Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Libatkan Aku


__ADS_3

Anatasya menangis tanpa henti, Vanila tampak gelisah karena Abraham belum juga kembali padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Abraham tidak pernah pulang selarut itu tanpa kabar, dia benar-benar khawatir.


Kedua orangtua Abraham pun menunggu dengan cemas, namun Vanila meminta mereka untuk beristirahat. Bagaimanapun mereka sudah tua dan memiliki penyakit.


Vanila juga sudah berusaha menghubungi namun saat itu Abraham sedang sibuk dan tidak mengindahkan ponsel yang berbunyi. Dia pun tidak langsung menghubungi istrinya karena sangat berbahaya berbicara dengan Vanila di saat Sonny sedang menyerang apalagi dia harus waspada kareka bisa saja ada yang menyadap ponselnya sehingga keberadaan Vanila diketahui. Segala kemungkinan bisa saja terjadi jadi dia harus waspada.


Saat itu Abraham membawa Sonny ke sebuah tempat karena Sonny akan dikurung di sana untuk beberapa saat. Tempat itu tentu saja miliknya, tidak akan ada yang tahu keberadaan Sonny sekalipun Renata karena Renata tidak pernah tahu akan keberadaan tempat itu.


Sonny mengumpat dan memaki ketika dia ditarik masuk, dia didorong masuk ke dalam sebuah kurungan yang seperti penjara. Dia dikunci di dalam sana, dia juga tidak akan bisa keluar dengan mudah. Tidak ada yang peduli dengan teriakannya, sebuah rantai digunakan untuk mengunci jeruji besi itu.


"Lepaskan aku dari sini!" teriak Sonny marah.


"Kau tidak akan bisa lepas, Norman sedang menuju kemari dan pada saat itu kau akan tahu siapa yang telah membunuh adikmu. Aku tidak akan menjelaskan apa pun karena percuma!" ucap Abraham.


"Kalianlah yang telah membunuh adikku, jangan menuduh yang lain!" teriak Sonny.


"Sungguh lucu, aku tidak mau membuang banyak waktu denganmu karena percuma!"


"Lepaskan aku, apa kau juga akan membunuh aku setelah kau membunuh Emely?" teriak Sonny.


Sonny menendang jeruji besi dengan kemarahan dihati. Rantai yang digunakan juga ditarik namun apa yang dia lakukan sia-sia. Abraham melangkah pergi, tidak mempedulikan teriakan Sonny. Sudah dia duga akan percuma jadi dia tidak akan membuang tenaga. Abraham mengambil ponsel yang berbunyi, celaka. Dia mengabaikan panggilan dari Vanila sedari tadi. Semoga saja Vanila tidak marah dan pintu tidak dikunci sehingga dia harus tidur di luar.


"Kenapa kau belum juga pulang, Abraham?" tanya Vanila. Akhirnya dijawab juga karena dia sudah sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya.


"Sorry, Sayang. Ada kejadian yang tidak teduga saat pulang," suara Vanila terdengar khawatir, dia jadi merasa bersalah. Namun dia harus waspada sehingga tidak punya pilihan mengabaikan panggilan dari istrinya.


"Apa yang terjadi?" tiba-tiba firasatnya buruk.


"Kita bicarakan saat aku sudah kembali tapi tidurlah terlebih dahulu, jangan menunggu aku," ucap Abraham. Dia bisa mendengar tangisan putrinya karena Ana masih saja menangis, dia menebak Vanila kelelahan menenangkan putri mereka yang rewel.


"Baiklah, cepatlah kembali," ucap Vanila.

__ADS_1


Pembicaraan mereka berakhir, Abraham meninggalkan tempat itu. Beberapa anak buah diperintahkan untuk menjaga Sonny dengan baik. Pria itu tidak boleh lepas karena dia adalah petunjuk penting untuk menemukan keberadan Renata.


Mau lari ke mana pun, dia dan Norman pasti bisa menemukan Keberadaan Renata. Tinggal menungu waktu, dan dia harap tidak lama agar Renata tidak terlalu lama menikmati waktunya.


Vanila masih menunggu sambil menenangkan Anna yang masih saja belum berhenti menangis. Akhir-Akhir ini Anna memang sedikit rewel, mungkin suasana baru yangg membuatnya seperti itu. Vanila berbaring di atas ranjang sambil menyusui Anna. Dia sudah begitu mengantuk sehingga dia tertidur bersama dengan putrinya.


