
London, rasanya sudah lama meninggalkan kota itu untuk melarikan diri namun kini dia kembali lagi menginjakkan kakinya ke kota itu. Kali ini dia datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dia tahu kehidupan nyaman yang pernah dia nikmati tidak akan kembali lagi tapi dia tidak akan membiarkan kehidupan nyaman yang pernah dia rasakan direbut oleh siapa pun sekalipun seorang putri raja walau kehidupan nyaman itu tidak mungkin dia nikmati lagi.
Abraham tidak boleh menjadi milik orang lain, dia tidak rela. Kali ini dia akan membuat Abraham kehilangan orang yang dia cintai dan Norman juga akan merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya sehingga mereka berdua hancur.
Dengan wajahnya yang berubah, dengan penampilannya yang tidak akan dikenali oleh siapa pun dan dengan bantuan seseorang yang terpikat dengan wajah baru yang dia miliki dia akan mendapatkan kemenangan. Ternyata dia mendapatkan keuntungan besar setelah merubah wajahnya namun dia tidak akan tinggal diam membiarkan siapa pun mengambil posisi yang seharusnya menjadi miliknya.
Renata berada di sebuah makam, dia sudah berdiri di makam sahabat lama yang berakhir di tangannya. Tentunya itu adalah makam Emely. Dia memang sengaja mengunjungi makam Emely begitu kembali, berbicara dengan orang mati dan mengatakan jika sebentar lagi Emely akan memiliki teman agar Emely senang..
"Apa kabarmu, Emely?" Renata diam, seperti menunggu jawaban dari Emely.
"Ah.. Aku lupa jika kau sudah mati dan tidak bisa menjawab pertanyaanku lagi" ucapnya. Senyum licik menghiasai wajah, dia kira tidak akan ada Emely kedua yang mengganggu kehidupannya namun dia tidak menduga jika ada Emely yang menghancurkan segalanya.
"Tidak perlu khawatir, Emely. Sebentar lagi kau akan memiliki teman yang akan menemanimu di tempat ini. Aku akan mengirim seseorang yang akan menemanimu dan dia tidak berbeda jauh dengan dirimu. Salahkan kau yang tidak mau mengenalkan aku dengan Norman, kau sungguh serakah ingin memiliki mereka berdua. Seandainya kau memperkenalkan aku dengan Norman, maka kau tidak akan mati seperti ini. Kita akan tetap menjadi teman baik, kau mendapatkan Abraham dan aku bersama dengan Norman. Jika kau melakukan hal itu, maka aku sudah mendapatkan kehidupan yang aku inginkan yaitu menjadi seorang ratu tapi apa yang terjadi?" Renata tersenyum sinis, semua yang terjadi memang gara-gara Emely.
"Kau benar-benar serakah, Emely. Padahal Abraham juga memiliki segalanya tapi kau begitu serakah. Lihat aku sekarang? Aku harus jadi jal*ng dan semua yang terjadi akibat keserakahanmu. Tunggulah, sebentar lagi aku pasti akan membawa teman untukmu!" Vanila Elouis, tunggu saja. Sekalipun dia adik Norman, tidak akan dia lepaskan.
Renata masih berada di tempat itu cukup lama dan setelah merasa cukup, dia pergi dari tempat itu Tujuannya adalah rumah yang dia tinggali dulu dengan Abraham. Dia ingin melihat apakah Abraham masih menempati rumah itu atau tidak meskipun dia merasa hal itu mustahil tapi tidak ada salahnya mencoba.
Lagi pula dia tahu beberapa Villa yang dimiliki oleh Abraham, dia juga tahu di mana rumah kedua orangtua Abraham. Dia bisa mencari mereka pelan-pelan, mereka tidak akan tahu keberadaannya terutama Vanila Elouis yang tidak mengenalnya sama sekali.
Renata mulai pergi, melakukan aksi pertamanya namun rumah yang pernah dia tempati dulu dengan Abraham terlihat sepi. Tidak mungkin, apa Abraham sudah menjual rumah itu?
"Sial!" setir mobil dipukul, rumah itu benar-benar sudah dijual oleh Abraham. Semua gara-gara Jasson, jika bukan gara-gara pria itu, dia tidak akan mengalami hal seperti ini.
