Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Putri Yang Sudah Ternoda


__ADS_3

Acara penyambutan berjalan dengan meriah. Kedua keluarga itu berbincang, membicarakan hari pernikahan. Vanila hanya menunduk, mendengarkan apa yang dibahas oleh keluarganya dan juga keluarga calon suaminya. Dia tidak mau ikut campur karena hari pernikahan itu tidak akan pernah ada tapi bagaimana jika pemuda yang hendak menikah dengannya tidak keberatan dengan kehamilannya?


Vanila melihat ke arah sang calon suami, pria itu tersenyum mendapati Vanila sedang melihatnya. Oh, tidak. Dia bisa melihat jika pemuda itu tidak keberatan dengan pernikahan mereka. Bagaimana jika dugaannya benar jika pemuda itu tidak keberatan dengan kehamilannya?


Firasat buruk, Vanila terlihat was-was. Dia benar-benar takut hal itu terjadi karena keinginannya untuk bebas tidak mungkin dia dapatkan. Vanila menunduk, berpikir sedangkan keluarganya sangat heran karena Vanila tidak menjawab padahal mereka sedang bertanya.


"Vanila, kenapa kau diam saja?" tanya kakaknya.


"Vanila?" Ibunya juga memanggil.


"Oh, hm. Maaf, aku tidak menyimak," ucap Vanila pura-pura tidak enak hati.


"Kami sedang membahas hari pernikahanmu. Bagaimana jika diadakan minggu depan, semakin cepat semakin baik," ucap ibunya.


"Benar, kau bisa langsung ikut kami ke istana," ucap wanita yang akan menjadi ibu mertuanya.


"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Vanila.


"Tidak, rencana pernikahan ini memang sudah lama jadi memang sudah seharusnya kau menikah!" ucap Norman.


"Benar, kami mendengar kau pergi belajar sehingga pernikahan ini tidak bisa dijalankan jadi kami rasa sudah saatnya karena kau sudah kembali," ucap calon ibu mertuanya lagi.


Vanila tersenyum, jadi selama ini keluarganya menyembunyikan pelarian dirinya? Tidak heran, tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh keluarganya. Sekarang dia jadi takut, bagaimana jika keluarganya meminta janin yang sedang dia kandung saat ini digugurkan agar pernikahan itu tetap bisa berjalan. Dia jadi ragu untuk membahas hal ini, jujur rasa takut muncul di hati.


"Se-Sebelum itu, bolehkah aku berbicara dengan Dean secara pribadi?" pinta Vanila.


"Tentu saja boleh, itu sangat bagus. Kalian memang harus saling mengenal satu sama lain untuk saling mengenal," ucap calon ibu mertuanya.


"Terima kasih," Vanila beranjak, saatnya mengungkap kebenaran. Jantung Vanila berdegup kencang saat dia mengajak Dean menuju sebuah ruangan. Para penjaga berjaga di depan ruangan, para pelayan menghidangkan makanan dan minuman untuk mereka dan berdiri di sisi ruangan.

__ADS_1


Vanila belum berbicara, matanya melihat sisi ruangan di mana para pelayan berada. Dia ingin berbicara berdua saja tanpa ada yang mendengar dan dia harap Dean membatalkan pernikahan mereka setelah mendengar keadaannya.


"Bisakah kalian semua keluar?" pinta Vanila pada para pelayannya.


"Tapi, Putri?" mereka tampak ragu.


"Keluarlah, aku ingin berbicara secara pribadi dengan calon suamiku!" ucap Vanila.


Para pelayan saling pandang lalu mereka keluar dari ruangan sesuai dengan permintaan Vanila. Suasana kembali hening, Vanila meneguk minuman hangatnya sebelum mulai berbicara dengan calon suaminya.


"Aku dengar kau pergi belajar, apa benar?" tanya Dean.


"Memang benar, aku belajar banyak hal yang menyenangkan," jawab Vanila. Gelas teh diletakkan, ekspresi wajahnya terlihat serius.


"Di mana kau belajar?" tanya Dean. Dia ingin tahu lebih banyak tentang calon istrinya yang cantik.


"Aku belajar banyak hal, aku belajar bagaimana mencintai seseorang. Aku balajar menikmati kehidupanku!" ucap Vanila.


"Aku memang tidak suka, Dean. Apa kau tidak keberatan menikahi wanita yang tidak kau cintai sama sekali?  Apa kau bisa hidup dengan wanita yang tidak kau kenal lalu tiba-tiba hadir di dalam hidupmu?"


