
Seperti yang sudah Vanila rencanakan, dia ingin melihat sejauh mana Abraham akan berusaha. Hari ini dia akan bersikap menyebalkan, terserah orang mau berkata apa, terserah Abraham mau menganggapnya apa yang jelas dia hanya ingin mengetes keseriusan pria itu saja.
Lagi pula sebagai ayah Anatasya, dia harus bisa menjaga anaknya sendiri. Hari ini dia ingin tahu apakah Abraham sanggup atau tidak karena tidak semua lelaki bisa menjaga anaknya. Seorang wanita bisa melakukan apa saja, bahkan pekerjaan berat yang harus lelaki kerjakan pun bisa dilakukan oleh seorang wanita namun seorang lelaki belum tentu bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang wanita.
Anggap saja Abraham sedang menjalani ujian untuk menjadi ayah yang baik bagi Anatasya. Dia sudah bersikap menyebalkan semalam dan hari ini dia akan melakukan hal yang lebih menyebalkan lagi. Jika pria itu tidak tahan, dia bisa pergi. Dengan begitu dia bisa tahu jika Abraham tidaklah serius.
Agar rencananya berjalan dengan mulus, Vanila berpura-pura sakit dan tidak bangun dari tidurnya. Tentunya Abraham sangat heran karena tidak mendapati Vanila. Suara tangisan Ana terdengar di dalam kamar, Abraham melangkah mendekat dan mengetuk pintu.
"Vanila, apa kau masih tidur?" Tidak ada yang menjawab, Abraham membuka pintu yang ternyata tidak sedang terkunci.
"Vanila, ada apa denganmu?" tanyanya karena Vanila menutup dirinya menggunakan selimut tebal.
"Entahlah, aku kedinginan," ucap Vanila.
"Apa kau sakit?"
"Sepertinya, bagaimana ini? Aku harus menjemur Ana, memandikannya. Aku harus membersihkan rumah, mencuci dan juga memasak. Jika ada Marion, aku tidak perlu mengkhawatirkan hal ini."
Abraham diam, begitu banyak yang harus dikerjakan. Apa dia bisa melakukannya? Menjemur Ana mungkin perkara mudah, memasak juga bisa dia lakukan tapi yang lainnya? Oh, tiba-tiba dia merasa ini sebuah tantangan yang harus dia lewati walau dia tahu tidaklah mudah.
"Tidak perlu kahwatir, aku yang akan melakukannya," ucap Abraham tanpa ragu.
"Apa kau yakin?" Vanila melihat ke arahnya, sesungguhnya itulah yang dia harapkan.
"Tidak, tapi aku akan mencobanya."
"Jika tidak yakin sebaiknya jangan, aku bisa mengerjakannya sendiri!" Vanila hendak bangun namun Abraham menahan.
"Sudah aku katakan, aku harus mencobanya. Jadi berbaringlah."
Diam-Diam Vanila tersenyum. Dia tidak memaksa, Abraham yang menginginkannya. Tapi dia tidak akan keterlaluan, dia hanya ingin melihat keseriusan Abraham saja.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"
"Aku ingin sup, atau minuman hangat."
"Bukan sup aneh yang kau sebutkann semalam, bukan?"
"Tidak, semalam aku hanya asal bicara saja."
"Jika begitu tunggu di sini," Abraham beranjak, Vanila melihat kepergiannya dan setelah itu Vanila memberi Ana asi.
Abraham membuat sup yang Vanila inginkan, setelah ini dia akan menjemur putrinya. Ini kesempatan langka yang tidak boleh dia sia-siakan. Tidak saja bisa menghabiskan waktu dengan putrinya tapi dia juga akan menunjukkan pada Vanila jika dia serius dan tidak akan menyerah hanya karena harus melakukan pekerjaan rumah tangga.
__ADS_1
Semangkuk sup dibawa masuk ke dalam kamar, Vanila sudah membuka baju putrinya. Cuaca yang sangat bagus untuk menjemur Ana. Abraham membawa putrinya untuk berjemur, sedangkan Vanila melihat dari jendela apa yang sedang Abraham lakukan.
Diam-Diam Vanila tersenyum, dia tidak pernah mengharapkan hal seperti ini karena dia tidak pernah mengira Abraham akan datang mencarinya. Yang dikatakan oleh Bilt sangat benar, Anatasya membutuhkan ayahnya. Dia bisa melihat Abraham sedang bermain dengan putrinya di bawah cahaya matahari.
Vanila menghela napas, sebaiknya dia menyiapkan air mandi untuk Anatasya. Untuk yang satu ini dia tidak bisa menyerahkannya pada Abraham karena bahaya. Setelah air mandi siap, Vanila menghampiri putrinya yang masih berjemur.
"Ana, ayo mandi," ajaknya.
"Kenapa kau keluar, bukankah kau sedang sakit?"
"Aku harus memandikan Ana," ucap Vanila.
"Aku bisa, serahkan padaku!"
"Tidak, kau tidak bisa!" Vanila mengambil Ana dari gendongan Abraham.
