Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Perasaan Yang Tidak Boleh Ada


__ADS_3

Selembar kain dihamparkan ke bawah sebuah pohon besar yang ada di dekat danau. Gaston melakukan perintah yang dia dapatkan saat itu. Saat Abraham memintanya mencari tempat terbaik untuk piknik, Gaston dibuat terheran-heran karena selama ini bosnya tidak pernah melakukan hal seperti itu.


Tidak perlu keranjang piknik, Abraham hanya ingin berbaring di bawah pohon. Tiba-Tiba saja dia ingin melakukan hal itu, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya. Keadaannya semakin buruk, kedua orangtuanya sampai kabur ke luar negeri akibat tingkahnya.


Ibunya tidak tahan karena setiap malam putranya selalu tidur dengan mereka. Ayahnya sudah kesal setengah mati. Oleh sebab itu, ayah dan ibunya memilih pergi ke luar negeri selama beberapa bulan. Walau rasanya tidak tega, tapi Abraham bukan anak kecil lagi.


Kain sudah dihamparkan, Abraham berbaring di atasnya. Tatapan mata melihat dedaunan yang bergerak akibat dihembus angin, perasaan waktu itu kembali dia rasakan ketika dia sedang piknik bersama dengan Vanila. Mata Abraham terpejam, dia berusaha mengingat kenangan yang mereka lakukan waktu itu.


Sudah beberapa saat berlalu semenjak dia kembali dari Swedia, dia tidak tahu sudah berapa lama tapi yang pasti semenjak hari itu Renata sudah tidak terlihat lagi. Dia tidak pernah datang lagi untuk mencarinya. Entah apa yang terjadi tapi Renata pergi begitu saja. Abraham juga tidak mempedulikan hal itu, dia merasa hubungannya dengan Renata sudah tidak bisa dia lanjutkan lagi karena rasa yang selama ini ada di hati sudah tidak ada lagi.


Gaston memandanginya dari kejauhan. Dia tidak akan menggangu waktu bosnya karena dia bisa melihat jika bosnya tidak sedang ingin diganggu. Dari pada dipotong gajinya, lebih baik dia diam menunggu bosnya selesai menikmati waktunya.


Abraham berbalik, seperti mencari sesuatu. Dia ingat saat itu Vanila tersenyum dengan manis lalu dia mendekap gadis itu. Samar dia masih ingat aroma tubuhnya, sial. Dia bisa gila jika dia terus seperti itu. Vanila Elouis sungguh kejam, gadis itu pergi membawa hatinya.


Ponsel diambil, sebaiknya dia menghubungi ibunya saja dan memintanya kembali. Tiba-Tiba dia merindungan sarapan yang dibuatkan oleh ibunya.


"Ada apa?" tanya ibunya dengan nada curiga.


"Kapan kalian akan kembali?" tanya Abraham.


"Kami akan kembali setelah masa syndrom yang kau alami selesai!" jawab ayahnya.


"Dad, please. Jangan bawa kabur ibuku."


"Dia istriku, jadi aku berhak membawanya kabur!" ucap ayahnya pula.


"Aku ingin makan makanan yang Mommy buat jadi cepat bawa dia kembali!"


"Tidak, aku tidak mau!" ucap ayahnya pula.

__ADS_1


"Ck, jangan sampai aku menyusul kalian!" ucap Abraham.


"Kau sudah memiliki Renata, Abraham. Apa kau tidak bisa memintanya untuk membuatkan makanan untukmu?"


"Aku dan Renata, sepertinya hubungan kami akan segera berakhir."


"Apa kau bilang?" ibunya terkejut dan tidak percaya.


"Renata pergi, aku juga malas mencarinya. Aku sudah tidak peduli dengannya lagi. Perasaan yang aku miliki untuknya tiba-tiba sirna, aku merasa sudah tidak berminat lagi padanya!"


"Kau seperti itu, apa karena ada wanita lain, Abraham?" tanya ibunya. Jujur dia curiga ada wanita lain di antara Renata dan putranya.


"Entahlah, dia datang begitu saja lalu pergi begitu saja. Membawa sebagian diriku, aku seperti kehilangan dirinya, rasanya ingin mendekap sosok manis yang hadir sesaat itu namun sosoknya seperti asap yang hilang saat aku sentuh," Abraham mengangkat tangannya, melihat telapak tangannya yang terbuka lalu menggenggamnya lagi.


