Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

Sebuah pesawat pribadi sudah mendarat di bandar udara Heathrow, London. Abraham baru saja r


tiba, dia memutuskan pergi tanpa mengatakan apa pun pada Vanila. Dia juga tidak mengerti kenapa dia melakukan hal itu, mungkin karena rasa curiga dan juga karena Vanila sudah menipunya.


Entah apa yang harus dia lakukan tapi dia yakin dia pasti akan kembali ke tempat itu setelah Gaston menemukan pelaku yang telah memukul dan membuatnya hilang ingatan. Pada saat itu, maka dia akan menemui Vanila namun mengenai hubungan mereka, dia sungguh tidak tahu harus bagaimana.


Selama perjalanan kembali, Abraham lebih banyak diam. Tidak banyak yang dia bicarakan apalagi dengan Renata. Dia bahkan tidak mengijinkan Renata tidur dengannya. Mungkin ini terjadi karena rasa bersalahnya pada Renata karena dia sudah tidur dengan gadis lain di saat sang tunangan sedang mencari keberadaannya.


Tapi apa yang dia lakukan justru membuat Renata heran. Abraham enggan menjawab pertanyaannya yang ingin tahu apa yang telah terjadi dan kenapa Abraham bisa pergi namun tidak ada jawaban yang dia dapatkan. Selain tidur, Abraham juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan termenung, sungguh aneh.


"Gaston, apa sebenarnya yang terjadi pada Abraham?" tanya Renata pada sang asisten karena dia tahu, selain Gaston, Abraham tidak akan mengatakan apa pun selain pada pria itu.


"Tidak ada, Nona. Tuan baik-baik saja, dia memang pergi untuk menenangkan pikirannya," ucap Gaston.


"Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu sehingga dia harus melakukan hal seperti itu?"


Gaston menggeleng, dia tidak bisa asal bicara karena dia sudah mendapat perintah untuk tidak banyak bicara. Renata semakin dibuat penasaran, walau Abraham telah kembali tapi dia tidak seperti Abraham yang biasanya. Dia merasa Abraham menyembunyikan sesuatu dan tentunya hal itu membuat Renata menerka-nerka karena dia khawatir, Abraham seperti itu karena dia sudah tahu rahasia yang dia sembunyikan.


Memiliki rahasia benar-benar tidak nyaman karena sejak pria itu menghubunginya dan mengancamnya, dia benar-benar takut Abraham mengetahui rahasia besar yang dia sembunyikan selama ini sehingga membuat Abraham seperti itu.


Pesawat pun sudah berhenti, Abraham beranjak dari tempat duduknya. Renata menghampirinya dengan terburu-buru dan memeluk lengannya.


"Jangan tinggalkan aku," ucapnya manja.


"Jalanlah sendiri, aku sedang tidak ingin diganggu," Abraham melepaskan tangan Renata yang melingkar di lengannya lalu berjalan pergi. Dia benar-benar belum memiliki minat untuk melakukan apa pun dengan sang tunangan. Dia tahu jika wanita itu pasti sangat dia cintai, sebab itu mereka bisa bertunangan tapi untuk saat ini dia sedang enggan dekat dengannya. Mungkin karena ingatannya yang belum sepenuhnya kembali.


"Abraham, ada apa denganmu?" teriak Renata. Dia kembali melangkah mendekati Abraham.


"Kau tidak pernah memperlakukan aku seperti ini sebelumnya, tapi kenapa kau memperlakukan aku seperti ini? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Renata dengan nada kesal.


"Sudah aku katakan padamu, Renata. Aku tidak sedang ingin diganggu, apa kau tidak mendengarnya?" Abraham menatap Renata dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Renata melangkah mundur dan terlihat takut. Dia paling tidak mau membuat Abraham marah karena dia tahu konsekuensinya. Abraham kembali melangkah pergi, sedangkan Renata sudah tidak berani melangkah lagi. Dia bahkan menunduk sambil memendam kekesalan di hati apalagi saat Gaston melangkah melewatinya. Ini benar-benar memalukan.


Gaston mempercepat langkah, anak buah yang dia utus memberi laporan jika mereka sedang menyelidiki identitas Vanila namun ternyata di luar perkiraan karena tidaklah mudah. Identitas gadis itu seperti disembunyikan sehingga sang anak buah membutuhkan waktu lebih banyak untuk mencari informasi mengenai gadis itu. Oleh sebab itu dia harus mengatakan hal ini pada bosnya.


"Sir, mengenai informasi gadis bernama Vanila yang kau inginkan" ucap Gaston.


"Bicarakan nanti saat tidak ada Renata," ucap Abraham.


Gaston mengangguk. Abraham menghentikan langkahnya dan mengulurkan tangan ke arah Renata. Renata tersenyum dan segera berlari menghampirinya. Sepertinya dia yang terlalu berlebihan. Mungkin ada yang sedang dipikirkan oleh Abraham saat ini.


