
Tangisan Anatasya tidak berhenti sejak pagi, entah apa yang terjadi pada putri kecilnya namun Vanila sudah berusaha menenangkannya. Asi pun sudah diberikan, tapi Anatasya masih juga menangis. Hal itu membuat Vanila tidak bisa pergi padahal dia sudah berjanji akan pergi ke bar dengan Bilt.
Seperti rencana awal, Bilt berada di tempat itu. Dia tidak berniat pulang cepat palagi dia bertemu dengan Vanila di tempat itu tanpa sengaja. Bilt menunggu di ruang tamu, dia bisa mendengar suara tangisan Anatasya yang tidak juga berhenti.
Vanila berada di kamar, dia sudah lelah menenangkan putrinya yang tidak juga berhenti namun dia masih bersabar. Kedua dadanya bahkan sudah terasa begitu sakit, asi menetes keluar karena sejak tadi Anatasya tidak mau minum sama sekali.
"Ada apa denganmu, Sayang? Kenapa kau menangis seperti ini?" Segala upaya sudah dilakukan namun tidak mudah bagi ibu muda seperti dirinya.
"Kenapa kau tidak membawanya keluar, Nona," ucap Marion.
"Keluar?"
"Ya, mungkin Anatasya butuh angin segar. Jadi bawalah dia keluar."
"Baiklah, yang kau katakan sangat benar."
Membawa Anatasya duduk di ayunan mungkin akan membuatnya senang dan tertidur. Sepertinya kali ini dia tidak bisa menemani Bilt.
Vanila keluar dari kamar, Bilt beranjak dari tempat duduknya. Dia tahu Vanila tidak bisa pergi tapi dia memaklumkan hal itu.
"Sorry, Bilt," ucap Vanila.
"Tidak apa-apa, bayimu lebih penting. Aku bisa pergi sendiri."
"Semoga saja besok dia tidak rewel seperti ini."
"Sepertinya dia takut aku menjadi ayahnya," Bilt berjalan mendekat, pada saat itu tangisan Anatasya semakin nyaring.
"See, dia benar-benar takut aku menjadi ayahnya!" ucap Bilt.
"Kau hanya cocok jadi pamannya saja!"
"Tidak perlu khawatir, Girl. Aku belum punya nyali untuk menikahi ibumu. Semoga kau tidak segila ibumu nanti!"
"Hei, apa maksudmu berkata seperti itu pada putriku?" Vanila tampak tidak senang.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda tapi semoga dia tidak segila dirimu saat jatuh cinta nanti. Semoga tidak ada korban lagi setelah Abraham."
"Jangan menyebut namanya, aku tidak suka!" Vanila melangkah keluar, sedangkan Bilt mengikutinya.
"Baiklah, sepertinya itu nama paling tabu yang tidak boleh diucapkan!"
"Aku hanya tidak mau mengingat apa pun tentangnya. Lagi pula kebersamaan kami hanya sebentar, dan aku semakin merasa jika itu bukanlah kenangan yang berarti!"
"Terserah kau mau berkata apa, Vanila. Tapi aku harap kau tidak sedang membohongi dirimu sendiri. Aku pergi dulu, setelah ini aku mau menikmati budaya lokal yang ada di kota ini!" ucap Bilt.
"Berhati-hatilah!" Vanila melambai saat Bilt pergi.
Vanila memandangi kepergian Bilt sambil menimang putrinya yang mulai tenang. Sepertinya yang dikatakan oleh Marion sangat benar, Anatasya butuh udara segar. Bilt sudah pergi dengan mobil yang dia sewa, Vanila melangkah menuju ayunan dan duduk di sana.
Ayunan dimainkan sehingga mainan itu mengayun dengan perlahan. Tangannya menepuk putri kecilnya yang terlihat sudah mulai sedikit tertidur. Vanila diam saja, perkataan Bilt kembali teringat. Apa dia sedang menipu diri sendiri?
Tidak, dia tidak melakukan hal itu. Tatapan matanya jatuh pada putrinya, tidak dia pungkiri jika wajah Anatasya mirip dengan ayahnya. Sekalipun dia ingin menyangkal, dia tidak bisa. Biarlah, mereka juga tidak akan pernah bertemu lagi. Sekalipun Abraham mencari, dia tidak akan menemukan keberadaannya di kota kecil itu tapi dugaannya salah karena pria yang sangat tidak ingin dia temui baru saja tiba.
Abraham membawa sebuah tas, dia seorang diri. Pemampilannya biasa saja, dia tidak seperti pengusaha tapi dia seperti turis yang hendak melakukan perjalanan. Dia baru saja turun dari bus karena bus yang dia tumpangi tidak melewati kota tujuannya. Sebuah peta berada di tangan. Bagaimanapun kota itu sangat asing baginya.
