
Vanila diam saja saat Abraham mengambil makanan untuknya lalu Norman juga mengambilkan makanan untuknya. Piringnya sampai penuh dengan makanan, Vanila melihatnya dan menggeleng. Setiap kali Norman mengambilkan makanan, Abraham juga melakukannya seolah-olah dia tidak mau kalah.
Kedua pria itu bahkan saling menatap dengan tatapan tajam, suasana yang tadinya hangat tiba-tiba dipenuhi dengan aura persaingan. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka, mereka seperti mempersaingkan sesuatu.
"Apa kalian sudah gila? Aku tidak akan sanggup menghabiskan semua ini!" ucap Vanila.
"Kau harus makan yang banyak agar gizi Anatasya tercukupi," ucap Norman.
"Tapi perutku bukan tong sampah!" ucap Vanila kesal.
"Makan yang aku ambilkan saja," Abraham mengambil piring untuk mengambilkan makanan baru untuk Vanila.
"Apa maksudmu?" Norman tampak tidak terima.
"Oke, stop. Jangan berdebat, aku tahu kalian berdua peduli denganku tapi tidak seperti ini caranya. Ayo kita makan bersama, bukankah hubungan kalian sudah membaik? Jangan menghancurkan hubungan yang sudah membaik gara-gara makanan."
Abraham dan Norman saling pandang, baiklah. Yang diucapkan oleh Vanila sangatlah benar. Setelah bermusuhan selama belasan tahun dan akhirnya mereka bisa berdamai kembali. Jangan sampai perdamaian mereka jadi hancur dalam sekejap akibat persaingan mereka yang tidak jelas.
"Baiklah, ayo makan," ucap Norman.
Mereka mulai makan, menikmati makanan yang dibuat oleh Norman dan Abraham. Vanila sangat senang, ini kali pertama dia makan bersama dengan kakaknya dan Abraham. Terkadang Norman mengambilkannya makanan, terkadang Abraham melakukannya. Berada di antara dua pria yang mencintai dan menyayanginya, sungguh membuatnya bahagia.
Piring-Piring sudah kosong, Vanila hendak membereskannya namun dua pria itu melarang. Vanila hanya duduk diam dan memperhatikan, senyuman tidak henti menghiasi wajahnya. Sungguh, dalam mimpi pun dia tidak pernah membayangkan hal itu.
Setelah piring kotor sudah bersih, Norman mengajak mereka untuk duduk bersama karena ada yang hendak dia bicarakan dengan adiknya dan Abraham.
"Sesungguhnya aku datang hanya untuk melihat keadaanmu dan Ana. Aku tidak tahu jika Abraham berada di sini," ucap Norman.
"Maaf tidak memberitahumu akan hal ini, Kak," Vanila menunduk, dia jadi merasa bersalah.
"Jangan menyalahkan dirinya, aku baru dua hari di sini," ucap Abraham.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa datang ke sini, Abraham? Dari mana kau tahu keberadaan adikku?"
"Aku sedang jalan-jalan, mencari sahabatnya namun aku tidak menduga jika aku bisa bertemu dengannya di sini. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan aku harap kau tidak mencegah aku untuk membawanya pergi karena kau sudah berkata tidak akan ikut campur jika aku bisa menemukan keberadaan Vanila dengan usahaku sendiri," ucap Abraham.
"Sepertinya kau melewatkan satu hal, Abraham. Aku berkata tidak akan mencegah jika Vanila mau bersama denganmu tapi jika dia tidak mau lalu kau memaksanya, maka aku tidak akan tinggal diam saja!" ucap Norman karena memang itulah yang dia katakan waktu itu.
"Apa kau belum memutuskan, Vanila?" kini Abraham melihat ke arah Vanila.
"Aku bingung," ucap Vanila, dia masih menunduk.
"Apa yang membuatmu bingung?" tanya Abraham.
"Sudah aku katakan, aku sudah nyaman dengan kehidupanku di sini Abraham. Aku belum siap pergi dari tempat ini," jawabnya.
"Sebenarnya apa yang kau cari, Vanila? Apa kau masih menginginkan kebebasan? Ingat sekarang kau tidak sendirian lagi, kau sudah memiliki Anatasya. Sekarang aku sudah tidak akan mengekangmu lagi, kau bebas memilih jalan kehidupanmu sendiri tapi kau sudah tidak seperti dulu, kau sudah memiliki seorang putri yang membutuhkan kasih sayang dari kalian berdua jadi kau tidak bisa memikirkan dirimu sendiri lagi dan bersikap egois," ucap kakaknya.
"Bukan seperti itu, Kak," ucap Vanila.
"Lalu?"
