Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kabar Gembira


__ADS_3

Pernikahan yang didapat oleh Bilt adalah kejutan luar biasa yang pernah dia dapatkan dari sahabat baiknya. Dia tidak menyangka Vanila memberikan sebuah pernikahan mewah karena pernikahannya dengan Sabrina disaksikan oleh banyak orang.


Tidak saja kejutan itu, Vanila juga memberikan sebuah hadiah lain yaitu sebuah motor sport dan tentunya motor itu bisa dia ambil saat kembali ke Australia.


Acara meriah yang tidak akan dilupakan oleh siapa pun yang hadir, tentunya bagi Blit dan Sabrina. Pesta yang akan mereka kenang sepanjang waktu walau pesta itu telah berlalu lama.


Semua sudah kembali seperti semula, kehidupan mereka pun berubah bersama dengan orang-orang yang mereka cintai. Vanila yang pertama terobsesi karena cinta pada pandangan pertama dengan Abraham kini merasakan manisnya cinta yang dia dapatkan dari perbuatan nekad yang dia lakukan.


Siang itu, cuaca sangat mendukung. Abraham membawa istri dan putrinya untuk menikmati waktu mereka di villa. Hari ini mereka berencana bersantai di dekat danau, melakukan piknik. Ini piknik pertama mereka setelah sekian lama tentunya mereka sangat menantikannya.


Tidak saja piknik, ada kejutan yang hendak Vanila berikan pada Abraham. Kabar baik yang pasti akan membuat suaminya senang.


Saat itu Vanila sedang menyiapkan bekal untuk piknik. Beberapa sandwich sudah masuk ke dalam keranjang piknik, walau tidak jauh tapi mereka akan menikmati kebersamaan mereka. Pemandangan di belakang Villa juga sangat bagus, mereka bisa naik perahu seandainya Vanila mau.


Abraham menghampiri istrinya yang sedang sibuk sambil menggendong putri mereka yang sudah bisa berjalan. Sebuah ciuman di pipi diberikan, Vanila tersenyum dan memberikan ciuman untuk suaminya pula.


"Apa belum selesai?" tanyanya.


"Sedikit lagi, kau tampak tidak sabar," semangkuk salad sudah jadi, kini dia membuat yang lain.


"Tidak perlu terlalu banyak. kita hanya mau bersantai saja, bukan?"


"Baiklah, aku potong buah sebentar."


Vanila segera bergegas, menyelesaikan semuanya. Abraham menunggu dan setelah itu mereka segera bergegas menuju danau. Sebuah tikar telah terhampar, sebuah sofa panjang yang bisa dilipat sehingga mereka bisa berbaring juga sudah tersedia. Tidak hanya itu saja, sebuah ranjang bayi untuk Ana juga sudah tersedia agar Ana bisa bermain.


Keranjang makanan yang Abraham bawa diletakkan di atas meja. Vanila menurunkan putrinya dan tentunya Ana langsung melangkah menuju ke arah ayahnya. Tawa kecilnya terdengar, Vanila menjaga putrinya dari belakang. Abraham pun berpaling lalu kedua tangannya terbuka agar putrinya datang padanya.


"Kemarilah, Ana," ucapnya.


Vanila tersenyum saat Abraham menggendong putrinya dan membawanya untuk duduk bersama di atas hamparan tikar. Siapa yang menduga, Abraham begitu mencintai anak-anak bahkan dia merasa Abraham lebih memperhatikan Ana dibandingkan dirinya.


"Akhir-Akhir ini aku merasa aneh," ucap Abraham.


"Aneh bagaimana?"


"Tidak tahu, tiba-tiba aku ingin bertemu dengan Mommy dan Daddy," ucap Abraham.


"Apa kau merindukan mereka?" tanya Vanila.

__ADS_1


"Yes, bagaimana jika setelah ini kita pulang. Aku sangat ingin bertemu dengan Daddy."


"Wah, jangan katakan kau mau tidur dengan ayahmu," goda Vanila.


Abraham menatap istrinya dengan serius, tidur dengan ayahnya? Kenapa tiba-tiba dia jadi ingin tidur dengan ayahnya? Jangan katakan istrinya sedang?


"Vanila, apa kau sedang?"


"No!" sela Vanila sambil tersenyum. Sebaiknya dia tidak jadi memberikan kejutan untuk suaminya saat ini.


"Aneh," ucap Abraham seraya mengusap tengkuk. Kenapa dia merasa sangat ingin berjumpa dengan ayahnya? Dulu dia pernah mengalami hal seperti ini tapi Vanila berkata tidak. Mungkin saja hanya perasaannya saja karena pertanyaan Vanila membuatnya jadi seperti itu.


Anna bermain di sekitar ayah dan ibunya, Anatasya melangkah perlahan sambil mencoba mengejar kuku-kupu yang hinggap dari satu tangkai bunga ke tangkai bunga yang lainnya.


