Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Perasaan Yang Bergejolak


__ADS_3

Vanila tidak bisa tidur sama sekali setelah Abraham melemparkan pertanyaannya dan ungkapan jika dia tidak akan pernah memaafkan jika Vanila menipunya. Tentu perkataan itu membuat Vanila tidak bisa memejamkan matanya lagi. Walau dia tahu hal itu pasti terjadi tapi Vanila tidak bisa membendung kesedihan hatinya.


Vanila duduk di sisi danau, menangis. Apakah dia harus mengembalikan Abraham pada keluarganya agar kesalahan yang dia lakukan tidak semakin besar? Dia rasa itu bukan keputusan yang salah, setelah kembali dari tempat itu dia bisa meminta bantuan Bilt untuk menghubungi keluarga Abraham atau menemui tunangannya dan berpura-pura sudah menemukan keberadaan Abraham.


Walau dia tidak menginginkan perpisahan itu tapi cepat atau lambat mereka pasti berpisah tapi apa dia bisa melakukannya? Apa dia benar-benar harus mengembalikan Abraham pada keluarganya sebelum ingatan Abraham kembali ataukah mereka harus tetap seperti itu?


Vanila menghapus air matanya dengan perlahan. Apakah yang mereka lewati sudah cukup? Apakah dia tidak akan menyesali keputusannya itu? Sepertinya dia harus segera mengajak Abraham kembali agar dia tidak ragu atas keputusan yang sudah dia ambil.


Setelah Abraham bangun dari tidurnya maka dia akan mengajak Abraham kembali dan pada saat itu, semua selesai tapi kenapa dia tidak rela? Air matanya semakin mengalir deras, dia bahkan menangis meraung namun tertahan. Rasanya ingin berteriak tapi dia takut Abraham terbangun karena teriakannya.


Tidak tahan dengan perasaan yang bergejolak di dada, Vanila menyeburkan dirinya ke dalam air lalu berteriak di dalam sana. Tidak, dia tidak boleh menyerah. Bukankah pada akhirnya Abraham tetap akan membencinya? Sebaiknya dia memanfaatkan waktu yang ada.


Memancing, mereka belum melakukannya. Menangis seperti itu bukanlah dirinya. Tapi perasaan yang dia rasakan saat ini dan mungkin saja itu adalah perasaan bersalah yang memenuhi hatinya. Semoga setelah ini baik-baik saja, semoga dia bisa menikmati hari mereka. Bukankah dia harus menikmati kebebasan yang dia miliki sebaik mungkin?


Jangan sampai dia menyesal di kemudian hari karena telah menyia-nyiakan kebebasan tersebut jadi singkirkan pikiran bodohnya untuk mengembalikan Abraham pada sang tunangan. Lagi pula waktu yang dia miliki bersama dengan Abraham tidak banyak, sedangkan sang tunangan akan menghabiskan waktu dengan Abraham untuk seumur hidupnya.


Vanila muncul ke permukaan air. Perasaannya terasa sedikit lega. Mungkin jika dia berenang lebih lama perasaannya akan semakin membaik. Tidak banyak berpikir, Vanila berenang sana sini lalu dia memilih berbaring telentang di atas air sambil memandangi laut biru.


Abraham berkata tidak akan memaafkan dirinya jadi ketika Abraham sudah tahu apa yang telah dia lakukan, apa yang akan Abraham lakukan terhadapnya? Apakah Abraham akan melaporkan dirinya ke polisi ataukah akan langsung membunuhnya? Apa pun yang terjadi nanti, dia sangat siap menerima segala risikonya.


Setelah perasaannya sudah terasa lebih baik, Vanila berenang ke tepian dan naik ke atas jembatan. Air danau yang dingin membuatnya sedikit menggigil. Lebih baik dia bergegas masuk ke dalam agar tidak sakit.

__ADS_1


Abraham masih tidur saat dia masuk ke dalam kamar. Senyum menghiasi wajah Vanila tapi entah kenapa dia tidak mau kembali tidur bersama dengan Abraham dan lebih memilih tidur di sofa yang ada di depan perapian. Dia merasa cukup satu malam saja tapi sepertinya tidak mungkin. Biarlah, semakin sering mereka bercinta, semakin besar peluangnya untuk hamil. Semoga keinginannya mengandung anak Abraham dapat tercapai.


