
Hari itu, di Mansion milik Abraham terlihat sibuk karena sedang diadakan pesta kecil untuk menyambut kehadiran putra mereka yang sudah berusia satu minggu.
Bilt mereka undang bersama dengan istrinya yang sedang hamil untuk datang. Acara itu hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat saja. Kedua orangtua Vanila bahkan datang walau tidak bisa lama. Setelah melihat cucu kedua mereka, mereka akan kembali ke Swedia.
Kedua orangtua Vanila sudah datang, mereka disambut dengan baik oleh kedua orangtua Abraham. Acara yang sederhana namun acara itu cukup meriah walau tanpa kedatangan Norman yang masih belum juga kembali.
"Ke mana Kak Norman pergi, Mom?" tanya Vanila pada ibunya.
"Mommy dengar saat ini dia sedang berada di Belanda. Biarkan saja dia menikmati waktunya. Pada saatnya nanti dia akan kembali," ucap ibunya.
"Mommy benar, dia memang harus menikmati waktunya dan melupakan Emely. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk dirinya. Sudah belasan tahun dia bersedih akan kepergian Emely dan sekarang dia harus melupakannya."
"Kau benar, sebab itu Mommy tidak mau mengganggu dirinya."
Vanila mengangguk tanda setuju, memang sejak awal kakaknya harus pergi refresing mencari suasana baru untuk merubah suasana. Vanila masih berbincang, membicarakan hal lain dan pada saat itu Bilt datang bersama dengan Sabrina.
Vanila keluar, untuk menyambut kedatangan sabahat baiknya. Perut Sabrina sudah tampak besar karena usia kehamilannya sudah menginjak enam bulan.
"Terima kasih kalian sudah mau datang," ucap Vanila seraya memeluk Sabrina.
"Kau sahabat baik suamiku sudah pasti kami akan datang," ucap Sabrina.
"Bagaimana kandunganmu? Apa kalian sudah mencari tahu jenis kelaminnya?"
"Tentu saja sudah, anak pertama kami perempuan sama seperti dirimu," jawab Sabrina. Bilt sangat mengharapkan anak laki-laki tapi sayangnya jenis kelamin anak pertama mereka justru perempuan.
"Wah, itu kabar bagus. Kita bisa menjodohkan anak kita kelak," goda Vanila.
"No!" tiba-tiba Bilt yang mendengar pembicaraan mereka menyela, "Tidak ada perjodohan!" ucapnya lagi.
"Kenapa? Sangat bagus, bukan? Kau dan aku menjadi besan suatu saat nanti," ucap Vanila.
__ADS_1
"Tidak mau, aku tidak mau. Kita cukup menjadi sahabat saja!" Bilt masih menolak.
"Memangnya kenapa?"
"Aku takut anakmu lebih gila dan lebih nekad dari pada dirimu!" jawab Bilt.
"Menyebalkan, tidak akan!"
"Pokoknya, tidak!" tolak Bilt.
"Jika begitu aku akan mengajari putraku untuk menculik putrimu suatu saat nanti," goda Vanila.
"What the hell?!"
"Wah, itu ide yang bagus, Vanila," ucap Sabrina.
"Oh, No. Don't do that!" ucap Bilt dengan nada tidak senang.
"Tidak,Vanila. Jika kau lakukan maka, kau dan aku, kita selesai!"
Vanila tertawa begitu juga dengan Sabrina. Mereka segera bergabung dengan yang lain di luar sana. Pesta kecil yang hanya dihadiri oleh sahabat dan keluarga namun pesta itu cukup meriah karena di pesta itu mereka bisa berkumpul dengan orang dekat dan juga orang yang tersayang.
Waktu yang mereka miliki, kebersamaan mereka tidak akan tergantikan dengan apa pun juga.
End
Thanks ya Guys sudah mengikuti kisah ini sampai awal dan akhir. Mohon maaf jika ada salah, autor juga manusia biasa.
Jangan lupa mampir di KEKASIH BAYARAN SANG PENGUASA. Kisah Slow, sesuai dengan permintaan. Agak mewek tapi tetap ada aksi kok di mana Morgan akan menyelamatkan Eliana dan anak kembarnya nanti.
Sekali lagi terima kasih, kisah Norman akan ditulis setelah kisah Kekasih bayaran sang penguasa selesai.
__ADS_1
Kisah Jonathan Smit akan di tulis bulan depan atau Awal bulan februari.
Sekali lagi terima kasih, Happy New Year 2023 all, semoga kita selalu bertemu dalam tulisan yang aku buat. Sekali lagi Thanks all...love seempang buaya tua 😘😘
Sedikit cuplikan kisah Norman.
👇👇
Seorang wanita sedang berlari ke arah Norman yang sedang menikmati waktunya di dermaga saat sore hari. Tanpa sengaja wanita itu menabrak Norman sehingga mereka berdua terjatuh. Norman sangat ingin marah namun tatapan mata wanita cantik yang menabraknya tanpa sengaja justru membuatnya terbuai.
"Aku minta maaf," wanita itu beranjak sambil mengambil barang yang terjatuh.
"Tidak apa-apa," Norman juga beranjak dan menepuk debu di bagian belakang.
"Itu dia, kejar!" terdengar teriakan orang-orang yang berlari ke arah mereka.
"Sial!" wanita itu tampak panik lalu melihat ke arah Norman.
"Tolong bawakan!" pintanya sambil memberikan barang yang dia bawa kepada Norman.
"Apa?" Norman tampak tidak mengerti namun wanita itu sudah berlari sambil berteriak, "Lari!"
Norman masih tidak mengerti tapi orang-orang yang mengejar sudah semakin mendekat.
"Cepat lari!" teriak wanita itu sambil melambai.
Norman melihat benda yang ada di tangan, firasat buruk. Mau tidak mau dia pun lari dan sekarag dia pun dikejar oleh orang-orang yang mengejar wanita itu tadi.
Udah, dikit aja jangan banyak-banyak
. Sisanya di kisah mereka nanti. Wkwkkwk...harap sabar menunggu.
__ADS_1