Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Apa Kau Menyesal?


__ADS_3

Vanila melihat layar ponselnya dan terlihat tidak bersemangat. Saat itu dia sedang melihat foto keluarganya. Satu jari mengusap foto ibunya, rasa rindu akan keluarganya memenuhi hati namun tatapan penuh kebencian dia berikan pada kakaknya yang selalu mengekang dan mengatur hidupnya.


Semua harus sesuai dengan apa yang kakaknya mau, semua perkataannya tidak boleh dibantah. Jika ibunya membela, selalu saja berkata jika semua yang dilakukan untuk kebaikan dirinya tapi kakaknya tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya selama ini.


Dia bagaikan boneka yang berada di tangan sang kakak, pasrah tidak bisa melakukan apa pun. Sekarang, dengan pemberontakan yang dia lakukan, semoga benang-benang yang ada di tangan kakaknya terlepas sehingga dia tidak hidup di bawah kekangannya lagi.


"Aku membencimu, Kak. Jangan salahkan perbuatan nekad yang aku lakukan karena kau yang telah membuat aku seperti ini," ucap Vanila dengan pelan. Dia tahu tindakan yang dia lakukan salah, tapi jika tidak terpaksa dia juga tidak mau melakukannya. Apa saat ini dia sedang menyesal?


"Apa yang kau lakukan?"


Vanila membalikkan layar ponsel dengan terburu-buru agar Abraham tidak melihat foto keluarganya. Vanila berpaling dengan terburu-buru pula melihat ke arah Abraham sambil tersenyum.


"Tidak, aku tidak melakukan apa pun," jawabnya.


"Dari pada di rumah saja, bagaimana jika kita jalan-jalan ke hutan? Aku sudah menemukan dua kail tapi kita harus mencari umpan," ucap Abraham.


"Boleh juga, mungkin kita bisa menemukan rusa di dalam hutan," Vanila beranjak, dia harus menggunakan pakaian tebal agar tidak digigit serangga.


"Sepertinya kita harus berburu."


"Berburu? Dari mana kita bisa mendapatkan senapan? Lagi pula memangnya kau bisa?" tanya Vanila.


"Entahlah, aku melihat ada senapan di gudang. Bisa atau tidaknya, kita tidak akan tahu jika tidak dicoba, bukan?"


"Baiklah, yang kau katakan sangat benar. JIka begitu kita pergi berburu dan setelah itu memancing," Vanila terlihat sedikit bersemangat.


"Aku lebih suka melihatmu seperti ini," Abraham mendekati Vanila dan meraih pinggangnya, "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sehingga kau terlihat murung tapi jika ada sesuatu yangg sedang kau pikirkan, bukankah lebih baik kau berbagi denganku agar perasaanmu membaik? Jangan pernah memendamnya seorang diri seolah-olah aku tidak ada di sini bersama denganmu," ucap Abraham seraya mengusap kepala Vanila.


"Aku baik-baik saja, maaf," ucap Vanila.

__ADS_1


"Untuk apa kau meminta maaf? Aku hanya ingin kau berbagi denganku, bukan meminta maaf padaku!"


"Tidak ada apa-apa, Rick," Vanila melepaskan diri dari pelukan Abraham dan memundurkan langkahnya.


Abraham sangat heran karena sikap Vanila yang berubah drastis, tidak seperti biasanya. Apa Vanila menyesal telah menyerahkan dirinya semalam? Ataukah ada sesuatu hal lain yang menyebabkan dirinya seperti itu?


Kakinya kembali melangkah, mendekati Vanila. Tangannya juga kembali melingkar di tubuh Vanila sehingga Vanila berada di dalam pelukannya yang hangat.


"Jangan menipu, Vanila. Kau tidak seperti biasanya. Apa kau menyesal telah menyerahkan dirimu padaku?Apa kau menyesali kebersamaan kita berdua di tempat ini?" tanya Abraham ingin tahu.


"Tidak, Rick. Aku tidak menyesal sama sekali, aku justru sangat bersyukur bisa bersama denganmu dan aku juga sangat bersyukur bisa menyerahkan diriku padamu jadi aku tidak menyesal sama sekali."


"Jika begitu, kenapa kau terlihat murung seperti ini?"


Vanila diam, berusaha mencari jawaban tepat agar Abraham tidak curiga dengan apa yang sedang dia alami saat ini.


"Vanila," Abraham mencium dahinya dengan lembut, tangannya pun mengusap punggung Vanila dengan perlahan.


