
Vanila masih berada di dalam ruangan, dia tidak akan lari ke mana pun walau dia tahu keluarganya pasti akan marah setelah mengetahui kehamilannya. Dia akan menanggung semua risiko dari apa yang dia lakukan. Dia selalu mempunyai prinsip, berani berbuat maka dia harus berani bertanggung jawab.
Sudah lama kakaknya keluar bersama dengan Dean. Dia rasa sebentar lagi keluarganya akan datang menemui dirinya tentunya dengan kemarahan yang akan dia terima. Vanila menghela napas, apa yang akan terjadi maka biarlah terjadi.
Gelas minuman diambil, beberapa cemilan juga diambil. Vanila menikmati makanan seperti tidak terjadi apa pun. Beberapa macaron bahkan sudah habis, makan dulu baru menerima amarah dari keluarganya yang penting janinnya dapat nutrisi. Vanila masih menikmati makanannya saat kakaknya masuk ke dalam bersama dengan kedua orangtuanya.
"Masih bisa makan rupanya?" ucap Norman.
Vanila diam, makanan ditelan dengan susah payah. Sudah tiba, dia bahkan tidak berani melihat ke arah keluarganya. Norman menghampirinya dengan kemarahan tertahan, wajah ayahnya tampak menakutkan bahkan ibunya juga terlihat begitu kecewa.
"Apakah yang kakakmu katakan benar, Vanila?" tanya ibunya. Dia harap Vanila menyangkal dan berkata tidak namun anggukan pelan yang diberikan oleh putrinya menghancurkan dunianya.
"Apa yang kau lakukan, Vanila? Kenapa kau melakukan hal ini?" teriak ibunya. Tangisannya pun pecah karena rasa kecewa memenuhi hati.
"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini pada kami sebelum kami meminta Dean dan kedua orangtuanya untuk datang, Vanila?" teriak ayahnya sambil menahan emosi. Rasanya ingin menghampiri Vanila dan memukulnya tapi Vanila adalah putrinya, bagaimanapun tangannya tidak akan sampai untuk memukul putrinya sendiri.
"Aku takut kalian meminta aku mengugurkan bayi ini agar pernikahan tetap dilaksakan sebab itu aku tidak berani mengatakannya," Vanila mengangkat wajah, memberanikan diri memandangi keluarganya.
"Jadi sejak awal kau sudah merencakan semua ini?" Norman melihat ke arah adiknya, dia tidak menyangka mereka akan dipermalukan oleh Vanila seperti itu.
"Semua ini gara-gara kau, Norman!" teriak Vanila seraya beranjak.
"Kenapa kau jadi menyalahkan aku?"
"Semua memang salahmu, aku melakukan semua ini gara-gara kau. Kau sudah mengekang aku, sejak kecil aku tidak memiliki teman sama sekali karena kau selalu melarang aku untuk berteman. Walau aku dilahirkan sebagai seorang putri, tapi aku bagaimana seorang pelayan yang terpenjara di dalam istana karena dijual. Aku tidak boleh pergi ke mana pun, setiap hari aku hanya boleh berada di dalam istana. Setiap hari aku harus melewati hariku dengan belajar dan belajar sampai aku muak!" teriak Vanila. Sekarang juga, dia akan mengutarakan semua yang dia pendam di dalam hati.
"Aku melakukan hal itu untuk kebaikanmu, apa kau tidak mengerti?" teriak Norman marah.
__ADS_1
"Kebaikan yang mana? Kau menjadikan aku sebagai bonekamu saja, yang kau kendalikan sesuka hatimu. Aku memiliki kehidupanku sendiri, Norman," air mata mengalir, rasa sesak memenuhi dada sehingga dia tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Aku ingin memiliki sahabat, aku ingin menikmati kehidupan di luar istana. Aku ingin mekakukan banyak hal menyenangkan di dalam hidupku tapi apa yang kalian lakukan?" air mata di hapus dengan kasar lalu dia kembali berkata, "Aku sudah katakan aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak aku cintai tapi kalian masih saja memaksa aku. Apa kalian ingin tahu kenapa aku melarikan diri? Aku muak hidup di istana sebab itu aku mencari seorang pria dan tidur dengannya supaya aku hamil!" ucapnya lagi.
Sang ibu yang mendengar ucapannya sangat marah, ibunya melangkah mendekati Vanila dan memberikan sebuah tamparan keras di wajahnya. Ibunya juga menatapnya dengan tatapan kecewa, dia tidak menyangka putrinya sengaja mengandung demi mempermalukan mereka.
"Kau benar-benar mengecewakan aku, Vanila," ucap ibunya.
Vanila tidak bersuara, tangannya berada di pipi dan dia masih menangis. Suasana hening, tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat.
