
Vanila sudah tidak pergi bekerja selama dua hari. Itu karena dia tidak bisa bangun dari tepat tidur. Kepalanya sakit luar biasa, setiap kali dia ingin beranjak dari tempat tidur pandangannya berputar bahkan dia merasa begitu mual.
Dia sangat ingin pergi ke rumah sakit dari dua hari yang lalu namun keadaannya tidak memungkinkan. Semoga saja hari ini dia bisa pergi untuk memeriksakan keadaannya karena dia tidak bisa cuti terlalu lama.
Karena Vanila tidak terlihat selama dua hari, Bilt memutuskan untuk datang melihat keadaannya. Tentunya sambil membawa makanan yang Vanila sukai. Bilt menebak keadaan Vanila jadi seperti itu karena dia terlalu sering menangis dan terlalu banyak makan. Dia beranggapan demikian karena Vanila suka makan banyak beberapa hari belakangan.
Bilt menghentikan laju motornya, makanan yang dia beli pun diambil dan setelah itu Bilt berlari kecil menuju rumah Vanila.
"Vanila, kau masih hidup, bukan?" Bilt memanggil sambil mengetuk.
"Tidak!" terdengar suara Vanila dari dalam namun pelan.
"Jika tidak cepat kau buka, aku akan menghabiskan makanan ini semua!" teriak Bilt lagi.
Tidak terdengar suara Vanila lagi, Bilt menunggu dan tidak lama kemudian pintu rumah terbuka. Wajah Vanila terlihat pucat, rambutnya berantakan. Dia bagaikan penyihir yang sudah lama tidak melihat matahari.
"Kenapa begitu lama? Hampir saja aku habiskan semua!" ucap Bilt.
"Sorry, kau bisa melihat keadaanku. Untuk jalan saja aku harus memegangi pria tampan apa lagi untuk berlari!"
"Pria tampan lagi, pria tampan lagi!" Bilt menjentikkan jarinya ke dahi Vanila.
"Aw, aku lagi sakit kepala jadi jangan menyentuh dahiku!" protes Vanila sambil memegangi dahinya.
"Salahmu, sebab itu jangan terlalu banyak menangisi pria yang tidak akan menjadi milikmu. Itulah sebabnya kau jadi seperti ini!"
Vanila tersenyum, sebenarnya dia sudah tidak menangisi Abraham lagi. Dia justru sedang merasa jika keadaannya itu diakibatkan sesuatu hal yang sangat dia inginkan. Semoga saja demikian karena dia sudah tidak menstruasi lagi. Tapi untuk memastikannya dia akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya.
Mereka berdua masuk ke dalam dan menuju dapur. Vanila sudah lapar, beruntungnya Bilt datang membawa makanan. Walau dia masih merasa mual saat mencium aroma makanan namun dia tetap bertahan agar Bilt tidak curiga dengan keadaannya.
"Apa kau tidak mau?" tanya Vanila.
"Tidak, semua itu untukmu!"
__ADS_1
"Terima kasih, Bilt," Vanila tersenyum, Bilt benar-benar sangat baik tapi kenapa tiba-tiba timbul perasaan jika mereka akan segera berpisah? Tidak, semoga saja tidak terjadi apa pun pada sahabat baiknya itu tapi jika bukan sahabat baiknya, kemungkinan mereka akan berpisah karena dia yang tertangkap.
"Sebaiknya pergi periksakan keadaanmu di rumah sakit agar kau cepat sembuh!" ucap Bilt.
"Aku memang akan pergi ke rumah sakit sebentar lagi," jawab Vanila.
"Apa perlu aku antar?"
"Tidak perlu, Bilt. Aku tidak mau merepotkan dirimu lebih dari ini. Aku bisa pergi sendiri menggunakan taksi."
"Apa kau yakin, Vanila?"
"Tentu saja aku yakin," jawab Vanila. Tidak saja tidak ingin merepotkan Bilt, dia juga tidak ingin Bilt tahu apa yang terjadi dengan keadaannya jika memang tebakannya tidak salah.
"Baiklah, jika ada apa-apa hubungi aku. Aku akan langsung datang membantumu."
"Tentu, terima kasih banyak."
"Jika begitu aku pergi dulu, aku mau pulang istirahat!" ucap Bilt.
Bilt terkejut, Vanila memeluknya dengan erat seolah-olah mereka akan berpisah dan tidak akan bertemu kembali.
"Ada apa denganmu?" tanya Bilt heran.
"Tidak, aku sangat beruntung memiliki sahabat sebaik dirimu. Ingatlah jika kau pernah memiliki sahabat menyebalkan seperti aku."