"Mulailah melakukan tugasmu, Tuan," Vanila tersenyum, semoga pria itu tidak langsung lari.
"Aku tidak memiliki mesin cuci, Marion selalu mencuci dengan cara manual. Bajuku jangan sampai rusak, awas jika sampai hal itu terjadi. Kamar mandi begitu licin, sikatlah yang yang bersih. Rumah juga begitu berdebu karena belum dibersihkan oleh Marion. So... Selamat bekerja, Tuan Aldway," ucap Vanila sambil tersenyum manis.
"Kenapa kau seperti memerintah aku?" tanya Abraham dengan nada tidak senang.
"Tidak, bukankah kau yang mau melakukannya? Jika kau tidak sanggup, maka pergilah. Aku tidak butuh orang yang tidak mau melakukan pekerjaan seperti itu," Vanila melangkah pergi, meninggalkan Abraham yang tidak bergeming. Sekarang dia semakin yakin, jika Vanila memang sedang mengetes dirinya dan ingin tahu apakah dia bisa melakukan pekerjaan itu tau tidak.
Setelah Anatasya tertidur, Vanila keluar dari kamar tapi lantai yang licin dan basah hampir saja membuatnya terjatuh beberapa kali.
"Abraham!" Vanila berteriak sambil berpegangan. Berapa banyak sabun yang dituangkan ke atas lantai?
"Jangan keluar, licin!" teriak Abraham dari arah dapur.
"Ya Tuhan, apa yang kau lakukan pada lantainya? Apa kau menyiramnya dengan air?"
"Kurang lebih," Abraham keluar dari dapur dengan alat pembersih.
"Kau gila, keringkan sekarang juga!" teriak Vanila marah.
Abraham menghela napas, Vanila benar-benar calon istri yang galak.
Vanila hendak masuk ke dalam kamar tapi dia curiga dengan cucian. Sebaiknya dia memeriksanya, dia yakin pekerjaan pria itu tidak beres.
Abraham sedang mengeringkan lantai yang basah karena dia memang menyiramnya dengan air. Dia melakukan hal itu agar pekerjaannya cepat selesai namun lantai yang licin justru membuatnya harus bekerja ekstra.
"Abraham, apa yang kau lakukan pada bajuku?" teriakan Vanila terdengar.
__ADS_1
"Oh, sial. Begitu cepat ketahuan!" ucapnya.
Vanila masuk ke dalam rumah dengan perasaan dongkol karena terdapat sebuah lubang di baju kesukaannya. Entah bagaimana Abraham mencucinya tapi bajunya berakhir tragis.
"Apa yang kau lakukan pada bajuku?" teriak Vanila marah.
"Aku tidak sengaja, Vanila. Bajunya tersangkut dan tanpa sengaja aku menariknya."
"Kau?" baju dicengkeram dengan erat, seharusnya yang kesal saat ini adalah Abraham karena pekerjaan itu tapi kenapa justru dia yang harus kesal?
"Jangan marah," Abraham berjalan mendekat, "Aku akan menggantinya," ucapnya lagi.
"Menyebalkan! Bersihkan rumahnya dan setelah itu jangan melakukan apa pun!"
"Aku akan menyelesaikan tugas yang kau berikan, tidak apa-apa. Aku akan berusaha menjadi pria yang pantas untukmu."
"No, jangan lakukan apa pun. Kau bisa merusak barang-barang nenekku!"
"Tapi kau tidak akan marah padaku, bukan?"
"Lupakan saja," Vanila menghela napasnya, "Aku hanya mengetes dirimu saja," niatnya justru gagal.
"Maaf, aku mengacaukannya," tangan Vanila diraih, Vanila diam saja dan tidak membantah.
Mereka berdua saling pandang, tangan Abraham sudah berada di pipi Vanila dan lagi-lagi Vanila diam dan tidak menepis tangannya.
"Aku benar-benar minta maaf, Vanila," ucapnya.
"Tidak, akulah yang seharusnya minta maaf. Sampai sekarang aku belum pernah meminta maaf padamu atas apa yang telah aku lakukan padamu. Maafkan aku, Abraham. Aku melakukannya karena aku terobsesi denganmu dan karena aku ingin terbebas dari kakakku."
"Bodoh!" Abraham menariknya dan mendekapnya dengan erat.
"Apa yang telah kau lakukan telah memberikan keuntungan untukku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Vanila," ucap Abraham.
"Apa maksudmu?" tanya Vanila tidak mengerti.
"Ayo kita bicara, tapi tunggu aku mengeringkan semua lantai yang basah ini."
"Aku akan membantu."
"Tidak, aku lebih suka kau duduk karena aku yang akan membereskan semua kekacauan ini!"
Vanila mengangguk, kali ini mereka benar-benar akan bicara. Dia tidak akan tertidur lagi seperti semalam, dia akan mendengar apa yang hendak Abraham katakan dan dia juga ingin tahu apa maksud Abraham jika apa yang dia lakukan sudah menguntungkan dirinya. Apakah ada kejadian yang tidak dia ketahui dan memang, dia sudah melewatkan banyak hal.
__ADS_1