Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Pernikahan Yang Batal


__ADS_3

Tidak saja kaki Vanila yang gemetar, kedua tangan Vanila juga gemetar. Wajahnya terlihat pucat, walau dia sudah siap tapi dia takut luar biasa. Situasi yang sedang dia alami saat ini jauh berbeda dengan situasi saat Abraham marah dan mencekik lehernya. Selain mati di tangan pria itu tidak ada yang lain lagi tapi dia tahu bagaimana jika kakaknya marah, dia juga tahu bagaimana saat ayahnya murka.


Keringat dingin mengalir di dahi, Vanila tidak berani bersuara begitu juga dengan Dean. Melihat gelagat Vanila yang mencurigakan dan sikap Dean yang diam membuat Norman tahu jika sudah terjadi sesuatu yang tidak beres di antara mereka apalagi pembicaraan mereka yang sangat mencurigakan.


Norman keluar dari ruangan, memerintahkan para penjaga dan pelayan untuk pergi dari sana karena dia merasa pembicaraan itu tidak boleh ada yang mendengar. Setelah meminta para penjaga dan pelayan pergi, Norman kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu dengan rapat.


Suara langkah kaki kakaknya terdengar mendekat, Vanila benar-benar tidak berani mengangkat kepalanya sama sekali. Rasa takutnya semakin besar, matanya terasa panas padahal satu kata pun belum kakaknya ucapkan


"Katakan padaku, Dean. Apa yang kalian bicarakan?" tanya Norman.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Norman. Aku rasa kau tahu apa yang telah terjadi dengan adikmu!" ucap Dean.


"Vanila, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Norman melihat ke arah adiknya.Vanila masih ketakutan, Dean bisa melihatnya. Sepertinya apa yang dia katakan tidak salah, Vanila sengaja mengandung anak pria lain agar pernikahan mereka batal.


"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kami," ucap Dean.


"Kenapa, Dean? Apa kau bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi?" Norman masih tidak mengerti, dia tidak terima Dean membatalkan pernikahan itu tanpa adanya penjelasan atas apa yang terjadi.


"Kenapa kau tidak tanyakan pada adikmu, Norman? Seharusnya dia mengatakan padamu apa yang terjadi sebelum kami datang melamar agar kedatangan kami tidak sia-sia dan sekarang, kita akan menjadi bahan cibiran banyak orang!"


"Vanila, apa yang sedang kau sembunyikan dariku?!" Norman menekan ucapannya dan tentunya hal itu membuat Vanila semakin ketakutan.


"Jawab!" teriak Norman marah.


"A-Aku meminta Dean membatalkan pernikahan kami karena a-aku?" Vanila berhenti sejenak, namun tidak lama kemudian dia kembali berkata, "A-Aku hamil."


"Apa?" Norman terkejut mendengar ucapan adik semata wayangnya. Norman merasa seperti dilempar dengan sebongkah batu besar di bagian kepalanya saat mendengar perkataan adiknya itu.

__ADS_1


Vanila memberanikan diri mengangkat wajahnya, untuk melihat ekspresi kakaknya namun dia kembali menunduk. Kedua tangannya gemetar hebat setelah melihat ekspresi kakaknya yang begitu menakutkan. Kedua tangan Norman sudah mengepal erat, tatapan matanya tampak begitu menakutkan.


"Jangan mengatakan lelucon yang tidak lucu hanya untuk menolak pernikahan ini, Vanila!" ucapnya. Mungkin saja Vanila mengatakan kebohongan itu agar dia dan Dean batal menikah. Dia tahu akal licik adiknya, bisa jadi itu tipuan belaka untuk menipu mereka.


"Aku tidak bohong, aku memang sedang hamil sebab itu batalkan pernikahan kami!" Vanila mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk melihat kakaknya.


"Vanila Elouis, beraninya kau?!" Norman hendak menghampiri adiknya. Akan dia beri pelajaran tapi Dean menahannya sehingga niatnya terhenti.


"Aku tidak mau ikut campur tapi aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku sungguh kecewa, Norman. Seharusnya kau mengatakan padaku sejak awal sehingga aku tidak perlu datang bersama dengan kedua orangtuaku. Sekarang lihatlah, tidak saja kau tapi aku juga malu karena rakyat sudah tahu jika aku datang untuk melamar adikmu. Sekarang apa yang harus aku katakan akan pernikahan yang batal ini?" Dean benar-benar kecewa padahal dia sudah sangat senang akan menikah dengan Vanila Elouis tapi pil pahit yang harus dia dapatkan.


