
Tidak kembalinya Renata membuat Evan khawatir. Sudah beberapa hari berlalu, dia sudah mencari keberadaan adiknya tapi dia tidak mendapatkan kabar keberadaan Renata sama sekali. Dia sudah mencoba menghubungi adiknya namun tidak ada yang menjawab. Dia bahkan didatangi oleh petugas karena mobilnya ditemukan di sisi jalan.
Rasa curiga memenuhi hati, dia curiga adiknya menghilang karena ulah Abraham karena sebelum Renata menghilang, Renata mengejar seseorang. Oleh sebab itu Evan memutuskan untuk mencari Abraham untuk menanyakan keberadaan adiknya. Selain pria itu, dia yakin tidak ada lagi yang tahu.
Abraham sedang berada di kantor saat Evan datang. Memang hanya di sana saja Evan bisa bertemu dengan mantan calon adik iparnya itu. Dia harap bisa mendapatkan petunjuk karena Renata juga pernah mengatakan jika Abraham sedangĀ memburu dirinya. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua, dia harap hari ini dia mengetahuinya.
Evan disambut dengan Baik, Abraham memang tidak membencinya. Dia juga ingin Evan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Renata. Evan dan kedua orangtuanya memang harus tahu kejahatan yang telah dilakukan oleh Renata. Dia tidak akan menutupi apa pun dan dia yakin Renata tidak mungkin mengatakan kejahatan yang telah dia lakukan pada keluarganya.
Abraham tidak terkejut sama sekali, dia sudah menduga Evan akan datang mencarinya untuk bertanya akan keberadaan Renata. Dia pun tidak akan ragu menjawab apa yang akan ditanyakan oleh Evan nanti.
"Ada angin apa yang membawamu ke sini, Evan?" tanya Abraham basa basi. Dia bahkan hanya melihat ke arah Evan sejenak lalu melihat pekerjaannya lagi.
"Tidak perlu berpura-pura tidak tahu, Abraham. Seharusnya kau tahu tujuanku datang kemari!" ucap Evan sinis. Semenjak hubungan Abraham dan Renata hancur, sifat Abraham memang sudah tidak bersahabat lagi.
"Wah, apa kau kira aku peramal yang bisa tahu apa saja? Aku mana tahu kau datang untuk apa!" ucap Abraham mencibir.
"Tidak perlu berpura-pura, segera jawab aku. Di mana Renata?" tanya Evan tanpa basa basi lagi.
"Kenapa kau mencari Renata di sini? Apa kau pikir aku penjaganya? Kami sudah tidak memiliki hubungan apa pun jadi jangan mencarinya di sini karena aku tidak tahu!" Abraham berpura-pura karena dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Evan.
"Aku tahu kau sudah menangkapnya, Abraham. Selain kau tidak ada yang lainnya jadi lepaskan adikku, sekarang!" pinta Evan.
"Sungguh lucu, Evan. Aku menangkapnya? Apa kau kira aku mau mengeluarkan uang untuk membeli makanan untuknya? Tidak, Evan. Aku pun tidak mau memberikan tempat untuknya setelah apa yang dia lakukan padaku!"
"Jika bukan kau yang menangkap Renata, lalu siapa?" tanya Evan.
"Kenapa kau tidak mencarinya di penjara yang ada di Swedia? Mungkin saja dia berada di sana," Abraham melihat ke arah Evan saat mengatakan hal itu.
Evan terkejut, apa dia tidak salah dengar? Kenapa Renata harus berada di penjara yang ada di Swedia? Apakah adiknya benar-benar sudah melakukan kesalahan besar sehingga dia melarikan diri dari kejaran Abraham?
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kenapa dia berada di penjara negara Swedia?" tanya Evan ingin tahu.
"Apa kau tidak tahu kejahatan apa yang dilakukan oleh adikmu selama ini, Evan? Apa dia tidak pernah mengatakan kejahatan apa yang dia lakukan pada kalian semua?"
Evan tidak saja terkejut tapi kini dia terlihat shock. Kejahatan, apa adiknya sudah membuat kejahatan yang fatal? Sungguh dia dan kedua orangtuanya tidak tahu akan hal ini tapi kejahatan apa yang sudah dilakukan oleh Renata?