"Tidak, aku tidak keberatan. Bagiku cinta akan tubuh seiring berjalannya waktu. Aku putra mahkota, aku harus menikah dengan seseorang yang sederajat denganku karena aku harus memberikan penerus untuk kerajaan dan tentunya penerus itu harus dihasilkan oleh wanita yang sederajat denganku dan kau, adalah calon istri yang sangat cocok untukku," ucap Dean.


"Tapi putri ini sudah ternoda, apa kau benar-benar tidak keberatan?" Vanila menatap Dean dengan serius, untuk melihat ekspresi wajahnya.


"Apa maksud ucapanmu, Vanila?" tanya Dean tidak mengerti.


"Sebelumnya aku minta maaf padamu, Dean. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak pantas untuk menjadi pendamping hidupmu, aku sudah tidak pantas melahirkan seorang pengeran untukmu karena aku sudah tidak suci lagi," ucap Vanila.


"Hanya karena hal itu, aku tidak keberatan. Aku bukan mencadi wanita yang masih suci, aku mencari wanita yang pantas menjadi istri dan juga ibu dari anak-anakku."

__ADS_1


"Terima kasih, aku sangat tersanjung tapi aku harap kau membatalkan pernikahan kita karena aku benar-benar tidak panas menjadi ratumu."


"Sudah aku katakan, aku tidak keberatan, Vanila. Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita karena tidak ada lagi yang pantas selain dirimu. Jika hanya ini saja yang hendak kau bicarakan maka aku merasa ini bukanlah hal yang terlalu penting. Ayo kita keluar, kita kembali membahas pernikahan kita dengan  keluarga kita," Dean beranjak. Dia kira Vanila hendak membahas hal penting atau ingin saling mengenalkan diri tapi ternyata hanya hal itu saja yang hendak dia bahas.


Dean melangkah menuju pintu, Vanila diam saja dan menunduk. Sarung tangan yang ada di tangan diremas, dia masih diam sampai langkah Dean sudah tinggal beberapa langkah lagi dari pintu.


"Aku hamil, Dean. Aku tidak bisa menikah denganmu," ucap Vanila pelan namun Dean dapat mendengarnya.


"Apa?" Dean terkejut, langkahnya terhenti. Pria itu berbalik, melihat ke arah Vanila dengan tatapan tidak percaya.


Vanila mengangkat wajah dan tersenyum, Dean terlihat shock mendengar perkataannya.


"Aku sedang hamil, sebab itu putri yang sudah ternoda ini tidak pantas untukmu," ucap Vanila lagi. Dia harap Dean mau membatalkan pernikahan mereka dan setelah ini, dia harus menghadapi kemarahan keluarganya.


"Apa kau tidak sedang menipu aku, Vanila?" Dean melangkah mendekatinya dengan tatapan tajam. Dia tidak percaya Vanila Elouis sudah hamil karena dia tahu, Norman selalu menjaga adiknya bagaikan mutiara yang tidak mungkin di rusak oleh orang lain.


"Tidak, inilah yang ingin aku bicarakan denganmu. Sudah aku katakan jika aku tidak pantas menjadi pendamping hidupmu dan aku tidak pantas melahirkan seorang pangeran untukmu karena dirahimku ini sudah ada sebuah kehidupan jadi aku mohon padamu, tolong batalkan pernikahan kita," pinta Vanila.


"Jadi selama ini kalian menipu aku?" teriak Dean marah.


Teriakannya terdengar sampai keluar sana, para penjaga dan pelayan yang berdiri di depan ruangan terkejut mendengar teriakan Dean. Tidak saja para pelayan dan juga penjaga, teriakan Dean juga didengar oleh Norman yang saat itu memang ingin menghampiri mereka berdua.


"Aku tidak menipu, aku memang tidak menginginkan pernikahan ini," ucap Vanila seraya beranjak.


"Jadi kau sengaja mengandung anak pria lain agar kita tidak jadi menikah?" Dean terlihat marah. Ekspresi wajahnya terlihat menakutkan akibat emosi.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Norman masuk ke dalam ruangan dan mendapati suasana yang begitu tegang.


Vanila terkejut melihat kakaknya yang masuk secara tiba-tiba. Norman melihat Vanila lalu melihat ke arah Dean. Mereka berdua tidak bersuara, Vanila bahkan menunduk karena takut.

__ADS_1


"Jawab, apa yang kalian bahas dan apa maksud dari ucapan mengandung anak dari pria lain?" tanya Noman. Dia mendengar ucapan Dean karena dia sudah berdiri di depan pintu.


Kaki Vanila gemetar, dia bahkan jatuh terduduk karena takut. Habislah dia kali ini, hukuman atau apa pun pasti akan dia dapatkan setelah ini.


__ADS_2