Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Pencuri Ciuman


__ADS_3

Mereka sudah selesai makan, Vanila sungguh tidak menduga makanan yang dibuat oleh Abraham tidaklah buruk. Benar yang pria itu katakan, sudah banyak yang berubah.


Vanila membersihkan piring kotor yang ada di atas meja namun Abraham melarang dan mengatakan jika dia bisa melakukannya. Vanila hendak mencuci piring tapi Abraham kembali melarangnya.


"Tinggalkan itu semua, aku yang akan membereskannya!" ucap Abraham.


"Tidak, kau sudah memasak maka aku yang harus mencuci!"


"Tidak perlu, Vanila. Pergilah temani putri kita, kau sudah terlalu lama meninggalkan dirinya. Aku akan mencarimu setelah selesai!" ucap Abraham.


"Baiklah, tapi jangan kira apa yang kau lakukan sudah bisa menarik perhatianku!" ucap Vanila sinis.


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin melakukannya untukmu," ucap Abraham.


"Bagus, jika begitu buatkan minuman hangat untukku dan buatkan sup kelelewar!" ucap Vanila asal.


"What? Sup macam apa itu?" Abraham terkejut mendengar permintaan gila Vanila.


"Sup kelelawar bagus untuk menambah asi!" ucapnya seraya berlalu pergi. Sesungguhnya apa yang dia katakan tidaklah benar. Dia benar-benar asal bicara namun Abraham menganggap ucapan itu serius.


Apa dia harus keluar dan menangkap kelelawar di atas pohon? Tidak, jangan sampai ada yang mengira dia hantu penunggu pohon tua.


Abraham membersihkan piring kotor sambil memikirkan cara mendapatkan kelelewar tapi apa Vanila bisa memakannya? Oh, tidak. Dia merasa aneh, beruntungnya saat itu dia tidak menginginkan sup kelelawar. Jangan katakan sup kelelawar adalah makanan khas dari Swedia tapi itu tidak mungkin.


Vanila masuk ke dalam kamar dan berbaring bersama putrinya yang sedang tidur, tatapan mata tidak lepas dari wajah putrinya yang manis. Sebuah ciuman lembut dia berikan sebelum Vanila beranjak dan melangkah menuju ke balkon kamar. Di sana ada sebuah kursi malas, berbicara dengan Abraham berdua di sana sepertinya bukan ide buruk tapi sesungguhnya dia enggan karena dia tidak tahu apa yang bisa mereka bicarakan.


Vanila termenung, tatapan matanya tidak lepas dari kegelapan malam. Setelah berbicara dengan Abraham, apakah dia harus kembali dengan pria itu ke London dan menikah dengannya? Tidak bisa, jika hal itu harus terjadi pun dia tidak akan memberi kemudahan pada Abraham untuk membawanya dan putrinya pergi.


"Kenapa kau duduk di sini?"


Vanila sedikit terkejut dan berpaling sesaat namun dia kembali memalingkan wajahnya.


"Tolong ambilkan baju hangatku," pintanya.

__ADS_1


"Di mana?" Abraham berjalan mendekat dan meletakkan minuman yang dia bawa ke atas meja.


"Lemari," jawab Vanila acuh tak acuh. Dia sengaja memerintah Abraham karena dia ingin melihat seberapa lama Abraham bisa bertahan dengan sikap menyebalkan yang dia buat-buat. Setidaknya dia harus tahu sampai sejauh mana keseriusan pria itu.


"Jika dingin bukankah lebih baik duduk di dalam saja? Bagaimana jika kau sakit? kau akan kesulitan menjaga Anatasya."


"Tidak, bukankah ada kau? Apa kau tidak bisa menjaga putrimu sendiri?Jika kau tidak bisa maka sebaiknya kembali ke London dan tinggallah di rumah nyamanmu!"


Abraham diam, apa Vanila sedang mengetes dirinya? Vanila tersneyum, sebuah ide pun muncul. Ingin membawanya dan Ana kembali, tidak semudah itu.


"Baiklah, akan aku ambilkan," ucap Abraham.


Vanila kembali berpaling melihat ke arah Abraham yang sudah masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju hangat untuknya. Minuman hangat diambil, tatapannya kembali kosong. Dia sudah mengambil keputusan, mungkin setelah ini dia akan bersikap menyebalkan.


"Apa ini pakaian hangatmu?" tanya Abraham setelah mendapatkan pakaian hangat yang ada di dalam lemari.


"Tidak jadi, itu milik Marion!" ucap Vanila sinis.


"Bagaimana mungkin milik Marion bisa berada di dalam lemari pakaianmu?"