"Apa kau puas sekarang, Vanila?" Norman jatuh terduduk, kecewa.
"Kau benar-benar sudah mempermalukan kami, apa kau tidak tahu itu?" ucap ayahnya pula.
"Kalian yang membuat aku melakukan hal sepertri ini," Vanila juga terduduk, menangis.
Vanila tidak menjawab, Emely? Dia baru mendengar nama ini dari kakaknya untuk pertama kali. Apa kakaknya berkabung untuk wanita bernama Emely itu?
"Jika begitu, kenapa kau tidak mengenalkan dirinya padaku sejak awal? Kenapa kau tidak memberikan kami kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain sebelum pernikahan itu kau utarakan? Seandainya kau memberikan aku kebebasan, memberikan ruang untukku menikmati hidupku, aku tidak akan melakukan hal seperti ini, Norman. Di luar sana memang tidak menyenangkan, di luar sana memang kejam seperti yang kau katakan tapi di luar sanalah aku menemukan artinya hidup. Walau aku memiliki sedikit uang tapi aku bahagia. Aku belajar bagaimana berhemat, aku belajar bagaimana cara menikmati hasil jerih payahku dan aku jadi merasakan bagaimana rasanya menikmati uang dari hasil keringat sendiri," ucap Vanila panjang lebar.
"Aku juga tidak mau mempermalukan kalian, tapi setiap kali aku mengutarakan pendapatku, kalian selalu menganggap aku salah. Apa kalian pikir menyenangkan hidup dalam kendali orang lain? Tidak, Norman. Aku bagaikan berada di sangkar emas yang kalian bangun dan kalian bentengi dengan kokoh, kenapa kalian tidak merantai seekor naga saja untuk menjaga aku seperti di dalam cerita dongeng?" Vanila menghapus air matanya, dia tahu dia salah tapi yang paling bersalah adalah kakaknya. Dia benar-benar sudah tidak tahan hidup di bawah kekakangan kakaknya.
"Sekarang katakan pada kami, siapa ayah dari bayi yang kau kandung?" tanya ibunya lirih.
"Aku tidak tahu," jawab Vanila berdusta.
Braakkk!! Meja dipukul dengan keras oleh ayahnya. Ayahnya yang sedari tadi tidak banyak bersuara, kini benar-benar murka.
__ADS_1
"Apa maksudmu tidak tahu?" tanya ayahnya marah.
"Dia hanya pria yang aku bayar saja, aku tidak tahu," ucap Vanila.
"Beraninya kau melakukan hal seperti itu, Vanila?" teriak ayahnya lantang.
Norman memijit pelipis, sang ibu menangis tersedu. Rasa kecewa semakin mereka rasakan, sungguh semua yang terjadi di luar dugaan.
"Mulai sekarang, aku akan membuangmu ke tempat pengasingan!" keputusan yang diucapkan oleh ayahnya membuat Norman dan ibunya terkejut.
"Dad, apa yang kau katakan?" Aliana tidak terima dengan keputusan suaminya yang tiba-tiba karena tempat pengasingan bukanlah tempat menyenangkan.
"Gugurkan bayinya jika dia tidak mau ke tempat pengasingan. Dia juga akan mendapatkan kehidupan yang dia mau asalkan bayi itu digugurkan!" setelah berkata demikian, Archer Elouis keluar dari ruangan itu.
"Tungu, Dad. Jangan mengambil keputusan seperti itu pada putri kita!" Aliana berlari keluar, dia akan membujuk suaminya untuk tidak melakukan hal itu.
Norman masih beada di dalam ruangan, Vanila diam saja. Jika memang itu risiko yang harus dia tanggung maka dia tidak keberatan sama sekali hidup dalam pengasingan asalkan dia bisa melahirkan anaknya.
"Katakan padaku, Vanila. Siapa pria itu?" tanya Norman.
"Sudah aku katakan, aku tidak tahu."
"Vanila!" Norman berteriak marah, "Jangan kau kira aku tidak bisa mengetahui siapa pria itu, aku akan mengutus orang pergi ke Australia untuk mencari tahu dengan siapa kau berhubungan selama kau berada di sana dan aku pasti menemukan pria itu jadi jangan kau kira aku tidak akan tahu!" ucapnya lagi.
Vanila tidak menjawab, namun dalam hati dia berharap dia segera diasingkan sebelum kakaknya tahu siapa pria yang telah tidur dengannya namun saat kakaknya tahu, semua tidak akan menjadi mudah karena masa lalu yang sulit dilupakan.
Norman keluar dari ruangan, hari yang sangat memalukan dan rasa kecewa harus mereka rasakan. Dia pasti akan menemukan pria itu, menariknya ke hadapan Vanila dan mencambuknya sampai mati walaupun semua kesalahan adiknya.
__ADS_1