
Alaina berada di dapur karena dia sedang membuatkan minuman untuk suaminya yang sebentar lagi akan pulang. Dia mendengar teriakan putranya tapi dia diam saja. Dia tahu Norman pasti akan murka tapi dia tidak peduli karena dia lebih mementingkan putri semata wayangnya.
Alaina bahkan terlihat santai saat Norman memanggilnya. Dua gelas minuman yang sudah jadi diletakkan ke atas meja, sang ratu justru duduk di kursi, menikmati minuman yang dia buat sambil menunggu putranya datang. Biarkan saja putranya berceramah, dia akan mendengarkan karena dia tahu untuk apa Norman mencarinya.
Bukan tanpa alasan Alaina mengatakan pada Abraham kenapa Vanila tidak sedang hamil. Pria itu datang dan ingin bertemu dengan Vanila setelah mengetahui hal itu walau dia tidak peduli Abraham mau tahu dari mana yang pasti dia datang setelah dia mendengar kabar itu lalu bagaimana jika kabar itu tidak sampai ke telinganya? Dai jamin seratus persen Abraham tidak akan datang untuk mencari Vanila apalagi mengingat permusuhannya dengan Norman.
Dari pada membuat putrinya sakit hati lebih baik dia mengatakan hal seperti itu. Lagi pula Vanila sudah berkata, dia hanya menginginkan ketenangan dan menjalani hidupnya dengan damai. Kali ini dia mendengarkan permintaan putrinya dan memberinya kebebasan.
"Mom, jangan pura-pura tidak mendengar panggilanku!" ucap Norman.
"Kenapa kau mencariku? Apa air dingin tadi kurang?" tanya ibunya sambil meliriknya sejenak.
"Tidak perlu basa basi, Mom. Katakan padaku di mana Vanila? Mommy tidak membantunya melarikan diri, bukan?" tanya Norman curiga.
"Jika memang iya, lalu kenapa?"
"Mom, kenapa kau membiarkannya pergi? Dia harus dihukum agar dia tidak mengulangi kesalahan yang sama!" teriak Norman.
"Tidak perlu berteriak, Sayang. Duduk dengan Mommy, kita berbincang dengan kepala dingin." ucap ibunya.
"Ini bukan saatnya menikmati teh!" ucap Norman sinis.
"Norman, tidak perlu berbicara seperti itu pada Mommy. Ayo duduk sini, kita bicarakan dengan kepala dingin," sebuah kursi ditarik, ibunya menatap sang putra sambil tersenyum.
__ADS_1
Norman menghampiri ibunya dan duduk di sisinya. Segelas minuman diletakkan oleh ibunya. Dia akan menjelaskan sampai Norman mengerti kenapa dia membiarkan Vanila pergi dari mereka.
"Kenapa Mommy membiarkan Vanila pergi?" tanya Norman.
"Jika dia tidak pergi, lalu apa yang ingin kau lakukan? Apa kau ingin memukul adikmu atau kau ingin menendang perutnya karena bayi yang ada di dalam rahimnya adalah anak dari musuh lamamu?" tanya ibunya pula.
"Bukan seperti itu, setidaknya kita harus memberikan pelajaran padanya agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama lagi!"
"Caranya? Apa kau ingin memasungnya di istana dan tidak membiarkannya pergi ke mana pun seperti yang kau lakukan pada dirinya dulu?"
"Bukan seperti itu, Mom. Aku rasa ide Daddy membuangnya ke pengasingan bukanlah ide buruk," ucap Norman.
"Karena ide gila ayahmu itulah yang membuat aku memutuskan untuk membantu adikmu melarikan diri. Kenapa kalian begitu tega? Dia adikmu, Norman. Sekalipun dia melakukan kesalahan, dia tidak pantas dibuang ke pengasingan. Kau harus ingat, tidak ada manusia yang sempurna dan kau, juga pernah melakukan kesalahan!"
"Aku sengaja membiarkan adikmu pergi karena aku tidak tega dia hidup di pengasingan walau dia tidak keberatan. Dia anggota keluarga kita, Norman. Dia adikmu dan putriku satu-satunya, apa kau tega melihatnya hidup di pengasingan di mana semua yang ada di sana mengidap penyakit aneh? Bagaimana jika dia tertular penyakit itu? Wanita hamil sangat rentan jadi aku tidak mau hal itu terjadi dengannya. Apa kau mau adikmu mati di sana? Bagaimana perasaanmu sebagai kakak? Jangan sampai hal ini menghancurkan dirimu apalagi kau adalah calon pemipin masa depan. Semua rakyat akan tahu, jangan sampai mereka menganggapmu kejam sehingga tidak ada rasa percaya mereka padamu!"
