
Setelah acara pernikahan usai, Abraham berencana membawa Vanila pulang ke London. Dia tidak mau menunda, lagi pula dia sudah pergi terlalu lama. Dia harus kembali untuk mengurus perusahaan yang dia tinggalkan.
Walau berat, tapi Vanila harus pergi. Dia dan Bilt juga berpisah di sana karena Bilt akan kembali ke Australia. Dia juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan bisnis yang baru saja dia kelola.
Vanila tidak mencegah karena dia sudah akan berangkat sebentar lagi tapi sebagai sahabat, Vanila mengantar Bilt sampai ke pintu gerbang istana.
"Apa kau akan pergi ke London setelah ini?" tanya Bilt.
"Yes, di sanalah tempatku sekarang, Bilt. Aku akan tinggal dengan Abraham di sana."
"Akhirnya kau dapatkan juga, bukan? Aku tidak menduga aksi gilamu menyatukan kalian berdua," ucapnya tapi bersatunya Abraham dan Vanila juga berkat rekaman yang dia kirimkan namun sampai sekarang, Abraham tidak tahu siapa yang mengirimkan Video itu untuknya.
"Terkadang kita memang harus melakukan hal yang berbeda, Bilt," ucap Vanila.
"Baiklah, sepertinya aku harus menculik seorang putri bangsawan seperti yang kau lakukan!" ucap Bilt asal.
"Ide bagus, giliran aku yang membantumu. Kak Norman dan suamiku akan terlibat serta!"
Bilt tertawa, membayangkan mereka beraksi menculik putri bangsawan. Sepertinya akan menyenangkan apalagi Abraham dan Norman akan terlibat.
"Aku menantikannya, Vanila. Ingat kau harus mmembantuku dengan kakak dan suamimu."
"Semua bisa diatur," ucap Vanila sambil terkekeh.
"Aku sudah harus pergi," ucap Bilt sambil menunjukkan jam karena pesawat yang akan dia tumpangi sudah akan terbang.
"Terima kasih sudah datang, Bilt," Vanila memeluknya, "Jaga diri baik-baik, aku akan mengajak Abraham berkunjung ke sana jika ada waktu," ucapnya lagi.
"kau memang harus melakukannya, aku tunggu kedatangan kalian."
Vanila melepaskan pelukannya dan tersenyum, Bilt melangkah menuju mobil yang sudah menunggu. Vanila melambai saat mobil sudah berjalan pergi. Dia bahkan masih berdiri di sana sampai mobil yang ditumpangi oleh Bilt tidak terlihat lagi.
Vanila sangat senang Bilt masih mau berteman dengannya karena kejadian buruk itu, Acton begitu membenci dirinya dan tidak mau berbicara lagi dengannya.
__ADS_1
Kakinya mulai melangkah, kembali ke istana. Vanila kembali dengan wajah yang terlihat ceria. Dia akan mencari suaminya yang berada di dalam kamar bersama dengan putri mereka namun langkahnya terhenti saat melihat kakaknya sedang berbicara dengan beberapa orang. Kakaknya terlihat begitu serius, mendengarkan orang-orang yang sedang melaporkan sesuatu padanya.
"Apa kalian yakin?" tanya Norman.
"Yes, Sir. Kami tidak mungkin salah."
"Baiklah, cari yang benar!" perintah Norman.
Vanila melangkah masuk, setelah orang-orang itu pergi. Ekspresi wajah Norman terlihat begitu serius, Vanila bahkan bisa melihat jika kakaknya sedang menahan amarah.
"Ada apa, apa telah terjadi sesuatu?" tanya Vanila.
"Mana Abraham?"
"Di kamar, menemani Ana."
"Ayo, ada hal serius yang ingin aku bicarakan dengannya!" Norman melangkah keluar, disusul oleh Vanila.
Vanila jadi penasaran, apa yang telah membuat kakaknya terihat serius seperti itu?
"Ada apa?" tanya Abraham. Jangan katakan Norman tidak mengijinkan mereka pergi hari ini.
"Ada hal penting yang hendak aku sampaikan!" Norman melangkah menuju jendela dan berdiri di sana.
"Katakan saja, aku akan mendengarkan."
"Renata, baru saja beberapa anak buahku memberi aku laporan setelah menemukan jejaknya."
"Oh, waktu itu Gaston juga berkata Renata pergi ke beberapa tempat dengan identitas berbeda," Abraham melangkah, mendekati Norman lalu berdiri di sisinya.
