Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Lepaskan Mereka


__ADS_3

Wajah Vanila terlihat berseri karena dia baru saja keluar dari rumah sakit. Ternyata dugaannya benar jika dia sedang hamil saat ini. Kabar kehamilannya mengobati kesedihan yang dia rasakan selama ini. Sekarang ada yang harus dia perjuangkan, dengan begini kehidupannya jadi  lebih berarti dibandingkan sebelumnya.


Surat hasil pemeriksaannya disimpan baik-baik di dalam tas.  Dia tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun bahkan Bilt sekalipun. Setelah mengetahui kehamilannya, Vanila berencana pergi. Dia tidak mau berada di kota itu lagi karena sudah tidak aman. Dia ingin pergi ke tempat baru untuk melahirkan dan membesarkan anaknya sendiri.


Semoga keinginan sederhana itu dapat terwujud sehingga dia memiliki kehidupannya sendiri. Vanila melangkah pergi dari rumah sakit namun langkahnya harus terhenti karena tiba-tiba saja, langkahnya di cegat oleh segerombolan orang.


Vanila terkejut dan melangkah mundur. Dia pikir itu adalah orang-orang yang diutus oleh kakaknya. Dia hendak lari tapi dia terkepung sehingga membuatnya bisa ditangkap dengan mudah. Mulutnya dibekap, sepucuk pistol berada di belakangnya sehingga membuatnya tidak berdaya dan hanya bisa mengikuti orang-orang itu. Namun satu hal yang dia tahu dari perlakukan tidak menyenangkan itu, mereka bukanlah orang-orang bayaran kakaknya karena dia tahu, kakaknya tidak mungkin sampai mengancam seperti itu.


Entah dia akan dibawa ke mana, Vanila hanya bisa mengikuti dengan begitu banyak pertanyaan di hati. Jika mereka bukan orang-orang yang diutus oleh kakaknya, lalu siapa yang mengutus mereka? Rasa curiga jika mereka adalah orang-orang utusan Abraham muncul di hati. Jika benar, berarti ini adalah hari di mana dia harus menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan.


Seperti yang dia katakan, dia tidak akan lari sekalipun Abraham akan membunuhnya tapi apakah dia harus mengatakan pada Abraham jika dia sedang mengandung anaknya saat ini? Akan dia pertimbangkan sambil melihat situasi.


Abraham sudah mendapat kabar jika anak buahnya sudah menangkap Vanila dan membawanya. Dia sangat tidak sabar Vanila Elouis dibawa di hadapannya. Abraham bahkan memikirkan siksaan apa yang harus dia berikan untuk gadis itu agar dia tahu, tidak boleh sembarangan menculik orang apalagi hanya untuk memenuhi ambisinya semata.


Vanila didorong dengan kasar untuk keluar dari mobil. Dia diam saja, selama tidak menyakiti perutnya maka dia tidak akan keberatan. Lagi pula dia memang harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan. Tubuhnya juga didorong masuk ke dalam ruangan saat seseorang membuka pintu.


Mata Vanila melotot, dia juga terkejut melihat Bilt dan sahabatnya berbaring di atas lantai dalam keadaan yang mengenaskan. Dia tidak melihat sosok Abraham yang duduk di sisi ruangan. Pria itu menatapnya dengan penuh kebencian, wanita yang telah menipu dan menculiknya juga adik dari musuhnya, rasanya semua kebersamaan yang telah mereka lalui tertutupi oleh rasa benci yang teramat dalam.


"Bilt, Acton!" Vanila berlari ke arah mereka.


Bilt berusaha mengangkat kepalanya. Celaka, ternyata Vanila sudah tertangkap. Sekarang dia harus berusaha membujuk Abraham Aldway untuk melepaskan Vanila.


"Apa yang terjadi dengan kalian, kenapa jadi seperti ini?" Vanila menangis melihat keadaan mereka berdua.


"Semua gara-gara kau, Vanila," ucap Acton.


"Maaf, maafkan aku," Vanila menyeka air matanya. Semua memang gara-gara dirinya.


"Pergi, Vanila. Kau tidak boleh berada di sini," ucap Bilt.


"Maafkan aku, Bilt. Maafkan aku," rasa bersalah memenuhi hati. Tidak seharusnya kedua sahabatnya diperlakukan seperti itu karena perbuatan yang dia lakukan.

__ADS_1


"Sungguh pertemuan yang sangat mengharukan!" cibir Abraham seraya beranjak. Suara tepuk tangannya juga terdengar. Kedua sahabat yang saling peduli, sungguh menggelikan.


"Aku akan menyelesaikan semua ini!" ucap Vanila.


"Jangan, pergi sekarang juga!" pinta Bilt.


Air mata dihapus, Vanila beranjak dan memutar langkahnya. Dia tidak terlihat takut sama sekali saat menghampiri Abraham. Matanya bahkan menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian. Tatapan mata Abraham juga tidak berpaling darinya, Vanila semakin melangkah mendekat sambil menghapus air mata yang masih mengalir.


"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Vanila dengan nada sinis.


"Aku memberi pelajaran pada mereka karena telah berani menculik dan memukulku. Seharusnya kau tahu itu!" jawab Abraham tak kalah sinis pula.


"Aku yang melakukannya, bukan mereka jadi tidak sepantasnya kau menghukum mereka seperti itu!" teriak Vanila marah.


"Tidak pantas? Lalu apa yang kalian lakukan padaku pantas, Vanila Elouis?"


