
Sebuah kamar dibersihkan oleh Marion, walau Vanila mengusir Abraham pergi tapi Abraham tidak juga pergi. Vanila mengurung diri di dalam kamar, dia tidak keluar sama sekali dengan Anatasya. Marion jadi iba melihat pria yang sendirian berada di luar, oleh sebab itu dia memutuskan membersihkan sebuah kamar agar bisa digunakan oleh Abraham.
Tentunya hal itu menguntungkan bagi Abraham, dengan demikian dia tidak akan pergi ke mana pun dan dia tidak perlu mencari penginapan. Selain iba karena diabaikan, Marion juga mengira dia pemuda miskin karena penampilannya yang biasa saja.
Abraham sudah berada di dalam kamar, dia belum menghubungi ibunya dan memberi kabar. Ayah dan ibunya pasti sangat senang saat tahu jika mereka sudah memiliki cucu. Dia rasa mereka tidak sabar untuk melihat cucu mereka saat tahu.
Ibunya memang menunggu kabar darinya karena ini kali pertama Abraham pergi tanpa Gaston. Dia sudah menunggu sedari tadi dan ketika Abraham menghubunginya, ibunya menjawab panggilannya tanpa membuang waktu.
"Bagaimana, Abraham. Apa kau sudah berada di tempat tujuan?" tanya ibunya.
"Tentu saja, Mom. Semua diluar perkiraan. Aku tidak menyangka akan langsung bertemu dengannya padahal aku datang untuk mencari sahabat baiknya tanpa tahu dia berada di kota ini."
"Apa, benarkah?" ibunya terdengar senang karena niat putranya benar-benar diperlancar.
"Apa Mommy tahu, aku sudah memiliki seorang putri," ucapnya.
"Apa?" Ibunya hampir saja memekik karena itu kabar mengejutkan dan membahagiakan.
"Yeah, sekitar tiga atau empat bulan. Namanya Anatasya, dia seperti aku."
"Oh, Abraham. Sekarang katakan di mana kalian, aku dan Daddy akan pergi ke sana hari ini juga!" ibunya terdengar tidak sabar, tentunya dia ingin melihat cucunya.
"No, Mom. Aku pasti membawa mereka kembali tapi aku perlu waktu karena ibunya membenci aku!"
"Kami hanya ingin melihatnya saja, tidak akan lama!" ucap ibunya.
"Tidak, jika kalian datang aku takut Vanila mengira kita hendak merebut Anatasya darinya. Dia akan semakin membenci aku jadi sebaiknya aku mengambil hatinya terlebih dahulu walau tidak mudah. Aku berjanji padamu, Mom. Aku pasti membawanya pulang."
"Baiklah, Mommy percaya padamu. Berjuanglah, jangan pernah menyerah untuk mendapatkan mereka!" ucap ibunya.
"Terima kasih, Mom," berkat ucapan ibunya, dia jadi semakin bersemangat untuk mendapatkan hati Vanila.
Setelah selesai berbicara dengan ibunya, Abraham keluar dari kamar. Vanila masih saja mengurung diri di dalam kamar, dia tidak mau keluar sama sekali karena dia tidak mau bertemu dengan Abraham.
"Tuan, makan malam sudah siap," ucap Marion.
__ADS_1
"Apa Vanila sudah makan?" tanyanya.
"Nona sedang tidak ingin diganggu, dia akan keluar saat sudah lapar."
"Bisakah menyiapkan makananĀ untuknya? Aku yang akan mengantarkan untuknya nanti," ucap Abraham.
"Tentu, aku akan menyiapkannya."
Marion menyiapkan makanan untuk Vanila, sedangkan Abraham menikmati makanan yang sudah tersedia. Dengan alasan makanan itu, dia ingin dekat dengan Vanila. Tentunya dia ingin melihat putrinya. Dia harap malam ini dia bisa tidur bersama dengan putrinya.
Setelah selesai makan, Abraham membawa makanan yang sudah Marion siapkan untuk Vanila. Marion menunda untuk menghubungi ibu Ratu karena dia ingin melihat apa yang hendak dilakukan oleh ayah Anatasya. Lagi pula pria itu tidak terlihat memiliki niat jahat.
Abraham membawa makanan itu menuju kamar, dia tahu Vanila tidak akan membuka pintu jika dia yang memanggil jadi dia meminta bantuan Marion. Beruntungnya wanita tua itu bersedia membantu.
"Nona, aku membawakan makan malam untukmu," ucap Marion sambil mengetuk pintu.
"Aku sedang tidak ingin makan, Marion," jawab Vanila.
"Aku sudah menyiapkannya, kau bisa menikmatinya saat kau sudah lapar."