"Sudah aku katakan tidak ada apa-apa, Rick. Aku sedih karena waktu kebersamaan kita begitu singkat. Hanya itu," jawab Vanila. Abraham tidak akan curiga dengan jawaban yang dia berikan.


"Apa maksudmu?" tanya Abraham tidak mengerti.


"Maaf, aku harus mengacaukan semuanya. Bosku meminta aku kembali dan meminta aku untuk bekerja besok karena beberapa karyawan tiba-tiba sakit. Sepertinya kita harus kembali saat sore," dustanya.


Abraham menghembuskan napas leganya dan tersenyum. Dia mengira Vanila sedih karena menyesal telah melakukan hal itu dengannya tapi ternyata hanya karena hal itu saja.


"Tidak apa-apa, jangan sedih," pelukannya semakin erat, Abraham kembali memberikan ciuman di dahi.


"Kita bisa datang lagi lain waktu untuk membuat kenangan yang lebih berkesan. Agar hari kita tidak terbuang sia-sia, ayo kita melakukan apa yang hendak kita lakukan. Kita pergi berburu lalu kita memancing untuk bersenang-senang!"

__ADS_1


"Kau benar," Vanila mendongak dan memandangi wajah tampan Abraham sambil tersenyum manis. Memandangi wajah pria itu dari posisi seperti itu tidak akan dia lupakan.


Abraham juga memandanginya, wajah Vanila diusap perlahan. Entah kenapa dari pada pergi berburu dia lebih senang menghabiskan waktu dengan Vanila di dalam kamar. Dagu Vanila diangkat, kecupan lembut diberikan di bibir Vanila yang menggoda.


"Aku lebih suka berburu denganmu di dalam kamar," ucapnya.


"Berburu apa?" Vanila belum mengerti.


"Tentunya berburu sesuatu yang menyenangkan!" tubuh Vanila diangkat sehingga Vanila berteriak.


Vanila hendak protes namun bibirnya sudah dibungkam oleh Abraham. Ciuman mereka semakin dalam, Abraham tidak membiarkan Vanila untuk menolak dan sesungguhnya Vanila juga tidak akan menolak karena dia tahu, semakin sering mereka bercinta, kemungkinannya untuk hamil semakin besar.


Dia juga tahu jika mereka tidak akan bisa melakukan hal itu lagi jika tiba-tiba ingatan Abraham kembali. Jadi sebaiknya dia memanfaatkan kesempatan itu agar kemungkinan dia bisa hamil semakin besar.


Rencana untuk berburu tidak jadi, mereka menghabiskan waktu begitu lama di dalam kamar. Vanila mendapatkan apa yang dia mau, Abraham juga demikian karena serpihan ingatan yang dia dapat semakin banyak saat bercinta dengan Vanila bahkan dia sudah bisa mengingat dengan jelas wajah wanita yang bernama Renata.


Setelah puas melakukan kegiatan mereka, Vanila dan Abraham duduk di sisi danau berdua. Kail pancing berada di tangan Vanila, sedangkan Abraham duduk di belakangnya sambil memeluknya.


"Sepertinya akan sangat menyenangkan jika ada perahu. Kita bisa berkeliling danau menggunakan perahu itu," ucap Vanila.


"Kita bisa datang lagi untuk melakukan apa yang belum kita lakukan. Aku berjanji akan membawamu ke tempat yang lebih bagus dari pada tempat ini agar kita bisa melakukan banyak hal yang jauh lebih menyenangkan," ucap Abraham.


"Apa kau serius dengan janjimu?" tanya Vanila walau dia tahu Abraham tidak mungkin menepati setiap janji yang dia ucapkan.


"Tentu saja aku serius, aku akan menepati setiap janji yang aku ucapkan padamu."


"Terima kasih, Rick. Kau benar-benar membuat aku bahagia,"Vanila berpaling dan memberikan ciuman di pipi Abraham.


Vanila tersenyum, Abraham memberikan begitu banyak kebahagiaan untuknya. Dia benar-benar tidak menyesali aksi nekad yang dia lakukan karena saat ini dia sangat bersyukur telah menculik Abraham karena jika tidak, dia tidak akan bisa melewatkan waktu yang menyenangkan dan yang sangat berharga baginya.

__ADS_1


Kail pancing yang ada di tangan Vanila terlepas, dia tidak peduli ada ikan atau tidak yang sedang menarik kailnya karena saat itu, Abraham mencium bibirnya.


Waktu singkat mereka berada di sana tidak akan dia lupakan dan memang tidak boleh dia lupakan karena sebentar lagi, apa yang dia lakukan akan segera terbongkar.


__ADS_2