
Vanila belum juga menjawab, dia bimbang dan belum bisa mengambil keputusan. Mereka berdua sedang makan malam saat itu, tidak ada yang berbicara sama sekali. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring saja, suasana di antara mereka kembali canggung.
Vanila tidak mengatakan apa pun, dia bagaikan bisu mendadak. Tentunya hal itu membuat Abraham tidak senang, dia tidak suka mereka kembali seperti musuh yang tinggal satu atap.
Vanila sudah selesai, piring kotornya dibawa ke wastafel. Abraham beranjak dan mengikutinya, Vanila terkejut karena saat berbalik dia menabrak tubuh Abraham yang berdiri di belakangnya.
"Kenapa kau diam saja, Vanila? Apa ada yang salah dalam perkataanku?"
"Ti-Tidak!" jawab Vanila seraya memalingkan wajahnya.
"Lihat aku!" dagu Vanila diangkat, sehingga mereka berdua saling tatap.
"Aku tidak suka situasi ini kembali lagi padahal aku ingin kita semakin dekat setelah aku mengatakan semuanya. Katakan padaku kenapa kau diam saja seperti ini? Jika ada perkataanku yang salah, aku minta maaf padamu."
"Bukan begitu, Abraham. Mengenai permintaanmu, aku tidak tahu harus menjawab apa," ucap Vanila.
"Tidak perlu terburu-buru, Vanila," Abraham mendekatkan wajah mereka dan memberikan kecupan lembut di pipi.
"Aku tidak memintamu menjawab malam ini juga, pikirkanlah baik-baik. Aku juga masih ingin berada di tempat ini, menikmati masa liburanku dan selama aku berada di sini, aku akan menunjukan padamu jika aku serius sehingga perasaan bimbang yang kau rasakan tidak ada lagi."
"Apa kau berencana lama berada di tempat ini?"
"Yeah, tapi tidak menutup kemungkinan aku akan pergi secara tiba-tiba jika terjadi sesuatu di London. Jadi aku ingin kau memikirkan apakah kau mau menikah denganku dan menetap di London atau tidak?"
"Aku akan memikirkannya tapi aku tidak bisa langsung menjawab karena kau tahu, kehidupanku sudah nyaman di sini. Aku tidak kekurangan apa pun, aku juga memiliki sebuah bar yang harus aku pikirkan."
"Baiklah, aku harap kau memberikan jawaban yang memuaskan."
Vanila menggangguk, jawaban memuaskan? Dia tahu jawaban yang diinginkan oleh Abraham namun dia tidak bisa memberikan jawaban itu begitu saja.
"Aku yang akan membereskan semuanya, pergilah temani Anatasya. Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu nanti," ucap Abraham.
Lagi-Lagi Vanila mengangguk, tangan Abraham sudah berada di wajah Vanila dan mengusapnya perlahan. Rasanya ingin mencium bibir Vanila tapi jika dia lakukan, apakah Vanila akan marah?
"Bolehkah aku mencium bibirmu?"
__ADS_1
Wajah Vanila memerah, kenapa harus bertanya? Dia jadi cannggung karena ditanya seperti itu.
"Pertanyaan bodoh!" ucapnya seraya mendorong tubuh Abraham menjauh. Vanila berlari pergi dengan wajah memerah, Abraham mengumpat. Benar-Benar pertanyaan bodoh. Seharusnya dia cium saja tanpa bertanya. Jika bukan karena khawatir Vanila akan marah, maka dia tidak akan bertanya.
Vanila masuk ke dalam kamar, dan berdiri di balik pintu. Kedua tangan berada di wajahnya yang terasa panas, jangan sampai Abraham melihatnya seperti itu.
Sebaiknya dia mencuci wajah, jangan terlalu banyak berpikir. Memangnya apa yang dia harapkan?
Saat Abraham masuk ke dalam kamar dengan segelas minuman, Vanila sedang berkirim pesan dengan Bilt dan berbicara dengannya. Vanila tampak canggung saat Abraham duduk di sisinya. Dia jadi salah tingkah apalagi tatapan Abraham tidak lepas darinya.
"Ke-Kenapa melihat aku seperti itu?"
"Aku perhatikan kau sudah banyak berubah," ucap Abraham.
"Tentu saja, aku sudah menjadi seorang ibu."
"Bukan itu, Vanila," Abraham mengambil ponsel yang ada di tangan Vanila lalu meletakkannya di atas meja dan setelah itu, kedua tangan Vanila diangkat dan sebuah ciuman mendarat di sana.
"Kau terlihat semakin cantik dibandingkan dua tahun lalu," ucapnya.
"Aku tidak menipumu, Vanila," tangannya kini berada di wajah, kali ini dia tidak akan bertanya lagi.
