Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Barbeque


__ADS_3

Langit mulai gelap, mereka berdua sibuk di sisi danau. Beberapa kayu bakar Vanila bawa karena mereka hendak membuat api unggun. Makanan yang akan mereka bakar sudah siap, mereka bahkan sudah tidak sabar menikmati malam berharga mereka.


Abraham sedang menyusun kayu yang akan dibakar, mereka bekerja sama untuk menyiapkan semuanya. Kayu bakar yang Vanila bawa diletakkan didekat Abraham lalu dia duduk di sebuah batu besar sambil membersihkan sisa kotoran kayu yang menempel di lengannya.


"Ternyata membawa beberapa potong kayu saja sudah sangat melelahkan," ucap Vanila.


"Jika begitu duduk saja, biar aku yang menyiapkan semuanya."


"Tidak apa-apa, Rick. Aku ingin membantu agar aku bisa merasakan keseruan membuat api unggun."


Abraham berpaling ke arah Vanila sambil mengernyitkan dahi. Aneh, bukankah Vanila mengatakan jika dia sudah pernah melakukan hal seperti ini tapi kenapa perkataannya menunjukkan seolah-olah dia belum pernah melakukannya?


Sungguh, sampai sekarang dia masih merasa jika Vanila adalah gadis misterius dengan banyak rahasia. Sebaiknya dia tidak banyak berpikir dan kembali melakukan pekerjaannya. Vanila mendekati Abraham dan berjongkok di sisinya. Dua batang kayu diambil, Vanila meletakkannya di atas tumpukan kayu yang sudah Abraham susun.


"Aku bantu," ucapnya.


Kayu-Kayu sudah di susun dengan rapi dan setelah itu dibakar. Mereka berdua duduk di atas sebatang kayu yang sudah tumbang. Vanila mengencangkan pakaian tebalnya karena udara malam yang dingin apalagi api belum menyala besar.


"Bagaimana, Rick. Apa kau menyukai kegiatan ini?" tanya Vanila.


"Tentu saja, Vanila. Aku akan membawamu ke tempat yang lebih menyenangkan setelah ingatanku kembali."


Vanila tersenyum, setiap janji yang diucapkan oleh Abraham membuatnya bahagia walau dia tahu janji-janji itu tidak akan terwujud.


"Aku sangat menantikannya, Rick," ucap Vanila sambil tersenyum manis.


Abraham merangkul pinggangnya, mereka saling menghangatkan diri sampai api unggun menyala besar. Setelah sudah merasa hangat, makanan pun mulai dibakar. Cuaca malam itu benar-benar mendukung kebersamaan mereka berdua. Langit begitu cerah, bulan bersinar dengan terang dan bintang-bintang bertaburan sehingga langit semakin tampak indah.

__ADS_1


"Ini untukmu," Abraham memberikan makanan yang sudah matang pada Vanila


"Thanks," makanan dinikmati, sebotol minuman melengkapi malam mereka agar semakin hangat.


"Sepertinya akan sangat menyenangkan berbaring di luar sambil menikmati langit malam," ucap Vanila.


"Sepertinya kau selalu mengatakan hal ini, jadi ayo kita lakukan!"


"Jika begitu kita harus memasang tenda terlebih dahulu," ucap Vanila.


"Nanti kita pasang bersama setelah kita selesai."


Vanila mengangguk, di sekitar mereka sangat sunyi. Hanya terdengar suara serangga malam dan juga binatang malam. Mereka hanya berdua di tempat itu, Vanila sangat senang dengan situasinya karena dia tidak perlu khawatir dengan orang-orang yang mengejarnya.


Abraham juga menikmati waktu kebersamaan mereka. Selama ini dia selalu bersembunyi di dalam rumah, takut dengan orang-orang yang hendak membunuhnya akibat hutang yang tidak mampu dia bayar. Tinggal di rumah saja tidak tenang karena Bilt datang beberapa kali untuk menakutinya sesuai dengan permintaan Vanila.


Mata mereka melihat indahnya langit malam, tidak hentinya Vanila mengagumi keindahannya. Sungguh malam yang berkesan yang dia harap tidak akan cepat berakhir.


"Rasanya tidak ingin semua ini berakhir," ucap Vanila.


"Kenapa? Kita bisa melakukannya besok lagi, bukan?"


"Tapi besok cuaca belum tentu sebagus ini. Biasanya di hutan seperti ini akan terus turun hujan jadi malam ini kita sangat beruntung bisa melihat langit malam yang indah seperti ini."


