
Abraham sudah menunggu di luar sana. dia tahu tidak akan mudah bertemu dengan Vanila karena Norman tidak akan membiarkan hal itu terjadi tapi demi mengetahui isu kehamilan Vanila, dia tidak takut dengan apa pun. Mau Norman atau pun raja neraka, tidak akan ada yang bisa menghalangi dirinya.
Dia tahu Norman akan mengusirnya, namun dia tidak akan pergi sampai dia bisa bertemu dengan gadis gila yang sudah menculiknya dan begitu berani membawa benihnya pergi tanpa sepengetahuannya. Sekarang dia jadi ingat dengan perkataan Vanila saat dia mencekik leher gadis itu untuk membunuhnya. Apakah yang dimaksud oleh Vanila jika dia tidak boleh menyesal karena jika dia membunuh Vanila waktu itu berarti dia juga membunuh calon bayi mereka? Sepertinya demikian. Sungguh Vanila begitu berani karena tidak mengatakan padanya akan kehamilannya waktu itu.
Jika dia bisa membawa Vanila pergi maka akan dia beri pelajaran pada gadis itu karena sudah berani merahasiakan hal sebesar itu darinya. Abraham masih menunggu, walau dia tidak diijinkan untuk masuk ke dalam. Norman keluar dengan amarah tertahan, padahal dia sudah tidak mau bertemu lagi dengan Abraham tapi hari ini, dia akan membuat perhitungan dengannya. Anggap ini sebagai keuntungan karena dia tidak perlu repot pergi ke London untuk memberi pelajaran pada Abraham.
Pintu gerbang dibuka, seorang penjaga meminta Abraham untuk masuk karena Norman tidak ingin berkelahi dengan pria itu di luar sehingga menjadi bahan tontonan orang-orang. Hanya Abraham saja yang diperbolehkan masuk, sedangkan Gaston tidak diijinkan untuk mengikuti bosnya.
Abraham masuk ke dalam tanpa merasa takut. Dia diantar ke sebuah ruangan di mana Norman sudah menunggu. Mereka saling menatap tajam saat bertemu, dendam yang ada di hati kembali membara tapi mereka hanya berdiri saling menatap dengan api permusuhan yang sulit untuk dipadamkan.
"Kau benar-benar berani datang ke tempatku ini, apa kau sudah bosan hidup?" tanya Norman dengan nada dingin dan tatapan yang tidak berpaling.
"Tidak perlu terlalu percaya diri, aku datang bukan untuk bertemu denganmu!" Abraham tak kalah sinisnya.
"Lalu, apa kau kira bisa datang ke sini seenaknya? Apa kau kira aku tidak berani memerintahkan para pengawalku untuk menarikmu keluar dan melemparmu? Aku akan melakukannya agar orang-orang tahu sehingga kau malu!" teriak Norman.
"Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan, Norman. Aku datang untuk bertemu dengan Vanila jadi pertemukan aku dengannya!" pinta Abraham tanpa basa basi.
"Vanila? Untuk apa kau bertemu dengan adikku?" teriak Norman lagi. Tidak, dia harus menahan emosi. Bagaimanapun Abraham tidak boleh tahu mengenai kehamilan adiknya sekalipun dia ayah dari bayi yang dikandung oleh Vanila. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, entah apa tujuan Abraham tapi dia merasa kedatangan pria itu ada hubungannya dengan kehamilan Vanila.
"Permasalahanku dengan Vanila, tidak ada hubungannya denganmu!"
"Jangan membuat aku tertawa, kau sudah memiliki seorang tunangan. Lalu untuk apa kau mencari adikku lagi? Apa kau tidak puas dengan Renata lalu kau ingin mempermainkan adikku seperti kau mempermainkan Emely dulu? Kau sungguh serakah!" Kedua tangan Norman mengepal erat, dia sungguh menyesal memperkenalkan Emely pada baj*ngan seperti Abraham dan sekarang, Abraham menginginkan adiknya padahal dia sudah memiliki tunangan. Apa dia kira wanita itu mainan?
Sekalipun Vanila mengandung bayi dari Abraham, tidak akan dia biarkan adiknya bersama pria seperti itu dan lebih baik, Abraham tidak tahu sama sekali akan kehamilan Vanila.
"Apa yang terjadi pada Emely bukan kesalahanku, apa kau tidak mengerti? Aku sama sekali tidak terlibat, tapi kau tidak percaya sama sekali!"
__ADS_1
"Tutup mulutmu! Dia mati di dalam pelukanmu, bagaimana kau bisa berkata jika semua itu tidak ada hubungannya denganmu!" teriak Norman lantang. Amarah yang dia tahan kembali meluap, dia tidak akan pernah melupakan malam kelam itu.
