
Hotel tempatnya menginap saat itu menjadi tujuan Abraham. Dia ingat tempatnya, dia bahkan tidak menemukan kendala sama sekali saat menuju tempat itu. Abraham sudah berdiri di depan hotel, tidak salah lagi. Dia ingat ada yang memukul kepalanya sampai pingsan saat tengah malam.
Abraham melangkah mendekati hotel, kepalanya semakin sakit akibat serpihan ingatan yang terus bermunculan. Lobi hotel sudah dekat, dia ingat berapa nomor kamarnya saat dia menginap. Entah saat ini kamar itu sudah diisi oleh orang lain atau tidak, yang pasti dia harus memastikannya.
Kemunculannya membuat terkejut beberapa orang yang sedang berjaga di lobi dan tentunya itu adalah anak buah Abraham yang memang ditugaskan untuk selalu berada di sana karena bisa saja bos mereka tiba-tiba kembali dan ternyata benar saja. Mereka segera berlari menghampiri Abraham, salah satu dari mereka menghubungi sang asisten yang ada di dalam hotel.
"Sir!" Mereka semua memanggil secara serempak dan menunduk hormat.
Abraham terkejut, dia belum mengingat siapa mereka karena dia sedang berusaha mengumpulkan ingatan yang terus bermunculan. Tapi agar orang-orang itu tidak curiga dengan keadaannya, Abraham diam saja dan kembali melangkah masuk ke dalam hotel.
Sang asisten yang mendapat kabar itu segera bergegas turun. Tidak saja sang asisten, Renata juga bergegas turun ke bawah setelah mendapatkan kabar itu. Dia harap anak buah yang memberi informasi tidak salah, rasa bahagia memenuhi hati Renata. Dia sudah tidak sabar untuk segera tiba di bawah.
Yang tiba di bawah terlebih dahulu adalah sang asisten karena dia berada tidak jauh dari lantai lobi. Abraham hendak menghampiri resepsionis saat asisten pribadinya keluar dari lift. Tidak sulit menemukan sosok bosnya apalagi anak buah tadi mengikutinya.
"Sir!" sang asisten berlari ke arahnya dan terlihat senang.
Abraham melihat asistennya penuh selidik, samar-samar dia mengingatnya. Orang yang selalu bersama dengannya dan yang selalu menjalankan perintah yang dia berikan. Ya, dia adalah orang yang paling dia percaya dan dia mulai mengingatnya.
"Aku senang melihat anda baik-baik saja. Apa yang telah terjadi padamu, Sir?" tanya sang asisten.
"Hm, tidak," jawab Abraham. Dia sedang tidak ingin membahas apa pun, itu karena perasaannya yang tidak menentu dan juga pikirannya yang sedang kacau.
Sang asisten tidak bertanya lagi, kecurigaan jika bosnya sengaja pergi ternyata benar. Abraham meminta sang asisten untuk mengantarnya ke kamar di mana dia menginap, tentunya kamar itu ditempati oleh Renata selama dia berada di sana.
Renata keluar dari lift dengan terburu-buru, langkahnya terhenti saat melihat Abraham bersama dengan sang asisten dan juga anak buahnya. Air mata mengalir, Renata melangkah perlahan menghampiri Abraham dengan perasaan bahagia.
"Abraham," Renata memanggil dan tidak sanggup membendung kebahagiaan yang dia rasakan sehingga langkahnya semakin cepat.
__ADS_1
Mata Abraham melihat ke arah Renata. Ingatan akan wanita itu kembali dengan perlahan, Renata adalah tunangannya. Renata memeluk Abraham dengan erat, dia masih menangis akibat bahagia.
"Dari mana saja kau? Kenapa kau tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Apa kau sedang marah denganku?" tanya Renata.
"Tidak, aku hanya ingin menenangkan diri sebentar," dusta Abraham. Dia tidak akan mengatakan apa yang terjadi dengan dirinya karena dia butuh mengembalikan ingatannya lebih banyak namun yang sedang dia pikirkan saat ini adalah, Renata ternyata adalah tunangannya lalu bagaimana dengan Vanila?
Tidak itu saja yang sedang dia pikirkan karena saat ini dia sangat ingin tahu kenapa Vanila menipu dirinya dan pura-pura tidak tahu namanya. Dia pasti akan mencari tahu tapi sekarang, dia harus mengembalikan seluruh ingatannya dan setelah itu dia akan mencari tahu, kenapa Vanila melakukan semua itu dan apa alasannya.
"Baiklah, apa pun asalanmu pergi yang pasti aku sangat senang kau kembali lagi. Sekarang ayo kita pulang, ibumu sudah merindukan dirimu," ajak Renata.