Perapian yang menyala membuat ruangan menjadi hangat. Vanila tertidur pulas dengan selimut membungkus tubuhnya. Di dalam kamar, Abraham meraba ranjang untuk mencari keberadaan Vanila namun Vanila tidak ada di sisi kanan atau sisi kirinya.


"Vanila," Abraham memanggilnya dan melihat ke arah kamar mandi karena dia mengira Vanila berada di kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka, sepertinya Vanila tidak ada di dalam sana. Abraham beranjak dari atas ranjang, pakaian pun dikenakan dengan terburu-buru karena dia ingin mencari Vanila. Tatapan matanya jatuh pada noda darah yang berada di atas ranjang saat dia sedang menggunakan pakaiannya. Kepalanya kembali sakit, dia benar-benar tidak tahu apa yang akan dia lakukan nanti jika ternyata dia memang memiliki hubungan yang spesial dengan Renata.


Abraham keluar dari kamar, dia kira Vanila berada di dapur jadi dia pergi ke dapur untuk mencari Vanila namun langkahnya terhenti ketika melihat perapian menyala. Abraham menghampiri sofa, pria itu tersenyum saat melihat Vanila sedang tidur. Walau dia tidak tahu kenapa Vanila tiba-tiba tidur di sana tapi sebuah perasaan aneh muncul di hati saat melihat wajah tidurnya.


Kaki Abraham sudah melangkah mendekatinya, dia juga berjongkok di sisi sofa agar dia bisa melihat wajah Vanila lebih dekat. Tangannya sudah berada di wajah gadis itu, sudah hampir satu bulan dia tinggal bersama dengan Vanila sehingga membuatnya merasa jika satu-satunya yang dia miliki adalah Vanila namun ingatan yang mulai dia dapatkan mulai membuatnya berada di dalam dilema.


"Kenapa tidur di sini?" Abraham kembali mengusap wajahnya.


"Di kamar dingin," jawab Vanila beralasan.


"Kenapa tidak mematikan pendingin ruangan saja.?"


"Aku tidak mau mengganggu tidurmu, Rick."


Abraham memandanginya, Rick? Kenapa Vanila memanggilnya dengan nama itu? Kenapa tidak memanggil nama aslinya seperti waktu itu?

__ADS_1


"Kau yakin tidak menyembunyikan apa pun dariku, Vanila? Aku masih memberikan kesempatan untukmu," ucap Abraham karena dia yakin seratus persen ada yang Vanila sembunyikan.


"Tidak," Vanila menggeleng sambil tersenyum. Menghadapi kemarahan Abraham sekarang atau nanti tidak ada bedanya tapi dia tidak mau mereka membuat keributan di kabin tersebut. Abraham bisa saja pergi dalam keadaannya yang belum mengingat apa pun dan itu sangat berbahaya untuknya. Lebih baik dia mendapatkan kemarahan itu saat ingatan Abraham sudah kembali.


"Baiklah, apa yang akan kita lakukan berdua hari ini?" Abraham masih memberikan ciuman di dahi walau dia curiga.


"Memancing berdua di sisi danau," jawab Vanila.


"Hanya itu?"


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu, Rick. Aku tidak butuh apa pun lagi karena hal itu sudah membuat aku bahagia," Vanila menahan air matanya yang akan tumpah.


Abraham menatapnya dengan tatapan heran, kenapa terdengar begitu menyedihkan? Walau Vanila tersenyum namun dia tidak bisa membohongi sorot matanya. Ekspresi wajahnya juga terlihat sedih, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Vanila dan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Ada apa?" Abraham kembali mengusap wajahnya perlahan, "Apa aku menyakitimu semalam?" tanyanya lagi karena dia pikir dia terlalu berlebihan sehingga menyakiti Vanila.


"Tidak, aku baik-baik saja. Sekarang aku ingin tidur sebentar sebelum kita melakukan hal yang menyenangkan."


"Jika begitu tidur denganku," Abraham beranjak lalu Vanila sudah berada di dalam gendongannya.


Kedua tangan Vanila memeluknya erat, senyuman menghiasi wajahnya. Untuk hari ini dia ingin bermanja dengan Abraham, melakukan banyak hal dan mengukir kenangan-kenangan indah berdua sebelum badai datang yang akan memisahkan mereka berdua dan yang akan membuat Abraham membenci dirinya.

__ADS_1


__ADS_2