"Ck, jangan berbicara seolah-olah kita tidak akan bertemu lagi besok!" ucap Bilt dengan nada tidak senang.
"Terima kasih, Bilt. Aku tidak akan lupa jika aku memiiki sahabat baik seperti dirimu yang selalu membawakan makanan untukmu."
"Jangan berkata demikian, Vanila. Aku akan marah jika kau berbicara seperti itu lagi!"
"Baiklah, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena kau begitu baik."
__ADS_1
"Ck, segera habiskan makananya dan pergi tidur!"
"Tentu," Vanila melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, "Berhati-hatilah," ucapnya lagi.
Bilt mengusap kepala Vanila sebelum melangkah keluar. Vanila mengikutinya, karena dia ingin mengantar Bilt pergi. Vanila berdiri di depan pintu, dia juga melambaikan tangan ke arah Bilt. Kenapa perasaan jika akan terjadi sesuatu kembali dia rasakan?
Tidak, semoga saja apa yang dia khawatirkan tidak menjadi nyata. Semoga Bilt baik-baik saja namun apa yang dia khawatirkan sangat benar. Beberapa orang sudah menunggu Bilt, mereka bertugas mencegat untuk menangkap Bilt.
Bilt membawa motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Dia melewati jalan yang biasa dia lalui namun tanpa dia duga, dua mobil berada di tengah jalan. Puluhan orang berdiri di depan mobil dengan tongkat pemukul di tangan.
Laju motor Bilt terhenti, pemuda itu sangat heran melihat puluhan orang yang menghadangi jalan. Helm dilepaskan, Bilt turun dari atas motornya.
"Apa mau kalian? Menyingkir dari jalanku!" teriaknya.
Puluhan orang itu berpencar, mengelilinginya. Bilt tampak waspada, helm yang ada di tangan pun dicengkeram dengan erat. Dia akan menggunakan benda itu untuk melawan. Bilt melangkah berputar, untuk melihat apa yang hendak dilakukan oleh puluhan orang itu. Firasat buruk, sepertinya ada yang tidak beres dan dia bisa menebak siapa yang mengutus orang-orang itu.
"Menyingkir dari jalanku!" ucap Bilt lagi.
"Segera tangkap!" seseorang yang berada di belakangnya berteriak demikian.
Bilt mengangkat helm yang ada di tangan, teriakan puluhan pria itu terdengar lalu mereka menghajar Bilt menggunakan tongkat yang mereka bawa. Bilt melawan mereka menggunakan helm yang ada namun itu tidak cukup untuk melawan mereka.
Pukulan demi pukulan Bilt dapatkan. Punggung, lengan dan beberapa tempat tidak luput dari pukulan. Bilt masih berusaha bertahan namun satu pukulan kkeras yang dia dapatkan di kepalanya, membuat Bilt ambruk dan tidak sadarkan diri lagi.
"Bawa dia, cepat!!" perintah salah satu dari mereka.
Tubuh Bilt segera dimasukkan ke dalam mobil. Motornya disingkirkan ke sisi jalan lalu dia dibawa pergi ke sebuah tempat di mana dia akan dieksekusi nanti bersama yang lainnya.
Dua orang pria sudah mereka dapatkan. Tinggal yang wanita. Puluhan orang itu memecah diri menjadi dua kelompok, yang satu kelompok membawa tubuh Bily sedangkan yang satu kelompok lagi pergi untuk menangkap Vanila.
Sesuai dengan rencananya, Vanila akan pergi ke rumah sakit. Walau kepalanya masih terasa sakit tapi hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk pergi. Vanila masih berada di rumah, dia berdiri di depan cermin dalam keadaan setengah telanjang.
Vanila melihat perutnya yang terlihat sedikit berbeda dengan seksama. Kedua tangan bahkan mengusap perutnya dengan perlahan. Senyum menghiasi wajah, dia sudah tidak sabar melihat perutnya membesar. Tidak masalah buah hatinya tidak memiliki seorang ayah, dia tidak akan keberatan.
__ADS_1
Dia juga tidak akan mengganggu hubungan Abraham dengan tunangannya. Kebersamaan mereka yang singkat sudah cukup. Sebaiknya dia segera pergi ke rumah sakit. Dia harus mendapatkan beberapa vitamin karena besok dia harus bekerja. Mulai sekarang dia harus menabung untuk persalinan dan juga biaya lainnya.
Pakaian dikenakan, Vanila mengambil tasnya dan bergegas keluar dari rumah. Vanila terlihat ceria tapi dia tidak tahu jika ada yang mengawasi dirinya dan orang-orang itu pun mengikutinya. Dia juga tidak menyangka jika hari ini di mana dia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan telah tiba.