Bayangannya menipis, dia merasa sosok manis itu akan hilang dari ingatannya jika dia tidak menemukan keberadaannya. Jangan sampai wajah manis itu sudah tidak bisa dia ingat lagi.


"Kau benar-benar bermain api, Sayang. Kau sudah memiliki Renata, tapi kenapa kau masih membiarkan dirinya hadir dalam hidupmu?"


"Apa itu alasanmu terbang ke swedia?"


"Menurut Mommy, apa ada yang lainnya?" Abraham balik bertanya.


"Baiklah, semua yang terjadi memang bukan keinginanmu. Tapi terkadang, jodoh memang datang secara tiba-tiba tanpa diketahui tapi Mommy tidak suka kau mengkhianati Renata!" ucap ibunya dengan nada tidak senang.


"Renata? Dia mau menjalin hubungan denganku karena uang!" sudah saatnya kedua orangtuanya tahu.


"Jangan sembarangan bicara jika kau tidak memiliki bukti apalagi kau sedang gelisah dengan perasaanmu!" ucap sang ibu lagi dengan nada tidak senang.


"Aku tidak sembarangan, aku memiliki rekaman jika dia menjalin hubungan denganku karena uang."

__ADS_1


"Oh my God, jadi benar?" Kini ibunya terdengar khawatir bahkan dia merasa iba dengan putranya.


"Tentu saja, sebab itu aku tidak peduli ke mana dia akan pergi karena perasaanku untuknya sudah tidak ada lagi."


"Baiklah, jika begitu Mommy akan mengajak Daddy pulang tapi awas, kau tidak boleh tidur dengan kami lagi. Kami akan membelikan oleh-oleh sebuah guling supaya bisa kau peluk setiap malam. Kau juga bisa menempelkan foto gadis itu ke gulingnya dan menganggap jika kau sedang tidur dengannya," goda ibunya.


"Ck, cepat kembali. Aku kesepian!" ucap Abraham.


"Menyebalkan!" terdengar suara gerutuan ayahnya.


Abraham tidak peduli, jika ada ibunya mungkin perasaan yang saat ini dia rasakan akan sedikit berkurang. Ponsel diletakkan ke samping setelah berbicara dengan kedua orangtuanya. Abraham kembali memejamkan mata, menikmati semilir angin yang berhembus.


Tidak bisa seperti ini, dia harus mencari kesempatan untuk bertemu dengan Vanila. Sekalipun tembok istana begitu tinggi tapi dia tetap harus bertemu Vanila tapi apakah Vanila mau? Mengingat sikap kasarnya, ucapannya terakhir kali yang meminta Vanila untuk tidak menampakkan batang hidungnya lagi di hadapaannya membuatnya merasa jika Vanila tidak akan mau bertemu dengannya.


Wajah diusap dengan kasar, semua di luar dugaan. Dia memang tidak berniat bertemu dengan Vanila Elouis lagi mengingat hubungan tidak baiknya dengan Norman tapi semua jadi kacau karena perasaan yang tidak boleh ada. Seharusnya dia melupakan gadis gila itu tapi semakin dia berusaha, gadis itu justru tidak bisa dia hilangkan di dalam pikirannya.


Abraham kembali mengusap wajah. Dia benar-benar jadi kacau gara-gara Vanila Elouis. Jika keadaannya masih seperti itu, maka dia akan pergi mencari Vanila dan jika gadis itu bersembunyi darinya, sekalipun di dalam piramida, pasti akan dia dapatkan.


Sudah cukup, dia segera beranjak namun Abraham masih berdiri di sisi pohon seperti memikirkan sesuatu namun tidak lama karena dia sudah selesai.


"Sir, ada yang hendak ingin aku sampaikan padamu," ucap Gaston sehingga langkah Abraham terhenti.


"Katakan!"


"Pria bernama Jasson itu, dia berada di Mississippi."


"Jika begitu tangkap, jangan sampai lepas!" perintahnya.


"Yes, Sir!"

__ADS_1


Abraham kembali melangkah, akhirnya keberadaan pria bernama Jasson itu dapat ditemukan. Setelah ini dia yakin dia bisa mengetahui apa yang Renata sembunyikan. Kali ini, dia harus mendapatkan Jasson agar apa yang ditutupi oleh Renata dapat dia ungkap.


__ADS_2