Abraham kembali melangkah, tidak buruk. Udara di sana juga sejuk namun dia masih berusaha menghentikan mobil yang lewat sampai akhirnya sebuah truk bersedia memberinya tumpangan.
"Mau ke mana, anak muda?" tanya sang supir.
"Penginapan, apa di kota ini ada?"
"Tentu saja ada. Penginapan, tempat hiburan, bar, semua ada di kota ini."
"Wah, sepertinya menyenangkan berada sedikit lama di kota ini," ucap Abraham. Jika begitu dia akan berada di kota itu sedikit lama untuk menikmati masa liburannya.
"Kau dari London?" supir itu kembali bertanya. Dia bertanya seperti itu karena aksen Abraham yang kental.
"Yeah, aku dari London tapi aku lebih suka berpetualang," dustanya.
"Wah, dulu aku juga menetap lama di London. Jika begitu bagaimana jika kita minum bersama untuk sebentar sebelum aku melanjutkan perjalanan. Di sana ada bar, kita bisa menikmati waktu di sana sebentar."
__ADS_1
"Boleh saja, karena kau sudah memberi aku tumpangan jadi aku yang traktir," ucap Abraham. Tidak buruk, petualangan pertama bertemu dengan orang baik.
Mobil truk berbelok dan berhenti di sebuah bar kecil. Itu bar satu-satunya yang ada di kota itu. Targetnya memang para pengendara yang melintasi kota itu untuk ke kota lainnya.
Abraham melompat turun, sepertinya dia bisa memulai petualangannya dari bar itu. Dia yakin penginapan tidak berada jauh lagi. Dia harap mendapatkan penginapan bagus dengan pemandangan indah.
Kakinya melangkah mengikuti supir truk yang sepertinya sudah tidak asing di tempat itu. Dia tidak menyangka melakukan perjalanan seperti itu ternyata menyenangkan. Ternyata dia terlalu lama duduk di kantor tanpa pernah tahu jika melakukan hal seperti itu sangatlah menyenangkan.
Sebotol minuman sudah dipesan, Abraham teringat pertama kali dia bertemu dengan Vanila. Saat itu Vanila memberikan sebotol minuman untuknya, rasanya ingin mengulangi masa itu. Dia bahkan berharap tiba-tiba Vanila mengantarkan minuman untuk mereka namun dia tahu jika itu tidak mungkin terjadi.
Musik yang melantun merdu di bar, membuatnya semakin ingin kembali ke masa itu. Rasa rindu kembali melanda, matanya melihat sekitar bar dan setelah itu dia merasa begitu bodoh karena telah melakukan hal seperti itu.
"Apa penginapan masih jauh dari sini?" tanya Abraham.
"Tidak, sebelah sana ada penginapan bagus. Aku akan mengantarmu ke sana," ucap sang supir truk.
"Aku rasa cukup sampai di sini saja, aku akan berjalan kaki setelah ini. Aku sangat berterima kasih atas tumpangan yang kau berikan."
"Tidak masalah, anak muda. Kita memang harus saling menolong," gelas diangkat lalu diadukan hingga berbunyi.
Mereka berdua meneguk minuman sampai habis, mereka juga masih berbincang. Abraham pikir setelah ini dia akan pergi untuk menikmati waktunya namun seorang pemuda yang melangkah keluar dari bar, mengejutkan dirinya.
Abraham beranjak dari tempat duduk, sang supir yang bersama dengannya tampak heran apalagi Abraham melangkah pergi dengan terburu-buru untuk mengejar pemuda yang baru saja dia lihat. Sungguh kebetulan yang luar biasa.
Bilt melangkah pergi sambil memutar kunci. Dia tidak tahu jika dia sedang diawasi. Bilt melangkah menuju mobilnya dan masuk ke dalam, sedangkan Abraham kembali berlari masuk ke dalam menghampiri sang supir truk.
"Sir, maukah kau membantu aku untuk membuntuti seseorang," pintanya.
"Membuntuti? Apa kau sedang mencari keberadaan seseorang di kota ini, anak muda?"
"Ini kebetulan yang tidak terduga. Jika kau bersedia membantu, jika tidak aku akan mencari taksi," tas diambil, dia juga memanggil pelayan untuk membayar.
"Baiklah, aku bantu!"
Setelah membayar, mereka keluar dari bar. Mobil yang dibawa Bilt masih terlihat, kali ini dia akan menemui pemuda itu dan berbicara baik-baik. Dia berharap pemuda itu mau mengatakan di mana keberadaan Vanila namun semakin lama mereka mengikuti, Bilt mulai curiga dengan mobil truk yang terus membuntuti. Aneh, jangan katakan dia akan kembali terlibat masalah akibat bertemu dengan Vanila.
__ADS_1