Renata menggenggam tangan Abraham dengan erat, tangan itu tidak boleh lepas dari pegangan tangannya. Renata juga memeluk lengan Abraham dan bersandar di lengannya dengan manja. Dia tidak berani mengatakan apa pun karena dia takut Abraham kembali marah.


Kepulangannya tentu disambut oleh ibunya yang sudah sangat mengkhawatirkan dirinya yang hilang secara mendadak. Sang ibu memeluknya begitu dia tiba di rumah tentunya sambil menangis bahagia karena putranya sudah kembali.


"Pergi ke mana saja kau, Abraham. Kenapa pergi secara tiba-tiba tanpa mengatakan apa pun. Apa telah terjadi sesuatu padamu?" tanya ibunya.


"Sorry, Mom," dia yakin wanita itu adalah ibunya.


Abraham melihat ke arah ayahnya, sepertinya mereka adalah kedua orangtuanya. Dia diam saja, tidak menjawab. Ibunya melihatnya dengan tatapan heran, kenapa Abraham tidak seperti biasanya?


"Ada apa denganmu, Abraham?" tanya ibunya.


"Tidak ada apa-apa, bolehkan aku beristirahat sebentar?"


"Tentu saja," Ibunya kembali memeluknya, "Mommy sangat senang kau sudah kembali," ucapnya.


"Maaf membuat khawatir."


"Baiklah, pergilah beristirahat,"


Abraham menggangguk, rumah itu terasa tidak asing. Kakinya mulai melangkah, dia ingat di mana kamarnya. Dia kembali mengingat banyak hal, apa saja yang dia lakukan di rumah itu. Sepertinya ingatannya akan segera kembali apalagi dia merasa serpihan memori yang hilang mulai dia ingat dengan perlahan.

__ADS_1


Renata mengikuti langkah Abraham menuju kamar, lagi pula mereka memang tidur berdua selama ini. Dia ingin melepas rasa rindu dengan sang tunangan dan membahas cincin yang dia temukan di tas milik Abraham saat dia menghilang.


Abraham terlihat tidak senang saat Renata mengikutinya masuk ke dalam kamar namun Renata memeluknya tanpa ragu.


"Aku sangat merindukanmu, Abraham. Apa kau tidak merindukan aku selama kau pergi?"


"Jangan seperti ini, Renata," Abraham berusaha mendorong tubuh Renata agar menjauh darinya.


"Kenapa? Apakah yang aku lakukan salah? Aku tunanganmu, Abraham. Sebelum kau pergi, kita saling mencintai dan kau tidak pernah memperlakukan aku seperti ini dan ini?" Renata mengambil kotak cincin yang selalu dia simpan di dalam tas.


"Waktu itu kau meminta aku berdandan yang cantik dan kau juga berkata jika kau akan memberikan kejutan untukku saat kau kembali," Kotak cincin dibuka, Renata memperlihatkan isinya pada Abraham, "Aku menemukan ini di antara barang-barang yang kau tinggalkan, apa kau berencana melamar aku waktu itu, Abraham?" Renata sangat berharap Abraham menjawab yes dan segera melamarnya.


Abraham memandangi cincin itu, dan menghela napas. Apa dia benar-benar berencana melamar Renata? Hal itu bisa saja terjadi mengingat hubungan mereka berdua.


"Kenapa kau diam saja, Abraham?"


"Kita bahas hal ini nanti, Renata," Abraham mengambil cincin yang berada di tangan Renata, "Karena rencana awal sudah gagal, jadi aku akan membuat rencana baru."


"Benarkah? Jadi kau akan tetap melamar aku?" Renata terlihat senang.


"Ya, tapi aku akan memikirkan rencana baru namun tidak sekarang dan aku ingin kau keluar karena aku ingin beristirahat!"


"Aku tidak sabar menantikannya, Abraham," Renata memeluknya kembali dengan perasaan bahagia. Pria itu memang miliknya dan akan tetap menjadi miliknya sampai kapan pun juga.


"Jika begitu aku akan keluar," Renata sedikit berjinjit dan memberikan kecupan di bibir kekasih tampannya.


Abraham tidak bergeming, dia masih merasa canggung. Dia tahu itu bukan ciuman pertama yang mereka lakukan apalagi setiap kali dia bercinta dengan Vanila, dia justru mendapatkan serpihan ingatan jika dia juga pernah bercinta dengan Renata.


Sekarang semua menjadi kacau, tapi dia akan mengambil keputusan nanti setelah Gaston mendapatkan informasi mengenai Vanila dan kenapa Vanila menipu dirinya. Memang selama ini Vanila mencurigakan dan misterius namun satu hal yang sedang dia curigai saat ini, entah kenapa dia merasa Vanila terlibat dengan apa yang dia alami oleh sebab itu Vanila menipu dirinya.


Dia harap tebakannya salah tapi bagaimana saat kebenaran itu terungkap, apa yang akan dia lakukan pada Vanila?

__ADS_1


__ADS_2