"Wah, jika begitu aku juga berharap malam ini tidak cepat berakhir!"


"Apa kau menikmati waktu kebersamaan kita yang seperti ini, Rick?" Vanila berpaling, melihat ke arah Abraham sejenak lalu dia kembali melihat langit yang indah.

__ADS_1


"Tentu saja, Vanila. Walau aku hilang ingatan tapi aku merasa ini malam paling menyenangkan di dalam hidupku dan aku merasa jika aku belum pernah melakukan hal menyenangkan ini sebelumnya."


"Kau yakin belum pernah melakukannya?" Vanila kembali memandanginya, senyum kebahagiaan menghiasi wajahnya saat itu.


"Aku rasa seperti itu. Aku merasa jika apa yang kita lakukan hari ini adalah sesuatu hal baru yang aku lakukan. Piknik di bawah pohon, membakar makanan di depan api unggun dan berbaring di bawah langit dan memandangi betapa indahnya benda-benda yang ada di angkasa, aku tidak bisa mengingat apa pun tentang semua itu dan aku rasa, aku memang belum pernah melakukannya!"


Senyum Vanila langsung hilang, jadi Abraham sedang mencoba mencari ingatannya? Seharusnya dia tahu akan hal itu karena jika dia berada di posisi Abraham, dia juga akan melakukannya. Entah kenapa sekarang dia jadi khawatir, khawatir jika ingatan Abraham tiba-tiba kembali.


Entah itu besok, lusa atau besoknya lagi. Jujur saja dia masih ingin bersama dengan pria itu apalagi hubungan mereka sudah dekat. Dia bahkan berharap Abraham tidak mendapatkan ingatannya lagi untuk selamanya agar mereka tetap seperti itu.


Sungguh keinginan yang jahat dan semua itu gara-gara keluarganya yang telah membuatnya seperti itu karena dia tidak pernah mendapatkan kebebasan dan tidak bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan sesuka hati.


Vanila mendekati Abraham dan memeluknya, Abraham sangat heran karena Vanila tiba-tiba melakukannya namun dia membalas pelukan Vanila. Tangannya mengusap kepala Vanila dengan perlahan, memberikan rasa nyaman untuk Vanila.


Mata Vanila terpejam, untuk menikmati sentuhan tangan Abraham. Jika dia memiliki tongkat sihir, dia pasti akan menghentikan waktu.


Tidak saja tangan Abraham yang mengusap kepalanya, bibir Abraham juga berada di wajah dan pipinya. Vanila menikmati kecupan demi kecupan yang diberikan oleh Abraham sampai bibir pria itu mendarat di bibir ranumnya.


Abraham menciuman bibir Vanila dengan ringan namun ciumannya semakin dalam. Sesuatu bergejolak di dalam dirinya. Dahaga, itu yang dia rasakan tapi bukan minuman. Abraham mencium bibir Vanila dengan penuh na*su, dia bahkan berbalik sehingga tubuhnya berada di atas.


"Vanila," Abraham berbisik di belakang telinga Vanila dan menciumnya tanpa henti, "Maukah menghabiskan malam denganku, Vanila?" tanyanya sambil berbisik.


Vanila terkejut, apa arti pertanyaan itu? Vanila diam, dia tahu Abraham menginginkan sesuatu. Pesan Bilt teringat, rencana gila untuk melawan sang kakak pun teringat. Dia jadi dilema, jawaban apa yang harus dia berikan pada Abraham? Mengikuti nasehat Bilt atau melawan sang kakak?


"Apa kau tidak mau, Vanila?" Abraham memandanginya. Tatapan mata mereka bertemu. Vanila menatap bintang yang bertaburan di atas langit lalu menatap ke arah Abraham kembali. Pria itu tidak akan pernah menjadi miliknya, dia tahu itu. Jika dia menyetujui permintaan Abraham maka dia harus tahu konsekuensinya tapi jika dia menolak, apa Abraham akan marah?


"Jangan diam saja dan jawab aku!" Abraham menunduk, mencium bibirnya kembali.

__ADS_1


Mata Vanila terpejam, kedua tangan melingkar di leher Abraham. Peduli setan, yang terjadi biarkanlah terjadi. Apa pun yang dia putuskan, dia tidak akan menyesalinya karena sejak awal, pria itu memang bukan miliknya.


__ADS_2