"Dengar, anak buahku berkata jika Renata menjalani operasi plastik untuk merubah bentuk wajahnya," ucap Norman.
"Apa?" Abraham berpaling, melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Mereka sudah memeriksa beberapa rumah sakit di mana Renata merubah bentuk wajahnya namun mereka belum menemukan rupa pasti Renata setelah di operasi. Aku akan terus menyelidiki hal ini tapi aku ingin kau berhati-hati, begitu juga dengan Vanila. Kau mendengar aku bukan, Vanila?" Norman berbalik, melihat ke arah adiknya.
"Aku mendengarnya. Aku akan menjaga diriku baik-baik, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak selemah yang kalian kira," ucap Vanila.
"Bagus, tapi aku tetap ingin kalian berhati-hati karena kita tidak tahu bagaimana rupa Renata saat ini dan kau Abraham, kau harus menjaga adikku baik-baik bersama dengan putri kalian," pinta Norman.
"Aku berjanji padamu, Norman. Aku akan menjaga mereka dengan baik," ucap Abraham. Dia harap Renata tidak mengetahui keberadaan Vanila dan putri mereka apalagi dia akan membawa mereka tinggal di Mansion yang baru saja dia beli.
"Baiklah, aku percaya padamu. Sebelum kalian pergi, ayo kita makan bersama!" Norman memutar langkahnya, hendak melangkah keluar.
"Tunggu, Kak!" Vanila menghampiri kakaknya dan memeluknya.
"Aku minta maaf padamu untuk semua yang telah aku lakukan. Aku sudah membuatmu kecewa dan membuatmu malu," ucapnya lagi.
"Sudahlah, tidak perlu diungkit lagi."
"Tidak, aku tahu aku salah. Maafkan aku. Sebagai adikmu, aku tidak berguna tapi sebagai adikmu aku ingin kau bahagia. Berjanjilah padaku, setelah kau membalaskan kematian Emely, kau harus hidup bahagia. Aku harap kau membuka hatimu dan mulai mencari cinta baru," ucap Vanila lagi sambil memeluk kakaknya dengan erat.
"Akan aku lakukan, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Jika aku sudah menemukan seseorang yang cocok, maka aku akan membuka hatiku," Norman mengusap kepala Vanila dengan lembut. Akan dia lakukan nanti tapi setelah dia membunuh Renata.
"Aku senang mendengarnya," Vanila tersenyum. Dia sangat berharap kakaknya menemukan seseorang yang bisa mengisi hatinya dan menggantikan Emely. Siapa pun orangnya, dia yakin pasti ada.
"Ayo kita makan bersama!" ucap Norman.
Mereka keluar dari kamar, Vanila meminta seorang pelayan untuk menjaga putrinya yang sedang tidur. Semua barang-barang yang akan dia bawa sudah siap, semua kado pernikahan yang dia dapat juga dibawa. Tidak ada yang Vanila tinggalkan karena mulai sekarang, dia akan tinggal di London dengan Abraham sampai akhir hayatnya.
Kedua orangtua mereka juga sudah menunggu di ruang makan, mereka terlihat begitu akrab. Beberapa makanan dan juga minuman sehat ibu Vanila berikan untuk ibu Abraham, sedangkan sang raja memberikan anggur terbaik untuk ayah Abraham. Semua pemberian itu seperti buah tangan, tentunya kedua orangtua Abraham menerimanya dengan senang hati.
Setelah selesai makan, mereka pun berpamitan. Barang-Barang dimasukkan ke dalam mobil, Norman melepaskan sang adik begitu juga dengan kedua orangtuanya. Kali ini Vanila benar-benar dibawa pergi dari mereka.
"Jaga dirimu baik-baik, Sayang," ucap sang ibu yang tak kuasa menahan air mata melepas kepergian putrinya.
"Tentu, Mom. Aku akan sangat merindukan kalian," ucap Vanila yang tak kuasa menahan air matanya juga.
__ADS_1
Sang Ratu menggendong cucunya, sungguh rasanya berat melepas putri dan cucunya pergi. Norman dan ayahnya juga menggendong Anatasya, mereka juga terlihat berat melepaskan kepergian Vanila dan Anatasya namun mereka harus melepaskan kepergiannya.
Vanila masih menangis saat sudah berada di dalam mobil. Tangannya pun melambai ketika mobil sudah dijalankan. Ibunya menangis tersedu, setelah mobil yang membawa putrinya menjauh namun dia tahu, setiap anak perempuan yang sudah menikah pasti akan pergi dibawa oleh suaminya.