
Para tamu undangan sudah hadir, seorang pemuda terlihat tidak sabar tentunya pemuda itu adalah Bilt. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sabrina tapi gadis itu belum juga terlihat.
Tatapan mata Bilt tidak lepas dari para tamu yang sudah berdatangan. Sebentar lagi acara pelantikan raja baru, namun sang pujaan hati belum juga terlihat berada di tempat itu.
Sekarang Bilt jadi terlihat gelisah, pemuda itu bahkan terlihat seperti pembersih lantai otomastis yang bergerak ke kanan dan ke kiri tiada henti.
Vanila yang kebetulan lewat dan mendapati sahabat baiknya yang gelisah hanya bisa menggeleng. Vanila menghampiri Bilt, entah apa yang membuat Bilt jadi seperti itu yang pasti lantai disekitarnya sudah licin.
"Lantainya sudah bersih, Bilt. Jangan sampai ada yang terjatuh karena licin," goda Vanila.
"Maaf, Tuan Putri. Aku terlalu bersemangat," jawab Bilt refleks seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Wah, kau benar-benar serius."
"Apa?" Bilt melihat sekitar dan menyadari apa yang sedang dia lakukan.
"Sialan, kenapa aku jadi berperan sebagai pelayanmu!" ucap Bilt.
Vanila terkekeh dan melangkah mendekat lalu berdiri di sisi Bilt untuk melihat para tamu yang datang.
"Kenapa kau begitu serius, Bilt. Apa gadis yang kau tunggu belum juga datang?" tanyanya.
"Entahlah, aku tidak melihatnya sedari tadi," Bilt melihat ke arah para tamu, napas berat pun dihembuskan.
"Jangan putus asa seperti itu," Vanila menepuk bahu Bilt, entah siapa gadis yang ditunggu oleh Bilt yang jelas dia sangat penasaran.
"Acara masih belum dimulai, dia pasti akan datang," ucapnya lagi.
"Kau benar," Bilt melirik ke arah Vanila yang sudah berpenampilan luar biasa. Jujur sampai sekarang dia belum bisa mempercayai jika sahabat dan rekan kerjanya itu adalah seorang putri kerajaan. Dengan sifat Vanila yang asal-asalan, siapa yang akan menduga? Jika Acton tahu, dia rasa pria itu tidak akan membenci Vanila.
"Sepertinya kau sudah bahagia dengan kehidupanmu," ucap Bilt.
"Tentu saja, Bilt. Sekarang aku sangat bahagia. Terima kasih sudah membantu aku mendapatkan kebahagiaan ini. Jika kau tidak membatu aku menculiknya, maka aku tidak akan pernah seperti ini."
"Ck, aku tidak akan melupakan masa itu!" ucap Bilt.'
"Aku juga tidak, walau kita jauh tapi kau tetaplah sahabat terbaik yang aku miliki."
"Tentu saja, aku jamin kau tidak akan mendapatkan sahabat seperti aku lagi!"
"Yes, kau benar," Vanila tersenyum, tatapan mata masih melihat ke arah kerumunan tamu.
"Sekarang katakan padaku siapa yang sedang kau incar. Kali ini aku yang akan membantumu untuk mendapatkannya."
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa mendapatkan dirinya dengan caraku!" tolak Bilt.
"Ayolah, dansa dan lamaran yang romatis. Aku rasa kau memerlukan hal itu untuk membawanya pulang dan menjadikannya istri!"
"Terdengar menyenangkan, tadinya aku berniat melamarnya saja di hadapan kedua orangrtuanya."
"Tapi apa kau yakin akan berhasil? Jangan sampai kedua orangtuanya tidak setuju sehingga kau jadi malu."
"Tenang saja, aku sudah akrab dengan mereka!" ucap Bilt.
"Wow, are you serious?"
"Yes, sebab itu aku akan melamarnya dan membawanya pulang sebagai istriku. Ranjang baru yang baru aku beli sudah ingin digoyang!" ucap Bilt bercanda.
Vanila terkekeh, sejak dulu Bilt memang mudah dekat dengan siapa saja karena sifatnya yang menyenangkan. Tidak heran jika Bilt begitu cepat dekat dengan orangtua gadis yang dia incar.
"Itu dia," Bilty menunjuk seorang gadis berambut pirang yang melangkah masuk bersama kedua orangtuanya.
"Jadi gadis itu?"
"Yes, dia yang aku inginkan!!"
"Jika begitu, semoga berhasil. Aku akan membantumu sehingga kau bisa melamarnya dengan romantis."
Vanila juga melangkah pergi, acara sebentar lagi akan dimulai jadi dia sudah harus berada di ruang acara bersama dengan suami dan putrinya.
Anatasya terlihat menggemaskan dengan gaun pink yang dia kenakan. Rambutnya yang tipis diberi pita, sehingga membuat penampilannya semakin lucu.