"Kejahatan apa yang dia lakukan sehingga dia dibawa ke Swedia?" tanya Evan.
"Dia sudah membunuh wanita yang dicintai oleh Norman Elouis jadi jika kau ingin mencari maka carilah dia di penjara kerajaan!" dengan begini tidak akan ada dendam di antara mereka karena memang itu yang terjadi. Jika Evan dan kedua orangtuanya tidak percaya maka mereka bisa pergi ke Swedia untuk membuktikannya.
"Apa?" Evan semakin shock. Renata membunuh wanita yang disukai oleh Norman Elouis? Dia sungguh tidak menduga adiknya bisa melakukan perbuatan keji itu.
"Itu hanya sebagian kejahatan yang dia lakukan, Evan. Kau bisa pergi ke Swedia untuk mencari tahu lebih banyak!"
Evan tidak bisa berkata-kata, dia keluar dari ruangan Abraham dengan ekspresi tidak percaya. Dia tahu Renata licik tapi dia tidak tahu adiknya sudah membuat kesalahan besar seperti itu. Kedua orangtuanya pasti akan terkejut mendengar kabar ini tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun karena Renata sudah melakukan sebuah kejahatan besar apalagi yang dia lakukan berhubungan dengan anggota kerajaan.
Setelah kepergian Evan, Abraham beranjak. Dia mau pulang karena dia ingin bertemu dengan istri dan putrinya. Dulu dia sangat mencintai Renata, dia menduga mereka akan menjadi semua istri dan membangun rumah tangga namun semua justru berubah. Pertemuannya dengan Vanila Elouis, adalah anugerah baginya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Abraham duduk di sisi Vanila, sebuah ciuman diberikan di pipi.
"Bersantai dengan Anna," Vanila melihat ke arah suaminya sejenak, senyumannya pun mekar.
"Bagaimana jika kita pergi piknik bertiga. Kita bisa menikmati alam di Villa jika kau mau."
"Piknik?"
"Yes, di belakang Villa ada sebuah danau. Aku rasa kau akan suka."
"Baiklah, tapi setelah kita kembali dari Swedia," ucap Vanila.
__ADS_1
"Kau mau kembali ke sana?"
"Tentu saja, kak Norman akan dilantik sebentar lagi karena dia akan mengganti Daddy sebagai raja."
"Wow, aku sungguh tidak tahu akan hal ini."
"Aku juga mendapat kabar dari Mommy tadi, dia meminta aku untuk kembali denganmu. Kau tidak keberatan, bukan?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Kita akan berada di sana sedikit lama sebelum kita benar-benar repot," Abraham memeluk Vanila dari samping dan kembali memberikan ciuman di pipi istrinya.
"Repot, apa kau ingin mengajak aku keliling dunia?" tanya Vanila tidak mengerti.
"No, Baby. Kita pasti akan repot setelah adik Anatasya berada di sini," ucap Abraham seraya mengusap perut istrinya.
"Apa? Anna masih kecil, apa kau gila?" protes Vanila.
"No, aku sudah memiliki seorang putri jadi sekarang aku menginginkan seorang putra!"
"Tapi kita bisa menunggu Anatasya sedikit dewasa, Abraham."
"No, tahun depan aku sudah harus memiliki seorang putra!" ucap Abraham tanpa mau dibantah.
"Oh my God, apa kau serius?"
"Yes, aku serius!"
"Baiklah, kau harus bekerja keras untuk mendapatkannya!"
"Aku memang sedang bekerja keras tapi kali ini, aku tidak mau mengidam lagi!"
__ADS_1
Vanila terkekeh, dia sudah mendengar apa yang terjadi pada Abraham dari ibu mertuanya. Dia sih berharap Abraham yang kembali merasakan, dengan begitu dia tidak akan tersiksa saat sedang hamil. Abraham mengambil Anatasya dari gendongan istrinya. Mereka masih berada di sana. Angin sejuk yang berhembus membuat Ana tertidur namun mereka tidak juga beranjak karena mereka ingin seperti itu untuk sesaat.