"Aku datang tidak untuk berdebat akan hal ini, aku datang hanya untuk bertemu dengan Vanila!" teriak Abraham pula.
"Jangan berharap kau bisa bertemu dengan adikku!"
"Jangan membuat aku memukulmu karena hal ini, Norman. Vanila sedang mengandung anakku, jadi pertemukan aku dengannya!"
"Kau benar-benar baj*ngan gila!" teriak Norman. Ternyata yang pria itu ucapkan benar jika Vanila mengandung anak Abraham.
"Pertemukan aku dengannya!" pinta Abraham sambil berteriak.
"Langkahi dulu mayatku!" Norman berlari menghampiri Abraham, satu pukulannya melayang ke arah Abraham namun Abraham menghindarinya. Jadi itu yang Norman inginkan? Dia tidak akan ragu sama sekali.
Mereka berdua saling adu pukulan, ruangan yang luas menjadi arena mereka untuk saling adu tanaga. Seorang penjaga pergi untuk mencari sang ibu Ratu untuk mengatakan apa yang terjadi dengan sang Pangeran. Norman memukul dan menendang, Abraham juga melakukan hal yang sama.
"Aku ingin bertemu dengan Vanila, kenapa kau mencegahku?" teriak Abraham seraya berlari ke arah Norman.
"Vanila tidak sedang hamil anak siapa pun, apa kau sudah gila datang karena hal ini?" teriak Norman pula. Abraham terkejut mendengarnya sehingga membuatnya lengah dan harus menerima satu pukulan keras di wajahnya.
Tubuh Abraham terdorong ke belakang, dia tampak ling lung. Apa isu yang dikatakan oleh Gaston tidak benar?
'Jangan menipu, Norman. Vanila tidak jadi menikah karena hal itu, bukan?"
"Dasar kau gila. Siapa yang berani mengatakan kebohongan itu? Adikku tidak jadi menikah karena dia memang tidak mau menikah!" teriak Norman penuh emosi. Entah siapa yang menyebarkan isu itu, akan dia cari tahu nanti.
"Kau menipu aku, Norman. Aku tidak percaya padamu!"
__ADS_1
"Kau benar-benar cari mati!"
Mereka kembali adu tenaga, tidak ada yang peduli saat mendapat pukulan. Keringat bahkan sudah membasahi baju mereka. Mereka tidak juga berhenti sampai pada akhirnya, seember air dingin disiramkan ke arah mereka berdua. Mereka berdua terkejut dan melihat ke arah orang yang menyiram mereka dengan air dingin.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alaina seraya melemparkan ember yang dia gunakan untuk menyiram Norman dan Abraham.
"Mom, apa yang kau lakukan?" Norman melepaskan kerah baju Abraham dan melangkah mundur.
"Norman, kau adalah calon pemimpin masa depan tapi kenapa kau membuat keributan di istana?" tanya ibunya.
"Aku hanya ingin menghajar baj*ngan itu!" jawab Norman, tatapan matanya melihat ke arah Abraham dengan tajam.
"Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada kalian tapi untuk apa kau datang, anak muda?" Kini Alaina bertanya pada Abraham.
"Aku ingin mencari Vanila dan mencari tahu apakah dia benar hamil anakku atau tidak!" ucap Abraham.
"Sungguh lucu, siapa yang mengatakan hal ini padamu? Vanila tidak sedang hamil, dari mana kau mendapat informasi seperti ini?" setelah meninggalkan putrinya lalu menginginkannya lagi saat tahu dia hamil. Apa pemuda itu mengira Vanila adalah mainan?
"Kau dengar itu? Vanila tidak sedang hamil. Sebaiknya jangan serakah apalagi kau sudah memiliki Renata sebagai tunanganmu!" ucap Norman.
"Jika begitu pertemukan aku dengannya, aku ingin berbicara dengannya," pinta Abraham.
"Sampai kapan pun, kau tidak akan bisa bertemu dengan putriku jadi berhenti mencarinya dan aku sarankan pada kalian berdua, dari pada memendam kebencian sampai seumur hidup, lebih baik selidiki dengan benar apa yang telah terjadi pada kalian di masa lalu!" ucap Aliana dan setelah itu dia melangkah pergi.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar!" teriak Abraham.
"Pergi, jika tidak mereka akan melemparmu!" ucap Norman.
__ADS_1
Mereka saling pandang sesaat lalu mereka berdua melangkah pergi dengan permusuhan yang masih ada. Abraham mengusap wajahnya yang basah. Apa benar kehamilan Vanila hanya isu saja?