Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Keraguan


__ADS_3

Pagi berat Abraham dimulai, pagi paling berat yang harus dia lewati dalam hidupnya. Abraham tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Seluruh tubuh terasa lemas, kepala sakit luar biasa. Perut pun terasa tidak nyaman. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan apa yang dikatakan oleh ibunya jika dia terkena Virus adalah benar.


Padahal hari ini dia sudah meminta Renata untuk datang tapi entah kenapa rasanya malas untuk bertemu. Mungkin sebaiknya dia menghubungi Renata dan memintanya untuk tidak datang tapi dia juga merasa enggan. Mendengar suaranya saja membuatnya enggan.


Ibunya masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas minuman hangat. Ibunya menggeleng, Abraham sudah terlihat aneh begitu dia kembali dari Australia. Semalam dia terlihat seperti anak kecil dan sekarang dia terlihat seperti wanita hamil yang mengalami morning sickness saja.


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" tanya ibunya.


"Aku tidak tahu, Mommy jangan pergi jauh-jauh!" pinta Abraham karena dia ingin berada di dekat ibunya.


"Ya ampun, Abraham. Memangnya kau masih berusia lima tahun!" ucap ibunya kesal.


"Sebentar saja, Mom. Lagi pula tidak setiap hari."


"Oke, baiklah. Tapi setelah ini kau harus segera mandi karena Renata akan datang bersama kedua orangtuanya."


"Untuk apa mereka datang?" tanya Abraham. Ibunya menatap Abraham dengan tatapan heran, kenapa putranya tampak tidak senang seperti itu?


"Kenapa kau terlihat tidak senang seperti itu? Bukankah kau yang meminta Renata datang untuk membahas pernikahan kalian?"


"Siapa yang berkata seperti itu? Aku tidak bilang akan membahas pernikahan, aku hanya meminta Renata untuk datang saja!"


"Renata yang mengatakan hal itu pada Mommy, apa kau tidak mengatakan apa pun tentang pernikahan padanya?"


Abraham diam, tidak menjawab. Dia memang berniat untuk melamar Renata bahkan hasrat itu mengebu-ngebu sebelum Vanila Elouis menghancurkan semuanya. Sial, semua gara-gara gadis itu. Sekarang dia marasa Vanila sudah menghancurkan semuanya, keinginan untuk melamar Renata sirna begitu saja.


"Kenapa kau diam saja? Jika kau ingin menikahinya itu hal yang sangat bagus. Lagi pula kalian menjalin hubungan cukup lama, sudah saatnya kalian menikah. Mommy juga sudah tidak sabar menggendong cucu jadi lakukan tanpa perlu banyak berpikir," ucap ibunya.


"Tadinya aku memang ingin melamarnya, Mom. Tapi akhir-akhir ini aku merasa enggan. Entah apa yang terjadi denganku, aku merasa ragu untuk menikahi Renata!" keraguan itu muncul setelah dia mendapatkan ingatannya kembali.


"Kenapa seperti itu? Apa ada wanita lain di hatimu?" tanya ibunya curiga.


"Tidak ada, jangan asal bicara! Selain Renata, aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun!" sangkal Abraham. Dia memang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun walau dia sempat bersama dengan Vanila dan tidur dengannya tapi mereka bukan pasangan kekasih.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin kau merasa demikian karena kau belum siap mengubah status kalian tapi jangan terlalu lama menunda, jika keadaanmu sudah membaik maka segera lamar dia."


Napas berat dihembuskan, Abraham melihat langit kamar. Benar yang ibunya katakan, dia harus melamar Renata. Akan dia lakukan setelah keadaannya membaik tapi jujr saja, keraguan akan melamar Renata memenuhi hatinya saat ini.


Setelah berbincang, Abraham kembali tidur. Semoga saja pagi berat yang dia alami hari ini segera berlalu. Sangat tidak menyenangkan berbaring seperti itu, setelah keadaannya sudah mulai membaik maka dia akan memikirkan sebuah kejutan yang akan dia berikan pada Renata namun nanti, dia yang akan mendapatkan kejutan karena paket dari Bilt sedang diperjalanan.


Renata bangun lebih awal, dia harus berdandan yang cantik sebelum kedua orangtuanya datang dan setelah itu mereka akan berangkat bersama ke rumah orangtua Abraham. Hari ini dia harus berpenampilan sesempurna mungkin agar Abraham pangling dan semakin jatuh cinta padanya.


Selama menunggu kedatangan kedua orangtuanya, Renata melihat beberapa barang mewah dari ponsel. Sebuah kalung berlian indah membuatnya jatuh cinta, jika dia meminta pada Abraham mungkin akan dibelikan. Dia akan memintanya nanti.


Renata kembali melihat kalung yang lain namun kesenangannya harus terganggu karena lagi-lagi, orang yang selalu memerasnya menghubunginya. Renata tampak kesal, dia tidak mau menjawab bahkan dia menolak menjawab panggilan dari pria itu sehingga sebuah pesan pun dikirimkan untuknya.


"Jika kau tidak mau menjawab, maka aku tidak akan ragu mengatakan pada mereka apa yang kau lakukan dulu!" ancam pria itu.


