
Tatapan mata Vanila tidak lepas dari Abraham yang masih melambai namun menggunakan tangan kecil putrinya. Rasanya sedikit aneh tapi tanpa dia sadari, sebuah senyuman terukir di bibir.
Abraham sampai terkejut melihatnya, apa Vanila senang melihatnya atau Vanila senang melihat putri mereka? Dia harap senyuman itu ditunjukkan untuk dirinya.
"Ana, Mommy pulang," Vanila melangkah mendekat dan mengambil putrinya dari gendongan Abraham.
"Biar aku bawakan tasmu," ucap Abraham.
"Tidak perlu!" ucap Vanila sinis seraya melangkah masuk sambil menggendong Anna.
"Apa kau sudah minum susu, Sayang?" Vanila bertanya pada putrinya. Walau Bilt sudah memberinya nasehat bukan berarti dia akan langsung menerima keberadaan Abraham begitu saja.
Abraham masih berdiri di luar, apa yang dilakukan oleh Vanila tidak akan membuatnya mundur. Dia harus lebih bersemangat lagi untuk mendapatkan cinta Vanila yang pernah ada untuknya dulu. Meskipun cinta itu sudah padam, tapi dia yakin dia bisa menghidupkannya lagi.
Abraham tidak masuk ke dalam rumah, kakinya melangkah menuju sebuah pohon besar yang ada di sisi rumah. Dia ingin berada di sana sebentar untuk menghubungi Gaston, bagaimanapun dia harus tahu keadaan di sana dan yang paling ingin dia tahu adalah kabar tentang Renata. Apakah Gaston sudah mendapat sedikit pentujuk akan keberadaannya atau tidak.
"Bagaimana keadaan di sana, Gaston?" tanyanya.
"Baik-Baik saja, Sir. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengecewakan dirimu."
"Bagus. Tidak ada yang tahu keberadaanku, bukan?"
"Tentu saja tidak, Sir. Tidak ada yang tahu kepergianmu dan di mana kau berada saat ini."
"Baiklah, apa kau sudah mendapatkan informasi akan keberadaan Renata?" semoga Gaston menemukan keberadaan wanita itu karena Renata bisa menjadi ancaman untuk Vanila dan putri mereka.
"Maaf, Sir. Kami belum mendapatkan informasinya dengan benar tapi kami menemukan jejak keberadaannya. Dia pernah pergi ke Thailand beberapa saat lalu kami menemukan jejak lain di mana dia pergi ke Bali dan setelah itu dia pergi lagi. Identitas yang dia gunakan juga berbeda-beda, Nona Renata seperti melakukan perjalanan bersama dengan orang lain," jelas Gaston.
"Terus cari tahu, Gaston. Jangan sampai memberinya celah, tangkap setelah kau menemukannya. Aku rasa Norman yang pantas memberikan penyiksaan untuknya!" perintahnya.
"Yes, Sir!"
Ponsel digenggam dengan erat, rasa benci dan amarah meluap dihati mengingat apa yang dilakukan oleh Renata dan sialnya, dia sudah tidur dengan orang yang sudah membunuh Emely dan orang yang sudah menghancurkan persahabatannya dengan Norman.
Seandainya Vanila tidak menculiknya, seandainya tidak ada rekaman itu maka selamanya dia akan terjebak dengan wanita iblis itu bahkan dia merasa, dia akan membangun rumah tangga dengan Renata. Membayangkannya saja sudah membuatnya tidak sanggup, dia benar-benar bersyukur tidak terjebak dengan Renata begitu lama.
Setelah berbicara dengan Gaston, Abraham mengirimkan beberapa foto Anatasya pada ibunya. Tentunya ibunya sangat senang melihat wajah cucunya. Lagi-Lagi dia ingin menyusul tapi Abraham mencegah, dia kembali berjanji pada ibunya jika dia pasti bisa membawa Vanila dan Anatasya kembali ke London.
__ADS_1
Abraham kembali ke dalam setelah selesai berbicara dengan ibunya, dia tampak heran melihat Marion sedang menangis sambil memeluk Vanila. Rasanya ingin bertanya tapi dia rasa bukan waktu yang tepat.
"Maafkan aku, Nona. Aku harus pergi melihat keadaan putriku," ucap Marion.
"Tidak apa-apa, Marion. Aku dan Ana akan baik-baik saja jadi jangan khawatirkan kami. Pergilah lihat keadaan putrimu dan kembalilah setelah keadaannya sudah pulih."
"Terima kasih, Nona. Aku akan menghubungi ibu Ratu nanti dan meminta ijin dengannya."
"Tidak perlu, Mommy pasti tidak keberatan" ucap Vanila.
"Sekali lagi terima kasih, Nona. Aku harus pergi sekarang."
Vanila mengangguk, Marion mengambil tasnya. Dia hendak pergi namun langkahnya terhenti saat hendak melewati Abraham.
