
Perjalanan mereka kembali memakan waktu yang cukup lama karena mereka terus berkendara tanpa jeda. Tentunya hal itu membuat Abraham dan Vanila kelelahan. Mereka berdua langsung tertidur begitu mereka tiba, mereka benar-benar butuh istirahat.
Hari ini Vanila berencana pergi ke bar untuk menemui Bilt. Dia ingin mengembalikan kunci kabin pada Bilt dan mengucapkan terima kasih padanya. Walau sangat singkat tidak sesuai dengan rencana awal tapi dia merasa kebersamaan mereka sudah sangat cukup apalagi kenangan-kenangan yang mereka lakukan berdua selama berada di kabin.
Tidak saja Vanila, Abraham juga sudah membuat sebuah keputusan yang tidak diketahui oleh Vanila. Semua itu karena rasa penasarannya pada Vanila yang harus dia tuntaskan.
Sinar terik matahari menerobos masuk melalui jendela dan menerpa wajah Vanila sehingga membuatnya kesilauan. Vanila membuka matanya yang masih terasa berat, ponsel diambil untuk melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang saat itu.
Ponsel diletakkan, Vanila memutar tubuhnya dengan hati-hati agar dia tidak mengganggu tidur Abraham yang sedang memeluknya saat ini. Vanila memandangi Abraham dalam diam, entah kenapa dia merasa jika dia tidak akan bisa memandangi wajah Abraham seperti itu lagi. Apa ini sebuah firasat jika mereka sudah akan berpisah?
Sepertinya sudah saatnya membuat surat wasiat walau dia tidak memiliki apa pun. Gaji bulan ini bisa dia wariskan untuk Bilt. Ponselnya juga bisa dia berikan untuk Bilt walau bekas. Beberapa barang pribadi yang mungkin tidak begitu berharga juga akan dia berikan pada Bilt. Semu akan dia berikan pada sahabat baiknya itu karena dia sudah banyak membantu.
Ck, apa yang sedang dia pikirkan? Apakah Abraham akan membunuhnya saat ingatannya kembali? Jika sampai hal itu terjadi maka dia tidak akan lari atau apa pun karena dia siap menanggung semua risikonya. Satu saja yang dia harapkan, Abraham melepaskan kedua sahabat yang membantu aksinya saat itu.
Tatapan matanya masih tidak lepas, perasaan jika mereka akan segera berpisah semakin dia rasakan. Entah besok, lusa atau besoknya tapi dia merasa benar-benar sudah sangat dekat jadi dia harus menikmati momen yang mungkin sebentar lagi tidak akan dia alami.
Cukup lama Vanila seperti itu, dia mulai beranjak karena dia ingin membuat makanan akibat perutnya yang lapar. Vanila beranjak dengan perlahan karena dia tidak mau membangunkan Abraham. Dia tahu Abraham yang paling lelah karena dia yang membawa mobil sampai mereka tiba.
Sebelum keluar dari kamar, Vanila memandangi Abraham sejenak. Rasanya enggan untuk keluar dari kamar namun perutnya lebih penting. Jangan sampai bibit yang sudah ditanam tidak jadi karena rasa laparnya. Vanila sudah berada di dapur, beberapa bahan makanan diambil namun dia justru lebih ingin melakukan sesuatu.
Baju yang dia kenakan diangkat, Vanila melihat ke arah perutnya yang rata. Senyum menghiasi wajah, kedua tangannya sedang mengusap perutnya seolah-olah dia sudah mengandung saja. Jujur dia sangat mengharapkan hal itu segera terjadi. Dia bahkan sangat yakin bayinya akan mirip dengan Abraham nanti karena bibir unggul dari pria menawan tidak boleh diremehkan.
Setelah puas berkhayal, Vanila menurunkan bajunya lagi. Senyum masih menghiasi wajah, dia yakin dia bisa membesarkan anaknya seorang diri tanpa bantuan siapa pun seandainya Abraham membencinya dan tidak mau bertemu dengannya lagi.
Semua tergantung Abraham, jika pria itu bisa memaafkan dirinya maka mereka bisa menjadi teman dan merawat anak mereka bersama karena dia tidak mau mengganggu hubungan Abraham dengan tunangannya setelah mereka kembali bersama. Cukup satu kali kesalahan yang dia lakukan dan dia tidak boleh melakukannya lagi karena dia tidak mau menghancurkan hubungan siapa pun.
__ADS_1
Sayuran sedang dipotong, Vanila terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang. Senyum kembali menghiasi wajahnya, dia juga menahan geli karena saat itu Abraham sedang menciumi lehernya tanpa henti.
"Geli," ucapnya sambil meletakkan pisau yang ada di tangan.