Vanila dan Abraham sudah bergabung dengan kedua orangtuanya, Ana berada di dalam gendongan ayahnya saat acara pelantikan dimulai.
Norman terlihat gagah saat sang ayah menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Ayahnya tentu berharap Norman lebih banyak belajar lagi agar menjadi raja yang bisa membanggakan rakyat mereka.
Acara pelantikan berjalan dengan lancar, semua sesuai dengan rencana. Pengamanan dilakukan dengan ketat di istana bahkan masyarakat dapat menyaksikan pelantikan raja baru mereka. Sekarang semua berharap sang raja menemukan ratu yang sepadan dengannya agar dapat memimpin dengan benar.
Suara tepuk tangan terdengar saat mahkota dikenakan di atas kepala Norman dan sebuah tongkat diberikan padanya. Kini dia sudah menjadi raja baru yang akan memegang kendali.
Setelah acara pelantikan itu, diadakan acara perjamuan. Semua bersuka cita, Norman mendapatkan banyak ucapan selamat dan juga doa bahkan dia keluar untuk bertemu dengan rakyat yang sudah menunggunya. Tentunya acara itu akan diadakan selama beberapa hari.
Semua menikmati acara yang ada, tidak saja makanan tapi para tamu bisa menikmati acara dansa dan sekarang giliran Bilt untuk melamar wanita pujaan hati dan membawanya pulang sebagai istri. Vanila sudah membicarakan hal ini pada kakaknya, tentunya Norman setuju apalagi untuk sahabat baik adiknya.
Suara musik sudah melantun merdu, Bilt sudah terlihat siap. Tidak ada keraguan sama sekali. Dia memang sudah berniat.
Bilt membungkuk di hadapan Sabrina sambil mengulurkan satu tangannya sebagai ajakan dansa pada Sabrina. Gadis itu tersipu, sambil meletakkan telapak tangannya ke atas telapak tangan Bilt.
__ADS_1
Mereka berdua melangkah menuju lantai dansa. Sesuai dengan yang sudah direncanakan, semua tamu yang sedang berdansa di lantai dansa mundur dengan perlahan untuk memberikan ruang untuk kedua pasangan itu.
"Kenapa mereka semua pergi?" tanya Sabrina.
"Ini semua pasti rencana Vanila, tempat ini untuk kita sekarang."
"Jadi sang putri membantumu?"
"Tentu saja," Bilt menempelkan dahinya ke dahi Sabrina, gadis itu jadi tersipu. Walau Bilt bukan dari kalangan bangsawan tapi dia terlihat tulus dan serius.
"Siap mendapatkan kejutannya?"
"Di sini?" tanya Sabrina.
"Yes, kita bisa menggunakan lantai dansa ini karena sang raja baru masih belum memiliki pasangan," bisik Bilt pelan.
"Hei, jangan asal bicara. Bagaimana jika ada yang mendengar?"
"Tidak apa-apa, tali cambuknya tidak akan bisa menyentuhku!"
Sabrina tertawa pelan, sungguh sangat menyenangkan bisa bertemu dengan Bilt padahal dia tidak pernah mau menghadiri acara apa pun tapi kedatangannya waktu itu mengubah segalanya.
Mereka masih berdansa tapi ketika Bilt memutar tubuh Sabrina, pria itu langsung berlutut dengan sebuah kotak cincin di tangan. Sabrina yang sudah berhenti berputar terkejut, tatapan mata melihat sekeliling lalu dia melihat ke arah Bilt.
"Bilt, apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Aku ingin melamarmu, Sabrina. Will you Marry me?" tanya Bilt sambil mengangkat kotak cincin.
"Ta-tapi?" wajah Sabrina tersipu, sungguh dia tidak menduga kejutan manis yang dimaksud oleh Bilt adalah kejutan seperti itu.
"Apa kau tidak mau, Sabrina?" tanya Bilt karena Sabrina diam saja.
"Tentu saja aku mau," jawab Sabrina tanpa ragu.
"Yes!" Bilt melommpat karena girang. Cincin segera dikenakan dijari Sabrina lalu Bilt berteriak akibat senang.
"Yes, aku akan segera menikah dan mencoba kekuatan ranjang di rumah!" dia terlalu bersemangat dan lupa dengan situasi.
"Bilt!" Sabrina berteriak dan menutup wajah.
Bilt tersadar, "Oh, sial!" ucapnya lalu gelak tawa para tamu pun terdengar di susul dengan suara tepuk tangan.
Vanila memijit pelipis, sifat Bilt kumat di saat yang tidak tepat namun dua acara itu berjalan dengan lancar bahkan Vanila sudah menyiapkan kejutan untuk Bilt dan Sabrian yaitu acara pernikahan.
__ADS_1