Vanila diam saja, pria yang menghabiskan waktunya dengannya beberapa saat yang lalu, dia benci karena sudah memperlakukan kedua sahabatnya seperti itu.


Vanila mengernyitkan dahi, apa Abraham mengenal kakaknya? Kenapa bertanya demikian?


"Jawab!" teriak Abraham marah.


"Semua yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan siapa pun bahkan mereka. Mereka hanya aku bayar untuk membantuku menculik dirimu tentunya untuk mengusir rasa bosan dan untuk mempermainkan dirimu saja!" cukup sudah, walau dia mencintai Abraham tapi dia tidak terima kedua sahabat baiknya diperlakukan seperti itu apalagi Bilt.


"Beraninya kau!" kedua tangan Abraham sudah berada di lehernya. Jadi apa yang mereka lakukan selama ini untuk mengusir rasa bosan? Sungguh dia tidak terima penghinaan seperti itu.


"Aku akan mematahkan lehermu, Vanila!" kedua tangan sudah mencekik leher Vanila dengan erat, amarah memenuhi hatinya. Vanila berusaha menaha rasa sakit di lehernya, dia tidak boleh terlihat takut walau sesungguhnya dia sangat mengkhawatirkan janin yang ada di dalam perutnya.


"Kau boleh membunuh aku, Abraham. Tapi aku mohon lepaskan mereka. Aku tidak keberatan mati di tanganmu tapi ada yang ingin aku sampaikan dan dengarkan perkataanku terlebih dahulu agar kau tidak menyesali apa yang kau lakukan nanti," mungkin jika dia mengatakan kehamilannya, Abraham akan bermurah hati.


Abraham diam namun tidak lama kemudian tawanya terdengar. Menyesali apa yang dia lakukan? sungguh lelucon yang tidak lucu apalagi dia bukanlah orang yang akan menyesali apa yang telah dia lakukan.

__ADS_1


"Jangan membuat lelucon! Aku tidak akan mempercayai ucapan seorang penipu seperti dirimu lagi. Apa aku akan menyesali kematianmu? Kau bukanlah siapa-siapa dan tidak berarti bagiku!"


Air mata Vanila kembali menetes, dia memang tidak berarti apa pun bagi pria itu. Dia sangat tahu dan dia rasa Abraham tidak akan mempercayai perkataannya jika dia sedang mengandung bayinya saat ini jadi sebaiknya dia diam tapi rasanya sangat menyakitkan mendengar jika dia tidak berarti secara langsung dari Abraham.


"Aku memang tidak berarti bagimu, aku tahu itu. Tapi aku mohon padamu, lepaskan mereka. Semua kesalahanku jadi jangan libatkan mereka. Kau bisa menghukum aku sesuka hatimu, aku tidak akan lari atau apa pun. Aku akan menanggung risiko dari apa yang telah aku lakukan. Aku akan bertanggung jawab tapi lepaskan mereka terlebih dahulu," pinta Vanila.


"Jangan, Vanila. Jangan lakukan!" ucap Bilt.


Vanila sangat ingin menjawab tapi dia urungkan. Jika dengan cara itu bisa melepaskan kedua sahabatnya maka dia tidak keberatan apalagi memang dia yang salah sejak awal. Seandainya dia mati, dia juga akan mati bersama dengan bayi yang dia kandung.


"Aku memang ingin memberikan pelajaran untukmu dan dia, harus melihatnya!" ucap Abraham sambil melihat ke arah Bilt.


"Lakukan jika itu bisa membuat hatimu puas!" ucap Vanila.


"Jangan kau kira aku tidak berani!" Abraham kembali mencekik leher Vanila dengan kencang. Amarah yang dia rasakan membuatnya tidak memiliki belas kasihan bahkan tubuh Vanila terangkat ke atas.


Bilt berteriak di belakang sana, memohon agar Vanila dilepaskan namun Abraham tidak mempedulikannya.


Vanila masih berusaha menahan rasa sakitnya namun dia tidak bisa bertahan lebih lama. Kedua kakinya menendang, kedua bola matanya naik ke atas dan dia sudah kesulitan bernapas. Tidak apa-apa, setelah ini dia tidak akan merasa sakit lagi.


Abraham semakin mencekik lehernya dengan kuat, dia pasti akan membunuh Vanila namun ekspresi sakit yang Vanila tunjukkan, air matanya membuat perasaannya kacau.


Vanila kira dia pasti mati, dia benar-benar sudah pasrah. Bilt masih berteriak di belakang sana, dia berharap Vanila dilepaskan apalagi Vanila terlihat sudah tidak bisa meronta lagi. Kedua tangan yang memegangi lengan Abraham sudah terlepas dan terkulai ke samping. Kematian itu seolah sudah berada diambang pintu tapi tiba-tiba saja Abraham melepaskan leher Vanila.


Vanila hilang keseimbangan dan jatuh ke atas lantai karena dia sudah tidak sadarkan diri lagi. Abraham mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa dia jadi ragu?


"Vanila!" Bilt berteriak keras karena Vanila tidak bergerak.


"Katakan padanya untuk tidak muncul di depan mataku lagi. Jika dia berani, aku tidak akan segan seperti hari ini. Aku pasti akan membunuhnya dan membunuh kalian berdua!" setelah mengatakan hal demikian, Abraham melangkah pergi dengan perasaan yang tidak menentu.


Kenapa dia jadi ragu? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apa yang telah terjadi dengannya? Walau dia tidak membunuh mereka namun dia sudah memberi mereka pelajaran atas apa yang telah mereka lakukan terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2