Norman menatap ibunya, sedangkan sang ratu tersenyum lembut. Dia tahu putranya marah dan tidak suka adiknya pergi tapi sejak awal merekalah yang salah.
"Kita harus belajar dari hal ini, Norman. Kita harus belajar bijak dan mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi. Adikmu memang salah tapi yang paling salah adalah kita. Aku sudah tahu semua permasalahanya dari Vanila. Dia melakukan hal itu karena dia muak dikekang olehmu. Dia juga melakukannya karena dia tidak mau menikah."
"Apa? Apa Vanila mengatakan pada Mommy bagaimana dia bertemu dengan baj*ngan itu?" tanya Norman tidak sabar.
"Tentu saja, semua yang terjadi kesalahan adikmu. Aku sudah mendengar jika dia yang telah menculik dan juga memukul pemuda itu sampai hilang ingatan lalu dia yang ingin tidur dengannya agar dia hamil supaya dia tidak jadi menikah dan agar dia bisa mendapatkan kebebasan yang dia mau," jelas ibunya.
__ADS_1
"Apa?" Norman terkejut mendengar kegilaan yang telah dilakukan oleh adiknya.
"Vanila tidak tahu permasalahanmu dengan pemuda itu, Norman. Dia tidak mengenal Abraham tapi dia hanya jatuh cinta saat melihatnya lalu dia melakukan hal nekad itu dan untuk permasalahan ini, kau tidak bisa menyalahkan adikmu sepenuhnya. Kenapa kita tidak intropeksi diri kenapa dia bisa melarikan diri dari istana? Jika dia mendapatkan kebebasan dan kehidupan yang dia inginkan maka dia tidak akan pernah kabur dan melakukan hal senekad itu!" ucap ibunya.
Norman tidak bersuara, memikirkan perkataan ibunya. Dia memang keras terhadap Vanila tapi dia tidak menduga Vanila akan melakukan hal nekad seperti itu tapi kenapa pria itu harus Abraham? Bagaimana mereka bisa bertemu di Australia? Kejadian yang sulit diterima dengan akal sehat. Sekian banyak lelaki yang ada di muka bumi, kenapa harus Abraham?
"Aku membiarkan dia pergi agar dia bisa menikmati hidupnya. Dia akan kembali pada kita pada saat waktunya sudah tiba. Dia tetap putriku, dia tetap adikmu tapi berikan kebebasan padanya untuk menikmati kehidupannya."
"Aku hanya tidak mau dia berakhir seperti Emely, Mom," ucap Norman.
"Aku tahu apa yang kau takutkan, aku tahu apa yang kau khawatirkan tapi kita sudah salah mengekang kehidupannya dan mengenai masa lalumu, aku sarankan kau mencari kebenarannya. Semua yang terjadi belum tentu kesalahan pemuda itu, bukan? Kau seorang putra mahkota, tidak ada yang mustahil bagimu. Aku tidak memintamu untuk bersahabat lagi dengannya tapi aku tidak ingin kalian bermusuhan begitu lama apalagi calon keponakanmu adalah anak darinya."
"Baiklah, tapi ke mana Vanila pergi?" tanya Norman ingin tahu.
"Kampung halaman Mommy, dia akan mendapatkan kehidupannya di sana dan dia akan selalu memberi kita kabar. Dia juga berkata akan membuka sebuah bar di sana dan meminta kita untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Vanila juga berkata, dia tidak membutuhkan pertanggungjawaban dari pria yang telah tidur dengannya karena dia yang mau jadi kau tidak bisa menyalahkan pemuda itu. Saat dia melahirkan nanti, dia akan memberi kita kabar sehingga kita bisa mengunjunginya," jawab ibunya.
"Baiklah jika itu yang dia mau, aku akan membicarakan hal ini pada Daddy dan mengenai hal ini, jangan sampai ada yang tahu dan di mana dia berada, satu orang luar pun tidak ada yang boleh tahu," ucap Norman.
"Mommy tahu, Vanila memang sudah meminta Mommy untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun. Dia juga minta maaf padamu karena sudah membuatmu malu dan kecewa."
Norman menunduk dan terlihat sedih, kenapa dia jadi merindukan adiknya yang bodoh yang suka melakukan apa pun seenaknya?
Alaina kembali mengusap lengan putranya, dia tahu Norman menyayangi Vanila tapi caranya yang salah. Setelah ini dia yakin, Norman tidak akan memaksakan kehendaknya lagi pada adiknya.
__ADS_1
Norman tidak bertanya lagi, jika memang itu yang diinginkan oleh adiknya maka dia tidak akan mencegah lagi. Benar yang ibunya katakan, sejak awal dialah yang salah karena terlalu mengekang kehidupan Vanila. Semoga kali ini, Vanila mendapatkan kehidupan yang dia inginkan dan tidak melakukan kesalahan lagi.