"Kau?" kedua tangan sudah mengepal erat, kenapa tiba-tiba dia merasa sedang menghadapi mertua yang cerewet? Oh, dia harus ingat. Vanila memang sedikit berbeda.


"Kenapa, marah?" Vanila melihat ke arahnya, ingin melihat apakah pria itu marah atau tidak.


"Tidak," Abraham tersenyum, sabar. Saat dia sudah menjadi pemenangnya, dia akan memperhitungkan semua yang Vanila lakukan tapi sayangnya dia harus lebih banyak bersabar setelah ini.


"Bagus, ingat jangan terlalu manis!" Vanila tersenyum dan memalingkan wajahnya, sungguh menyebalkan.


Abraham berlalu pergi untuk membuat minuman kembali. Dia tahu Vanila sengaja agar dia kehilangan kesabaran dan membencinya. Apa pun yang Vanila lakukan, dia tidak akan mundur, benar-benar tidak akan mundur.


Segelas minuman hangat kembali dibawa, dia harap Vanila tidak mengeluhkan minuman itu lagi karena tidak menyenangkan harus mondar mandir hanya untuk segelas minuman.


"Kali ini tidak akan manis," ucap Abraham, gelas minuman pun diletakkan namun Vanila tidak menjawab karena dia tertidur tanpa sadar.

__ADS_1


"Vanila, kau mendengar aku, bukan?"


Abraham mendekat, duduk di sisi Vanila tapi Vanila tertidur dengan pulas sampai tidak menyadari kehadiranya.


Senyum terukir di bibir, tangan Abraham sudah berada di pipi Vanila dan mengusapnya perlahan. Sudah lama, benar-benar lama dia tidak melakukan hal seperti itu.


Tangan Abraham bergerak dari pipi ke bibir, ludah ditelan dengan susah payah saat tatapan matanya jatuh pada bibir ranum milik Vanila. Sudah lama tidak merasakannya, dia bahkan sudah lupa bagaimana sensasinya.


Sedikit saja, apakah boleh? Tanpa pikir panjang, Abraham sudah menunduk dan mendekatkan bibir mereka berdua. Jantungnya berdebar, kenapa jadi dia yang gugup? Entah kenapa dia jadi merasa sedang melakukan sesuatu yang berbahaya padahal dia hanya ingin mencuri satu ciuman dari Vanila.


Bibir mereka sudah dekat, Abraham memaki dalam hati karena degupan jantungnya yang begitu keras. Jangan sampai Vanila terbangun dan dia gagal lalu ketahuan.


"Cepat, Abraham!" ucapnya dalam hati.


Abraham menahan napas, saat bibir mereka sudah menempel. Yeah, sukses. Dia segera melepaskan bibir Vanila karena dia butuh bernapas. Satu ciuman yang menyiksa namun dia jadi ingin lagi karena dia merasa tidak cukup.


Abraham kembali mendekatkan wajah, siap mendapatkan ciuman kedua. Kali ini harus sedikit lama namun sayangnya, mata Vanila terbuka saat jarak wajah mereka sudah begitu dekat.


"Mau apa kau?" teriak Vanila sambil menutup mulutnya.


"Oh, hm. Nyamuk, aku ingin memukul nyamuk!" Abraham pura-pura memukul nyamuk, semoga saja Vanila percaya.


"Tidak perlu pura-pura!" Vanila mendorong tubuhnya dan beranjak. Dengan lengannya, Vanila mengusap bibirnya. Apa pria itu melakukan sesuatu?


"Aku tidak berbohong, Vanila. Aku sudah membawakan minuman untukmu," Abraham juga beranjak.


"Tidak butuh!" Vanila masuk ke dalam dan terlihat kesal, sedangkan Abraham mengusap dada. Hampir saja ketahuan.


Vanila naik ke atas ranjang dan menarik selimut. Lebih baik dia tidur saja tapi awas saja besok. Dia akan membuat pria itu menyesal karena sudah mencarinya.


"Apa kita tidak jadi bicara?" tanya Abraham saat sudah berada di dalam kamar.


"Pergi dan bicaralah dengan nyamuk betina!" ucap Vanila kesal.

__ADS_1


Abraham terkekeh, kakinya sudah melangkah mendekati ranjang karena dia ingin mencium putrinya. Vanila berpaling dan berbalik, dia tidak mau melihat wajah pria itu. Jangan sampai dia mimpi buruk. Matanya terpejam namun otaknya sedang merencanakan sesuatu yang licik. Kepergian Marion akan dia manfaatkan dengan baik dan pria itu, dia harap tidak lari dari rumahnya sambil menangis lalu berteriak memanggil ibunya. Tunggu saja besok, dia benar-benar sudah tidak sabar.


__ADS_2