"Biarkan aku menciummu karena aku ingin kita seperti ini," Abraham tidak berhenti mencium Vanila bahkan kedua tangannya sudah berada di dalam baju dan meremas isinya. Dia merasa belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya, dia juga merasa tidak memiliki memori seperti itu bersama dengan wanita yang bernama Renata. Sesungguhnya kehidupan seperti apa yang dia jalani selama ini? Hari ini dia akan mencari tahu dan dia harap hari ini dia mendapatkan jawabannya.
Vanila tidak membantah, perasaan jika mereka akan berpisah sebentar lagi memenuhi hatinya. Sekalipun dia berusaha menepis apa yang dia rasakan, tapi perasaan itu justru semakin memenuhi hati.
"Sebentar lagi aku harus pergi, apa ada sesuatu yang kau inginkan, Rick?" tanya Vanila.
"Tidak, apa kau akan kembali seperti biasa?" tanya Abraham basa basi padahal dia sudah tahu.
"Tentu saja, maaf lagi-lagi aku harus meninggalkan dirimu sendirian di rumah."
"Hei, kenapa berkata seperti itu?" Abraham memutar tubuh Vanila hingga mereka berdua saling berhadapan.
"Jangan menyalahkan diri karena semua salahku," Vanila memeluknya. Semua memang karena salahnya yang telah menculik Abraham dan membuatnya hilang ingatan.
"Kenapa jadi kau yang menyalahkan dirimu, Vanila?" tanya Abraham tidak mengerti.
"Maafkan aku, aku minta maaf," Vanila menangis, tentunya hal itu membuat Abraham heran.
"Ada apa, kenapa kau jadi menangis?"
"Saat ingatanmu sudah kembali, kau boleh membenci aku. Kau boleh melupakan semua kenangan yang telah kita lakukan tapi satu hal yang aku inginkan, tolong maafkan aku."
__ADS_1
Vanila menangis terisak setelah mengatakan hal demikian karena dia tidak bisa menahan perasaan yang bergejolak di dadanya. Abraham benar-benar tidak mengerti tapi karena sikap Vanila yang seperti itu, kecurigaannya semakin kuat.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf," lagi-lagi Vanila berkata demikian.
"Jangan menangis, ini tidak seperti dirimu," ucap Abraham. Tangannya mengusap punggung Vanila dengan perlahan. Dia tidak berkata akan memaafkan Vanila karena dia tidak tahu kesalahan apa yang telah Vanila lakukan sehingga membuatnya seperti itu.
Vanila masih menangis. Semuanya dia tumpahkan saat itu juga karena lagi-lagi dia merasa jika ini adalah hari terakhir kebersamaan mereka berdua. Rasanya enggan melepaskan Abraham tapi harus dia lakukan bahkan bukan saja melepaskan pria itu dari pelukannya namun dia juga harus melepaskan pria itu untuk kembali kepada tunangannya.
Setelah selesai menangis, Vanila berpura-pura sudah lebih baik dan meminta maaf pada Abraham karena sudah membuatnya bingung. Saat seperti ini dia butuh Bilt. Hanya pria itu yang mengerti dirinya dan yang bisa membuat perasaannya tenang. dari pada terlalu tenggelam dalam perasaan bersalah dan kesedihan, lebih baik dia pergi menemui Bilt. Dia pasti sudah berada di Bar.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Abraham. Matanya tidak lepas dari ekspresi wajah Vanila karena dia ingin mencari sesuatu dari ekspresi wajahnya itu.
"Tentu saja, maafkan aku. Ini karena masa menstruasiku sudah datang sehingga membuat aku seperti ini. Maaf," ucap Vanila berdusta.
"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti."
Vanila tersenyum dan menyeka air matanya yang tersisa. Dia kembali membuat makanan dan setelah selesai menikmati makanan itu bersama, Vanila bersiap-siap untuk pergi.
Abraham berada di ruang tamu untuk menonton televisi saat Vanila keluar dari kamar. Vanila menghampiri Abraham dan memeluknya dari belakang, dia juga memberikan ciuman di pipi pria itu seolah-olah tidak terjadi apa pun sebelumnya.
"Aku pergi dulu," ucapnya.
"Berhati-hatilah," Abraham juga memberikan kecupan lembut di bibir Vanila.
Vanila melangkah keluar dengan perasaan berat, dia kembali melihat ke arah Abraham sebelum keluar dari rumah. Aneh, dia merasa sosok itu tidak akan dia lihat lagi saat dia kembali. Suara pintu yang tertutup terdengar karena Vanila sudah keluar walau dengan berat hati.
__ADS_1
Abraham segera beranjak dari sofa, televisi dimatikan dan sebuah topi yang dia sembunyikan di bawah bantal diambil. Abraham melihat keluar melalui jendela. Dia berdiri cukup lama dan setelah itu dia keluar dari rumah untuk mengikuti Vanila.