Sekarang dia harus mencari tempat tinggal baru Abraham, sebaiknya dia kembali untuk menyusun rencana.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuannya, nama samaran yang dia gunakan untuk kembali tercium oleh anak buah Norman. Kabar itu pun sudah didapatkan oleh Norman, tentunya itu bukan kabar baik karena adik dan keponakannya berada di London. Kabar itu pun akan dia sampaikan pada Abraham.
Abraham sedang berada di kantor saat Norman hendak memberinya kabar itu, istrinya berada di rumah kedua orangtuanya saat ini. Abraham menjawab panggilan dari Norman tanpa menunda karena dia merasa ada yang tidak beres.
"Ada apa, Norman?" tanyanya.
"Dengar, aku curiga Renata sudah kembali ke London menggunakan nama samaran," ucap Norman.
"Apa kau mendapatkan rupa wajahnya?" tanya Abraham.
"Untuk itu, tidak. Anak buahku mengirimkan beberapa lembar foto yang dicurigai sebagai Renata tapi aku belum memastikan apakah salah satu foto itu adalah wajahnya atau bukan."
"Kirimkan aku fotonya, Norman. Walau belum pasti tapi tidak menutup kemungkinan salah satu foto yang kau miliki adalah wajah yang dia gunakan!"
"Tidak perlu, orang-orangku sudah cukup. Aku akan menjaga Vanila dan kau teruslah mencari tahu rupa busuknya!" ucap Abraham.
"Baiklah, aku percaya padamu, Abraham," dia yakin Abraham mampu menjaga Vanila. Lagi pula adiknya tidaklah selemah yang dikira karena pelatihan keras yang dia jalani di istana tidak mungkin sia-sia.
Setelah berbicara dengan Norman, Abraham memilih pulang. Selain menjaga Vanila dan putri mereka, dia juga harus menjaga kedua orangtuanya karena tidak menutup kemungkinan kedua orangtuanya pun diincar oleh Renata.
Jangan sampai dia menjaga yang satu namun melupakan yang lainnya. Kemungkinan apa saja bisa terjadi, jadi dia harus waspada menjaga keluarganya.
Ibunya sangat heran karena Abraham kembali lebih cepat. Abraham juga terlihat terburu-buru dan terlihat khawatir.
"Ada apa, apa telah terjadi sesuatu?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Sekarang juga kaian harus pindah, Mom!"
"Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya ibunya tidak mengerti.
"Bertanyanya nanti saja, bereskan semua barang-barangmu dan Daddy, kita pergi dari sini!"
"Kenapa terdengar ada yang kau khawatirkan, Abraham? Apa telah terjadi sesuatu sehingga kau meminta kami untuk segera pindah? " tanya ayahnya pula.
"Renata sudah kembali, Dad. Aku tahu ini bukan hal baik untuk kita. Aku tidak ingin kalian terluka akibat kelakuan jahatnya jadi aku ingin kalian ikut aku untuk sementara waktu sampai aku dan Norman menangkapnya. Situasi tidak aman selama dia belum kami dapatkan jadi segeralah bereskan barang-barang kalian, kita pergi. Dia tahu rumah ini jadi sangat berbahaya untuk kalian berdua!" jelasnya.
"Apa?" ibunya terkejut, kini dia pun terlihat kahwatir.
"Sebab itu bergegaslah, jangan membuang waktu. Jangan memberinya peluang untuk mengetaui keberadaan kita. Setidaknya dia membutuhkan waktu untuk mencari kita dan waktu itu bisa kami manfaatkan untuk menangkapnya."
"Baiklah, yang Abraham katakan sangat benar. Ayo kita bersiap-siap," ucap ayahnya.
"Mana Vanila?"
"Di kamar," ucap ibunya.
"Segera, Mom. Ambil barang-barang yang penting saja!" ucap Abraham seraya melangkah menuju kamar yang selalu dia tempati.
Meski apa yang didapatkan oleh Norman belum begitu pasti tapi waspada terhadap situasi sangat diperlukan. Kali ini dia tidak akan membiarkan Renata menang. Kejadian belasan tahun yang lalu tidak boleh terulang kembali dan dia tidak akan membiarkan hal itu terulang apalagi Vanila harus menjadi korban seperti Emely.
Dia pun sudah bersumpah pada Norman akan menjaga adiknya maka dia akan menepati sumpah yang dia ucapkan apalagi hubungannya dengan Norman sudah membaik setelah mereka berselisih paham selama belasan tahun. Jadi dia tidak akan membiarkan Renata menyakiti keluarganya walau seujung kuku saja.
__ADS_1