Mata Vanila melotot saat Abraham memberikan kecupan di bibirnya. Napas Vanila tertahan, tatapan matanya bahkan tidak berpaling dari wajah Abraham.
"Aku benar-benar merindukan dirimu," tubuh Vanila ditarik mendekat, Abraham memeluknya dengan erat.
"Setelah kepergianmu, aku merindukan kebersamaan kita. Aku rindu masa-masa yang kita lewati, aku sangat ingin mengulanginya lagi. Kenangan itu bahkan masih bisa aku ingat dengan jelas, aku tidak melupakan kebersamaan kita walau sedetik pun. Aku mulai menjadi gila, aku melakukan apa yang kita lakukan dulu. Piknik di bawah pohon tapi aku sendirian dan terasa hampa karena kau tidak ada di sisiku!" ucapnya.
"Kenapa? Bukankah itu hanya kenangan biasa saja?"
"Sudah aku katakan, kenangan yang kita lalui memang singkat tapi kenangan itu begitu berkesan bagiku bahkan tidak ada kenangan yang begitu membekas seperti kenangan yang telah kita lalui sehingga membuat aku ingin melakukannya lagi dan lagi, tentunya bersama denganmu."
Vanila tersenyum, kedua tangan terangkat untuk memeluk Abraham. Padahal dia yang menginginkan kenangan itu tapi dia tidak menyangka kenangan singkat yang mereka lewati bersama justru begitu membekas bagi Abraham.
Abraham terkejut, setelah sekian lama ini kali pertama kali Vanila memeluknya lagi. Pelukan Abraham semakin erat, dia tidak akan melepaskan Vanila, tidak akan pernah.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskanmu, Vanila. Tidak akan pernah. Jika kau tidak mau ikut denganku kembali ke London, maka aku akan menculikmu seperti yang kau lakukan padaku dulu dan aku akan membawamu serta Anatasya kembali ke London!" ucapnya.
"Apa kau juga akan membuat aku hilang ingatan?"
"Yeah, tapi saat di ranjang saja!"
"Mesum!" senyuman masih terukir di bibir, mereka masih berpelukan sampai membuat Vanila canggung.
"Malam ini, bolehkah aku tidur dengan kalian berdua?" tanya Abraham.
"Apakah perlu undangan?"
"Jika begitu aku akan menganggap jawaban darimu adalah sebuah persetujuan."
Vanila tidak berkata apa-apa lagi, wajahnya tersipu saat Abraham mengusap wajahnya dengan perlahan. Rasanya ingin menarik selimut dan menyembunyikan diri di sana namun sayangnya tidak bisa.
"A-Aku mau tidur," ucapnya gugup.
"Sttss," Abraham mendekatkan bibir mereka dan memberikan kecupan ringan. Mereka berdua saling pandang, namun tidak lama karena Abraham kembali mendekatkan bibir mereka berdua.
Kali ini dia tidak bertanya karena dia yakin Vanila juga menginginkannya. Kedua mata Vanila terpejam, Abraham tidak melewatkan kesempatan itu. Sudah lama tidak melakukannya, bibir Vanila dicium dengan penuh naf*su. Lidahnya bahkan masuk ke dalam, membelai lidah Vanila sehingga membuat Vanila membalas belaian lidahnya.
Tiba-Tiba saja ciuman Abraham semakin panas. Vanila mendorong tubuhnya, tidak. Tidak secepat itu dia memberikan dirinya lagi pada Abraham walau tidak dipungkiri dia menginginkan lebih dari pada ciuman namun dia tidak akan membuat kejadian itu cepat terjadi.
Otot tubuh Abraham terasa menegang. Dahaga, dia menginginkan lebih dari pada itu apalagi dia sudah lama tidak pernah menyalurkan hasratnya lagi. Rasanya ingin menerkam saat itu juga, Vanila bahkan sudah dibaringkan dengan perlahan namun tangisan Anatasya menghancurkan semuanya.
Vanila segera menangkan putrinya dan memberikan asi, Abraham tampak frustasi. Dia bahkan melihat Ana yang sedang menikmati asi dengan tatapan iri.
"Tolong tarik selimutnya, Abraham," pinta Vanila.
"Sudahlah," ucapnya. Selimut di tarik, Abraham berbaring di sisi Vanila dan memeluknya.
"Ada apa?" tanya Vanila heran.
"Tidak ada apa-apa," sebuah ciuman diberikan di pipi, Abraham memeluk Vanila namun tangannya memegangi tangan putri kecilnya. Malam ini, setelah sekian lama dia benar-benar senang apalagi setelah selesai memberi Ana asi, Vanila masuk ke dalam pelukannya. Semoga semua itu tidaklah mimpi dan semoga setelah ini mereka selalu seperti itu.
__ADS_1