
Kabar pernikahan yang gagal berhembus bagaikan angin bertiup tanpa ada yang menghentikannya. Rumor sang putri sakit keras pun beredar, ada pula yang mengatakan sang putri yang tidak pernah terlihat itu tidak normal namun kabar yang paling membuat heboh adalah kabar jika sang putri sedang hamil.
Entah siapa yang menyebar rumor itu terlebih dahulu yang pasti tidak ada yang bisa menghentikannya sekalipun tembok istana begitu tinggi dan tebal.
Setelah kehamilannya sudah diketahui oleh keluarganya, Vanila dikurung di dalam kamar. Dia tidak boleh keluar dari kamar, jika dia ingin pergi dia harus mendapat ijin terlebih dahulu. Lagi-Lagi dia harus terkurung seperti dulu, hanya pelayannya saja yang masuk ke dalam kamar untuk melayaninya. Kakaknya tidak pernah masuk begitu juga dengan ayahnya bahkan Vanila merasa ibunya pun tidak akan menjenguknya karena kesalahan besar yang telah dia lakukan.
Vanila terbaring di atas ranjang, dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Begitulah kehidupannya, sebab itu dia menginginkan kebebasan. Norman sudah mengutus beberapa orang pergi ke Australia untuk mencari tahu dengan siapa saja Vanila berhubungan terutama pria. Dia pasti menemukan orang yang telah menghamili adiknya dan memukulnya sampai babak belur.
Seseorang membuka pintu kamarnya, Vanila tidak berpaling sama sekali. Dia tebak itu adalah pelayannya karena tidak mungkin kakaknya yang masuk tapi ternyata yang masuk adalah ibunya. Aliana tidak tega melihat putrinya yang terkurung seperti itu tapi dia juga tidak berdaya.
Dia sudah membujuk suaminya untuk tidak membuang putri mereka ke pengasingan namun keputusan sang suami sudah tidak bisa diganggu gugat dan keputusan itu bisa berubah jika Vanila bersedia menggugurkan janin yang dikandungnya.
Vanila hanya memiliki waktu satu minggu saja, jika dia menolak maka dalam waktu satu minggu dia akan segera dikirim ke tempat di mana hanya ada para wanita dan anak-anak yang mengidap penyakit aneh dan dia harus menjadi sukarelawan di sana selama diasingkan dan setelah dia menjalani tugasnya dengan baik dan masa pengasingannya sudah selesai maka dia akan dibawa kembali ke istana.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Aliana yang duduk di sisi ranjang.
"Kapan aku akan dikirim ke tempat pengasingan, Mom?" tanya Vanila.
"Tidak, kau tidak akan pernah pergi ke sana!" ucap ibunya.
"Tapi aku tidak bisa membunuh bayiku, Mom. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menggugurkannya," ucap Vanila lirih.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, Mommy sedang membujuk ayahmu. Lagi pula kau masih memiliki waktu satu minggu dan jika gagal, Mommy yang akan membantumu melarikan diri dan menyembunyikan keberadaanmu," ucap ibunya.
"Apa? Daddy akan marah jika Mommy melakukannya," Vanila melihat ke arah ibunya sejenak.
"Tidak apa-apa, kemarahan Daddy tidak akan lama. Lagi pula semua juga gara-gara kami. Sekarang Mommy tahu kenapa kau melakukan hal ini, seharusnya kau mendapatkan kebebasanmu tapi aku justru mendukung kakakmu jadi sekarang, Mommy akan membantumu mendapatkan apa yang kau inginkan. Lagi pula yang ada di perutmu saat ini adalah cucu pertamaku, aku juga tidak setuju kau menggugurkannya terlepas siapa pun ayah dari bayimu," ucap ibunya.
"Terima kasih, Mom," Vanila beranjak dan memeluk ibunya sambil menangis.
"Maafkan aku, sebagai putrimu aku tidak berguna. Aku hanya bisa mempermalukan kalian saja tapi aku benar-benar tidak ingin menikah. Sekarang aku memiliki sesuatu yang paling berharga di dalam diriku jadi aku ingin memperjuangkannya jadi ijinkan aku melakukannya agar hidup yang aku jalani ini lebih berarti. Aku sudah terkurung di dalam istana ini sepanjang hidupkua jadi satu saja permintaanku pada Mommy, ijinkan aku melahirkan anak ini dan membesarkannya. Sekalipun di pengasingan, aku tidak keberatan," pinta Vanila. Air mata mengalir dengan deras saat mengutarakan keinginannya.