"Tolong jaga Nona dan Nona Muda baik-baik, Tuan," pintanya.
"Tentu saja, tanpa kau pinta aku pasti menjaga mereka dengan baik."
"Terima kasih," sekarang dia bisa tenang meninggalkan Vanila dan Anatasya.
Vanila mencuci botol susu setelah Marion pergi, Abraham mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Vanila terkejut, botol susu bahkan terlepas dari tangan.
"A-Apa yang kau lakukan?" teriak Vanila marah.
"Memelukmu, apa ada yang lain?" pelukannya semakin erat. Untuk sesat saja, pelukan itu bisa mengobati rasa rindu yang dia rasakan selama ini.
"Lepaskan aku, Abraham. Jangan memeluk wanita yang tidak kau cintai!"
"Bagaimana jika aku katakan jika aku mencintaimu, Vanila. Apa kau akan percaya?"
"Tidak!" jawab Vanila dengan cepat.
"Sudah aku duga kau tidak akan percaya tapi aku akan mengatakannya padamu jika aku sudah jatuh cinta padamu."
"Jangan mengucapkan omong kosong yang bisa membuat aku tertawa, Abraham. Apa aku terlihat sangat mengharapkan cintamu? Tidak sama sekali jadi jangan mengucapkan omong kosong yang bisa membuat aku tertawa!"
"Terserah kau mau berkata apa," Abraham membenamkan wajahnya ke leher Vanila. Wangi manisnya sama seperti dulu, tidak berubah sama sekali.
__ADS_1
Vanila semakin kesal, dia sedang sibuk. Ana harus mandi, dia juga harus membuat makan malam tapi Abraham memeluknya seperti itu dan membuatnya sulit bergerak.
"Lepaskan aku, Abraham. Aku banyak pekerjaan!"
"Aku bantu, katakan apa yang bisa aku lakukan."
"Aku lebih senang kau pergi dari rumahku, sungguh!"
"Tidak, aku tidak akan pergi meninggalkan kalian berdua apalagi tidak ada Marion. Mulai sekarang, di mana kau berada di situ pula aku berada!"
"What the hell?!" rasanya ingin memaki dan melempar Abraham keluar dari rumahnya. Vanila kesal setengah mati, dia berusaha melepaskan tangan Abraham yang melingkar di tubuhnya namun sulit. Abraham tersenyum, semakin Vanila memberontak dan menolak, semakin dia ingin memiliki Vanila.
"Lepaskan, aku harus memandikan Ana dan memasak. Apa kau ingin memeluk aku sampai mati?!" teriak Vanila marah karena dia sudah tidak tahan dipeluk seperti itu.
"Baiklah, aku akan membantu," Abraham melepaskan pelukannya walau sesungguhnya dia enggan.
"Jika begitu segera masak, aku lapar!" ucap Vanila seraya berlalu pergi. Terserah pria itu bisa atau tidak, dia tidak peduli.
Abraham tersenyum melihat kepergiannya. Memasak? Jangan kira dia tidak bisa menggunakan alat dapur. Dia sudah melakukan hal itu untuk mengisi harinya setelah mereka berpisah. Dia akan menunjukkan pada Vanila jika dia bisa diandalkan.
Vanila masuk ke dalam kamar, berendam dengan putri manisnya. Entah Abraham sudah selesai atau belum yang pasti dia ingin menikmati waktu bersama dengan putrinya.
Dia begitu lama di dalam kamar, karena setelah mandi Vanila menidurkan putrinya. Di luar tidak terdengar suara apa pun, tapi ketika dia keluar dari kamar aroma lezat makanan tercium.
Rasanya tidak ingin percaya tapi ketika melihat makanan yang sudah terhidang di atas meja, Vanila mengucek matanya karena dia seperti tidak yakin.
"Kenapa berdiri di sana, kemarilah. Kau sudah lapar, bukan?"
"Kau yang membuat semua ini?" tanya Vanila. Dia kira Abraham tidak akan bisa, dengan begitu dia bisa mengusirnya lagi tapi semua di luar dugaan.
"Apa kau tidak percaya?"
"Hm, bukan begitu," sepertinya dia sudah meremehkan pria itu.
"Sudah aku katakan banyak yang berubah, Vanila. Setelah makan, bagaimana jika kita berbincang," dia harap Vanila bersedia.
Satu anggukan yang Vanila berikan membuat Abraham sangat senang. Semoga hubungan mereka membaik setelah malam ini walau dia tahu Vanila tidak akan menerimanya dengan mudah tapi perkembangan yang terjadi sudah cukup bagus. Dia tidak tahu apa yang terjadi tapi melihat sikap Vanila yang sedikit berubah merupakan angin segar untuknya. Vanila menyetujui permintaan Abraham karena dia berpikir mereka berdua memang butuh bicara.
__ADS_1