
Sebuah kota kecil menjadi tempat tujuan Vanila. Kota itu tampak damai, tenang bahkan masih memiliki pegunungan hijau yang membuat pemandangan di kota itu terlihat indah. Setelah menempuh perjalanan selama puluhan jam, Vanila tiba ditujuan. Tidak akan ada yang tahu siapa dirinya selama berada di sana karena identitasnya yang dipalsukan.
Tujuannya adalah sebuah rumah tua, itu adalah rumah peninggalan neneknya. Dia akan menempati rumah itu, dia akan hidup sederhana di kota itu dan menjadi dirinya sendiri. Memang itulah yang dia inginkan, dia tidak membutuhkan kemewahan jika tidak dapat menikmati hidup. Sekalipun dia harus meninggalkan kemewahan yang ada, dia tidak keberatan sama sekali.
Vanila menghirup segarnya udara pegunungan. Bagaikan mimpi, dia bisa mendapatkan kebebasan yang dia inginkan. Tapi semua itu bisa dia dapatkan berkat bayi yang ada di rahimnya. Dia berjanji akan menjalani hidupnya dengan baik di tempat itu dan dia yakin dia mampu membesarkan anaknya seorang diri.
Beruntungnya ibunya mau membantunya pergi saat Norman sedang sibuk. Dia tidak peduli dengan apa yang kakaknya lakukan karena yang dia mau hanya keluar dari istana dan hidup damai. Sebuah rumah tua sudah terlihat, Vanila ingat dia pernah dibawa ke rumah itu oleh ibunya dan sekarang dia akan menempati rumah itu.
Seorang pelayan menyambut kedatangannya. Pelayan itu sudah lama melayani sang nenek dan sekarang tinggal di sana dan pelayan itu pula yang ditugaskan oleh ibunya untuk menjaga Vanila. Walau Vanila berkata dia tidak memerlukannya tapi ibunya tidak mau putrinya sendirian apalagi dia sedang hamil.
"Selamat datang, Nona. Aku Marion, mulai sekarang aku akan melayani Nona," ucap pelayan setengah baya itu.
"Terima kasih, Marion. Mohon bantuannya," ucap Vanila.
"Berikan barang-barang Nona padaku," Marion mengambil barang yang dibawa oleh Vanila.
"Boleh aku berkeliling?" tanya Vanila.
"Tentu saja," jawab Marion.
Vanila melihat rumah itu, rasanya sangat rindu. Dia ingat ada ayunan di samping rumah. Dia juga ingat ayunan itu berada di sebuah pohon besar. Dulu dia sering bermain dengan Norman di ayunan itu. Vanila melangkah ke samping rumah, ternyata ayunan itu masih ada.
Ponsel diambil, Vanila duduk di ayunan. Dia ingin menghubungi ibunya untuk memberi kabar, dia juga ingin tahu apa reaksi kakaknya saat tahu jika dia sudah tidak berada di istana lagi. Dia tahu kakaknya pasti murka tapi dia harap kakaknya menerima keputusannya.
"Apa kau sudah tiba, Vanila?" tanya ibunya.
"Tentu saja, aku baru saja tiba," jawab Vanila.
"Bagaimana di sana, kau pasti akan betah, bukan?"
__ADS_1
"Tempat ini masih sama seperti dulu, Mom. Aku pasti betah dan aku akan menjalani kehidupanku dengan baik di sini."
"Mommy senang mendengarnya, Sayang. Hiduplah dengan baik di sana, dan jangan melakukan kesaalahan lagi."
"Aku berjanji tidak akan, aku tidak akan membuat kalian malu lagi dan aku tidak akan membuat Norman marah lagi. Aku bersumpah akan hal itu jadi maafkan semua kesalahanku karena aku sudah membuat kalian malu," tanpa dia inginkan air mata mengalir. Dia memang sudah salah mempermalukan mereka akibat pernikahan itu tapi hanya itu saja yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan kebebasan.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Apa yang sudah terjadi, biarkan saja terjadi. Lagi pula sejak awal kami yang sudah salah karena sudah mengekangmu. Kami tidak akan melakukan hal itu lagi padamu," ucap ibunya.
"Bagaimana dengan Norman, Mom. Apa dia marah karena aku sudah kabur dari istana lagi?" tanya Vanila ingin tahu.
"Tentu saja dia marah," saat mendengar ucapan ibunya, air muka Vanila berubah. Sudah dia duga kakaknya pasti marah. Sepertinya setelah ini hubungannya dengan sang kakak akan hancur. Dia yakin dia tidak akan diterima lagi di Istana oleh Norman saat kakaknya itu sudah menjadi pemimpin. Sekarang dia benar-benar terbuang tapi tidak jadi soal, dia tahu konsekuensi atas apa yang dia lakukan dan dia akan menangguklng risikonya seperti yang sudah-sudah.