"Apa kau pikir aku tidak bisa membahagiakanmu dan putri kita, Vanila?" tanya Abraham.
"Bukan begitu, aku tahu kau pasti sanggup."
"Lalu?" tanya Abraham dan Norman secara bersamaan.
Vanila tidak menjawab, Norman menggeleng sedangkan Abraham meraih tangan Vanila.
"Mungkin kau ragu denganku setelah apa yang telah aku lakukan padamu tapi percayalah, aku tidak akan mengulanginya. Aku sudah mengatakan hal ini berkali-kali padamu jika aku akan menebus kesalahanku. Menikah denganku, Vanila. Ikut aku kembali ke London. Aku bersumpah padamu akan selalu mencintaimu, kakakmu yang menjadi saksinya. Jika aku melukaimu dan berbuat kasar padamu maka kakakmu boleh mencari aku dan membunuhku. Aku tidak akan melawan, dia juga bisa membawamu kembali bersama anak-anak kelak dan aku tidak akan melawan," ucap Abraham. Dia serius mengatakan hal itu karena itulah tujuan kedatangannya.
"Apa yang kau ragukan, Vanila. Putuskan sekarang, jika kau bersedia, maka kita kembali ke Istana sekarang juga untuk mengadakan pernikahanmu," ucap kakaknya.
__ADS_1
"Sekarang?" tanya Vanila.
"Yeah, bereskan barang-barangmu, kita kembali ke istana. Tidak perlu menunda, aku akan mengutus seseorang ke sini untuk mengambil alih bar yang kau miliki jadi putuskanlah kau mau menikah dengannya atau tidak?! Jika tidak maka kami berdua akan pergi!" ucap kakaknya.
"Apa? Kenapa kau harus membawanya pergi?" tanya Vanila tidak terima.
"kau tidak mau menikah dengannya jadi buat apa dia berada di sini terlalu lama? Ayo, Abraham. Aku akan mengantarmu ke London."
"Baiklah, sepertinya sia-sia aku berada di sini," ucap Abraham.
"Secepat itu kau menyerah?" Vanila menatap Abraham dengan tajam.
"Kau tidak mau lalu buat apa dia menunggumu?" sindir Norman.
"Ada saatnya manusia berhenti berharap, Vanila. Sepertinya aku tidak bisa berharap banyak padamu yang tidak juga memberikan aku jawaban yang pasti."
"Ayo, Abraham. Tinggalkan saja dia," Norman sudah beranjak, begitu juga dengan Abraham.
"Sembarangan, aku akan membereskan barang-barangku dan Ana jadi jangan pergi tanpa aku!" Vanila beranjak dan berlari pergi. Tiba-Tiba dia tidak mau ditinggalkan, apalagi mereka serius.
Abraham dan Norman saling pandang, mereka pun tertawa dan saling mengadukan telapak tangan. Norman hanya menakuti adiknya saja dan Abraham mengikuti aktingnya.
"Awas jika kau berani mempermainkan adikku, aku benar-benar akan membunuhmu!" ancam Norman.
"Kau sudah mengenal aku begitu lama, Norman. Seharusnya kau tahu jika aku serius dengan adikmu sebab itu aku rela mencarinya ke mana-mana."
"Baiklah, sepertinya si bodoh itu sedang membereskan barang-barangnya. Hubungi kedua orangtuamu dan mintalah mereka datang ke Swedia, pernikahan kalian akan dilakukan di sana!" Norman melangkah pergi, meninggalkan Abraham. Dia harus menghubungi beberapa orang untuk datang menjaga rumah itu dan mengambil alih bar milik Vanila.
Abraham tersenyum, kedatangan Norman yang tidak terduga benar-benar merubah semuanya. Dia kira dia masih akan lama menunggu jawaban dari Vanila tapi dia tidak menduga hari ini Vanila bersedia menikah dengannya.
Tanpa membuang waktu, Abraham menghubungi Gaston dan memintanya membawa ayah dan ibunya ke Swedia karena dia akan segera menikah. Kabar itu tentunya membuat kedua orangtuanya senang, mereka bahkan bergegas karena sudah tidak sabar bertemu dengan cucu mereka.
__ADS_1
Semua barang-barang miliknya sudah diambil, Vanila menghubungi Marion sebelum pergi. Jangan sampai Marion mencarinya saat dia kembali. Vanila tahu dia tidak akan kembali ke kota itu lagi setelah dia mengambil keputusan.
Vanila memandangi rumah neneknya sebelum dia pergi, akhirnya dia harus meninggalkan kehidupan nyamannya dan pergi untuk menjalani kehidupan baru dengan Abraham. Dia sangat berharap keputusannya tidaklah salah.