
Seembar air dibawa lalu disiramkan kepada Bilt dan juga sahabat Vanila yang sudah tertangkap terlebih dahulu. Kedua pemuda itu tersadar dari pingsan mereka, mereka terkejut dan saling pandang lalu mereka melihat sekeliling mereka yang terasa sangat asing.
Bilt meringis akibat pukulan keras dibagian kepalanya. Dia masih ingat jika dia dicegat oleh puluhan pria yang terlihat asing dan mencurigakan.
"Apa yang terjadi pada kita? tanya Bilt.
"A-Aku tidak tahu," sahabat Vanila juga tidak mengerti karena dia juga tiba-tiba dipukul oleh orang yang tidak dia kenal.
Bilt mencoba mengartikan apa yang terjadi, matanya kembali melihat sana sini untuk mencari tahu tapi rasa ingin tahunya terjawab saat seorang pria masuk ke dalam ruangan itu dan menghampiri mereka. Mata Bilt melotot, celaka. Waktu membayar apa yang mereka lakukan akhirnya tiba. Tidak saja Bilt yang terkejut, sahabat Vanila juga terkejut melihat kedatangan Abraham.
Abraham menghampiri mereka dengan ekspresi dingin. Tatapan matanya yang tajam tidak lepas dari dua pemuda yang terikat tidak berdaya.
Tatapan Bilt masih tidak berpaling darinya. Sungguh celaka, dia harap Vanila tidak tertangkap. Padahal dia baru saja mengkhawatirkan hal ini dan meminta Vanila untuk pergi tapi ternyata pria itu sudah datang tanpa mereka duga.
"Apa kau sudah puas melihatnya?" tanya Abraham sinis dan setelah itu satu tendangan Bilt dapatkan dibagian wajahnya. Ujung sepatu Abraham menghantam dagu Bilt, pria itu hanya bisa menahan rasa sakit yang dia dapatkan.
"Kalian masih ingat denganku, bukan?" Abraham kembali menendang tapi kini bagian perut Bilt. Entah kenapa dia sangat ingin meghajar pria itu karena tidak saja membantu Vanila, tapi dia juga yang mengetuk pintu untuk menakutinya seolah-olah membuatnya percaya jika dia memang dikejar orang yang menagih hutang.
Abraham melampiaskan amarah yang memuncak saat ingat apa yang dia alami akibat kelakukan mereka. Kakinya tidak berhenti menendang tubuh Bilt yang tidak bisa melawan. Bilt berusaha bertahan setiap kali dia mendapatkan tendangan, satu saja yang dia harapkan saat ini, dia harap Vanila bisa melarikan diri dan seandainya tertangkap pun, dia harap Abraham tidak menyakiti Vanila.
"Apa kalian tahu apa yang membuat kalian berada di sini?" teriak Abraham marah.
"Semua salah Vanila, kami hanya mengikuti permintaannya saja!" teriak sahabat Vanila.
"Diam kau, jangan bawa-bawa Vanila!" teriak Bilt tidak terima.
__ADS_1
"Dasar bodoh, dia hanya membayarmu ratusan dolar saja. Untuk apa kau membela dirinya di saat seperti ini? Jika bukan karena permintaan gilanya, kita tidak akan terlibat dalam masalah yang telah dia lakukan!"
"Jangan bersikap tidak jantan seperti itu. Bukankah sejak awal kau tahu risikonya jadi jangan menyalahkan Vanila hanya untuk membela diri!"
"Oh, sepertinya kau begitu membela Vanila," Abraham berjongkok dan menjambak rambut Bilt sehingga wajahnya terangkat ke atas.
"Apa kau menyukai Vanila sehingga kau begitu membelanya?" entah kenapa rasanya jadi tidak senang.
"Vanila sahabatku sebab itu aku membelanya. Dia menculik dan menipumu karena dia menyukaimu," ucap Bilt.
"Omong kosong, jangan kau kira aku akan melepaskan kalian setelah kau mengatakan hal ini!"
"Percayalah denganku, Vanila begitu sedih setelah kau pergi. Kenapa kau tidak pergi melihat keadaannya jika kau tidak percaya?"
"Pergi melihatnya? Aku justru menginginkan kematiannya!"
"Tidak akan pernah!" amarah semakin menguasai hati karena Bilt begitu membela Vanila. Untuk meredakan amarahnya, Abraham membenturkan kepala Bilt berkali-kali ke atas lantai sampai membuat kepala pria itu berdarah. Mereka yang telah memukul kepalanya, harus merasakan apa yang dia rasakan.
"Kau boleh membunuhku tapi jangan sakiti Vanila!" Bilt masih berusaha memohon.