"Maafkan aku, aku putri dan adik yang tidak berguna," Vanila menunduk, air mata masih saja menetes.
"Kenapa berbicara seperti itu? Kakakmu memang marah tapi sekarang dia bisa menerima keputusanmu yang ingin pergi.
"Benarkah?" Vanila mengangkat wajah yang terlihat berseri.
"Aku sangat senang mendengarnya dan aku harap Mommy tidak menipu aku akan hal ini agar aku senang," Vanila mengusap air matanya.
"Tentu saja tidak, Sayang. Mommy sudah katakan, jika Mommy sudah berbicara dengannya mengenai hal itu. Jika kau tidak percaya lebih baik kau berbicara dengan kakakmu."
"Apa, jangan!" tolak Vanila tapi ibunya sudah memberikan ponselnya pada Norman.
"Kenapa, apa kau tidak mau berbicara dengan kakakmu ini?" tanya Norman.
"Bukan begitu, aku kira kau?" Vanila menghentikan ucapannya.
"Aku memang marah denganmu, Vanila. Aku sudah mendengar semuanya dari Mommy. Aku sangat ingin memukulmu karena perbuatan gilamu tapi kau justru lari!" ucap Norman.
__ADS_1
"Ma-Maafkan aku, aku tahu apa yang aku lakukan salah tapi aku tidak punya cara lain agar aku tidak jadi menikah."
"Tenyata kau tahu apa yang kau lakukan salah. Jika kau tidak mengakui kesalahanmu maka aku akan pergi untuk menarikmu kembali!"
"Norman!" terdengar suara suara ibunya.
"Aku benar-benar minta maaf, Norman. Aku tidak bermaksud ingin mempermalukan kalian. Aku hanya ingin?"
"Maafkan aku, Vanila," sela Norman. Vanila terkejut mendengar perkataan maaf dari kakaknya. Vanila diam, dia jadi tidak tahu apa yang harus dia katakan.
"Apa yang Mommy katakan sangat benar, aku yang terlalu keras padamu selama ini. Tidak seharusnya aku mengekangmu tapi rasa takut dan trauma akan kematian Emely menghantuiku jadi aku tidak ingin kau mengalami apa yang Emely alami tanpa tahu jika apa yang aku lakukan justru menghancurkan dirimu dan merenggut kebebasanmu. Aku hanya ingin menjadi kakak yang bisa melindungi adiknya saja tapi aku justru melakukan kesalahan!"
Air mata Vanila kembali mengalir, dia tidak tahu kakaknya memiliki trauma. Sifat kakaknya memang berubah drastis begitu dia kembali dari London tapi dia tidak tahu kakaknya kembali membawa sebuah luka yang teramat dalam.
"Maafkan aku, Kakak. Aku yang tidak berguna sebagai adikmu," ucap Vanila di sela isak tangisannya.
"Sudah berapa lama aku tidak mendengarmu memanggil aku seperti itu? Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kau memanggil aku kakak," ucap Norman.
Air mata Vanila semakin mengalir deras, sang ibu yang mendengar pembicaraan mereka pun menangis. Dia lebih suka hubungan putra putrinya seperti itu dan sekarang, hubungan mereka sudah seperti kakak adik pada umumnya.
"Maaf, aku tidak tahu kakak memiliki trauma," ucap Vanila.
"Bodoh, aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku karena aku yang tidak becus sebagai kakakmu. Satu saja yang aku inginkan, jangan membuat kesalahan lagi dan hiduplah dengan baik. Jaga calon keponakanku baik-baik dan jangan lupa memberi kami kabar."
"Tentu, aku tidak akan mengecewakan kalian untuk kedua kalinya."
"Bagus, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak akan melarang asal kau tidak melakukan kesalahan lagi."
Vanila tersenyum, tatapan matanya tertuju pada langit biru yang membentang. Perasaannya terasa ringan, sekarang dia sudah mendapatkan ijin untuk hidup bebas dan tentunya dia tidak akan melakukan perbuatan gila lagi apalagi dia sudah memiliki sesuatu berharga yang harus dia jaga.
__ADS_1
Vanila masih berbicara dengan keluarganya dan sekarang dia berbicara dengan ayahnya yang tentunya sang ayah meminta Vanila untuk hidup dengan baik. Ayunan dimainkan, Vanila berayun dengan perasaan gembira. Matanya masih tidak lepas dari langit biru, dalam hati mengucapkan kata perpisahan untuk seorang pria yang pernah hadir dalam hidupnya karena dia tidak akan bertemu lagi dengan pria itu untuk selamanya.