"Baiklah, bawalah masuk!"
Makanan di letakan di atas meja, Abraham berdiri di sisi ranjang memperhatikan putrinya dan Vanila. Matanya bahkan tidak lepas dada Vanila yang sedang dinikmati oleh putrinya.
"Apa yang dilakukan oleh pria itu, Marion?" tanya Vanila tanpa membuka matanya.
Tidak ada yang menjawab, Vanila sangat heran. Mata pun dibuka, Vanila terkejut mendapati Abraham sedang berdiri di hadapannya dan memperhatikan dirinya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" teriaknya dan secara refleks Vanila beranjak namun karena tindakan itu, dadanya justru tertarik dan Anatasya jadi menangis karena dia belum puas.
"Oh, tidak!" Vanila kembali berbaring dan memberikan asinya walau sesungguhnya dadanya jadi sakit.
"Maaf, aku tidak bermaksud," Abraham duduk di sisi ranjang, dia hanya ingin melihat apa yang dilakukan oleh Vanila.
"Keluar dari kamarku," pinta Vanila pelan namun nada bicaranya begitu sinis. Baju diturunkan sedikit agar Abraham tidak melihat.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin menghabiskan waktu dengan kalian berdua!" Abraham berbaring, meraih tangan mungil putrinya. Tatapan matanya tidak berpaling dari wajah cantik putrinya yang sedang menyusu.
"Beraninya kau?" Vanila sangat kesal melihatnya, kenapa ada orang tidak begitu tidak tahu malu seperti Abraham?
"Berapa usianya, Vanila?"
"Kau tidak perlu tahu!"
"Vanila, aku ayahnya jadi aku berhak tahu. Katakan padaku, berapa usia putri kita. Apa saja yang kau alami selama ini, apakah kau mengalami kesulitan saat melahirkan dirinya?"
Vanila diam, dia enggan menjawab. Abraham menunggu jawaban darinya tapi Vanila seperti sedang tertidur. Tidak masalah Vanila mau menjawab atau tidak, tapi cepat atau lambat dia pasti tahu. Abraham masih memperhatikan wajah putrinya, jarinya mengusap perlahan. Anatasya juga sudah terlelap, susu yang dihisap pun terlepas.
"Vanila," Abraham memanggil tapi Vanila benar-benar tidur.
Abraham terlihat ragu namun dia memberanikan diri dan dengan perlahan, Abraham menurunkan baju Vanila untuk menutupi dadanya. Jangan sampai Vanila masuk angin namun tiba-tiba saja mata Vanila terbuka dan tatapannya jatuh pada tangan Abraham yang sedang menarik bajunya.
"Mau apa kau, baj*ngan!" Vanila menepis tangan Abraham dan menurunkan bajunya dengan cepat.
"Aku hanya ingin membantumu menutupinya saja."
"Tidak perlu, keluar!" bentaknya kesal.
"Tidak, bagaimana jika malam ini kita bicara? Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Aku tidak!" ucap Vanila karena memang tidak ada yang bisa dia bicarakan dengan Abraham.
"Baiklah, aku sudah membawa makanan untukmu. Makanlah selagi hangat," ucapnya. Untuk kali ini, dia benar-benar harus bersabar.
"Tidak perlu sok baik dan perhatian, aku bukan siapa-siapamu. Pergi dari rumahku sekarang juga!"
"Tidak akan pernah, semakin kau mengusir, semakin aku tidak ingin pergi bahkan aku akan tidur di sini malam ini!"
"Apa? Jangan cari perkara denganku!" emosi memuncak, dia benar-benar hampir kehabisan kesabaran.
"Aku ingin berdamai denganmu, Vanila. Pulang denganku, kita menikah."
__ADS_1
"Aku tidak sudi menikah denganmu!" setelah berkata demikian, Vanila beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi. Abraham hanya tersenyum melihatnya, tidak sudi? Dia pasti bisa membawa Vanila kembali sebagai istrinya. Pandangannya kini tertuju pada putri manisnya, Abraham mendekat untuk memberikan ciuman di pipi. Rasa bahagia kembali memenuhi hati, ibu dan ayahnya pasti sudah tidak sabar dia kembali membawa cucu mereka dan dia pasti akan membawa cucu mereka kembali.
Vanila keluar dari kamar mandi tapi dia tidak kembali berbaring karena dia lebih memilih keluar dari kamar. Rasanya ingin menarik dan melempar Abraham keluar tapi dia tidak mampu. Dia harus bisa mengusir pria itu pergi tapi bagaimana caranya? Apakah dia harus meminta bantuan pada kakaknya? Sepertinya harus dia lakukan jika Abraham tidak juga pergi dari rumahnya.