Renata mengumpat, sial. Hidupnya benar-benar tidak tenang selama pria itu masih hidup. Mau tidak mau, Renata menghubungi pria itu walau dia tahu pada akhirnya pasti uang yang pria itu inginkan.


"Bisakah kau tidak meneror aku sepanjang waktu? Kau benar-benar membuat aku muak!!" ucap Renata.


"Jangan marah seperti itu, aku hanya membutuhkan lima ribu dolar."


"Kali ini saja, aku benar-benar butuh. Jika bisnis yang aku jalani berjalan lancar maka aku tidak akan meminta uang lagi padamu," ucap pria itu.


"Sial, kau dan kakakku tidak jauh berbeda. Aku sudah mengirim uang tiga kali untukmu dan jika aku mengirimkannya lagi, Abraham pasti akan curiga maka pada saat dia tahu maka tamat riwayatku!"


"Tidak perlu khawatir, Renata. Dia tidak akan tahu, aku akan tetap tutup mulut dan tidak mengatakan pada salah satu dari meraka apa yang telah kau lakukan dulu."


"Kau mengancam aku secara halus hanya untuk uang!" Renata benar-benar kesal.


"Salahkan kau yang memiliki rahasia dan beruntungnya aku melihat apa yang kau lakukan dulu."


"Sial, setelah lima ribu dolar ini jangan meminta lagi padaku dalam waktu dekat!" teriak Renata marah. Ponsel dilemparkan, dia benar-benar sial karena rahasia yang berusaha dia tutupi justru ada yang tahu. Mau Abraham dan pria itu, mereka berdua tidak boleh tahu karena sampai salah satu dari mereka tahu maka sudah dipastikan dia akan berakhir di salah satu tangan kedua penguasa itu.


Sebaiknya dia segera mendesak Abraham untuk menikahinya. Dia harus mendapatkan pria itu jika tidak usaha yang dia lakukan akan sia-sia. Renata kembali melihat penampilannya di cermin. Semua sudah sempurna. Renata menunggu sebentar dan setelah kedua orangtuanya datang, mereka segera bergegas menuju kediaman orangtua Abraham.

__ADS_1


Mereka disambut dengan ramah, namun Abraham tidak terlihat sama sekali. Renata menghampiri ibu Abraham yang sedang menuang minuman di dapur.


"Aunty, di mana Abraham?" tanyanya.


"Abraham sedang beristirahat di kamar. Dia bilang sedang lelah dan belum ingin membahas masalah pernikahan."


"Apa, kenapa?" tanya Renata.


"Aku tidak tahu, Sayang. Cobalah kau berbicara dengannya."


Renata meremas gaun yang dia gunakan, kenapa Abraham tiba-tiba berubah jadi seperti itu? Sikapnya benar-benar jadi aneh setelah dia kembali dari Australia. Apakah sudah terjadi sesuatu selama Abraham hilang? Entah kenapa dia merasa ada yang Abraham sembunyikan, dia akan mencari tahu akan hal ini dan pria itu bisa dia manfaatkan jika dia menginginkan uang lima ribu dolarnya.


Renata menuju kamar Abraham dan masuk ke dalam. Senyum menghiasi wajah saat melihat Abraham sedang tidur. Wangi parfum yang dia kenakan menggangggu indera penciuman Abraham sehingga membuatnya terbangun.


"Bau apa ini?" Abraham menutup hidung, mual.


"Maaf aku membangunkan tidurmu, Honey," Renata tersenyum dan semakin melangkah mendekat.


"Berhenti di sana, Renata!" pinta Abraham.


"Kenapa?" Renata benar-benar heran.


Abraham memegangi perutnya, wajah Renata yang biasanya cantik saat dia melihatnya hari ini tampak sedikit berbeda. Entah kenapa dia tidak suka dengan bau, penampilan dan juga wajah Renata. Dia merasa Renata bagaikan penyihir sehingga dia tidak mau melihatnya.


"Keluar dari kamarku, Renata. Aku sedang tidak sehat jadi tinggalkan aku sendiri," pinta Abraham.


"Tapi aku datang untuk membahas pernikahan kita!" sungguh dia tidak terima Abraham mengusirnya seperti itu.


"Kau ingin mendengar hal baik atau hal buruk? Jika kau memaksa maka aku akan melakukan apa yang sedang aku rasakan di suasana hatiku yang sedang buruk ini bahkan aku akan mengakhiri hubungan kita jika kau tetap memaksa!" ucap Abraham sinis.


"Tidak, jangan! Aku akan keluar dan tidak akan mengganggu!" Renata keluar dari kamar dengan perasaan kesal.


Abraham kembali tidur, hanya itu saja yang dia inginkan hari ini. Semoga saja rasa mual dan sakit kepala yang dia rasakan tidak dia rasakan setelah dia tidur selama satu hari.

__ADS_1


Renata benar-benar kesal di luar sana. Dia harus mencari tahu apa yang telah terjadi dengan Abraham selama di Australia. Entah kenapa dia merasa ada wanita lain dan jika sampai terbukti ada, maka dia tidak akan membiarkan wanita itu merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Seperti yang pernah dia lakukan dulu, dia juga akan melakukannya lagi untuk menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.


__ADS_2