Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Aku Tidak Mau Menikah


__ADS_3

Vanila diam saja saat seorang pelayan masuk ke dalam kamarnya sambil membawa sarapan untuknya. Sekarang dia sudah tidak bisa tidur sesuka hatinya lagi. Saat pagi dia sudah harus bangun dan terlihat rapi lalu melakukan beberapa kegiatan yang menjenuhkan.


Tatapan matanya melihat keluar jendela di mana sang pelayan baru saja membuka gorden. Sinar matahari masuk ke dalam menerangi kamarnya yang tadinya remang-remang.


"Selamat pagi, Nona," sapa sang pelayan. Pelayan itu sudah lama melayaninya dan hari ini dia harus kembali melayani sang putri yang sudah kembali.


"Sarapan apa yang kau bawakan?" tanya Vanila.


"Tentu saja makanan kesukaan Nona," jawab sang pelayan.


Vanila beranjak dan duduk di atas ranjang. Dia harus banyak makan makanan bergizi agar janinnya sehat. Sang pelayan menghampirinya sambil membawa sarapan yang tadinya dia letakkan di atas meja. Semangkuk sereal dan segelas susu berada dihadapannya.


"Bisahkah kau menyiapkan sepotong steak untukku?" pinta Vanila karena tiba-tiba dia ingin makan steak.


"Steak?" sang pelayan menatapnya dengan tatapan heran karena Vanila belum pernah meminta makanan seperti itu saat sarapan.


"Ya, tapi jangan sampai kakak tahu. Dia akan marah jika dia tahu."


"Serahkan padaku, Nona," ucap sang pelayan.


"Jangan lama, jika Mommy sudah masuk maka aku tidak bisa menikmatinya lagi."


"Akan segera aku kerjakan," sang pelayan segera keluar dari kamarnya.


Vanila menikmati sarapannya, pikirannya berkelana. Dia tahu sebentar lagi ayahnya akan masuk ke dalam kamar untuk menginterogasinya begitu juga dengan sang kakak dan juga ibunya. Sebentar lagi dia pasti akan menghadapi kemarahan ayahnya.


Apakah dia harus mengatakan kehamilannya pada keluarganya saat ini juga? Tidak, dia takut. Jujur saja dia sangat takut ayah dan kakaknya memaksa dirinya menggugurkan janin yang sedang dia kandung agar dia bisa menikah dengan putra mahkota yang entah siapa.


Sebaiknya dia tidak mengatakan hal ini pada mereka, sebaiknya dia mengikuti rencana awal dan membahas hal ini pada calon suaminya nanti. Dia akan membujuk calon suaminya untuk membatalkan pernikahan mereka sehingga keluarganya tidak bisa mendesak lagi. Hanya itu jalan satu-satunya yang bisa dia tempuh.

__ADS_1


Tangan Vanila berada di perutnya dan mengusapnya perlahan. Semoga keputusannya untuk tidak mengatakan kehamilannya pada Abraham tidak salah. Lagi pula Abraham memiliki tunangan dan mungkin saja mereka akan segera menikah.


Air mata Vanila tiba-tiba menetes saat mengingat pria itu. Dengan terburu-buru Vanila mengusap air matanya. Tidak, dia tidak boleh menangisi pria yang tidak memiliki perasaan untuknya. Lagi pula memang dia yang salah dan dia yang jatuh cinta tapi Abraham tidak, jadi dia tidak boleh menangis seperti itu.


Sang pelayan kembali membawa steak yang dia mau. Pelayan itu tampak terburu-buru menghampirinya dan meletakkan steak yang dia bawa.


"Segera dihabiskan, Nona. Ratu sudah akan datang," ucap sang pelayan.


"Apa? Sudah aku duga!" Vanila memotong daging dan meniupnya dengan terburu-buru. Sang pelayan juga membantunya, ibunya tidak akan marah tapi tidak dengan kakaknya yang akan marah jika dia menikmati makanan seperti itu saat pagi.


Vanila makan dengan terburu-buru, susu yang ada diteguk agar daging bisa dia telan. Sunguh untuk makan saja dia harus seperti itu. Dia benar-benar merindukan kehidupan bebasnya di luar sana. Potongan daging terakhir sudah masuk ke dalam mulut, pintu kamar dibuka oleh pelayan yang lain.


Kedua orangtuanya masuk ke dalam begitu juga dengan sang kakak. Vanila mengunyah dagingnya dengan terburu-buru, dia juga menikmati serealnya agar tidak ada yang tahu. Piring kotor segera dibereskan oleh pelayannya yang melangkah mundur karena sang ratu sedang mendekati putrinya.