Abraham baru kembali, dia jadi iba melihat istrinya yang kelelahan. Seandainnya Sonny tidak menyerang mungkin dia sudah kembali untuk membantu Vanila menenangkan putrinya yang rewel namun apa yang terjadi memberikan keuntungan.


Vanila benar-benar pulas, dia tidak tahu Abraham menggendong putri mereka dan memindahkan Ana di ranjang bayi. Ana tidak menangis, bayi manis itu tampak tertidur lelap karena lelah menangis dan mengantuk.


Setelah memindahkan putrinya, Abraham naik ke atas ranjang. Baju Vanila diturunkan, Abraham memeluk dan mencium dahi istrinya.


Renata sudah dekat, jangan sampai Renata bisa menyakiti Vanila walau dia tahu Vanila tidak seperti Emely. Dia harus tetap waspada menjaga keluarganya.


"Kenapa baru kembali?" Vanila membuka matanya yang terasa berat.


"Ada sedikit masalah, Vanila. Tiba-tiba ada yang menyerang."


"Aku tidak apa-apa, tidak perlu khawatir."


Vanila tampak lega dan kembali berbaring. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya.


"Jadi, siapa yang menyerangmu?"


"Kakak Emely, dia mennyerang karena dia kira Emely mati akibat perbuatanku dan Norman."


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Dengar, kami menebak jika kakak Emely dimanfaatkan oleh Renata. Renata pasti menipu dan menghasutnya oleh sebab itu tiba-tiba dia datang dan berkata ingin mencari keadilan atas kematian Emely," jelas Abraham.


"Bukankah Emely sudah meninggal belasan tahun yang lalu? Kenapa baru sekarang?"

__ADS_1


"Itulah sebabnya aku berkata jika Renata telah menghasutnya dan memanfaatkan dirinya tapi dengan begini kami bisa mengetahui wajah palsu Renata. Aku sudah menangkap pria itu, kami akan menginterogasinya setelah Norman tiba."


"Kakak mau datang?"


"Yeah, kami akan menangkap Renata bersama!"


"Libatkan aku, aku sangat ingin memukul wajah palsunya sampai babak belur!" tiba-tiba dia jadi bersemangat.


"Kenapa jadi kau yang bersemangat?"


"Aku sangat ingin memukulnya. Jangan sampai dia bertemu denganku, dia pasti akan babak belur!" ucap Vanila.


"Kau benar-benar putri yang nakal!" Abraham mencium wajah istrinya, tangannya bahkan masuk ke dalam dan menyentuh dada istrinya.


"Stop, dadaku sakit!" ucap Vanila seraya menahan tangan suaminya.


"Kenapa?"


"Ana menangis tiada henti, dia juga tidak mau minum asi. Sekarang kedua dadaku bengkak dan sakit. Aku mau memompa asinya terlebih dahulu!"


"Ini keahlianku jadi serahkan padaku!" baju Vanila dinaikkan ke atas dan benar saja, kedua dadanya terlihat membengkak.


"Hei, apa yang mau kau lakukan? Akh...!" Vanila menutup mulut, jangan sampai Ana terkejut dan terbangun. (Sisanya anu sendiri ye..😁)


Walau sudah melewati malam melelahkan, namun tidak menghentikan Abraham menyenangkan istrinya. Rasa kantuk yang Vanila rasakan pun tiba-tiba pergi akibat rasa nikmat yang diberikan oleh Abraham.


Mereka menikmati waktu mereka namun tidak dengan Renata. Dia kembali ke rumah dan terlihat panik. Kekalahan Sonny sungguh tidak terduga. Dia kira sudah menemukan sekutu yang kuat untuk membantunya membunuh Vanila Elouis, ternyata dia salah besar.


"Dasar bodoh!" teriaknya marah. Sonny benar-benar gegabah, dia kalah begitu saja. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak mungkin merubah wajahnya lagi. Lagi pula dia tidak memiliki uang lagi untuk melakukan operasi.


Vanila Elouis, dia hanya butuh wanita itu saja. Sepertinya dia harus memancing Vanila keluar. Yeah... Memancingnya lalu membunuhnya tapi bagaimana caranya? Sebaiknya dia mencari cara untuk bertemu dengan Vanila, dia tidak akan muncul di hadapan Abraham. Sekalipun Sonny sudah tertangkap, dia masih memiliki banyak akal licik. Membunuh Vanila Elouis lalu pergi dari kota itu untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2