"Dean, hal ini belum tentu benar. Bisa saja adikku berbohong pada kita. Jangan pergi dulu sebelum aku mengecek kebenarannya karena bisa saja Vanila tidak sedang hamil!" cegah Norman karena Dean sudah ingin pergi.


"Dia tidak berbohong, Norman. Kau bisa lihat sendiri, adikmu ketakutan. Untuk hal sebesar ini dia tidak mungkin berbohong!"


Norman memandangi adiknya dengan amarah tertahan, sungguh dia tidak menduga akan hal ini. Vanila benar-benar sudah membuatnya malu. Rasanya ingin menghampiri adiknya dan memberikan pelajaran untuknya namu Dean masih berada di sana.


Seandainya dia tahu, dia tidak akan meminta Dean datang untuk membahas hal ini tapi siapa yang menduga? Vanila sama sekali tidak menunjukkan gejala jika dia sedang hamil sehingga dia tidak curiga. Siapa sebenarnya ayah dari bayi yang sedang dikandung oleh adiknya? Akan dia cari tahu dan akan dia bunuh pria yang telah melakukan hal itu lalu mencampakkan adiknya.


"Sudahlah, itu berarti aku dan adikmu tidak berjodoh walau aku sempat berpikir jika dia pantas menjadi istriku. Anggap aku sedang berkunjung dan sebagai sahabat, aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun," ucap Dean seraya menepuk pundak Norman.


"Maaf mengecewakan, aku yang sudah lalai dalam mendidiknya," Norman melirik ke arah Vanila sekilas sebelum dia dan Dean melangkah keluar. Setelah ini, Vanila akan mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan.


Vanila tidak bergeming, kedua kakinya lemas. Dia bahkan merasa tidak memiliki tenaga untuk beranjak dari tempat duduknya. Apakah dia harus kabur? Tidak, lari tidak akan menyelesaikan masalah. Dia akan menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti. Seandainya dia harus disiksa dan di penjara sekalipun dia tidak keberatan.


Norman dan Dean mencari kedua orangtua mereka yan sedang berbincang, merencanakan di mana pernikahan akan dilaksakan. Bagaimanapun pernikahan yang akan terjadi antara Dean dan Vanila adalah penyatuan dua negara jadi pesta pernikahan itu harus diadakan dengan meriah.


"Maaf menyela, aku rasa pernikahan ini tidak bisa dilangsungkan," ucap Dean menyela perbincangan kedua orangtuanya dan orangtua Norman.

__ADS_1


"Apa? Apa yang terjadi?" tanya ibunya.


"Tidak, pernikahan ini memang tidak seharusnya terjadi," ucap Dean.


"Apa yang terjadi, Norman?" tanya ibunya seraya menatap putranya dengan tatapan heran.


Norman menghela napas, dia benar-benar malu tapi apa yang bisa dia lakukan? Semua di luar kemauan mereka.


"Norman, apa yang terjadi?" tanya ayahnya.


"Vanila hamil," perkataan Norman membuat terkejut semua yang ada di sana.


"Tidak mungkin!" teriak ibunya tidak percaya. Dia bahkan menangis dan belum bisa mempercayai apa yang putranya katakan.


"Apa itu benar, Norman?" tanya ayahnya dengan nada tinggi.


Norman diam, Dean juga diam. Mereka tahu jika apa yang dikatakan oleh Norman bukan tipuan. Mereka bisa melihat jika Norman dan Dean terlihat begitu serius.


"Ayo kita pulang, pernikahan dibatalkan," ucap Dean.


"Aku minta maaf untuk kejadian ini," ucap Norman sambil membungkukkan badannya sedalam mungkin sebagai permintaan maafnya.


"Ini bukan salahmu, Norman. Kami memang tidak berjodoh," Dean menepuk bahu sahabatnya.


Norman tidak bisa berkata apa-apa lagi, mereka mengantar kepergian Dean dan kedua orangtuanya dalam diam. Tidak ada yang bertanya, mereka diam namun setelah Dean dan kedua orangtuanya pergi, mereka masuk ke dalam sambil memendam amarah.


Mereka menuju ruangan di mana Vanila berada. Mereka tidak menyangka akan dipermalukan seperti itu dan tentunya mereka akan memberikan pelajaran pada Vanila yang telah membuat mereka malu luar biasa. Tidak saja telah membuat mereka malu tapi Vanila juga sudah membuat mereka kecewa.

__ADS_1


__ADS_2