Da tahu jika dia putri yang tidak berguna, dia sudah mempermalukan keluarganya tapi dia harap ibunya mengabulkan permintaanya.
"Bodoh, bukankah sudah Mommy katakan padamu? Mommy akan membantumu dan jika Daddy masih tidak mau mendengarkan perkataanku maka Mommy sendiri yang akan mengeluarkan kau dari istana ini."
"Jika begitu, kita tidak perlu menunggu waktu satu minggu. Kau bersiap saja, Mommy akan membantumu keluar saat ada kesempatan," ucap ibunya.
"Mommy yakin?" tanya Vanila seraya melepaskan pelukannya.
"Tentu saja," Aliana menghapus air mata putrinya dengan perlahan. Selama ini dia tidak pernah melakukan apa pun untuk putrinya, dia diam saja saat putrinya hidup terkekang tapi sekarang dia tidak akan tinggal diam.
"Sekarang kau tidak sendirian lagi. Mommy berdiri dipihakmu. Mau Norman atau ayahmu, mereka harus melawan Mommy jadi kau tidak perlu takut lagi"
__ADS_1
"Terima kasih, Mom," Vanila memeluk ibunya kembali. Kali ini dia merasa mendapat dukungan, tentunya dia sangat bersyukur ibunya mau membantunya.
"Sekarang jangan menangis lagi, jangan juga banyak berpikir karena tidak baik untuk kesehatan janinmu. Ayo ikut Mommy keluar, kita ambil makanan di dapur," ajak ibunya.
"Tapi aku tidak boleh keluar," Vanila tampak menunduk, pintu kamarnya bagaikan pintu terlarang yang tidak boleh dia lewati sama sekali.
"Tidak akan ada yang memarahimu, jika ada maka Mommy akan pasang badan. Ayo," ibunya beranjak dan memegangi tangan putrinya.
Vanila melihat ke arah pintu, dia tampak ragu. Aliana bisa melihat, ternyata untuk keluar dari kamar sendiri saja putrinya sampai takut seperti itu. Sekarang dia benar-benar sadar ternyata mereka yang terlalu keras sehingga membuat Vanila jadi seperti itu.
"Tidak apa-apa, Mommy ingin menghabiskan waktu dengan putri Mommy jadi tidak akan ada yang berani mencegah!" ucap ibunya meyakinkan.
Vanila menggangguk dan tersenyum, tatapan matanya melihat ke arah pintu sejenak sebelum dia beranjak. Ibunya kembali meyakinkan putrinya jika semua baik-baik saja, Vanila memberanikan diri untuk keluar bersama dengan ibunya. Semua tampak biasa, Norman tidak terlihat begitu juga ayahnya.
"Ayo, jangan takut," ibunya menariknya menuju dapur. Beberapa pelayan diperintahkan untuk menyediakan makanan kesukaan putrinya. Untuk pertama kali, mereka menghabiskan waktu seperti itu setelah Vanila dewasa.
Vanila bahkan menangis saat ibunya menyuapinya makan. Sungguh , dia mengingikan kehidupan seperti itu. Ibunya juga jadi menangis, sudah lama tidak melakukan hal seperti itu. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali mereka melakukan kegiatan sebagai ibu dan anak.
Norman yang secara kebetulan melihat hal itu diam saja, untuk kali pertama dia melihat adiknya tersenyum dengan ekspresi bahagia. Apa dia sudah begitu keras mendidik adiknya? Semua gara-gara trauma itu dan semua gara-gara baj*ngan itu. Norman mengusap wajah, mengingatnya saja dia benci.
Pria itu melangkah pergi, tidak mau mengganggu kebersamaan adik dan ibunya yang sudah pasti mereka tidak akan suka jika dia bergabung terutama adiknya karena dia tahu Vanila begitu membencinya. Tapi kesalahan yang dilakukan oleh Vanila tidak akan dia maafkan dan dia pasti menemukan pria yang menghamili Vanila.
__ADS_1
Walau Vanila berkata jika dia membeli pria itu, jujur dia tidak percaya begitu saja. Dari mana Vanila memiliki banyak uang untuk membeli seorang gi*olo? Dia yakin Vanila menjalin hubungan dengan seseorang dan yang pastinya, Bilt akan kembali terlibat karena permasalahan itu
Kabar gagalnya pernikahan Vanila dan Dean akan tersebar dengan cepat, juga isu-isu akan kegagalan pernikahan mereka. Akankah Abraham mendengar kabar yang secepat angin itu dan mempercayai isu yang beredar?