sangat berkesan baginya.
Minuman sudah tinggal setengah, makanan pun tinggal sedikit. Mereka berbaring berdua setelah kenyang. Vanila melirik ke arah Abraham lalu tatapan matanya melihat dedaunan yang tertiup angin.
"Terima kasih kau mau piknik denganku," ucap Vanila.
"Apa maksudmu, aku yang berterima kasih karena kau mau mengajak aku ke sini," ucap Abraham seraya memiringkan tubuhnya.
"Suatu saat nanti, aku harap kau mengingat kebersamaan kita yang seperti ini, Rick," ucap Vanila.
"Kenapa berkata demikian?"
"Aku takut kau melupakan aku saat ingatanmu sudah pulih," Vanila juga memiringkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.
"Tidak akan, Vanila," Abraham mengusap wajah Vanila dengan perlahan, "Jika ingatanku sudah pulih, ikutlah denganku. Jadilah kekasihku setelah itu," ucapnya. Semoga dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun sehingga dia bisa menjadikan Vanila sebagai kekasihnya.
"Kau mau, bukan?" tanya Abraham.
Vanila mengangguk dan tersenyum walau dia tahu hal itu tidak mungkin bisa terjadi. Mendengar permintaan Abraham yang seperti itu saja sudah membuatnya sangat bahagia. Abraham menariknya mendekat dan memeluknya, ciuman lembut mendarat di dahi Vanila.
Senyum Vanila semakin mekar, inilah yang sangat ingin dia rasakan sejak dulu. Dia ingin merasakan indahnya memiliki kekasih. Walau Abraham bukan kekasihnya tapi apa yang mereka lakukan saat ini sudah tidak jauh berbeda dengan pasangan kekasih lainnya.
Bibir Abraham turun ke bawah, dari dahi ke hidungnya. Mata Vanila terpejam, menikmati setiap ciuman yang Abraham berikan. Semoga tidak ada yang mengganggu kebersamaan mereka, bisa saja ada rusa, beruang atau penunggu pohon yang iri melihat kemesraan mereka.
Bibir mereka sudah saling bertemu, kecupan lembut diberikan di bibir Vanila sebelum Abraham mencium bibirnya dengan serius. Vanila memeluk Abraham dengan erat, biarlah seperti itu. Dia sungguh tidak keberatan. Setelah berciuman, mereka berdua masih berbaring di bawah pohon sambil berpelukan.
Suara burung yang berkicau dan hembusan angin membuat mereka enggan beranjak apalagi kebersamaan itu. Vanila sangat berharap, waktu terhenti agar tidak ada yang memisahkan mereka namun waktu terus berputar dan perpisahan mereka pasti akan terjadi.
__ADS_1