Vanila tersenyum sambil melirik ke arah suaminya sejenak, sekarang mereka memiliki kehidupan yang sempurna. Keluara, sahabat dan sebentar lagi mereka akan menyambut yang lainnya.


Makanan yang dibuat dinikmati, Ana juga duduk untuk menikmati makanan yang dibuat oleh ibunya. Mereka menikmati kebersamaan mereka yang tidak akan tergantikan. Setelah menikmati makanan, mereka berbaring bersama di atas sofa.


"Kau bilang kau ingin ke Australia, kapan kita akan pergi ke sana?" tanya Abraham.


"Entahlah, sepertinya kita tidak perlu ke sana lagi tapi jika ada kesempatan, maka kita bisa pergi ke sana."


"Baiklah."


Abraham segera membawa istri dan putrinya pergi ke rumah kedua orangtuanya. Ayah dan ibunya tentu senang menyambut kedatangan mereka apalagi mereka juga merindukan cucu mereka.


"Kenapa tidak memberi kami kabar jika kalian mau datang," ucap ibunya.


"Ini menadadak, Mom. Abraham berkata dia merindukan Daddy," jawab Vanila.


"Wow, benarkah?" Abraham mendapat tatapan heran dari ibunya. Kenapa dia merasa Dejavu? Sepertinya dia pernah mengalami hal itu sebelumnya.


"Jangan mengada-ada, aku hanya ingin melihat keadaan kalian saja!" bantah Abraham.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan kejadian ini?" ucap ibunya.


"Ck, tiba-tiba aku merasakan firasat buruk," ucap ayahnya seraya mengusap tengkuk.


"Abraham ingin tidur denganmu malam ini, Dad," ucap Vanila.

__ADS_1


"Apa?" Abraham dan ayahnya terkejut. Mereka melihat ke arah Vanila dan menatapnya tajam.


"Apa yang kau katakan, Vanila. Jangan mengada-ada!" ucap Abraham dengan nada tidak senang.


"Aku tidur dengannya? Aku sudah merasakan hal itu dulu ketika dia merebut kesenanganku bersama dengan istriku dan sekarang aku juga tidak mau dia merebut kesenanganku setiap malam. Aku bahkan masih ingat saat dia tidur di antara kami berdua!" ucap ayahnya dengan nada tidak senang pula. Malam yang mengerikan, di mana putranya berada di tengah-tengah mereka sehingga membuatnya tidak bisa tidur sama sekali tapi jangan katakan hal itu akan terjadi sebentar lagi.


"Ayolah, Dad. Itu berarti putramu masih membutuhkan dirimu!" ucap istrinya sambil terkekeh.


"Hng, sudah tua bangka jadi jangan mengada-ada!" ucap ayah Abraham kesal.


"Dad, jika kau tidak mau tidur dengannya maka cucu kedua mu tidak akan mau denganmu!" ucap Vanila.


"Apa?" semua terkejut dan melihat ke arahnya.


"Apa maksud ucapanmu, Vanila?" tanya Abraham.


"Tadinya aku ingin memberikan kejutan ini padamu saat kita sedang piknik tapi tidak jadi. Aku sedang hamil dua bulan, Abraham. Aku sudah pergi memeriksakan keadaanku ini ke dokter," Vanila tersenyum, secara diam-diam dia pergi ke rumah sakit ketika Abraham sedang tidur bersama dengan putrinya.


"Apa kau serius, Vanila? Apa kau tidak sedang membohongi aku?" Abraham sudah melangkah mendekati istrinya.


"Tentu saja," hasil tes kehamilan dikeluarkan, lalu diberikan pada Abraham


"Positive, Tuan Aldway," ucap Vanila sambil tersenyum.


"Oh, aku tidak percaya ini!" Abraham menggendong tubuh istrinya dan memutarnya.


Kedua ortangtuanya terlihat senang, kabar gembira yang tidak terduga diberikan oleh menantu mereka.


"Kau akan segera memiliki seorang adik, Ana," ucap neneknya seraya mencium pipi cucunya yang menggemaskan.


"Mom, Dad, aku benar-benar harus tidur dengan kalian malam ini!" ucap Abraham. Dia mengatakan hal itu untuk menggoda ayahnya saja.


"Oh, tidak! Aku mau pergi mengungsi sampai istrimu melahirkan!" ucap ayahnya.


"Kau tidak bisa kabur, Dad!"


"Tidak, ayo kita segera pergi Mom!" ajak suaminya.


"Sorry, Dad. Kali ini giliranmu!!" tolak istrinya.

__ADS_1


"Oh no!" suaminya terliihat frutasi.


Tawa Vanila terdengar, begitu juga dengan tawa suami dan ibu mertuanya. Ini hari yang membahagiakan karena kabar gembira yang mereka dapatkan dan tentunya mereka tidak sabar menanti bayi lucu kedua di dalam keluarga mereka dan kali ini, Abraham berharap dia mendapat seorang bayi laki-laki yang tampan seperti dirinya.


__ADS_2