"Pulang?"Abraham tampak linglung. Apa rumahnya tidak jauh dari tempat itu atau bagaimana?
Renata menatap Abraham dengan tatapan heran lalu dia melihat ke arah sang asisten. Mereka tampak heran melihat gelagat Abraham yang mencurigakan. Abraham tampak seperti asing, dia bahkan tidak terlihat senang saat melihat Renata padahal selama ini dia begitu mencintai Renata.
Renata juga merasa Abraham sangat berbeda, tidak seperti biasanya. Abraham akan memeluknya dengan penuh kasih sayang jika mereka jarang bertemu tapi sekarang, Abraham tidak menunjukkan hal itu sama sekali padahal mereka sudah berpisah lama.
"Tentu saja, ayo kita pulang," sebaiknya dia pulang terlebih dahulu sambil mencari tahu apa yang terjadi dan yang paling penting adalah, dia harus tahu siapa yangg telah memukul kepalanya sehingga membuatnya hilang ingatan.
Renata sangat senang dan memeluk Abraham dengan erat. Syukurlah pria itu sudah kembali, dia benar-benar khawatir Abraham tidak mau kembali lagi sehingga hubungan mereka berakhir. Jika sampai hal itu terjadi, keinginannya tidak akan pernah tercapai.
Abraham mendorong tubuh Renata dengan perlahan dan melangkah melewatinya, tentunya hal itu membuat Renata semakin heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Abraham pasalnya Abraham benar-benar tidak seperti dirinya saat ini.
"Antarkan aku ke kamarku!" pinta Abraham pada sang asisten.
"Yes, Sir!" sang asisten melangkah terlebih dahulu, sedangkan Abraham mengikutinya.
"Abraham, tunggu!" Renata mengejar lalu memeluk lengannya. Renata tersenyum manis saat Abraham melihat ke arahnya. Entah kenapa perasaan tidak suka terhadap Renata muncul di hati. Perasaan itu mungkin dia rasakan akibat ingatan yang belum sepenuhnya kembali.
__ADS_1
Sang asisten pun mengantar Abraham ke kamar di mana dia diculik. Abraham melangkah masuk, melihat-lihat kamar itu. Dia bahkan memejamkan mata untuk mengingat sesuatu. Malam sebelum dia diculik dia tidak bisa tidur lalu? Dia ingat pintu kamar di ketuk dan ketika dia membuka pintu ada tiga orang memakai topeng. Yeah... tiga orang dan salah satu dari mereka memukul kepalanya sebanyak dua kali.
Dia yakin ingatannya tidak salah, ternyata Vanila benar-benar menipunya selama ini tapi untuk apa? Tiba-Tiba saja dia curiga dengan gadis itu tapi sebelum dia mendapatkan kebenarannya, dia tidak akan asal menuduh.
"Renata, aku ingi berbicara dengan Gaston. Bisa kau keluar sebentar?" pinta Abraham.
"Kenapa? Biasanya kau tidak meminta aku keluar walau kau ingin berbicara dengannya," ucap Renata. Abraham benar-benar terlihat aneh.
"Bisakah kau tidak membantah?" Abraham menatap ke arah Renata dengan tatapan tajam sehingga membuatnya takut.
"Ba-Baiklah," dari pada membuat Abraham marah lebih baik dia keluar.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Sir?" tanya sang asisten setelah Renata keluar dari kamar itu.
"Malam itu ada tiga orang yang memukul kepalaku jadi aku ingin kau mencari tahu siapa ketiga orang itu," ucap Abraham.
"Apa? Apa sebenarnya yang terjaadi denganmu, Sir?"
"Jangan banyak bertanya, Gaston. Mereka sudah berani memukul kepalaku jadi aku tidak akan melepaskan mereka!"
"Sir, apakah akibat pukulan itu ingatanmu sekarang?"Gaston menghentikan ucapannya.
"Jangan katakan pada siapa pun, Gaston. Bahkan Renata sekalipun. Aku sedang mengumpulkan ingatanku jadi jangan sampai ada yang tahu!"
"Baik, Sir. Aku pasti akan segera mendapatkan apa yang kau inginkan."
"Bagus, satu lagi yang harus kau lakukan. Aku ingin kau mencari tahu seseorang untukku. Pergi ke bar waktu itu dan selidiki seorang bartender yang bernama Vanila untukku dan cari tahu ada motif apa sehingga dia berani menipuku!" dia harus tahu ini sehingga dia bisa mengambil keputusan, apa yang harus dia lakukan nanti apalagi dia curiga dengan Vanila.
__ADS_1