"Bagaimana dengan tidurmu, Sayang?" tanya ibunya.


"Apa yang kau makan?" tanya sang kakak pula.


"Norman, adikmu makan saja kenapa harus bertanya seperti itu?" tanya ibunya.


"Makanan tidak sehat bisa membuatnya sakit!"


"Besok aku tidak akan makan apa pun lagi agar kau puas!" ucap Vanila kesal.


"Berhenti berdebat! Sekarang jelaskan kenapa kau pergi dari rumah dan apa saja yang kau lakukan di luar sana?" ucap ayahnya.


"Melakukan apa yang aku mau karena aku mendapatkan kehidupanku di luar sana!" jawab Vanila sinis.


"Vanila, apa seperti ini caramu berbicara dengan ayahmu? Kau seorang putri, mana sopan santunmu pada orangtuamu?" ayahnya terlihat kesal.

__ADS_1


"Sudah aku katakan padamu, Dad. Di luar sana dia bergaul dengan sembarang orang sehingga wataknya jadi seperti itu," ucap Norman.


"Jika begitu hubungi dia, katakan besok kita akan membahas pernikahan dengannya. Semakin cepat semakin bagus!" ucap ayahnya.


"Aku tidak mau menikah, kenapa kalian tidak juga mengerti? Daddy ingin tahu kenapa aku pergi? Aku muak dengan kehidupan di istana dan aku muak dengan kalian yang selalu mengekang kehidupanku!" teriak Vanila penuh emosi.


"Beraninya kau?!" ayahnya berjalan mendekat, hendak memukul putrinya namun Norman mencegah begitu juga dengan ibunya.


"Stop, sudah aku katakan tidak ada kekerasan," ucap Alaina.


"Besok, kau tidak akan bisa menghindar lagi!" ucap ayahnya yang sedang berusaha meredakan emosi.


"Sebaiknya tidak membantah lagi, Vanila. Sudah aku katakan kau tidak bisa menghindar lagi," ucap Norman.


"Sejak awal, aku hidup untuk mengikuti kemauan kalian. Aku lebih suka tidak dilahirkan," Vanila menunduk, air mata pun menetes.


"Sstts.. jangan berkata seperti itu," Aliana memeluk putrinya. Dia juga tidak berdaya karena dulu dia juga dijodohkan oleh keluarga.


"Tidak apa-apa, Mom," Vanila menghapus air matanya. Besok, bagus. Semakin cepat semakin bagus. Besok dia akan memanfaatkan kesempatan untuk berbicara dengan calon suaminya. Dia harap pernikahan mereka batal. Dia tidak peduli dengan risikonya, sekalipun harus diusir dari Istana dia pun tidak keberatan.


Setelah mendapatkan kebebasan yang dia mau, dia akan pergi yang jauh. Kali ini siapa pun tidak akan bisa menemukan keberadaannya bahkan Abraham pun tidak akan bisa seandainya pria itu sadar jika dia memiliki seorang anak yang dia lahirkan.


"Jika begitu beristirahatlah, Mommy akan menjengukmu lagi nanti siang." ucap sang ibu sambil memberikan ciuman di dahi.


Vanila hanya mengangguk, ibu dan ayahnya keluar dari kamar meninggalkan Vanila dan kakaknya. Norman menghampiri adiknya dan duduk di sisinya, walau Vanila tidak mau melihatnya tapi dia tidak mempedulikannya.


"Besok jaga sikapmu baik-baik. Jangan mempermalukan kami!" ucapnya.


Vanila tidak menjawab, diam saja dan menunduk. Dia enggan berdebat dengan kakaknya. Norman meraih tangannya dan mengusapnya, dia harap adiknya bisa mengerti dengan apa yang mereka lakukan.

__ADS_1


"Percayalah, semua untuk kebaikanmu. Aku khawatir kau bertemu dengan pria yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai kau bertemu dengan pria seperti itu. Setelah tubuhmu dinikmati lalu kau dicampakan. Aku sudah melihat banyaknya wanita yang mengalami hal itu dan aku juga mengenal pria seperti itu," ucap kakaknya.


Vanila diam, dia sudah melakukannya. Bahkan dia yang menginginkannya. Besok Norman pasti akan tahu, lalu bagaimana reaksinya? Apa pun reaksi yang Norman dan ayahnya tunjukkan, dia harus siap dan dia tidak akan pernah mengatakan pada mereka siapa yang telah tidur dengannya karena dialah yang telah memanfaatkan Abraham dan dialah yang menginginkan itu semua.


__ADS_2