Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Percayalah


__ADS_3

Vanila sedang duduk di depan jendela untuk menyusui Anatasya yang sudah terbangun. Semilir angin yang berhembus membuat Ana kembali tertidur.


Abraham sudah selesai membersihkan lantai yang licin tapi kini dia berada di dapur dan sedang membuat sesuatu untuk Vanila. Dia sudah mempelajari walau sedikit, wanita yang sedang menyusui lebih sering lapar apalagi setelah selesai menyusui.


Tiba-Tiba dia jadi ahli akan hal seperti itu. Mungkin yang melihat akan menertawakan dirinya tapi jujur saja, dia senang melakukan hal seperti itu. Seorang pria berada di dapur, ternyata tidak seburuk yang dia duga.


Makanan yang dia buat sudah jadi, Abraham menghampiri Vanila dengan dua piring makanan di tangan. Suara nyanyian Vanila terdengar, tentunya dia bernyanyi untuk putrinya


Abraham tersenyum, hidup sederhana seperti itu ternyata menyenangkan. Apakah dia harus tinggal di sana juga? Tidak, jika dia menatap di kota itu bagaimana dengan kedua orangtuanya? Dia sangat ingin tapi dia tidak bisa meninggalkan ayah dan ibunya yang akan bertambah tua nantinya.


"Apa Ana sudah tidur?" satu piring makanan diletakkan di atas meja tapi tidak dengan piring yang lain.


"Yeah, bayi memang selalu tidur," Vanila mencium pipi lembut putrinya, memiliki Ana sudah cukup untuknya tapi sekarang dia harus memikirkan pria yang sedang duduk di sisinya.


"Ayo makan, aku suapi," ucap Abraham.


"Tidak perlu, letakkan saja di sana!" tolak Vanila.


"Biarkan aku melakukannya, Vanila. Aku ingin menebus waktu kebersamaan kita yang terbuang."


"Tidak ada waktu yang terbuang, Abraham. Sejak awal kita memiliki kehidupan masing-masing."


"Tidak!" suapan pertama diberikan, sungguh dia merasa bahagia bisa melakukan hal itu.


"Aku melewatkan banyak hal, Vanila. Aku tidak bersama denganmu saat kau sedang hamil, aku tidak tahu apa yang kau lalui dan aku juga tidak berada di sisimu saat kau melahirkan putri kita."


"Tidak ada yang spesial, Abraham. Aku seperti wanita lainnya bahkan aku menjalani hariku dengan baik."


"Jadi, apa kau tidak mau tahu apa yang telah aku alami sebelum aku tahu kau sedang hamil?"


"Memangnya apa yang kau alami?" tanya Vanila tidak mengerti.

__ADS_1


"Kau benar-benar tidak tahu betapa tersiksanya aku. Setiap hari aku ingin tidur dengan ibuku sampai kedua orangtuaku kabur karena tidak tahan denganku!"


Vanila tertawa, sangat lucu membayangkan keadaan Abraham yang selalu ingin tidur dengan ibunya.


"Kau tertawa? Seharusnya kau yang mengalami semua itu."


"Maaf, itu namanya berbagi penderitaan!" ucap Vanila.


"Tidak perlu minta maaf, karena hal itu pula aku jadi tahu jika kau sedang hamil. Aku pergi mencarimu ke Swedia namun kakakmu tidak mau mempertemukan kita karena kebenciannya padaku!"


"Kau dan kakakku saling mengenal?" tanya Vanila tidak percaya.


"Apa kau tidak tahu akan hal ini, Vanila? Kami dulu adalah sahabat baik tapi hubungan kami jadi hancur akibat kesalahpahaman."


"Apa? Aku benar-benar tidak tahu akan hal ini!" ucap Vanila. Sungguh, dia tidak tahu jika Abraham dan kakaknya pernah menjalin persahabatan.


"Yeah, semua gara-gara Renata. Gara-Gara dialah, kami jadi seperti ini."


"Apa maksudnya? Apa kalian saling mengenal dan apa semua ada hubungannnya dengan wanita yang bernama Emely?" sungguh dia sangat ingin tahu, mungkin semua itu bisa menjawab kenapa sifat kakaknya bisa berubah drastis dan kenapa kakaknya selalu berkabung untuk mengenang Emely.


"Apa kau berpisah dengannya karena hal itu?" tanyanya.


"Yeah, itu juga menjadi pemicu perpisahan kami tapi sebelum aku mengetahui kejahatan yang dia lakukan, aku sudah merasa tidak memiliki perasaan apa pun lagi padanya!"


"Kenapa?" Vanila berpaling, menatapnya dengan tatapan ingin tahu.


"Itu karena aku sudah jatuh cinta padamu, Vanila."