"Tutup mulutmu, jangan menyebut namanya karena aku benci!" teriak Abraham sambil membenturkan kepala Bitt lagi ke atas lantai.
Bilt menahan rasa sakitnya, darah mengalir deras dari dahi. Kepalanya terasa sakit luar biasa, sahabat Vanila ketakutan melihatnya. Sebaiknya dia diam agar dia tidak mendapat pukulan seperti itu namun sayang, setelah selesai membenturkan kepala Bilt ke atas lantai, Abraham beranjak dan memanggil anak buahnya.
Empat orang mendekat dan berdiri di sisinya, mereka siap mendapatkan perintah. Abraham melihat ke arah dua pemuda yang sudah begitu berani bekerja sama dengan Vanila Elouis untuk menculiknya, dia yakin semua itu ada hubungannya dengan pria itu.
__ADS_1
"Lepaskan bajunya dan cambuk mereka!" perintahnya.
"Yes, Sir!" keempat anak buahnya bergerak untuk melakukan perintah. Abraham menghampiri sebuah kursi dan duduk di sana, Dia akan menonton pertunjukkan itu sambil menunggu Vanila dibawa. Selanjutnya Vanila yang akan mendapatkan cambukan seperti itu dan akan dia tunjukkan pada Norman Elouis, jika dia tidak boleh bermain-main dengannya apalagi sampai meminta adiknya sendiri untuk menjebaknya.
Norman Elouis adalah kakak Vanila. Dialah yang selalu mengekang hidup Vanila dan dia sedang sibuk mencari adiknya yang melarikan diri. Dia sempat dicurigai sebagai dalang hilangnya Abraham karena permusuhan mereka berdua namun Norman tidak sedang mempedulikan apa pun selain mencari keberadaan adiknya.
Baju Bilt sudah ditanggalkan, begitu juga baju yang digunakan oleh sahabat Vanila. Kedua tangan mereka direntangkan ke sisi kanan dan kiri lalu cambuk berduri menghantam tubuh mereka. Teriakan kedua pemuda itu terdengar, dalam hati Bilt sangat berharap Vanila tidak berada di posisi itu karena dia tahu Abraham tidak akan melepaskannnya sekalipun dia wanita.
Setiap cambukan yang mereka dapat, membuat sebuah luka yang cukup dalam di punggung mereka. Tidak ada yang menghitung, anak buah Abraham melakukannya dengan sesuka hati. Selama bos mereka tidak memberi perintah untuk berhenti maka mereka tidak akan berhenti dan selama kedua pemuda itu tidak pingsan maka mereka tidak akan berhenti.
Darah segar sudah mengalir dari punggung Bilt dan sahabat Vanila. Mereka berdua sudah tampak tidak berdaya. Abraham mengangkat satu tangannya, cambukan pun terhenti. Dengan perasaan puas, Abraham menghampiri kedua pemuda yang sedang kesakitan.
"Bagaimana, apa kalian masih ingin membantu Vanila Elouis untuk menculik dan memukul aku lagi?" tanya Abraham.
"Tolong maafkan aku!" teriak sahabat Vanila.
"Ja-Jangan lukai Vanila," pinta Bilt. Dia yakin pria kejam itu juga akan menempatkan Vanila di posisi mereka. Semoga saja ada sebuah keajaiban yang terjadi sehingga Vanila terhindar dari semua itu.
"Masih memikirkan dirinya? Dari pada memikirkan orang yang sudah membuat kalian seperti ini, bukankah lebih baik kalian memikirkan diri kalian sendiri? Aku pastikan, kalian tidak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup!"
"Bunuh aku sekarang tapi lepaskan Vanila!" Bilt masih berusaha memohon.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku!" Abraham mendekati Bilt dan menginjak luka yang ada di punggungnya. Dia tidak suka pria itu masih saja membela Vanila. Apa dia tidak suka Vanila dibela atau dia tidak suka pria itu begitu peduli dengan Vanila?
"Kau begitu peduli dengannya maka aku akan membiarkan kau melihat siksaan yang akan dia dapatkan nanti!" Abraham melangkah pergi, kembali ke kursinya. Tinggal anak buahnya membawa Vanila maka dia akan membalas apa yang telah mereka lakukan terhadapnya.
__ADS_1
Bilt kembali memohon agar Abraham melepaskan Vanila dan tidak melakukan apa pun namun amarah dan kebencian memenuhi hati apalagi Vanila adalah adik dari orang yang paling dia benci. Bilt berharap Vanila bisa melarikan diri namun sayang, Vanila sudah dicegat oleh anak buah Abraham yang sedang mengikutinya.