"Tidak perlu berbohong untuk membuat aku senang!" Vanila kembali memalingkan wajahnya, tiba-tiba saja jantungnya berdebar.


"Aku tidak berbohong, Vanila. Apa ini waktu yang tepat untuk membohongimu? Aku sudah sejauh ini maka aku tidak akan mengatakan kebohongan!"

__ADS_1


"Aku tahu kau tidak mungkin mencintai aku, Abraham. Apalagi setelah kau tahu apa yang aku lakukan, hal itu benar-benar tidak mungkin terjadi!"


"Aku juga berpikir demikian," piring kosong diletakkan, dia juga tidak pernah berpikir akan jatuh cinta pada Vanila, gadis yang sudah menculiknya tapi apa yang terjadi? Perasaan yang selalu dia sangkal itu tumbuh subur di hati.


"Aku tidak pernah berpikir jika waktu singkat yang kita lalui dan apa yang kita lakukan bisa begitu membekas dihatiku. Aku berusaha menyangkal, Vanila. Aku menyangkal perasaan yang mulai tumbuh perlahan, aku menyangkal perasaan rindu yang aku rasakan untukku. Aku juga menyangkal perasaan cinta untukmu apalagi kau adalah adik kandung dari orang yang aku benci. Namun semakin aku menyangkal, perasaan itu tidak bisa aku kendalikan. Aku tidak tertarik melakukan apa pun, aku bahkan tidak begitu mempedulikan Renata. Aku merasa sebagian diriku hilang dan kau yang telah membawa bagian itu pergi."


Vanila menunduk, memandangi wajah putrinya. Dulu dia sangat mengharapkan hal itu tapi bagaimana dengan sekarang?


"Aku mencari keberadaanmu di mana-mana, Vanila. Percayalah. Aku sudah menanyakan keberadaanmu pada kakakmu tapi dia tidak mau memberi tahu aku. Aku datang ke kota ini untuk mencari sahabatmu itu karena aku pikir dia tahu keberadaanmu tapi aku tidak menyangka kau berada di sini. Aku tahu ini kesempatanku untuk menunjukkan padamu jika aku serius. Bukan saja karena putri kita, tapi aku ingin kita bersama jadi percayalah padaku jika sejak saat itu, aku sudah jatuh cinta padamu dan sampai saat ini perasaan itu tidaklah berubah!"


Vanila masih menunduk, tidak bersuara. Apa yang harus dia katakan? Sungguh dia tidak tahu. Apa dia harus bersorak gembira setelah mendengar perkataan Abraham? Atau dia harus bernyanyi.


"Kenapa kau diam?" tanya Abraham karena Vanila masih saja tidak mengatakan apa pun.


"Entahlah, aku haus."


"Akan aku ambilkan," Abraham mengusap kepalanya sejenak dan beranjak. Vanila menatap kepergiannya, dia tidak menduga pria itu benar-benar serius mengejarnya. Apa dia harus bahagia setelah mendengarnya?


Abraham kembali dengan segelas air, pandangan Vanila melihat keluar dengan tatapan kosong dan banyak pikiran.


"Airmu," gelas minuman pun diberikan.


"Thanks," Vaniila berusaha tersenyum.


Abraham kembali duduk di sisi Vanila, dia belum selesai berbicara dan sekarang bagian intinya.


"Aku bersykur kau telah memukul dan menculikku, Vanila. Aku benar-benar sangat bersykur," ucapnya.


"Kenapa?" tanya Vanila heran.


"Jika kau tidak menculik aku, maka aku akan menikahi Renata karena aku memang hendak melamarnya saat itu. Karena kau menculik aku, aku jadi tahu kelakuan busuk dan jahatnya. Jika kau tidak melakukan hal itu, maka aku akan berakhir pada wanita yang sudah membunuh Emely dan yang sudah menghancurkan persahabatanku dengan Norman oleh sebab itu aku benar-benar bersyukur," Abraham menggeser duduknya, sehingga mendekat.

__ADS_1


"Kau sudah tahu semuanya Vanila, dan sekarang aku ingin tahu. Apakah kau mau ikut denganku kembali ke London?" tanyanya sambil memeluk Vanila dari belakang, "Menikah denganku, kali ini kita perbaiki semuanya. Aku tidak akan pernah melakukan perbuatan kasar lagi padamu, aku berjanji akan hal itu. Apa kau mau, Vanila?" tanyanya lagi.


Vanila belum menjawab, dia diam seribu bahasa namun tatapan matanya jatuh pada wajah putrinya. Dia ingin menjawab tapi jawaban apa yang harus dia berikan? Jujur saja, dia belum tahu harus melakukan apa dan dia juga takut mengambil keputusan yang salah karena kehidupannya sudah nyaman di sana.


__ADS_2